
Bab129
"Ibu! Ayah!" teriak Mona saat baru membuka pintu yang menuju ke arah taman belakang.
Pak Kukuh, Bu Purwanti dan Purba menoleh ke sumber suara. Kedua orang tua Purba langsung menghampiri, menyambut menantunya itu.
Purba sempat terkesiap, untung Mona masih jauh darinya, dia tidak akan mendengar apa yang sedang dibahas Purba dan kedua orangtuanya.
Kedua orang tua Purba bukan hanya karena senang menyambut istri dari putranya ini, tapi karena Mona adalah anak dari majikannya juga. Sehingga kedua orang tua Purba memang harus bersikap sopan dan menghargai keberadaannya.
Sambil berjalan menuju tempat mereka berbincang, Mona menanyakan kabar mertuanya kapan datang, sama siapa aja, atau juga menanyakan kesehatan dan keadaan di kampung.
Mona memang terlihat lebih ramah sekarang, bahkan lebih bisa memperlakukan orang lain dengan lebih akrab. Biasanya Mona tidak peduli dengan keadaan orang lain, bahkan menyapa sangat jarang dilakukan. Karena menurut Mona orang lain itu gak penting. Dirinya punya segalanya, bisa membeli apa pun yang dibutuhkan, termasuk tenaga dan harga diri orang lain.
Mona mengulurkan tangan pada Purba untuk menjabat tangan dan menciumnya.
Kedua orang tua Purba tersenyum melihat itu, Mona sungguh manis, dilihatnya tidak seperti yang mereka dengar saat Purba bercerita tentang rumah tangganya.
Ibu Purwanti mencolek kepada suaminya, memperlihatkan betapa santunnya Mona kepada Purba.
Jelas aja mereka akan melihat Mona menjadi istri yang wajar, karena pertama kali bertemu disuguhkan pemandangan yang manis. Coba kalau mereka tahu dari dulu.
"Ibu sama Ayah, apa sengaja dipanggil Mas Purba ke sini?" tanya Mona.
__ADS_1
"Iya, Non. Katanya sekalian liburan, juga Purba meminta kami menjaga rumah," sahut Bu Pur.
"E-Eh, Bu ... kok masih manggil aku Nona. Aku jadi nggak enak. Sebenarnya aku ini anak ibu bukan sih? Aku kan istrinya Purba, anak ibu juga, kan?" rengek Mona, dengan menggoyangkan lengan Ibu mertua, yang duduk di sampingnya.
Bu Purwanti tersenyum tak enak juga, benar apa yang dikatakan mantunya. Bu Pur mengusap tangan Mona yang masih memegang lengannya, "Iya, Ibu Minta maaf. Habisnya belum terbiasa, hehehe," ucapnya.
"Dan, kamu Mas. Kok jahat sih. Sekalinya ibu sama ayah ke sini malah suruh jaga rumah. Kita kan mau pergi jauh. Ibu datang, kita malah gak ada," omel Mona pada Purba.
"Tapi ingin Ibu sama Ayah seperti itu, Ma," bela Purba.
"Gimana kalau Ibu dan Ayah, ikut aja? Mumpung kita ketemu juga," pinta Mona dengan raut wajah semringah.
Bu Purwanti dan Pak Kukuh saling pandang. Masa iya mereka ikut mendadak?
"Tapi mah kita kan mau ... ." Ucapan Purba menggantung, dia sungkan rasanya membicarakan hal yang romantis di depan orang tuanya.
Purba pura-pura tidak ingin terganggu masa bulan madunya, jika orangtuanya di bawa. Padahal, dia ada rencana lain untuk memanfaatkan momen tersebut.
"Tapi, Ibu sama ayah juga bisa berbulan madu lagi di sana, kan?" Mona malah sengaja mengajak kedua orang tua Purba untuk bulan madu juga. Tawa renyahnya menggambarkan ajakan yang tulus.
"Tapi tiketnya tidak bisa mendadak," ucap Purba lagi.
"Bisa, Pa. Kita cari yang membatalkan penerbangan, lewat aplikasi, atau pakai heli temennya Papa," ujar Mona.
__ADS_1
"Udah Nak, tidak apa-apa. Biar kami bulan madu di sini saja. Hihi," Ibu Purwanti malah bercanda.
Namun, mereka benar-benar serius dengan penolakannya. Biarkan mereka, anak-anaknya menikmati bulan madu yang tertunda. Orang tua cukup menikmati suasana rumah anak mantu, yang baru dikunjunginya setelah cukup lama tak pernah berkunjung.
"Kalian di sana mau berapa hari?" tanya Pak Kukuh.
"Paling cuman dua atau tiga hari, Yah?" ucap Mona, dia kini selalu bicara dengan riang. Apakah karena di depan mertuanya?
"Masih sempat ketemu kami lagi, Sudah... berangkat aja. Nikmati hari kalian," ucap Pak Kukuh kembali.
"Lagian Mas, ngapain sih manggil Ibu dan Ayah ke sini saat kita pergi? Heran deh. Orang tuh kalau mengundang seseorang, kitanya ada. Ini i malah kitanya pergi," tegur Mona pada Purba.
"Tadinya, aku ingin ibu dan ayah datang udah lama. Cuma, mereka tanggung akan panen. Jadi aku minta datang kapan saja, eh mendadak kemarin mereka bilang bisa ke sini. Ya udah aku iyakan, masa aku tolak, Ma?" jelas Purba.
Padahal dulu Purba selalu menolak saat kedua orang tuanya ingin berkunjung.
"Iya sih, ya udah aku mau ke kamar dulu. Nggak enak dari pagi, gerah. Bu, Yah, Mona permisi," kemudian Mona pergi meninggalkan Purba dan orang tuanya.
Bu Purwanti langsung mencolek Purba, dia menyampaikan bahwa begitu manis menantunya itu. Tidak menyangka mereka akan diterima dengan baik oleh Mona.
Purba merasa khawatir. Mengapa kedua orangtuanya jadi terkesan pada Mona?
Bersambung....
__ADS_1