
Keesokan harinya di mana pernikahan Retno akan dilangsungkan pukul tuju pagi. Bizar, Purba beserta pengacaranya sudah sampai di rumah Rara. Karena mereka sekalian membawa gaun untuk Rara dan keluarganya.
Daripada bolak-balik hanya Bizar yang menyerahkan gaun keluarga Rara sehingga Purba sekalian ikut saja biar menunggu beberapa lama tak apa.
“Ibu, bajunya bagus ya? Aska senang deh,” ucap Aska yang melihat dirinya begitu tampan di depan cermin.
“Iya Nak, kita harus bersyukur ya, bisa mendapatkan seperti ini,” jawab Rara.
“Tapi Azka ingat Kia. Coba kalau dia juga bisa pakai baju kayak Aska.” Tiba-tiba anak kecil ini menjadi sendu.
Rara merasa sedih tiba-tiba anaknya menjadi murung, dia tahan air matanya menetes. Selain tak ingin terlihat rapuh di depan anaknya, Rara juga tidak ingin mempermalukan Purba yang telah mengangkat harkat derajatnya di depan warga kampung.
Jangan sampai penampilannya terlihat kusut hanya dengan air mata, yang orang tidak akan mengerti apa penyebab penampilan Rara buruk. Karena di mata orang-orang sedikit saja kekurangan kita pasti dicelanya.
“Kita doakan ya, semoga ayah memberikan Azkiya kepada kita. Besok Ibu akan ke sana untuk meminta Azkia biar bareng-bareng sama kita.”
“Azka ikut ya, Bu,” rengek Azka.
“Azka di sini aja, sama nenek dan bibi.”
“Azka pengen ikut, pengen nemenin Kia nanti kalau ibu sama ayah belantem. Azka bisa memeluk Kia. Pasti Kia ketakutan, kalena ayah seling marah-marah.”
Seketika merinding dirasa Rara, rasa peduli anaknya membuat Rara berdesir merasakan haru dari seorang anak kecil. Bocah kembar yang selalu akur selama ini.
Rara kemudian memeluk Azka, diusapnya punggung anak mungil itu. Sebenarnya bukan Rara yang membesarkan hati Azka dengan memeluk seperti itu, justru dirinyalah yang lemah sehingga ingin memeluk putranya, ada rasa bangga dan sedih di dalam diri Rara.
Mereka berangkat ke pernikahan Retno menggunakan mobil karena jaraknya cukup jauh sekitar 10 menit sama seperti jarak ke rumah Gandhi, hanya saja berlawanan arah, beda kampung.
Jalan desa yang mereka lalui masih seperti jalan setapak yang belum menggunakan aspal. Bebatuan yang terkadang membuat mobil berjalan tidak bisa lancar. Warga yang kebetulan melihat mobil itu melintas, tak hentinya memandang mobil itu saat melaju. Mereka seakan meneliti siapa saja yang ada di dalamnya.
“Enaknya si Rara, baru dua bulan kerja udah dapat orang kaya,” bisik salah satu ibu yang berada di sisi jalan Kebetulan akan pergi ke sawah bersama ibu-ibu yang lain.
__ADS_1
“Iya beruntung banget, tapi sayangnya kalau hasil dari goda menggoda sih biasanya nggak bakal lama. Percuma, siapa tau dia juga jadi PELAKOR di kota.”
“Bener ya Bu, ya Kayaknya nggak mungkin banget deh langsung dapat posisi bahus, sekolah Rara kan nggak tinggi. Terus, di kota paling jadi cleaning service, mana ada sih, bos keren itu bisa jatuh cinta sama cleaning service.”
“Iya, nggak masuk akal banget Meskipun kita memang tidak tahu kejadian sebenarnya, tapi kan aneh aja gitu. Seribu satu yang kayak gitu, kayak dongeng-dongeng di TV.
Orang kaya jatuh cinta sama orang miskin itu mustahil banget. Kejadian di kita orang kaya seleranya aja wanita-wanita yang kayak artis, bukan kaya Rara. Apa selera bos itu rendah? Nggak mungkin lah.
Dengan gaya hidup mereka dan pergaulan mereka, pasti seleranya juga nggak mungkin yang rendah kayak gitu.”
Itulah beberapa spekulasi warga. sebenarnya tidak mempengaruhi kepada orang yang dibicarakan. Jika dipikir-pikir, orang-orang yang bergunjing Itu menyakiti dirinya sendiri.
Karena akan menambah beban di pikiran dan hatinya. Dengan menyimak perilaku orang lain, mengintai apa yang akan terjadi pada orang lain dan itu sering membuat hati merasa gelisah. Padahal tidak ada untungnya buat kita.
Rombongan Rara sampai juga di tempat Retno, banyak orang-orang yang memandang dengan takjub. Karena sepertinya keluarga Rara adalah yang paling kompak menggunakan pakaian seragam yang bagus untuk ukuran di kampung itu.
Meskipun tamu undangan yang lain juga banyak memakai gaun couple bersama pasangan dan putranya, tapi hanya sebatas batik biasa pada umumnya yang sering digunakan kalangan biasa.
Tentu saja gosip itu tetap sampai juga meski jauh. Kebetulan ada ibu-ibu yang dari kampung sama dari Rara, berbisik kepada ibu-ibu yang duduk di sebelahnya di sana.
Namun, mereka ada yang percaya ada yang tidak. Karena mereka tidak menyaksikan sendiri, kalau yang percaya mungkin itulah orang yang tukang bergosip juga.
Kalau yang tidak percaya, itu mereka karena tidak peduli urusan orang lain dan tidak pernah mudah percaya jika belum menyaksikan sendiri.
Ibu Sugeti merasa bangga saat ini, dirinya bisa merasakan menjadi seseorang yang lebih baik dari segi ekonomi ataupun pengakuan dari masyarakat.
Karena Bu sugesti merasakan orang-orang bisa lebih ringan tersenyum padanya saat ini, daripada dulu saat keadaannya masih susah.
**#
Sementara itu di Jakarta. Mona sedang gelisah. Apakah harus menghubungi Purba atau tidak?
__ADS_1
Dua hari ini Purba tidak mengabarinya dan Mona pun bertahan. Dia sudah berjanji ingin menjadi istri yang baik, dia menahan diri untuk tidak menghubungi Purba, takut mengganggu pekerjaannya.
Karena Mona paham, Purba akan jarang menerima panggilan dari siapa pun. Walau ada pesan dari orang lain, kalau sedang fokus mengurusi pekerjaannya meskipun ada yang harus dibalas melalui ponselnya, hal itu diserahkan pada asistennya, yaitu Bizar.
Makanya Mona menahan diri untuk tidak menghubungi Purba. Mona berpikir, nanti saja kalau sudah tiga hari seperti yang dijanjikan Purba. Karena katanya akan tiga hari keperluan di luar kota.
“Mona ...!” Yosef memanggil adiknya, dari lantai satu.
Yosep baru saja pulang dari kantor polisi, mengurusi kasus Bram yang melakukan pelecehan kepada adiknya.
Mona yang mendengar itu langsung beranjak keluar dari kamarnya, menghampiri sang kakak.
Mona dan Yoseph berpapasan di tangga. Yosep langsung meraih tangan adiknya untuk turun dan menjelaskan hasil dari kantor polisi.
Kini mereka duduk di ruang keluarga.
"Perkaranya sulit Mon, si Bram tetap memberikan keterangan bahwa kamu dan dia sama-sama suka," ucap Yosef, masih dengan. napas berat naik turun. Karena capek baru dari luar serat mengontrol emosi mengurus perkara Bram.
"Kok bisa gitu Kak?" Mona merasa heran.
"Ya, namanya orang memberi keterangan bebaslah. Apalagi untuk membela dirinya sendiri, apalagi dia menunjukkan bukti juga."
"Bukti? Bukti apa? Saat aku dilecehin tidak ada siapapun, bahkan CCTV pun tidak ada di sini."
Mona merasa, bahwa Bram memang akan berbuat licik, agar dirinya lolos dari jerat hukuman.
"Tapi, bagaimana nih. Kok readersnya gak pada ninggalin jejak sih. Padahal dari view terlihat banyak, hehe," ucap otor yang butuh support.
Terima kasih yang sudah mampir di novel ini. Jangan lupa supportnya ya. :)
Bersambung...
__ADS_1