
Bu Sugeti berbicara dengan suara yang mulai pelan, saking beratnya cobaan hidup di keluarganya.
Rara dan Lena memeluk ibunya yang berada di tengah mereka, seketika Bu Sugeti ingin membahas Azkia dengan Rara. Dari tadi Rara memang tidak membahas Azkia atau mempertanyakannya. Karena dia memang sudah tahu dan tidak mungkin juga membahas hal yang lebih dalam tentang keluarganya di depan Purba.
“Sudah ya, Bu. Kita terima dengan ikhlas terlebih dahulu. Rara juga bukan nggak ingat sama Azkiya. Lalu kita harus gimana lagi? Rara di sini baru beberapa jam, nanti Rara pikirkan mungkin Rara akan ke sana untuk membahas tentang Kia.”
“Kalau bisa temenin Nduk. Minta orang sini yang masih baik pada kita, minta Pak lurah atau siapa aja buat anterin kamu ke rumah orang tua Gandi. Perjuangkan Kia, nggak kebayang sekarang sering sendiri pastinya. Biasanya ada temen meski hanya dengan Azka. Kemarin Bu Darma bilang, dia itu kayak yang sedih, murung.”
“Iya Bu, Rara pasti usahain. Kalau Rara udah nggak nangis lagi, udab nggak mau bahas lagi, bukan berarti Rara lupa. Tapi kayak yang percuma loh, Bu. lebih baik Rara berpikir gimana caranya agar Kia bisa kumpul bareng kita, tapi nggak ada ribut-ribut lagi. Rara capek, kasihan juga kan ke mereka, lihat orang tuanya berantem terus.”
Rara dan keluarganya masih mengobrol. Sekitar sampai pukul 12 malam, tak terasa waktu memang sudah larut, bahkan Azka pun belum tidur karena dia masih seru dengan mainannya dan beberapa makanan yang Rara bawa sebagai oleh-oleh.
*##
Keesokan harinya di Jakarta.
Bram berkunjung ke rumah Mona.
Security di sana tidak melarang masuk karena mereka tahu dia sudah sering ke sana. Sebagai teman Mona, security tidak tahu apa yang dilakukan di dalam dan para ART di rumah itu pun jarang ngerumpi. Padahal mereka sering memergoki Mona dan Bram, melakukan hal yang kurang pantas.
Maka security pun selama tidak ada kabar buruk tentang orang-orang yang datang ke rumah itu, mereka tetap mempersilahkan. Berarti orang-orang yang keluar masuk ke rumah itu berniat baik untuk penghuni rumah yang mereka jaga.
Namun, tidak saat ini saat Bram terus menuntut apa yang menurutnya menjadi hak.
“Oh, Mas Bram silakan masuk,” ucap Mbak Idah yang membukakan pintu.
“Di mana Mona?” ucap Bram tiba-tiba. Belum saja duduk sudah menanyakan tuan rumah.
“Ibu ada di atas Mas, biar saya panggilkan.”
“Nggak usah,” ucap Bram langsung menuju lantai dua dengan gaya songongnya.
Mbak Idah nggak bisa berbuat apa-apa, selama ini dia hanya melihat kelakuan nyonya dan teman-temannya. Sehingga Mbak Idah pikir, saat sekarang Bram menemui majikannya, tak masalah. Walau Mbak Idah ikut sedih, kasihan sama Purba.
Namun, yang belum Mbak Idah tahu, bahwa Mona sekarang akan benar-benar menjaga dirinya sebagai istri seorang Purba. Sehingga Mbak Idah langsung ke dapur tanpa mau ingin tahu aktivitas apa yang ada terjadi di atas.
*##
Mona sedang merias dirinya Karena dia habis sibuk di dapur dan beberapa tanaman bunga dirapikan, sehingga siang itu dia baru saja mandi.
__ADS_1
Bruk ...!
Monas seketika menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba dibuka, dia sangar terkejut Siapa yang tiba-tiba masuk, asistennya tidak mungkin karena itu tidak sopan.
“Kamu?” tanya Mona terperanjat.
Bram langsung tertawa bahagia, kedua tangannya direntangkan sambil berjalan maju menuju Mona yang masih duduk di depan meja rias.
Mona langsung berdiri reflek melihat perlakuan dari Bram.
“Jangan mendekat,” ucap Mona.
“Kenapa sayang? Kok jadi dingin gitu?” ucap Bram yang belum mengetahui perubahan Mona.
“Di antara kita tidak ada apa-apa lagi Bram! Kenapa kamu masih ke sini?"
“Siapa bilang tidak ada apa-apa? Selama uang yang kau janjikan belum lunas, aku masih tetap ke sini.”
“Ya, sabar dong! Aku bilang aku akan mencicilnya.”
“Tapi jika kau terlalu lama mencicil, bunganya akan semakin besar.”
“Karena bunganya berjalan setiap hari, kecuali...!”
“Kecuali apa?!”
Perdebatan antara Mona dan Bram cukup tegang, bahkan nada suara Mona sudah mulai meninggi.
Sayup – sayup terdengar oleh mbak Idah yang sedang membersihkan area lantai dua.
Mbak Idah bingung antara memantau atau membiarkan saja, takut disangka ikut campur urusan majikan.
“Uangnya rutin transfer ke rekening seperti biasa, tidak boleh telat. Atau ... kita kembali seperti dulu, mungkin seminggu sekali lah ... kita quality time bersama. Tanpa ada siapa pun yang mengganggu diranjang surga kita.”
“Bukannya kamu bisa memilih wanita yang lebih dari aku? Banyak yang lebih muda dan murah, di luar sana!”
“Oh... tentu tidak bisa, kamu masih menjadi nomor satu di dalam imajinasiku.”
Bram terus saja berjalan mendekat ke arah Mona, yang sudah berdiri dari duduknya. Sedangkan Mona yang berada dalam situasi Itu dia berjalan mundur menghindari Bram yang terus saja mendekat.
__ADS_1
Mona sadar akan kelemahannya jika sampai Bram menyentuh sedikit saja, takutnya dia tidak bisa menahan gairahnya.
Seberengsek apa pun Bram, tapi dia tidak jahat kepada Mona. Bram hanya pria mata duitan yang pemalas tapi dia tetap memperlakukan Mona dengan lembut, tidak pernah ada kekerasan fisik.
Mbak Idah yang mendengar keributan di dalam kamar majikannya, dia langsung berlari keluar menemui security.
Sekitar 10 menit setelah Mbak Ida berbincang dengan security, untuk memastikan apakah mereka lebih baik membantu majikannya atau tetap berdiam saja. Maka diputuskan security untuk masuk saja.
Kini security dan Mbak Ida sudah ada di depan pintu kamar Mona. Mereka menguping terlebih dahulu takutnya Memang sesuatu kejadian yang mereka tidak bisa untuk masuk, jika apa yang terjadi di dalam sebuah kesalahan atau melanggar norma, tapi kalau majikannya berkenan mereka juga tidak bisa ikut campur.
Mereka hanya menunggu jika saja Mona meminta bantuan.
“Berhenti di situ!” teriak Mona.
Bram tidak menggubris ucapan Mona, dia terus berjalan sambil tersenyum dan membuka kancing bajunya satu persatu. Sementara itu Mona tidak berhentinya mundur sampai mentok pada dinding tembok.
“Kenapa? Jangan pura-pura menolak deh, suamimu lagi tidak ada kan? Kasihan loh kalau sampai barang indah kamu didiamkan tanpa ada yang nengok. Kedinginan nanti,” ucap Bram dengan tatapan untuk menarik gairah Mona.
“Jika terus maju, aku akan berteriak!” ucap Mona.
“Berteriak dalam hal apa? De sahan kamu yang sangat menggoda itu? Atau teriakan kesakitan tapi nikmat? Mereka tidak akan menggubris.”
“Aku beri sekarang untuk uang muka, sisanya besok,” ucap Mona berusaha untuk menghentikan aksi Bram.
“Em ... tapi sepertinya daripada uangmu, untuk saat ini aku lebih tergoda tubuhmu.” Bram menyeringai penuh ingin.
Bram sudah sangat dekat dengan Mona. Tangannya sudah menyentuh pipi beserta lehernya Mona.
Mona menoleh ke samping kiri untuk menahan sentuhan- sentuhan lain dari tangan Bram.
Mona berusaha melawan desiran darahnya, yang tidak kuasa menghindar dari sentuhan seseorang yang pandai untuk memancing gairahnya.
Salah satu kelemahan Mona adalah, dia memang belum bisa menahan keinginan se ksnya karena dia terlanjur terjerumus ke pergaulan bebas, sebelumnya tidak takut akan kesalahan norma dan dosa.
Namun, sekarang Mona berniat untuk bisa bertahan dari itu semua. Lebih Baik sakit menahan perasaan sebagai istri, daripada sakit terus merasa rendah menjadi budak nafsu. Itu yang Mona pikirkan dan rasakan setelah beberapa hari menjadi istri sesuai nasihat dari ibunya.
Bersambung
Untuk yang mau ikut giveaway silakan gabung ke GC Author ya... di sana sudah tertulis aturannya seperti apa.
__ADS_1
Terima kasih yang selalu mampir di novel author. Jangan lupa supportnya ya. 🥳