
"Ini untuk apa pak?" tanya Rara bingung.
"Belilah, barang-barang yang kamu butuhkan. Aku ingin sekretarisku, besok tampil lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Seperti jepit rambut, agar rambutmu tidak terlalu panjang, meski diikat tidak menghalangi lehermu menjadi gerah.
Dan tidak diikat ke atas juga, itu akan menarik perhatian karyawan-karyawan pria di kantor," jelas Purba secara detail.
"Ini ini serius pak? Tapi sebanyak ini, kalau habis? Kan baju mahal?" tanya Rara dengan nada gugup.
"Ya, kalau habis nggak apa-apa, namanya juga buat belanja. Itu buat kebutuhan kerja juga, beli secukupnya baju yang layak, bila perlu kamu ke salon agar kulit kamu lebih cerah lebih enak dipandang dan nyaman juga buat kamu. Nanti kamu kerjanya jadi semangat, aku tidak mau tahu besok penampilanmu harus lebih baik dari ini."
"Bila perlu pergi ke butik langganan istri saya, nanti saya kirim alamatnya," lanjut Purba.
"Tidak usah Pak, saya memilih baju di sini saja. Kebetulan mumpung lagi di sini."
Purba terdiam sejenak dia memperhatikan penampilan Rara, sepertinya memang harus ditangani oleh ahlinya.
"Tidak! Setelah aku pertimbangkan masak-masak, kamu harus pergi ke butik." Purba memerintah dengan tegas.
Kemudian purba mengambil kembali dompetnya, dia mengeluarkan kartu nama sebuah butik langganan keluarga Hartanto. Diberikannya kepada Rara dan meminta Rara untuk datang ke alamat tersebut siang ini, karyawan di sana akan dihubungi oleh Purba untuk melayani Rara dengan baik.
Rara menerima kartu nama tersebut tanpa mengucapkan apapun, dia masih terkejut dengan pemberian dari Purba. Purba menepuk pundak Rara sebelum pamit dan kembali ke tempat Mona.
**#
Mona sedikit curiga karena Purba pergi cukup lama saat dia sedang berbelanja. Beberapa kali menengok sekitar mungkin saja purba terlihat sedang berjalan ke arahnya, tapi ini tidak.
"Ke mana Mas Purba itu? Ke toilet tapi lama banget," gumam Mona, yang sedang membayar beberapa barang di kasir.
Setelah selesai membayar, dia tidak menunggu Purba, karena terlalu lama. Mona langsung saja naik ke lantai dua, sedangkan barangnya diambil oleh sopir dan dimasukkan ke dalam mobil.
Saat Mona sedang ada di eskalator dari kejauhan melihat Purba yang hendak turun, terlihat wajahnya sangat berbeda. Saat ini wajah Purba terlihat lebih ceria, bahagia dan ada sedikit tersenyum dari bibirnya.
Mona melihat perubahan Purba setelah menghilang beberapa saat, sempat curiga, ada apa yang terjadi dengan suaminya. Apakah menemukan sesuatu yang berharga? Tapi apa?
Saat Mona dan purba berpapasan di eskalator, Mona berkata pada purba, "Mas, ayo naik! Kamu ke mana aja sih, lama banget?"
__ADS_1
Purba sempat terhenyak mendengar sapaan dari Mona, dia tidak tahu Mona sudah akan menuju ke lantai dua. Dngan senyum kikuknya Purba mengangguk lalu balik arah. Dengan jalan cepat karena tangga eskalator tersebut tangga untuk turun, sehingga untuk mengimbangi laju eskalator turun, Purba dengan sedikit berlari balik arah naik ke atas.
Saat di lantai dua Purba dan Mona bertemu. Mona sedikit kesal, "Mas, kok lama banget sih. Katanya mau ke toilet? Kan, toilet nggak ada lantai dua, toilet adanya di luar."
'Oh, iya juga ya. Kenapa juga berpapasan di sini?' batin Purba, dia bingung alasan apa yang harus diberikannya kepada Mona.
"Iya, tadi aku dari toilet. Kebetulan pas lihat Mama masih lama belanjanya, kayaknya sih. Soalnya tidak terlihat barang-barang. Mama kelihatan masih pilih-pilih, jadi aku ke atas aja deh, ya... sambil melihat-lihat. Siapa tahu ada barang apa yang pantas buat oleh-oleh lagi selain buah-buahan," elak Purba.
"Oh, gitu ... terus nemu apalagi?" tanya Mona.
"Kayaknya, nggak ada deh, hehe," singkat Purba.
'Aduh ... jawabannya semoga tidak menambah pertanyaan panjang dari Mona,' batin Purba.
"Yah... akhirnya hanya rencana semula kan? Hanya beli buah aja, kamu sih kenapa nggak sabaran nunggu aku belanja," gerutu Mona.
"Iya maaf-maaf, tadinya aku hanya ingin sedikit membantu kamu, jadi saat kamu selesai belanja di bawah, saat kamu ke atas tinggal dilihat udah cocok apa belum, tinggal bayar deh, tapi ya... nyatanya aku kan pria, tidak pandai belanja seperti wanita." Semakin ke sini, Purba semakin pandai mengelak.
Purba cukup bisa membela diri untuk menghindarkan kecurigaan Mona. Kini mereka berbelanja buah-buahan, yang mereka peruntukan untuk oleh-oleh kedua orang tuanya.
**#
Kemudian Rara memperhatikan kartu nama untuk dia nanti pergi ke alamat tersebut, dia sama sekali tidak bisa membayangkan di mana alamat tersebut. Apakah jauh atau dekat? Dia kan, orang baru di Jakarta, tapi Rara punya akal, dia akan menelepon Retno dan menanyakan alamat tersebut.
Rara berpikir untuk menyimpan beberapa uang tersebut untuk digunakannya nanti menceraikan Gandhi.
Akan tetapi dia juga takut dipertanyakan jika uang itu tidak sesuai dengan apa yang dibelanjakan, Purba pasti tidak tahu uang sejumlah itu untuk barang apa saja.
'Ya udahlah, nanti saja terserah di butik harganya berapa, setahuku butik itu kan mahal-mahal beda dengan harga di toko,' gumam Rara.
Rara melanjutkan lagi belanja pesanan Retno, sambil dalam hati dan pikirannya tidak konsentrasi, masih membayangkan sejumlah uang yang menurutnya sangat besar, yang dia dapatkan hanya dalam waktu singkat. Apakah itu termasuk gaji?
Beberapa pemikiran mengganggu kepala Rara, takutnya itu dihitung gaji, harus hemat-hemat, sedangkan di kampung harus ia perhatikan juga. Takutnya ibu dan Lena tidak cukup uang untuk kebutuhan sehari-hari.
**#
__ADS_1
Saat sampai rumah Rara tidak merapikan dulu belanjaannya, dia menyimpan dulu di atas meja di dapur kemudian menghubungi Retno.
"Ada apa? Aku lagi kerja nih, nanti aja ya, kalau aku istirahat," respons Retno, menjawab ucapan pembuka dari Rara.
"Eh, sebentar-sebentar. Aku cuma mau nanyain alamat ini."
"Alamat apa? Kok kamu punya alamat? Alamat siapa sih?"
"Ini alamat butik, Aku dikasih Pak Purba tadi."
"Apa? Pak Purba ke situ? Hati-hati loh, nggak ada orang di situ. Kamu berduaan aja?" tanya Retno menyelidik.
"Tidak, Pak Purba tidak ke sini. Tadi kan aku belanja di swalayan itu, yang masih dekat komplek ini lah, nggak berani jauh-jauh. Ternyata Pak Purba belanja ke sana loh sama istrinya, lalu kami berbincang-bincang, terus nitipin alamat ini, katanya biar penampilanku lebih rapi sebagai sekretaris."
"Oh hati-hati loh, uang apa? Tanyain yang bener, takutnya itu gaji kamu juga."
"Iya, nanti aku tanyain lagi sebelum mau ke butik, tapi aku pengen tahu dulu ini alamatnya. Aku sebutin ya?"
Rara kemudian membaca alamat yang tertera di kartu nama tersebut, tapi Retno malah pusing tidak bisa menghafal dengan jelas meskipun dia lama di Jakarta, tapi untuk seluruh beluk detail alamat tidak begitu paham. Karena keseharian dia hanya dari rumah ke tempat kerja, rumah ke tempat kerja, gitu aja. Meskipun main, dia jarang meneliti tempat-tempat apa yang penting di Jakarta tersebut.
"Ntar, ntar, ntar, aku pusing di mana itu alamatnya. Kamu kirim aja ya lewat WA, nanti aku tanya-tanya di sini, nanti aku kirimin jelasnya atau nanti aku kasih alamat dengan map, deh."
"Oke, sahabatku... terima kasih ya ... maaf udah ganggu kerjanya, hehehe. Semangat kerjanya! Biar cepet banyak uangnya buat nikah nanti, haha," ledek Rara pada sahabatnya itu.
Setelah itu Rara merapikan beberapa belanjaan titipan Retno, dia juga belanja kebutuhannya seperti untuk merawat kulitnya, handbody, perawatan muka, ya ... meski pun masih sederhana. Bukan skin care yang mahal seperti pemutih dan lainnya. Hanya perawatan yang biasa orang banyak beli produk-produk dari toko.
Bersambung....
Terima kasih ya para pembaca yang sudah sempat mampir jangan lupa untuk selalu dukung terus karya author ini.
Outer masih menguploadnya dikit-dikit ya karena belum rame kalau rame pasti author crazy up deh oke pada readers tercinta kita simak bab selanjutnya yuk.
__ADS_1