
Bab 109
"Kamu beneran nggak bohong?" tanya Rara, terdengar nada kecemasan dari suaranya sedikit bergetar.
Retno mengangguk mantap.
"Mungkin saudaramu hanya ingin nakutin aku, dia kan satu geng juga sama mas Gandi," ujar Rara.
"Aku nggak tahu sih pastinya. Namun, kita harus hati-hati. Siap tau saat ini Gandi sudah ada di Jakarta," ucap Retno memperingatkan.
Rara jadi kepikiran. Apakah Gandi membawa Azkia atau tidak. Mungkin jika Azkia ditinggalkan di kampung bisa lebih mudah untuk membujuk ibu sama ayahnya Gandi memberikan Azkia.
Mereka pasti paham bahwa Azkia lebih baik dengan ibunya, agar bisa terawat dengan benar. Karena menurut penuturan para warga, Azkia terlihat menjadi pendiam, bukan pendiam seperti anak-anak baik saleh, tapi pendiam terlihat murung.
Namun, Rara tahu saudaranya Retno yang satu geng dengan Gandi. Siapa tau itu hanya gertakan agar Rara merasa cemas dan tidak konsentrasi untuk bekerja karena merasa khawatir dengan berita tersebut.
Maka perlu dipastikan apakah saudaranya Rara menanyakan alamat di Jakarta itu benar-benar Gandi akan ke Jakarta atau cuman drama agar menjadi perhatian Rara?
Retno mendapat kabar itu dari ibunya, karena merasa curiga. Ada apa saudaranya tiba-tiba menanyakan alamat Retno? Dan nyatanya sampai saat ini pun saudaranya tersebut tidak ada menghubungi Retno. Apakah mau ke Jakarta atau ada perlu?
Setelah ditelaah, ini mungkin ada hubungannya dengan Gandi. Itulah kenapa Retno harus sekali menyampaikan hal ini pada Rara.
"Ya udah, pokoknya kamu harus lebih hati-hati. Ada atau tidaknya Gandi ke Jakarta, anggap aja ini sebuah tanda jangan terlalu lengah. Apalagi kamu tinggal sendiri di sini," saran Retno.
"Iya Ret, kamu benar. Makasih ya. Nanti aku coba hubungi ke kampung, deh. Ingin tahu apakah Mas Gandi ada di kampung atau tidak."
"Nah, itu. Lebih baik ceritakan sama orang rumah. Biar bisa bantu cari informasi. Em ... aku ikut perhatiin ya Ra. Semoga masalahmu cepat selesai," iba Retno, pada sahabatnya.
Rara mengangguk, isi kepalanya terus berpikir apa yang harus dilakukannya terlebih dahulu.
**#
Sementara Rara sedang berada dalam kecemasan, di tempat lain sepasang suami istri sedang memadu kasih.
__ADS_1
Awalnya Mona sedang rtidur seperti malam sebelumnya membelakangi Purba. Namun, Purba tidak tahan dengan aroma tubuh Mona terlebih dia belum menyalurkan kebutuhannya kepada sang istri.
Sebuah kebiasaan memang sering menjadi candu, apalagi tentang hasrat seorang laki-laki. Tidak ada kucing yang akan menolak ikan di depannya apalagi ini sudah menjadi haknya. Kucing tidak akan pilih-pilih ikan, jika sudah lapar.
Begitu pun pada Purba, sekeras apa pun hatinya tidak bisa menerima nama Mona untuk masuk dan ditempatkan menjadi seseorang yang spesial. Akan tetapi Purba membutuhkan untuk meringankan penat di kepalanya.
Malam itu Purba tak tahan lagi, tubuhnya menggeser mendekati Mona yang sedang tertidur pulas, dengan suasana kamar hanya diterangi oleh lampu malam.
Saat tangannya menyentuh hangatnya tubuh Mona, sudah tak bisa ditahan lagi dorongan imajinasi yang ada di kepala Purba, apalagi hasrat yang bergemuruh di dadanya semakin menggebu.
Saat tangannya menyingkap kain penutup tubuh bagian atas milik Mona aroma tubuh semakin menyeruak, tangan Purba menyentuh kulit halus nan putih, tak dapat dielakkan lagi, darahnya semakin mendidih.
Mona tetap diam saja karena pergerakan Purba sangat pelan dan halus.
Purba juga menikmati pemanasan yang seolah mengendap-endap tersebut. Satu sisi dia tak ingin mengganggu Mona yang katanya sedang sakit, satu sisi candunya tidak bisa dinantikan lagi.
Lambat laun tangan Purba semakin menguasai tubuh Mona menjalar kemana-mana, hingga Mona menggeliat karena tidurnya merasa ada yang mengganggu.
Dirasakan suhu tubuh Mona tidak seperti orang sakit, Purba sudah Tidak segan lagi untuk melanjutkan ke tahap berikutnya.
Saat tangan Purba yang menjelajah tubuh Mona berganti dengan bibirnya yang bekerja, Mona mulai bereaksi. Dia menjambak rambut Purba, merespons kenikmatan yang masih setengah sadar.
Namun, kemudian Mona tersadar. Dia langsung mendorong kepala Purba lalu refleks Mona bangun, duduk kemudian beringsut hingga mepet ke sandaran tempat tidur.
"Ada apa Ma?" tanya Purba, dengan nafas yang masih tersengal.
"E ... jangan, se...." Tangan Purba langsung menahan bibir Mona dengan jarinya.
"Kenapa kamu selalu seperti ketakutan akhir-akhir ini? Tubuhmu tidak seperti orang sakit. Ada apa?" Purba menjadi semakin heran.
"Tidak ada, aku hanya...," ucap Mona masih gugup dan bingung.
"Kita bukan pengantin baru lagi. Jika belum siap, karena apa?" balas Purba.
__ADS_1
Tangan Mona yang mere-mas switernya di dada untuk menghalangi Purba melakukannya lagi, kini disentuh oleh Purba. Dengan lembut lalu disingkirkannya kemudian Purba yang perlahan maju menghampiri wajah Mona. Hingga di antara bibir mereka semakin dekat deru nafas pun tak dapat dielakkan memancing hasrat masing-masing.
Bukan Mona namanya jika seorang Purba tidak dapat menaklukkan gairahnya.
Walau masih dengan hati dag dig dug, mana tidak dapat menolak reaksi dari suaminya, apalagi terlihat suaminya sangat menginginkan.
Sweater yang sudah tersingkap setengah kini terlepas seutuhnya, meskipun dalam benak Mona dia masih ketakutan, saat suaminya menikmati tubuh yang banyak sisa tanda kepemilikan dari orang lain. Mona hanya bisa berdoa semoga Purba tidak menyadari hal aneh di dalam tubuhnya.
Pergulatan asmara pun terjadi, tidak ada yang berbeda saat dua insan sudah berada di puncak gairah. Maka akal sehat pun terkadang tidak bekerja. Mona sudah tenang, leluasa menikmati permainan dari suaminya.
Namun, saat kegiatan puncak akan dilakukan, Purba sempat berhenti seakan merasakan ruang yang selama ini tempat mengeluarkan beban bira-hinya seperti berbeda.
Rasa was-was kembali menghinggapi perasaan Mona, walau dalam gelap dia bisa memperhatikan wajah Purba.
Namun, tak lama Purba langsung memainkan perannya kembali, bahkan kenikmatan yang berbeda dirasakan.
Apa mungkin karena Mona beberapa hari ini meminum jamu atau karena sudah hampir dua minggu mereka berpuasa.
Begitupun dengan Purba, saat sejenak dia berhenti, sesungguhnya dia sudah merasakan rindu akan tempat yang menjadi pelampiasan nafsu.
Tiga puluh menit cukup untuk mereka menikmati surga dunia. Kini dua insan terkulai lemas pada di atas peraduan, dengan tubuh mereka yang hanya ditutup oleh kain tebal nan lembut.
Mona yang masih menstabilkan nafasnya, melirik pada Purba. Perlahan beringsut lalu memeluknya. Purba menyambut pelukan Mona, walau matanya masih dipejamkan.
"Mas, aku boleh tanya?" ucap Mona di dalam pelukan Purba.
"Hem," respon Purba.
"Apa mas tidak bawa apa-apa untukku dari Singapura?"
Mona, memberanikan diri memancing obrolan, untuk mengingatkan Purba pada kejutan yang akan diberikan pada dirinya.
Purba mengangguk, "Ada," ucapnya, dengan tidak merubah posisi.
__ADS_1
Bersambung....