
Bab 92
Catatan : Narasinya harus benar-benar dibaca, karena biar tidak ketinggalan alur cerita yang sebenarnya. Kebanyakan pembaca hanya mengincar dialog untuk membaca cepat makanya saya memberi catatan di sini. Untuk dialog saya tuangkan seperlunya saja.
Tiap penulis memiliki gaya masing-masing ya..., peyuk readers semu. ;)
__________
Sang sopir sebenarnya merasa sungkan untuk menolong anak dari majikannya. Bukan kenapa, karena kondisi Mona yang membuat Pak sopir bingung bertindak.
Namun, demi rasa sosialnya menolong sang majikan dengan membuang pandangan sopir itu perlahan mengambil selimut, karena dia sambil menoleh agar tidak melihat seluruh tubuh Mona yang tanpa sehelai pakaian pun.
Sementara di sisi lain Bram dan Yosef sedang bergulat, adu fisik.
“Pak! Pak panggil security wanita ke sini,” ucap Yosef di sela perkelahiannya dengan Bram.
Dengan deru nafas Yosef yang yang tak beraturan, dia sempatkan mengatur sopirnya, untuk memberikan pertolongan pada Mona.
Sopir itu mengerti apa yang dimaksud oleh majikannya. Karena setahu dia tidak ada security wanita di apartemen ini. Dilihat tadi saat masuk. Namun, Pak sopir tetap menghubungi security melalui sopirnya Mona. Karena dia tidak ingin turun, takut terjadi hal-hal yang lebih serius di dalam apartemen tersebut.
“Baik Pak, saya akan naik dengan beberapa security ke atas,” ucap sopirnya Mona.
Tanpa menunggu lama lagi dua security dan satu orang perempuan masuk ke apartemennya Bram.
Bukan security wanita, itu adalah seorang ibu yang terlihat sudah cukup matang. Rupanya dia adalah penghuni apartemen yang cukup akrab dengan security tersebut, dia adalah penghuni lama. Jadi sudah cukup kenal dengan beberapa penghuni.
Ibu Itu diminta untuk mengenakan pakaian pada Mona, setidaknya saat Mona dibawa ke mobil akan lebih leluasa. Akan bahaya jika hanya sekedar mengenakan selimut untuk membungkus badannya yang tanpa sehelai kain pun.
Sementara itu sambil menunggu si Ibu mengenakan pakaian pada Mona, salah satu security merekam kejadian di sana. Satu security lagi memisahkan antara Bram dan Yosef, bagaimanapun main hakim sendiri itu tidak di perkenankan.
“Sudah Pak,” ucap Ibu tersebut.
__ADS_1
Satu security menggendong tubuh Mona langsung ke mobil, sedangkan Pak sopir mengiringi security tersebut untuk menjaga jaga.
Security yang satunya dengan Yosef mengikat Bram, mereka segera langsung ke kantor polisi.
Pak sopir mengucapkan terima kasih pada sang Ibu, sebelum dia pergi menuju rumah besar yaitu kediaman orang tuanya Mona.
**#
Orang tua Mona sudah dihubungi oleh sopirnya Yosef yang mengantar Mona ke rumah, sedangkan sopirnya Mona mengantar Yosef ke kantor polisi untuk menyerahkan Bram.
“Ya ampun! Ini ada apa, Pak?” ucap Nyonya Hartanto terkejut melihat Mona yang dibopong seperti itu.
“Ceritanya panjang, Bu, tapi ini termasuk kejahatan. Mungkin bisa dikategorikan pelecehan,” ucap sopir bingung harus menjelaskannya kalau secara singkat.
“Ya udah ayo, bawa ke kamar.” Nyonya Hartanto dan beberapa pelayan wanita ikut ke kamar.
Tentu saja rumah itu jadi ramai berkumpul beberapa pelayan, karena mereka sedang sibuk. Ada yang di taman, di teras, bersih-bersih di dalam rumah. Jadi mereka ingin tahu saat Pak sopir datang bersama satpam yang tidak mereka kenal, membawa Mona.
Asisten yang satu lagi menyiapkan pakaian bersih serta minuman hangat.
Selagi para asisten sedang merapikan keadaan Mona, Nyonya Hartanto berbincang dengan satpam tersebut beserta pak supir.
Pak sopir menceritakan awalnya dia dengan Yosef memang mengikuti Mona ke sebuah apartemen. Namun, Pak sopir itu tidak tahu tujuannya untuk apa, dia hanya diperintah untuk mengantar Yosef, itu saja.
Akan tetapi, Mona masuk sendiri. Sedangkan Yosef menunggu di luar gedung. Beberapa saat kemudian Yosef menerima panggilan. Namun, tidak ada jawaban dari Mona.
Yosep segera naik dan saat ada di salah satu apartemen, sudah terlihat salah seorang pria sedang berada di ranjang bersama Mona yang sudah lemah. Dan itu adalah Bram.
“Hanya itu yang saya lihat, Bu,” papar sopir tersebut.
“Ya ampun... kenapa nasibmu malang sekali Nak...,” ucap Nyonya Hartanto sambil menatap sendu pada Mona, yang masih dibersihkan oleh asistennya.
__ADS_1
“Terus sekarang bagaimana Yosef? Di mana dia?” tanya Nyonya Hartanto mengarah pada Pak sopir dan Pak satpam tersebut, meminta penjelasan.
“Teman saya sedang membawanya ke kantor polisi ibu, bersama Pak Yosef,” jawab security tersebut.
“Terima kasih banyak, Pak. Sudah mau mengantarkan sampai di sini,” ucap Nyonya Hartanto pada security.
Meskipun itu tugasnya security untuk menjaga keamanan apartemen. Namun, Nyonya Hartanto memberi isyarat kepada Pak sopir untuk memberikan sebuah imbalan, tentunya sebagai ucapan terima kasih.
Pak sopir mengantarkan security kompleks hingga teras rumah. Serta menyelipkan amplop untuknya dan uang transport beda lagi. Sebab Pak sopir tidak bisa mengantarkan kembali ke apartemen. Sesuai perintah Nyonya Hartanto.
Nyonya Hartanto sekarang mendekati Mona, melihat keadaan Mona, air matanya luruh juga. Bagaimanapun buruknya Mona dahulu, tapi dia tetap anaknya. Tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti ini, seperti pemerkosaan yang sangat keji.
“Mbak, apa baiknya kita bawa ke rumah sakit saja ya? Ini tidak wajar, tubuhnya lebam-lebam,” ucap Nyonya Hartanto.
“Sepertinya lebih baik begitu Bu, takutnya ada infeksi atau apa,” respons ART.
“Kalau begitu panggil ambulans saja,” perintah Nyonya Hartanto pada asistennya.
Nyonya Hartanto sebenarnya sudah tahu siapa Bram, karena dulu juga saat Mona masih duduk di bangku sekolah SMA, pergaulan dia memang sudah tak terkendali. Saat dia kuliah, mulai kenal dengan Bram dan sering diajak ke rumah.
Sering kali ibunya menegur. Namun, malah percekcokan yang terjadi, Mona kabur hingga pernah hamil di luar nikah Memang setahu Nyonya Hartanto laki-laki yang sangat dekat dengan Mona hanya Bram.
Sebenarnya saat itu bisa saja Bram diminta pertanggungjawaban atas kehamilan Mona. Namun, Nyonya Hartanto tidak ingin memiliki menantu yang sama-sama tidak bisa menghargai masa depannya.
Posisi sulit sebagai seorang ibu, satu sisi harus tegas kepada anaknya, satu sisi saat anaknya malah mencari kenyamanan di luar. Hati seorang ibu pasti sakit, selalu khawatir setiap saat. Bagaimana keadaan anaknya jika terlalu lama di luar rumah? Akan lebih buruk jadinya.
Maka Nyonya Hartanto memutuskan untuk lebih sabar menghadapi Mona. Yang penting dia melihat Mona setiap hari pulang ke rumah. Nyonya Hartanto memiliki keyakinan suatu saat Mona pasti berubah, tersandung dengan kelakuannya sendiri.
Manusia sudah biasa, akan sadar saat perbuatannya menghukum dirinya sendiri.
Dan saat ini pun Nyonya Hartanto menganggap apa yang didapat oleh Mona adalah pelajaran berharga baginya.
__ADS_1
Bersambung..