Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Pilihan Sulit


__ADS_3

183


"Tidak mister, tempatnya sudah benar hanya ada problem sedikit." Mona menjawab. Namun z matanya fokus pada layar.


Dia sedang bernegosiasi lagi dengan peneror, seperti ini. Karena tidak semua orang paham akan taktik peneror, Mona hanya melakukan perintah, jika pun error meminta lebih maka harusnya disampaikan jangan seakan menjebak seperti ini.


"Baiklah tak masalah, kamu tetap masuk pintunya tidak." Pesan balasan dari bendera.


"Ingat hanya sendiri." Itu mah ngirim pesan kembali.


Mona memasukkan ponselnya ke dalam tas sejenak dia terdiam. Halo melihat pada Waluyo.


"Mister bisakah anda tunggu di mobil sebentar?" pinta Mona dengan hati-hati. Sebenarnya dia tidak enak meninggalkan Mas Waluyo sendiri, dia yang mengajaknya namun seakan dia yang tidak menghormati.


"Baiklah kalau begitu, tidak ada hal yang darurat bukan." Mas Waluyo cukup mengkhawatirkan Mona.


Mona menggeleng dengan senyuman, tangannya menyentuh lengan Waluyo. Menandakan bahwa dia baik-baik saja dan Mas Waluyo jangan khawatir.


Waluyo mengangguk, dia juga menyentuh lengan Mona, menepuknya beberapa kali. Tanda sebagai dukungan bahwa lekas selesaikan urusan dengan temannya.


Ya, Waluyo tahunya Mona hanya berurusan dengan temannya.


Waluyo Kembali masuk ke dalam mobilnya, setelah duduk, pandangannya tidak lepas dari punggung Mona. Ada rasa kecurigaan kepada rekan bisnisnya itu. Waluyo pun tidak bisa menginterogasi Monas secara detail, takutnya tersinggung, takutnya juga ini adalah privasinya.


***


Bahan Mona menekan handle pintu, suara halus dari pintu tersebut ditimbulkan. Lihat suasana rumah yang cukup terang walaupun jendela tertutup. Dia melihat Apakah ada seseorang di sana.


"Permisi!" seru Mona, Sambil menoleh ke kanan ke kiri, lalu beberapa ruangan yang tak berpintu dia tengok juga. Kalau mungkin ada orang di sana.


"Teruslah ke belakang. Aku tidak di dalam ruangan." Pesan terkirim pada ponsel Mona, sebuah arahan agar Mona sampai pada orang yang dicarinya.


Jika peneror itu mengatakan dia tidak ada di ruangan, berarti maksudnya tidak ada pada sebuah kamar. Penerror itu sedang menunggunya di ruangan terbuka seperti yang mana lalui entah itu dapur ruang keluarga atau ruang lainnya bukan ruang privasi seperti kamar.


Benar saja meskipun rumah itu ternyata besar. Namun, memanjang ke belakang. Mona menemukan seseorang yang sedang duduk di sebuah kursi dengan senderan yang cukup tinggi, kursi itu berwarna hitam.


"Kamu siapa?" tanya Mona mulai tergugah rasa penasarannya.


"Kita memang tidak mengenal, tapi aku kenal dekat dengan orang yang memiliki video itu." Suara seorang pria, sepertinya sudah cukup matang. Namun terkadang pemilik suara berat bisa saja orangnya masih muda.


"Lalu apa yang harus aku lakukan." Mona bertanya langsung pada intinya, dia tidak ingin berlama-lama di sana.

__ADS_1


"Tadinya aku hanya ingin sejumlah uang untuk membebaskan pacarmu Atau paling tidak seorang pengacara yang kompeten agar pacarmu menyudahi hukumannya."


"Pacar? Pacar yang mana? Aku wanita bersuami, tidak memiliki pacar," ucap Mona tegas.


"Hahaha, wanita bersuami. Yayaya kau memang wanita bersuami dan saat ini kau sok. Sejak dulu idola diskotik wanita hiper tiada duanya Siapa yang tidak mengenal permainanmu. Bahkan kami pernah menonton lincahnya tubuhmu dan menggairahkannya jeritan nafas mu yang mampu memancing kami semua namun tak dapat menyentuhmu selama Bram masih mengklaim Kau adalah miliknya."


Degh!


Seakan tersambar petir di siang bolong, mendengar seperti itu Mona langsung merinding. Dadanya seakan berhenti berdetak. Dia memang wanita nakal, bukan mantan wanita nakal. Sampai saat ini pun sebenarnya Mona masih belum bisa menahan kebiasaannya minum minuman keras, meredam nafsunya yang berlebihan, tapi setidaknya dia sudah bisa menurunkan level untuk tidak melakukan hal itu semua.


Mona masih melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi dari Purba. Namun, kapasitasnya sudah menurun. Minum-minuman hanya untuk menghangatkan badan, sedangkan untuk hipernya, dia tidak melakukan dengan orang lain, tapi dia melakukan sendiri hanya untuk menyalurkan fantasinya saja.


Namun, jika Mon saat ini mendengar bahwa dia pernah menjadi tontonan beberapa orang saat making love dengan Bram, rasa dirinya yang memang merasa hina semakin hina saja.


"Kenapa diam? Rindu akan hal itu?" Tanya peneror itu yang sesaat telah memberi waktu pada Mona, untuk flashback mengingat masa lalunya.


"Sebenarnya siapa kau dan apa yang kau inginkan cepat katakan?" Mona tidak peduli lagi dia pernah seperti apa di depan peneror itu, atau apa hubungan peneror itu dengan Bram atau dirinya.


Yang pasti Mona ingin segera keluar dari rumah itu.


"Seperti yang sudah aku katakan tadi?" Ucap peneror itu.


"Tapi sekarang kita bukan bermain dengan jumlah."


"Maksudmu?" Tanya Mona, dia mengerutkan dahinya.


"Karena kau membawa seseorang ke sini, aku tidak tahu siapa dia. Apakah pacarmu atau sugar daddymu. Yang pasti dia bukan suamimu. Aku tahu itu. Kau hanya harus melayaniku seperti agresifnya kau saat dulu. Bukankah itu lebih mudah daripada sejumlah uang yang mungkin akan membuat perusahaan ayahmu bangkrut."


"Anggap saja itu sebagai ganti rugi karena kau sudah ceroboh membawa orang asing ke mari, tanpa persetujuanku," imbuh peneror itu.


"Jadi sebenarnya maksudmu hanya ingin menikmati tubuhku? Hanya sebuah rasa penasaran? Apa sebenarnya hubungan kamu dengan Bram, hah? Jangan-jangan kamu hanya memanfaatkan situasi seperti ini. Kok tidak tahu menahu tentang video itu. Kau hanya menjebakku." Mona mulai marah, nada suaranya semakin tinggi dan tidak terkontrol.


Pria berpakaian serba hitam itu berdiri, mukanya pun ditutup. Karena pakaian atas menggunakan seperti hoodie. Hingga penutup kepala full ke depan hanya terlihat sedikit bibir dan hidung. Itu pun tidak begitu jelas, karena ruangan di sana tidak begitu terang seperti ruangan yang di depan yang pertama Mona lalui.


Pria itu mendekat ke sebuah rak, di bawah sebuah map dan bolpoin. Lalu ditaruhnya map tersebut di atas meja, disusul bolpoin di atas map tersebut.


Lelaki itu mengatakan, surat perjanjian itu sudah disiapkan sejak awal. Karena hal ini sudah diduga sebelumnya. Jika hanya sekedar ancaman tentunya Mona akan melaporkan kembali pada polisi. Jaringan Bram akan terciduk semua.


Namun kini Bram juga harus merelakan senjata satu-satunya untuk memeras Mona. Yang penting dia bebas terlebih dahulu.


Yaitu tentang video asusila dirinya dengan Bram, akan disebarkan jika Mona tidak membantu membebaskan yaitu dengan pengacara yang kompeten atau sejumlah uang.

__ADS_1


Mona tidak bisa melakukan ancaman, jika pun ancaman itu terjadi mereka sudah berani menanggung rugi. Mereka semua masuk penjara dan Mona pun terkena malu karena videonya sudah tersebar dengan cepat di media sosial.


Jadi mereka semua akan sama-sama rugi termasuk Mona.


"B****** ya kalian!" teriak Mona.


"Ya. Bahkan kami lebih dari itu dan kamu pun termasuk. Silakan laporkan jika kami ujung-ujungnya dipenjara, saat kamu melapor video itu dalam hitungan detik sudah beredar di mana-mana. Dan sekarang, tandatangani perjanjian ini atau laporkan?" ucap peneror dengan tegas.


Monata hentinya ngumpet pria itu tujuannya bukan hanya sekedar ingin melampiaskan emosinya tapi sambil mengeluarkan waktu untuk berpikir keputusan mana yang akan diambil.


Namun, Mona sepertinya tidak akan memilih keduanya. Bukan kah tadi saat dia masuk tidak ada orang satu pun di sana? Atau kah ada tapi tersembunyi?


'Ah, terserah nanti. Yang penting berjuang dulu daripada menyerah begitu saja.' batin Mona.


"Pokoknya aku tidak tidak akan memilih apa pun dari perjanjian itu. Terserah! teriak Mona yang langsung berbalik badan menuju keluar.


Terlihat lelaki itu tersenyum smirk sambil bersandar tubuhnya pada meja. Sedangkan kedua tangannya bersedekap dengan gaya yang santai, dia mengiringi kepergian Mona dengan tatapannya yang tajam.


Lelaki itu tidak ketakutan jika Mona kabur, Mona tidak akan lolos karena itu tidak mungkin.


***


Sementara itu mas Waluyo di dalam mobil merasa gelisah. Kenapa rekan bisnisnya begitu lama di rumah itu?


Alhasil dia mencoba untuk mengirim pesan pada Mona, apakah masih lama atau sebentar lagi sudah selesai. Waluyo mengerti Kalau pesan itu akan lama dibaca oleh Mona, mungkin sedang sibuk dengan temannya.


"Kamu tahu daerah ini?" tanya Mas Waluyo kepada sopirnya.


Sopir itu memang dari Indonesia. Waluyo tidak membawa Sopir dari negaranya. Waluyo pikir Indonesia itu wilayah yang sempit atau karena ketidaktahuannya jadi menyangka sopirnya pasti tahu daerah Itu. Karena sama-sama dari Indonesia. Sopir barunya memang orang Indonesia, tapi dia tidak tahu daerah Bogor.


"Tidak mister," jawab sang supir pasti.


"Lalu. Apakah kita bisa menelepon polisi kalau ada kejadian seperti ini? Takutnya ada kejahatan di dalam," tanya Mr. Waluyo begitu polos.


"Tidak mister, kita tidak boleh asal lapor kalau buktinya belum jelas," ucap sang sopir, meskipun dia bukan dari kalangan yang berpendidikan tinggi, namun dia cukup tahu bagaimana budaya hukum di negaranya.


Hukum di Indonesia tidak seperti di luar negeri yang cepat tanggap dan laporannya cepat diproses.


Bahkan jika apa yang kita laporkan ternyata tidak begitu urgent, maka laporan itu akan berdampak buruk kepada diri sendiri, seakan mempermainkan petugas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2