
Bab145
Rombongan Purba dan Rara sudah sampai di perumahan. Tentunya di kediaman Rara, sekalian Pak Kukuh juga ingin tahu tempat tinggal menantu barunya, walaupun mungkin beberapa hari lagi juga akan pindah.
Rara langsung membuatkan minuman untuk mereka bertiga, hitung-hitung istirahat terlebih dahulu. Dan benar saya, mereka bertiga bukannya duduk di kursi, tapi malah rebahan di lantai, yang untungnya sudah dialasi oleh karpet.
"Ini Mas, teh hangatnya. Bapak dan Mas Bizar, ayo di minum," ucap Rara sambil menata beberapa gelas minuman di sana.
Purna tiba-tiba menggeserkan kepalanya pada pangkuan Rara yang duduk di lantai, bareng mereka.
Padahal, Rara juga hanya sekedar ingin selonjoran sebentar. Pegal rasanya duduk terlalu lama di mobil.
"Mas, malu ih," bisik Rara, di atas muka Purba.
Purna bergeming, tetap tidur dengan nyaman di pangkuan Rara, dia tak memedulikan risi yang Rara alami.
Sebenarnya Rara bukan risih karena Purba manja kepadanya, akan tetapi dia malu. Di sana ada ayah mertuanya dan Bizar. Meskipun mereka sedang memejamkan matanya. Namun, tidak enak saja.
Bukannya Purba menghindar setelah dapat teguran dari Rara? Dia malah mengambil tangan Rara lalu disimpannya di kening.
Rara geleng-geleng kepala, suami barunya ini sangat manja. Namun, kemudian ia tetap mengelus-ngelus kepala suaminya itu.
"Mas, udah 10 menit. Cukup," bisik Rara lagi.
Kali ini Purba membuka matanya, dia juga tidak ingin terlalu sore sampai di rumah. Namun, tidak disangka, saat bangun langsung mengecup bibir Rara. Otomatis wanita itu terkejut langsung melihat ke arah Pak Kukuh dan Bizar takut mereka lihat.
Rara mendelikkan matanya agar Purba tidak ceroboh lagi asal menciumnya di sembarang tempat.
Bukannya Purba mengerti dengan teguran Rara. Dia malah menarik Rara ke belakang di dapur.
"Apaan sih mas?" ucap Rara masih dengan suara lirih, takut mengganggu Pak Kukuh dan Bizar.
Tanpa memedulikan pertanyaan Rara, Purba langsung menyantap bibir kecil milik istrinya. Rara gelagapan mendapat serangan tiba-tiba.
"Mas, nafasnya," tegur Rara mengingatkan agar Purba mengatur nafasnya, takut terdengar ke depan. Purba seperti orang kehausan, dia kalap melampiaskan hasratnya pada Rara.
__ADS_1
"Udah... besok lagi" ucap Rara yang masih bisa mengontrol diri. Rara mengelap bibir Purba begitupun dengan bibirnya sebelum ke depan, untuk membangunkan pak Kukuh dan Bizar.
Purba pun akhirnya langsung pulang, percuma berlama-lama di rumah itu juga. Ada Pak Kukuh dan Bizar. walaupun Rara dan Purba sudah sah menjadi suami istri, masih tetap saja canggung.
Apalagi ada Bizar juga, tidak enak rasanya kalau untuk berduaan ada orang lain. Apalagi itu rumah kecil, terkecuali rumah besar, pengantin baru bisa leluasa. Kemudian Bisa saja Pak Kukuh dan Bizar mungkin bisa beristirahat di kamar lain.
Sedangkan perum itu sendiri sebenarnya memang diperuntukkan untuk satu orang. Paling tidak hanya memiliki dua kamar dan itu berdekatan.
"Ya udah, aku pulang ya. Jaga diri baik-baik. Nanti saat pindahan, aku usahakan bisa bantu," pesan Purba.
"Iya Mas, makasih." Rara masih melingkarkan tangannya di lengan Purba.
Namun, saat purba sudah hampir sampai gerbang, Rara baru ingat sesuatu yang tadinya akan disampaikan di Sugihayu.
Namun, entah mengapa tadi lupa. Sebenarnya sudah ingat akan disampaikan di depan ibunya, tapi terburu-buru bahas pulang, jadi lupa.
"Ada apa?" tanya Purba menoleh kembali.
"Aku lupa, tadinya mau menyampaikan suatu hal. Penting menurutku. Em... ini tentang Mas Gandi," lirih Rara, takut terdengar ayahnya Purba.
"Mantan suamimu?" Purba meyakinkan.
"Ada kabar apa tentangnya?" tanya Purba lagi.
"Dia ada di sini, Mas." ucap Rara dengan takut.
Kabar yang cukup mengejutkan juga buat Purba. Namun, dia juga harus bersikap tenang agar hati tidak merasa cemas atau terancam ketenangannya.
Meskipun dia terlihat tenang, tapi Purba harus lebih hati-hati. Bukan tanpa Alasan pastinya Gandi ada di sana. Apalagi sudah di sekitar perumahan. Purba tetap menenangkan Rara, karena tidak lama lagi mereka akan pindah. Beberapa hari terakhir pasti akan baik-baik saja.
"Iya Mas, makasih ya. Semoga memang tidak ada yang terjadi, meskipun...," ucapan Rara menggantung. Dia sendiri gak yakin dengan ketenangannya.
"Apalagi?" tanya Purba lagi.
"E... Mas, aku jadi teringat dengan Azkia. Kalau Mas Gandi di sini, Azkia pasti ikut. Bagaimana kabar Kia, ya? Sekarang dia sudah dekat. Apakah aku bisa menemuinya?" Rara berkata dengan lirih, dia seperti bergumam. Tiba-tiba tatapan terlihat kosong. Seperti melamun.
__ADS_1
Purba memeluk Rara dan mengusap kepalanya, dia meminta untuk Rara bersabar Sebentar. Nanti akan diperjuangkan bersama untuk mencari Azkia.
Rara mengangguk, dia percaya akan ucapan suaminya, yakin ini tulus, bukan sekedar ucapan penenang biasa.
Dan sekarang Purba benar-benar pamit, bersama ayahnya langsung pulang ke rumah. Sedangkan Bizar yang menggunakan motor. Karena sudah sampai di Jakarta, jalanan macet parah. Terlebih sore hari waktunya pulang kerja.
Bizar sampai terlebih dahulu di rumah daripada mobil yang dikendarai Purba. Karena jalanan macet, tentu saja mobil susah menembus jalan padat. Beda halnya dengan motor bisa melewati jalur kecil. Meskipun motor yang digunakan Bizar jenis motor besar. Namun, itu tak jadi masalah, masih bisa melalui beberapa kendaraan yang terjebak kemacetan.
****
Mona yang sudah pulang kantor tentunya sudah berganti pakaian dengan baju rumahan. Dia duduk di ruang tamu bersama Mbak Idah dan Ibu mertuanya untuk menemani mengobrol. Namun, saat mendengar suara kendaraan yang masuk pekarangannya, Mona langsung berdiri melihat siapa yang datang. Begitu pun Mbak Idah merasa terpancing ikut ke luar, di susul Bu Purwanti, penasaran kendaraan siapa yang datang.
"Mas Purba?" ucap Mona saat melihat sepeda motor yang terparkir.
Namun, setelah helm pengendara tersebut dibuka, ternyata dia adalah asisten suaminya.
Mona yang tadinya tersenyum semeringah, dikerutkan kembali bibirnya. Kantetapi dia tidak masuk. Mona tetap ingin menunggu Bizar menghampirinya, karena ingin menanyakan tentang sang suami.
"Bizar? Kamu datang sendiri?" tanya Mona.
"Iya Bu. Kebetulan saya tukeran kendaraan sama Bapak. Biar nggak terlalu jenuh."
"Memang perjalanannya jauh ya?" tanya Mona kembali. Dia pikir kalau hanya temannya kecelakaan di sekitar Jakarta, tidak perlu sampai kelelahan di jalan. Sekalinya lelah hanya karena macet, beda halnya dengan perjalanan jauh. Bukannya badan lelah, tapi pegal-pegal juga.
Bizard tak menyadari pertanyaannya bisa membuat salah jawaban. Namun, tentunya dia tak kalah akal, sudah terbiasa membuat alasan bohong untuk majikannya itu.
"Iya Bu, walau dekat tapi kami kurang tidur. Saat di tempat temannya Bapak, jadi untuk mengganti suasana mungkin kami bergantian membawa kendaraan."
"Oh... berarti Mas Purba, sebentar lagi sampai?"
"Iya Bu. Tadi memang bareng, cuman karena macet, mobil susah menembus jalanan."
"Baiklah. Ayo masuk! Biar Mbak Idah membuatkan kamu minuman," ajak Mona. Dia baru saja mendengar kabar baik, raut mukanya sudah sedikit bercahaya.
Bizar sebenarnya tak terbiasa untuk beristirahat di rumah orang lain, termasuk di rumah majikannya sendiri. Namun, dia juga tak nyaman jika membawa motor ke apartemennya, sehingga dia menanti Purba dan Pak Kukuh datang walaupun badannya telah letih..
__ADS_1
Sekitar 30 menit berselang, Pak Kukuh dan Purba datang juga.
Bersambung.....