
Hari ini purba pulang ke rumah Rara lagi. Dia tidak tahu pada Mona yang mengirimnya pesan. Tidak memiliki koneksi juga pada hatinya, padahal di sedang ditunggu istrinya di rumah.
Entah kenapa dalam hati Purba semakin besar timbul rasa enggan untuk bertemu Mona. Padahal kalau mengenai peneror itu, Purba belum begitu menggubrisnya. Saat ini hanya saja ingin menenangkan diri di rumah istri keduanya.
"Mas, mau menginap di sini lagi?" tanya Rara.
"Iya, kepalaku pusing rasanya." Purba memijat-mijat kepalanya berkali-kali titik. Dia merebahkan kepalanya di pangkuan Mona yang baru saja menidurkan Az-Zahro.
Rara tidak banyak bertanya lagi, dengan tersenyum dia memijat kepala suaminya itu dengan lembut. Kemudian bercerita tentang keseharian Az-Zahro dan Azka. Meskipun Azka bukan anak kandung Purba, tapi Purba suka sekali kalau mendengar perkembangan anak anaknya.
Selagi kepalanya dipijit oleh Rara, Purba sudah berpikir apakah akan menanyakan tentang teror itu? Tangan Rara aktif memijat kepala Purba, tapi seakan Purba tidak merasakan apa pun. Bukan pijatan Rara yang tidak enak, tapi konsentrasinya saja yang tidak fokus. Sehingga tidak dapat merasakan pijatan dan perhatian istri tercintanya.
Rara merasakan apa yang menjadi kegundahan suaminya, dia tidak bisa dibohongi dari raut wajah suaminya yang tidak terlihat segar dan dari tatapan saat berbincang. Seakan tidak fokus, bahkan saat Purba bermain dengan si kecil, dia seperti bahagia yang dipaksakan.
"Ya udah, Mas tidur saja," ucap Rara. Dia akan pindah tempat ke sisi sebelah kanan dari Az-Zahro, sedangkan Purba berada di sebelah kiri putranya.
Mereka memang tidak menidurkan bayi di tempat tidur khusus, mereka ingin kebersamaan saat menikmati waktu istirahat. Kebetulan tempat tidurnya juga besar. Belum tega juga jika Az-Zahro harus tidur sendiri, meskipun banyak bayi-bayi modern yang dilatih untuk mandiri sejak bayi. Namun, Rara dan Purba sepertinya tidak siap.
Kecuali kalau mereka akan bermain malam, maksudnya berhubungan intim maka akan pindah ke ruangan lain.
Rara melihat Purba yang tidurnya gelisah, seringkali bergerak tidak jelas. Biasanya kalau seseorang yang tidak mendapat pikiran berat, seharian aktivitas akan cepat tidur pulas. Rara merasa terganggu. Dia turun dari tempat tidurnya lalu pergi ke dapur untuk membuatkan air jeruk hangat.
***
"Ada apa, Nak? Malam-malam kok, ke dapur?" tanya Bu Purwanti yang memang masih ada di dapur.
Kebetulan waktu menunjukkan pukul 10.00 malam kebetulan juga Bu Putwanti akan mengambil air minum untuk di kamarnya. Kebiasaan setiap orang pada umumnya, menyediakan air mineral untuk persediaan saat nanti bangun pagi.
Kalau di kamar, Rara sebenarnya sudah disediakan oleh asisten rumah tangga, maka air itu tidak pernah kosong. Makanya Bu Purwanti heran, kenapa Rara turun ke dapur malam-malam.
__ADS_1
"Mau membuatkan air jeruk hangat, Bu. Untuk Mas Purba," ucap Rara sambil terus menuju lemari dapur, mencari gelas dan alat untuk memeras jeruk.
"Memangnya Purba Kenapa? Kok tumben minta air jeruk malam-malam? Bukannya sudah tidur nyenyak ya? Dia kan pasti capek habis kerja seharian."
Rara Kemudian menceritakan, bahwa dirinya melihat Purba sepertinya gelisah, makanya berinisiatif untuk membuatkan air jeruk hangat. Siapa tahu bisa membuat suaminya lebih rileks.
Sambil membuat air jeruk hangat, Bu Purwanti banyak bertanya pada Rara atau memberi beberapa saran agar putranya lebih baikkan, lebih tenang.
Meski Purba adalah putranya Bu Purwanti, namun dia tidak bisa seenaknya mengganggu privasi menantu dan anaknya. Maka Bu Purwanti hanya menanyakan kepada Rara saja, tidak berani langsung tiba-tiba ingin menengok ke kamar. Kecuali kalau memang Purba sakit parah. Kalau hanya sekedar merasa kurang sehat atau hal yang ringan, Bu Purwanti mempercayakan kepada menantunya.
"Tapi purba tidak ada hal yang serius kan?" tanya Bu Purwanti kembali.
"Tidak, Bu. Sepertinya memang hanya kecemasan biasa, saya belum sempat menanyakan banyak hal, takutnya belum nyaman untuk Mas Purba jika banyak ditanya."
Bu Purwanti mengangguk, dia mengerti. Langkah yang diambil Rara sudah benar. Sebelum banyak pertanyaan memang harus diberi penenang terlebih dahulu, jeruk hangat baik untuk menyegarkan tubuh.
Kini Rara kembali ke kamarnya.
***
Rara menaruh jeruk hangat itu pada nakas di samping tempat tidur tepat di sebelah, suaminya.
Kemudian dengan lembut tangannya mengusap kepala Purba, agar bisa meminum jeruk hangat walau sebentar saja.
Purba membuka matanya perlahan, dari sorot matanya seperti yang habis tidur memang. Namun, jika mudah dibangunkan Berarti benar dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Ini Mas, minum dulu," ucap Rara sambil menyodorkan segelas jeruk.
Purba tidak berkata apa pun, dia membetulkan posisi duduknya, lalu mengambil air minum itu dan disesapnya sedikit demi sedikit.
__ADS_1
"Enak?" tanya Rara dengan senyum hangatnya. Menatap wajah sang suami.
Purba mengangguk, sedikit senyum terlukis di bibirnya. "Terima rima kasih," imbuhnya.
"Mas ... kenapa?" tanya Rara sambil menyentuh tangan Purba, untuk mengawali pertanyaan agar Purba tidak merasa didesak.
Purba menarik nafas panjang seakan berat rasanya, mengeluarkan beban yang ada di dadanya.
"Em .... Boleh aku tahu sebab Mas tidur seperti yang gelisah? Kalau mau cerita, dengan senang hati aku mendengarkan. Mungkin, meski tidak banyak membantu, setidaknya sedikit membuat lega beban di hati Mas atau sedikit mencerahkan pikiran yang tentunya banyak hal yang MasĀ hadapi."
Rara mencoba membujuk suaminya agar mau berterus terang, sebab hal itu membuat Rara khawatir juga. Takutnya yang dihadapi Purba itu sangat serius, jika tidak segera dicari jalan keluarnya akan berakibat fatal. Stres akut tidak bisa disepelekan, karena pengaruh ke peradangan otak akan memancing segala penyakit di badan.
Purba berpikir ulang. Apakah harus disampaikan pada Rara saat ini juga? Memang sih, lebih cepat lebih baik.
Namun, takutnya sikon yang tidak dia prediksi ternyata salah, apalagi Rara baru melahirkan. Purba meskipun bukan suami yang bisa dengan mudah membuka media sosial atau membaca hal lain yang bukan bidangnya, tapi dia tahu dengan istilah baby blues.
Purba menatap Rara seakan mencari jawaban kegundahannya. Apakah Rara siap menerima beban yang akan diceritakannya. Perlahan tangan Rara yang masih berada di tangannya dibalas dengan sentuhan pula, dengan tatapan yang tak lepas tentu saja.
"Kenapa Mas? Jangan khawatir Aku siap kok, mendengarnya. Aku baik-baik aja, bisa menerima apa saja kabar terburuk sekali pun saat ini," ucap Rara meyakinkan suaminya.
Rara memiliki feeling yang kuat, apalagi dari seseorang yang sangat dekat dengan dirinya. Tatapan Purba bisa terbaca, bahwa dia ragu takut membebani sang istri.
"Ini masalah rumah tangga kita, sayang," Purba membuka obrolan.
"Iya lalu?" tanya Rara singkat. Sudah tak saba ingin mendengar ceritanya.
"Beberapa hari ini... ada yang menerorku," ucap Purba lirih.
Bersambung....
__ADS_1