Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Suami Menyebalkan


__ADS_3

Bantu Support author ya, dengan like, komen dan Vote. terima kasih.


Akhirnya Purba berpamitan, mobilnya melaju menembus cahaya remang jalanan.


**#


Mona dan Rara masuk rumah, Mona menanyakan keseriusan Rara dengan Purba.


 Saat ini Retno menyadari memang sulit ada di posisi Rara dan tidak bisa menghindari bukan semata rasa sukanya, cuman kesusahan-kesusahan yang Rara alami dan mendapat dukungan materil baik pun moril dari Purba.


Mungkin jika Retno yang berada dalam posisi Rara dipertemukan dengan seseorang seperti Purba, sulit juga untuk menolak.


Dan di dunia ini juga banyak sekali pria yang memiliki istri lebih dari satu. Kenapa tidak l, jika memang Rara nasibnya menjadi orang kedua dalam kehidupan orang lain, yang penting Purba bisa adil untuk keduanya.


Di awal-awal mungkin akan ada konflik, tapi siapa tahu Mona bisa menerima Rara atau mereka bisa hidup berdampingan, kan tidak ada yang tahu ke depannya seperti apa.


“Jujur Ret, sejauh ini aku masih ada rasa-rasa takut, pasti ada merasa bersalah, tapi bagaimana lagi. Toh, aku juga tidak berusaha untuk merebut Purba dari Mona. Mungkin kalau secara kasarnya, aku hanya minta sedikit saja kehidupan Purba untukku.”


“Iya Ra, semakin aku simak karakter Purba dan masa lalunya, sampai bisa menikah dengan Mona itu seperti apa, aku bisa merasakan posisi kamu.  Yang serba membutuhkan dukungan dari sisi mana pun.


Tiba-tiba muncul Purba, terus dari posisi purba juga yang tidak bisa memilih pasangan untuk masa depannya, tiba-tiba muncul kamu yang mungkin sesuai kriterianya. Memang tidak bisa ditolak hal seperti itu.


Sewaras apa pun logika kita, kalau sudah menyangkut sesuatu hal yang kita inginkan di depan, berat sekali pertimbangannya dengan perasaan dan pikiran. Makannya sekarang aku bukan mendukungmu, tapi apa adanya saja, jalani dan tetap hati-hati.”


Retno menjelaskan panjang lebar.


“Terima kasih ya, Ret.  Akhirnya kamu bisa mengerti posisiku juga dan itu semakin aku semangat untuk menjalani hidup ke depannya,” ucap Rara.


 


**#

__ADS_1


Pukul 09.00 malam Purba baru sampai ke rumah dia, sudah melihat Mona tidur wajahnya sangat kusut purba merasa mungkin Mona juga kesal menanti kepulangannya.


Purba langsung membersihkan dirinya mengganti pakaian, kemudian tidur di samping Mona.


Sebenarnya Mona belum tidur, dia melirik pada Purba yang sudah berada di sampingnya, bahkan tadi aktivitas Purba saat baru masuk kamar, sebenarnya Mona pun tahu.


‘Masa tidak terlihat sih mukaku sedang kesal, setidaknya cium kening kek, ngusap dulu kepala sebelum tidur. Ini cuek begitu aja,” batin Mona yang melihat ke arah Purba yg sepertinya langsung tertidur lelap.


Pikiran Mona, Purba akan memberikan perhatian saat pulang. Karena merasa bersalah pulang terlambat, tapi ternyata tidak seperti itu.


Mungkin beda lagi kalau wajah Mona terlihat sebab habis menangis, tapi wajah Mona hanya terlihat kusut saja.  Sayangnya Mona jika ada rasa kesal di hati, dia lebih melampiaskan ke marah daripada menangis, jadi Purba tidak bisa membedakan apakah Mona pantas untuk dikasihani atau tidak.


Bukankah selama ini Mona memang wanita yang cukup kuat, tidak peduli dengan perasaan orang lain. Makanya Purba tidak peka saat wajah Mona terlihat kusut, mungkin hanya sekedar kesal biasa pikir Purba seperti itu.


 


**#


“Mas, mulai hari ini aku akan serius mempelajari untuk segala urusan kamu dan,” ucap Mona di sela makanya.


“Maksudnya mah?” tanya Purba singkat.


“Iya ... kenapa tidak aku yang menjadi sekretaris Mas? Karena kan itu perusahaan Papaku juga, dan aku ingin perusahaan Papa tumbuh dengan baik buat anak cucu kita nanti.


Otomatis aku juga harus terjun kan? Tapi aku sadar tidak mengerti tentang mengurus perusahaan, makanya aku ingin belajar.” Mona menjelaskan keinginannya untuk gabung di perusahaan BT, lebih aktif.


Keadaan hening beberapa saat. Dalam benak Purba pemikirannya beberapa waktu yang lalu, untuk tidak memperkerjakan Rara lagi mungkin tepat. Karena Mona akan melakukan segala cara untuk tetap berada di posisinya, baik sebagai pemilik perusahaan ataupun sebagai istri dari Purba.


Purba harus cari akal bagaimana agar dirinya tetap bisa mengumpulkan modal untuk masa depannya dan Rara pun tetap masih memiliki penghasilan di Jakarta. Karena harapannya pergi ke Jakarta untuk memperbaiki ekonominya, bukan malah mendapat masalah seperti ini.


“Kenapa dian Mas?” tanya Mona penuh curiga.

__ADS_1


“Tidak apa. Ya, Itu terserah kamu.” Jawaban Purba bukan respons yang Mona harapkan.


“Maksudnya terserah aku? Tidak ada ucapan lain gitu! Tidak ada respon yang lebih mendukung istrinya untuk membantu di perusahaan?”


“Iya... maksud terserah, itu kan perusahaan kamu. Ya benar kan?Terserah kamu mau melakukan apa pun apalagi untuk mengembangkan perusahaan itu kan baik.”


“Iya. Tapi Mas tahu sendiri kan, aku tidak mengerti soal mengurus perusahaan. Setidaknya kasih gambaran kek, kasih masukan kek, aku harus ngapain. Jadi selama ini kamu ke sekretaris kamu yang baru tidak memberikan materi apa pun? Pelajaran apa pun mereka dapat sendiri, begitu saja? Kok bisa?”


Mona benar-benar kesal, pagi yang buruk buat mood Mona.


“Bukan begitu Ma, maksudnya. Ya terserah apa yang akan dilakukan, itu perusahaan Mama juga.”


“Iya aku tahu Pa, tapi kalau aku melakukan sesukaku, bisa saja aku menghancurkan semuanya. Aku menggunakan uang kantor sesuka. Aku akan mengurus kantor secara asal, apakah itu bisa menjadikan kantor lebih baik atau tidak, nggak peduli.


 kadang-kadang pikiranmu aneh Mas. Bisa simpel nggak sih jawabnya? Aku hanya ingin menjadi bagian perusahaan itu dan aku sadar tidak memiliki kemampuan mengurus perasaan. Makanya aku minta bantuan kamu, gitu aja kok selalu dibikin ribut.”


“Jadi mau Mana apa?” tanya purba singkat.


Mona menatap Purba dengan tatapan kesal, sungguh cape dari tadi bahasan seakan muter-muter gak jelas. Nafasnya ditarik dengan kasar, sendok yang di pegang Mona, disimpan juga dengan kasar.


“Masih saja nanya gimana sih? Aku udah ngomong panjang lebar. Coba deh kalau lagi ngomong sama aku jangan mikirin yang lain. Mintanya agar aku tidak selalu berpikiran negatif, tapi perilakumu membuat aku selalu berpikir negatif. Apa sih maksudmu Mas? Sengaja mancing aku emosi?”


Purba baru sadar, bahwa respons dirinya semua salah di mata Mona. Apakah benar dirinya terlalu berputar-putar?


Dalam keheningan mereka mengekspresikan sarapan hingga selesai.


Walaupun keadaan sedang panas, tapi Mona tidak seperti dulu, marah dan menjauh dari Purba. Kini Mona tetap ikut ke kantor, meski dengan aksi bisunya.


Mona sadar, mungkin saja aksi bisunya tidak dipedulikan oleh Purba, bahkan belum tentu Purba akan membujuknya. Namun, paling tidak dalam aksi bisunya, Mona bisa melampiaskan kesal dan menjadi ultimatum buat Purba, bahwa dirinya sudah berubah. Bukan Mona yang dulu, manja dan sensitif.


 bersambung....

__ADS_1


__ADS_2