
Bab157
Jam istirahat sudah berakhir. Namun, Purba belum kembali ke kantornya. Meskipun Mona ingin mengambil sikap diam, tetap saja dia merasa risau, marah, ingin melampiaskan. Namun, pada siapa? Menelpon Purba juga rasanya percuma tidak akan menggubris.
Mona memanggil sopir pribadinya yang beberapa waktu lalu mengantar Purba saat pagi sekali berangkat, karena menyusul Bizar yang sudah sampai tempat duluan, saat Mona ke kantor diantar oleh security.
"Jadi waktu itu bapak nganter Mas Purba ke kantor polisi?"
"Iya Bu," jawab Pak Sopir.
"Apa Bapak tahu? Ada urusan apa?"
"Tidak Bu. Yang saya tahu bapak cuma bilang lagi bantu temennya."
"Tahu temennya yang mana?"
"Tidak Bu, saya tidak melihat orang lain saat bapak keluar masuk kantor polisi, cuman lihat Mas Bizar saja."
Mona mengangguk-anggukkan kepala, hanya sebatas itu informasi yang bisa dia tahu untuk mengorek kebenaran suaminya. Memang benar pasti segalanya Bizar yang lebih tahu, tapi tidak mungkin dia juga berterus terang.
Tadinya Mona memanggil supirnya ingin mencoba membuntuti Purba. Namun, ke mana? Tidak ada informasi bahwa Purba pergi ke mana. Setidaknya kalau ada informasi meeting di sebuah cafe atau di mana, bisa dicek kebenarannya.
***
"Alamatnya benar ini Mas?" tanya Rara saat sudah sampai di perkampungan. Makin ke dalam di sebuah tempat dengan padat penduduk. Awal masuk kompleks tersebut terlihat perkampungan biasa, semakin dalam terlihat banyak kontrakan yang hanya sepetak.
Sekumuhnya saat Rara tinggal di kampung, tapi tidak sekumuh tempat itu yang terlihat pakaian bergantung di mana-mana, ada yang sebagai jemuran, ada juga entah kain apa tergantung tidak jelas.
Terlihat lalat bergulung di depan rumah, karena sampah rumah disimpan di depan untuk menunggu antrian dibawa oleh petugas sampah.
Rara dan Purba turun, dia menanyakan kebenaran alamat pada seseorang yang sedang nongkrong di sebuah warung kopi.
"Bener Bu, ini kontrakan yang Ibu maksud," ucap pria itu, sambil menunjuk ke bangunan sebelah.
"Ibu mencari siapa ya? Kalau boleh saya bantu."
__ADS_1
"Cari anak kecil yang bernama Azkia," jawab Rara.
"Azkia? Tanya orang itu sekali lagi, seakan dia tidak begitu familiar dengan nama itu."
"Dia ke sini bersama ayahnya." Rara menambahkan.
"Oh ... siapa nama ayahnya?"
"Gandi, Mas."
"Oh... Pak Gandi. Ayo Bu ikut saya!"
Pria itu membawa Rara dan Purba masuk ke komplek kontrakan Gandi, saat sudah melewati beberapa kamar dia menunjukkan bahwa inilah kamar Gandi. Namun, memang selalu sepi kalau siang, tapi dia juga menunjukkan bahwa anaknya selalu ada di tempat Bu Heti.
"Bu Heti siapa ya Mas?" tanya Rara, dia berpikir mungkinkah istri baru Gandi?
Pria itu menjelaskan bahwa Bu Heti adalah seorang pedagang jajanan kecil. Azkia selalu bantu-bantu di sana.
Rara mendengar putranya yang sudah sanggup bertahan hidup dengan bekerja, serta harus menikmati masa kecilnya dengan bersusah payah. Rara merasa sedih juga terharu. Anaknya bisa bertahan dalam hidup yang begitu keras..
Rara fokus mengobrol bersama pria yang mengantarnya untuk menemui Azkia. Tanpa disadari Azkia yang saat itu baru membuang sesuatu di depan rumah Bu Heti melihat ada sesosok yang sepertinya dia kenal.
Seorang pria tampan berpakaian bagus, penampilan ibunya juga berbeda. Lebih terlihat orang kaya saat ini. Hati azkia merasa sakit karena teringat lagi saat acara bahagia di foto itu. Ibunya tidak berusaha mencarinya, malah lebih dulu mementingkan pernikahannya.
Azkia segera masuk dan berkata dengan terburu-buru pada Bu Heti.
"Bu, kalau ada yang mencari aku bilang tidak ada, ya," ucap Azkia berlari terus sembunyi di belakang kasur yang digulung.
Bu Heti yang sudah menggulung-gulung adonan ingin bertanya. Namun Azkia keburu bersembunyi, Bu Heti menghampiri ke belakang kasur, terlihat Azkia sedang membungkuk.
"Ada apa Nak? Kok terburu-buru gitu? Ada siapa?" tanya Bu Heti melihat Azkia yang seperti orang ketakutan.
"Pokoknya Kia minta tolong, sebentar lagi ada yang mencari Kia, tolong jangan beritahu di sini, tolong ya Bu, tolong...."
"Iya, tapi harus jelas kenapa?" Bu Heti keukeuh.
__ADS_1
"Nanti kia jelasin setelah orang itu pergi, tolong ya Bu, tolong Azkia." Anak kecil itu terus memohon kepada Bu Heti.
Bu Heti jadi ikut panik, dia melihat Azkia, tangan anak kecil itu bergerak-gerak seperti seorang mengusir, agar Bu Heti lekas pergi tidak berada di sana.
Bu Heti langsung menjauh dari tempat persembunyian Azkia. Bu Heti ke depan rumah ingin tahu sebenarnya apa yang membuat Azkia berlari dan bersembunyi.
Bertepatan sekali Bu Heti yang hendak ke depan, pria yang mengantar Rara mencari Azkia, sudah tiba di kamar kontrakan Bu heti.
"Bu Heti? Kebetulan sekali. Ni, Ada yang mau cari Kia," ucap Pria tersebut saat melihat Bu Heti keluar dari rumahnya.
""Oh? Siapa ya?" tanya Bu Heti.
Kemudian pria itu menjelaskan sebentar, saat tadi dia selama berjalan Rara mengobrol bahwa dia adalah ibunya Kia, cuman tidak bisa bercerita banyak.
Setelah itu dilanjutkan oleh Rara bahwa dia mantan istrinya Gandi dan kini ingin menjemput anaknya, yang katanya ada di kontrakan tersebut. Bu Heti langsung ingat pesan Azkia. Mungkin ini yang dimaksud anak kecil itu, dia tidak ingin bertemu dengan ibunya karena sakit hati, tidak diikutsertakan dalam acara bahagia ibunya.
Ibunya lebih memilih suami baru daripada mencari Azkia, anak polos seperti Azkia mudah dihasut oleh orang lain, tentunya Kia oleh Gandi yang memberi pandangan bahwa Rara tidak sayang Azkia. Karena sudah cukup memiliki Azka, maka tidak perlu mencari Azkia untuk sama-sama merayakan kebahagiaan Rara yang mendapat suami baru.
Bu Heti mempersilahkan Rara untuk masuk, dia sedikit beberes untuk menyingkirkan adonan yang sedang dia kerjakan.
Pertama-tama Bu Heti berbasa-basi dulu menanyakan bahwa Rara berasal dari mana, begitupun juga dengan Purba. Dua gelas minuman sudah tersedia di depan mereka.
Setelah Rara menceritakan sedikit kondisinya dengan Gandi, Rara langsung pada tujuan yaitu ingin membawa Azkia pulang.
"Tapi maaf Bu, Azkia saat ini sedang main."
"Kata bapak ini, Kia sering di sini tiap hari?" tanya Rara.
"Iya benar. Mungkin sekarang lagi ingin main, tapi nanti kalau ada saya beritahu. Bahwa ibu datang mencarinya ".
Rara terdiam sebentar, dia berpikir baiknya bagaimana. Lalu sedikit berdiskusi dengan Purba, tentunya dengan suara lirih.
Bagaimana lagi ini? Waktu sudah sangat siang. Sedangkan Purba juga mau ke kantor. Jika menunggu Azkia tidak mungkin, anak kecil kalau bermain tidak tahu sampai kapan pulangnya.
Rara sudah memerah matanya, dia menahan air mata tumpah. Dari tadi tidak ingin terlihat berlebihan atau kesannya ingin dikasihani Bu Heti agar diberi tahu Azkia sedang main di mana.
__ADS_1
Ingin rasanya Rara meminta pada Bu Heti untuk tolong cariin Azkia supaya segera pulang. Namun, tidak mungkin juga dia memerintah hal seperti itu.
Bersambung...