
Rara beserta rombongan sudah sampai di rumah orang tuanya Gandi. Entah karena banyak orang yang datang atau entah karena memang orang tuanya Gandi sudah bisa menerima Rara dengan baik. Karena itu saat ini mereka menyambut cukup ramah.
Namun, Bizar dan Purbas tidak ikut masuk. Mereka menunggu di dalam mobil. Hanya saja, Bizar sempat turun dari mobil, untuk membukakan pintu. Dia pikir, Purba akan ikut masuk ke rumahnya Gandi. Ternyata hanya Rara, ibunya, Lena dan Azka.
Bahkan kedua orang tua Gandi pun memberikan mereka beberapa suguhan minuman dan makanan. Hal yang tidak terpikirkan oleh Rara dan Bu Sugeti. Karena keluarga Gandi biasanya tidak ramah jika kebetulan mereka berkunjung saat dulu, saat Gandi dan Rara masih suami istri.
Azka pun sempat digendong oleh neneknya, tapi tidak lama. Karena Azka menolak, tidak nyaman mungkin.
Tanpa basa-basi Rara langsung berkata pada intinya.
“Tapi itu di luar kuasa kami Rara, Azkiya sekarang sedang bersama Gandi, entah ke mana,” ucap ibunya Gandi.
“Memang tidak bilang sama ibu?” tanya Rara.
“Gandi kan sudah besar, nggak harus selalu minta izin kalau keluar.” Respons ibunya Gandi yang menurut Rara cukup tidak ramah.
Itulah perbedaan keluarga Gandhi dengan keluarga yang lain, pada umumnya. Bahwa aturan untuk mereka tidak begitu dipedulikan, sejatinya meskipun sudah besar atau masih di bawah umur jika akan keluar rumah harusnya izin ke orang rumah.
Baik orang tua ataupun siapa pun agar mereka mengetahui keberadaan kita jika terjadi sesuatu di luar.
Rara diam sejenak dia sempat sedikit berdiskusi dengan Bu Sugeti. Lebih baik gimana jalan keluarnya? Karena menunggu pun belum tentu pulangnya jelas.
“Tapi... Azkya sehat kan, Bu?” tanya Rara kembali.
“Iya dia sehat, memangnya anak saya mau apakan darah dagingnya? Tentu dia juga merawatnya dengan baik,” ketus ibunya Gandi.
“Alhamdulillah, syukur kalau kayak gitu. Mungkin lain kali saya ke sini lagi, sekarang saya permisi, Bu, Pak,” pamit Rara, kemudian menyodorkan tangannya untuk bersalaman.
“Baiklah,” singkat ibunya Gandi.
Dari tadi ayahnya Gandi tidak berkata sepatah kata pun, dia takut salah berucap. Namun, ayahnya Gandi beberapa kali menelisik orang yang ada di dalam mobil. Yaitu, Purba dan Bizar.
Rombongan Rara pun kembali pulang ke rumah.
Selama perjalanan Rara tidak berkata apa pun, entah apa yang ada di pikirannya. Apakah rasa kecewa karena tidak bertemu dengan anaknya atau memendam amarah karena begitu keras kepalanya Gandi. Hingga anak kecil saja ia bawa entah ke mana.
Yang ditakutkan Rara, anaknya berada di lingkungan tidak baik. Kalau Gandi pergi ke tongkrongan, itu membuat anak akan merekam hal yang buruk.
__ADS_1
Jika Gandi pergi kerja, kenapa Azkiya di bawa? Bukankah itu merepotkan buat dia?
**#
Sesampainya di rumah Rara, Purba sudah semakin terbiasa layaknya di rumah sendiri. Dia sudah tidak canggung lagi untuk keluar masuk sampai ke dapur, ke kamar mandi tanpa harus meminta izin.
Sedangkan untuk Bizar, sama halnya seperti tuanya saat ini, tidak ada rasa canggung lagi. Dia sedang beristirahat di salah satu kamar, untuk menjaga staminanya. Karena menjadi asisten merangkap dengan supir sekaligus bodyguard itu butuh istirahat yang cukup.
“Mas aku tinggal sebentar ya,” ucap Rara pada Purba.
“Mau ke mana?” tanya Purba yang sedang bermain robot dan lego bersama Azka.
“Mau cari rujak, panas gini enaknya yang seger-seger,” ucap Rara.
“Ok, beli sekalian buat semua aja.” Purba mengingatkan.
Rara pergi dengan Lena menggunakan sepeda, boncengan.
Rupanya Azka kelelahan, dia mau tidur, merengek pada neneknya. Waktu masih menunjukkan pukul dua siang, memang waktu yang tepat untuk istirahat.
Sedangkan Purba sibuk dengan ponsel dan laptopnya.
“Nak, Purba. Pakai ini,” ucap Bu Sugeti, menyerahkan bantal.
“Tidak perlu merepotkan Bu,” tolak Purba tidak enak, seakan dirinya dilayani oleh orang tua, sangat sungkan jadinya. Dia juga langsung bangun dari posisi tidurnya.
“Tidak apa, daripada lehernya pegal,” ucap Bu Sugeti sambil menaruh dua bantal di sofa. Lalu dia pergi lagi ke belakang. Namun, sebelum beranjak jauh Purba memanggilnya.
Bu Sugeti kembali dan duduk di hadapan Purba. Soalnya terlihat seakan ada yang ingin dibicarakan serius.
“Maaf Bu, jika tidak keberatan saya ingin menyampaikan beberapa hal,” ucap Purba.
“Boleh, Nak. Ada apa?” tanya Bu Sugeti.
Purba langsung kepada tujuan, bahwa dia ingin mengatakan tentang hubungannya dengan Rara. Dia juga menceritakan alasan kenapa sampai berani menjalin hubungan dengan Rara.
Bukan semata karena tidak bertanggung jawab kepada rumah tangganya.
__ADS_1
“Tapi, istrinya Nak Purba sudah tahu tentang kalian? Saya pikir Nak Purba belum menikah,” tanya Bu Sugeti setelah mendengar beberapa hal dari Purba.
Purba pun menjelaskan asal mula mengapa dia bisa menikah dengan Mona. Purba tidak memungkiri bahwa dia tidak bahagia dan terpaksa menikah dengan Mona.
Namun, dia juga ingin bertanggung jawab, tapi satu sisi selalu menyiksa pada dirinya jika memaksakan terus bertahan.
Purba jujur, istrinya belum mengetahui tentang hubungan dirinya dan Rara.
Awal, Rara dan Purba hanya untuk pura-pura, itu pun juga diceritakan pada Bu Sugeti. Pokoknya tidak ada satu pun yang ketinggalan disampaikan oleh Purba pada calon besannya. Dia sangat jujur kepada ibunya Rara.
Hingga beberapa kali perceraian akan diajukan oleh Purba. Namun, nyatanya berdampak fatal pada Mona, sehingga semuanya dilakukan secara perlahan terlebih dahulu.
“Kalau Ibu pribadi, ikut saja kalian saja Nakk Purba, meskipun perasaan Ibu kurang berkenan. Karena nanti bagaimana perasaan istrinya Nak Purba. Di dunia ini tidak ada wanita yang mau dimadu.”
“Semoga kelak istri saya mengerti Bu, nanti saya akan bicara baik-baik. Pada akhirnya tetap lanjut dengan istri saya atau menyudahi pernikahan kami, itu tak masalah. Saya akan terima keputusan apa pun, yang penting secara baik-baik.”
“Ibu tidak bisa berkata apa-apa Lagi, memberi saran pun bingung. Mungkin kalian yang lebih tahu keadaannya, mungkin juga nasib Rara memang seperti ini. Yang penting bukan anak ibu yang tadinya sengaja ingin menghancurkan keluarga kalian,” ucap Bu Sugeti, mencoba berdamai dengan takdir putrinya.
“Tidak Bu. Saya jamin ini adalah atas permintaan dan kelakuan saya sendiri. Tidak ada sangkut pautnya, apakah Rara yang menggoda saya atau memanfaatkan posisi saya,” jujur Purba, membesarkan hati Bu Sugeti.
Untuk selanjutnya Purba dan Bu Sugeti berbincang kepada hal yang lebih serius, tentang pernikahan dan rencana Rara beserta keluarga ikut ke Jakarta. Terlebih kalau urusannya dengan Gandhi sudah selesai.
**#
Tid ...!
Tid ...!
Bunyi klakson cukup mengagetkan Lena, yang sedang mengendarai sepeda. Sementara di belakangnya, Rara duduk di bonceng.
“Len, berhenti Len, itu mantri Wahyu sepertinya,” ucap Rara mencolek pinggang adiknya.
Lena turun dari sepedanya, menoleh ke belakang ternyata memang benar. Terlihat mantri Wahyu turun dari mobilnya.
__ADS_1
Bersambung...