Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Jangan Lupakan Tujuan


__ADS_3

Bab 123


 Gandi dan Daryanto saling bertatapan, mereka tidak mengeluarkan suara tapi tahu apa maksud dari sorot mata masing-masing.


"Boleh kami berbicara di rumah ibu?" tanya Daryanto.


"Dengan kepentingan apa ya?" tanya Bu Molly.


Sebenarnya dia pura-pura menahan diri, padahal senang sekali, Bu Molly ingin tahu urusan tetangganya.


"Sebenarnya, saya adalah suaminya Rara," ucap Gandi.


"Suaminya? Tapi kemarin...," gumam Bu Molly,


tapi masih cukup terdengar oleh Gandi.


Lagi-lagi Bu Molly, membuat drama. Sengaja ucapannya digantung agar menambah antusias Gandi untuk berbincang dengannya.


Sekali lagi Gandi menoleh kepada Daryanto. Sepertinya mereka bertemu orang yang tepat, untuk mengorek tentang Rara tinggal di perumahan tersebut.


"Ada apa? Ibu tahu tentang kehidupan istri saya di sini?" tanya Gandi, sengaja menyebut Rara sebagai istri.


"Tidak, aku tidak tahu apa-apa."


Bu Molly menjawab sambil menaikkan alisnya dan menurunkan kelopak matanya, dengan satai. Seakan dia memancing sesuatu tidak tahu, tapi memberikan tanda bahwa dia mempunyai rahasia tentang apa yang diinginkan Gandi.


"Boleh kami ke rumah Ibu?" tanya Gandi sekali lagi.


"Tapi aku banyak urusan, aku sibuk," ucap Bu Molly tahan harga.


"Akan kami ganti rugi," ucap Daryanto, tanpa basa basi, lagi.


"Maksudnya?" Bu Molly pura-pura tidak tahu, padahal dia ingin Gandi memberitahukan dengan jelas, ganti rugi dalam bentuk apa.


"Ibu bisa memasang tarif permenit untuk berbincang dengan kami dan bisa kelipatannya. Dengan syarat informasi harus valid," tawar Gandi.


Bu Molly berpikir sebentar. "Baiklah, saat ini juga aku bisa."


Daryanto dan Gandi tersenyum lega, mereka tidak akan susah payah lagi untuk mengintai rumah Rara dengan situasi yang kadang membosankan, adanya debu dan terkadang diamati beberapa orang yang lewat seolah dicurigai.


Gandi dan Daryanto bergerak mengikuti Bu Molly ke rumahnya, mereka leluasa berjalan karena waktu maghrib memang suasana sepi untuk penghuni komplek.


Rumah Rara kini bisa terlihat begitu dekat. Dalam hati Gandi memuji, rumah yang cukup bagus untuk ukuran kompleks. Apalagi dibandingkan dengan rumahnya di kampung.


Hal yang pantas karena dapatkan Rara, jika memang dia saat ini sudah berhubungan dengan orang kaya.


***


Sementara itu di rumah kontrakan.


"Terima kasih ya Bu, Azkia mau pulang, tapi ini Azkia bisa nonton lama-lama, kan?" tanya Azkia pada Bu Heti.

__ADS_1


"Iya, kamu bisa nonton sepuasnya. Besok saat kamu ke sini, Ibu akan cek lagi sisa kuotanya," ucap Bu Heti.


"Baik, Kia pamit. Assalamualaikum," ucap Azkia, dan langsung berlari menuju kamarnya. Kuncinya selalu ada dikalungkan pada leher, menggunakan sebuah tali.


Setelah masuk kamar, Azkia keluar lagi untuk mandi. Dia memang terkadang mandi menjelang magrib karena tanggung menyelesaikan pekerjaannya di rumah Bu Heti.


Jadi, adonan yang Bu Heti buat memang dua kali. Yaitu adonan dari sore sampai menjelang magrib untuk berangkat besok pagi-pagi sekali. Kemudian adonan yang sudah digulung sore hari dimasukkan kulkas terlebih dahulu.


Sedangkan adonan dari pagi sekitar pukul delapan sampai zuhur, itu untuk cadangan jika nanti suami Bu Heti membawa pentol mentahan di siang hari sekitar pukul satu atau pukul dua.


Azkia selesai mandi, dia salat dahulu.


Sebenarnya Azkia belum hafal bacaan salat, cuman karena hatinya yakin agar Allah bisa mengabulkan doa-doanya, maka Azkia rajin salat.


...Ya Allah, bantu Kia untuk bisa membuka HP ayah. Kia ingin mencari nomor telepon ibu, Tante Lena atau siapa saja yang kenal dengan Kia. Amin....


Setelah berdoa Azkia langsung membuka ponselnya. Dia sudah dibelajari oleh Bu Heti bagaimana cara membuka YouTube, cara mencari judul yang kita inginkan. Dan Kia tidak lupa juga sudah mengunci pintu dan menutup gorden dengan rapat.


Azkia juga sudah diajarkan untuk menyembunyikan aplikasi dan mematikan data agar saat ayahnya pulang nanti tidak terdeteksi bahwa ponselnya Azkia ada jaringan internetnya.


Meskipun Gandi tidak pernah mengecek ponselnya Azkia, karena Gandi merasa ponselnya pasti aman. Karena Azkia tidak akan menonton macam-macam atau mengunduh game. Internet saja tidak ada.. Gandi pun belum tahu bahwa Azkia setiap hari ke rumah Bu Heti.


Dipikirkan Gandi, hanya melayani tante-tante, mabuk-mabukan dan kehidupannya sering di klub atau diskotik. Sehingga sama sekali tidak mau tahu urusan anaknya, tidak mau mengecek perubahan anaknya. Apalagi melihat perubahan anaknya.


"Oh... jadi gitu? Tapi kalau direset nanti ayah bakal tahu, semuanya jadi hilang," gumam Azkia.


Bocah kecil hampir berumur enam tahun itu memutar otaknya, tidak serta merta mempercayai apa yang dikatakan oleh content creator.


Dalam postingan tersebut menjelaskan untuk membuka layar yang dikunci bisa dengan merusak sandinya, hingga muncul tulisan kembali ke setelan pabrik.


Atau ada juga mengklik lupa sandi, hanya saja risikonya memang ponsel akan berubah menu dan ada beberapa data yang hilang. Seperti menginstal ulang ke stelan pabrik.


Azkia berpikir ayahnya akan marah besar jika ada kerusakan pada barangnya, apalagi ini ponselnya. Mungkin ada orang-orang yang berhubungan dengan kerjaan Ayah, itu pikiran Azkia.


Azkia terus mencari judul-judul lain untuk menemukan cara yang paling aman untuk membuka kunci layar HP, yang menggunakan sandi, pola atau pun sidik jari.


***


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Retno sudah terlalu lelah, tapi masih berada di toko. Dia dibantu oleh dua orang karyawan toko yang berkenan untuk disewa paruh waktu oleh Rara. Karena dia membutuhkan tenaga laki-laki untuk mengangkut barang dan meletakkannya di toko sesuai dengan konsepnya.


Bersyukur sang manajer karyawan tersebut mengizinkannya, tentunya Rara juga memberikan uang kepada sang manajer tersebut, marena sudah memberikan izin untuk kedua karyawannya.


Kedua karyawan tersebut juga mendapatkan upah lagi dari Rara.


Pak sopir juga membantunya, dia adalah sopir perusahaan, bukan sopir yang ditugaskan di rumah yang biasanya mengantar jemput Mona. Sehingga cukup aman untuk menutup mulutnya agar apa yang dilakukan Rara tidak sampai kepada Mona.


Karena pak sopir pasti tahu, dari gelagat Rara dan perhatian Purba padaku wanita itu.


Meskipun begitu, Purba sudah mewanti-wanti Pak Sopir tersebut. Bahwa apapun yang dilakukan Rara jangan sampai orang lain ada yang tahu, terutama Mona.


Namun, Purba juga mengatakan bahwa Rasa hanya teman biasa. Kenapa purba dilarang memberitahukan kepada Mona? Takut istrinya itu salah paham, itulah kira-kira alasan Purba yang disampaikan kepada sang sopir.

__ADS_1


Alhamdulillah selesai juga, Rara sembari bertolak pinggang sedikit melentingkan tubuhnya karena merasa pegal-pegal.


Waktu menunjukkan pukul 10 malam, sebelum pulang, mereka makan terlebih dahulu. Kebetulan ada tukang bakso keliling, lewat.


"Silakan pesan sesuai selera, ya," ucap Rara kepada dua karyawan toko dan Pak Sopir.


Tentu saja Rara bersama Retno pun memesan baksonya.


Sambil menyantap bakso itu, Rara membuka ponselnya. Ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Purba dan dua pesan masuk.


"Sayang lagi sibuk ya?' Tulisan Pesan Purba.


'Maaf ya, aku nggak bisa ikut bantu."


Dua pesan masuk yang membuat Rara bukan menjadi semangat, malah semakin kesal saja. Padahal kalimat yang ditulis oleh Purba adalah kalimat penyemangat.


Rara memasukkan kembali ponselnya dan menyingkirkan gundah hatinya, dengan lahap memakan bakso di depannya.


Rara harus belajar kembali bertindak apa pun sesuai logika, jangan mengikuti kata hatinya ya memang sering membuat lemah.


Benar kata Retno, buat apa pusing memikirkan Purba. Yang penting duitnya dapat. Jangan tanggung-tanggung kalau mau memanfaatkan keadaan, itu yang ada di pikiran sekarang.


"Siapa? Dia lagi?" tanya Retno melihat gelagat terarah.


"Udah ... kita makan aja. Biarinlah ia sibuk dengan istrinya." Rara berusaha mengabaikan racun gelisah di kepalanya.


"Nah, itu yang aku suka dari kamu. Bukankah pergi ke Jakarta untuk bekerja. Lalu Kebetulan ada tawaran dari orang kaya.


Jadi, ya udah. Manfaatin aja ya adanya Purba. Meskipun aku tidak bisa pungkiri sih, siapa yang berani menolak orang kaya, cakep, terus keadaan rumah tangganya juga berantakan. Wajar berharap untuk bisa menggantikan posisi istrinya, tapi jangan terlalu dalam harapan itu."


"Iya Ret. Untuk sekarang ikuti alur aja. Jika aku tetap berjodoh sama Mas Purba, Alhamdulillah bersyukur.


Nggak pernah jadi masalah juga, asal yang penting aku tidak tahu tentang rumah tangganya ya. Aku tidak munafik Ret, sakit hati dong. Istilahnya cemburu aku, saat tahu Purba bermesraan dengan wanita lain Meskipun aku sadar aku wanita kedua."


"Sudah-sudah. Hidup memang kayak gini, terus-terusan duji. Kesiapan kita harus sama-sama kuat, harus berjuang apa pun posisi dan kondisi kita. Sabar itu kuncinya."


Rara dan Retno tak terasa makan sambil mengobrol, hingga waktu terus beranjak menuju tengah malam.


Tepatnya saat ini, waktu menunjukkan pukul setengah 11 malam. Rara diantar pulang oleh Pak sopir, sedangkan Retno dijemput oleh Hendra. Kebetulan suami Retno pulang sangat malam, sehingga sekalian menjemput Retno di toko kue rara.


Dan kedua karyawan itu diantar dengan mobil yang Rara tumpangi sekalian. Karena sudah tidak ada kendaraan umum, malam itu.


Sebab tadi siang, mereka ke toko hanya ikut mobil barang, kemudian mobil barang dari toko langsung kembali lagi.


***


Rara sudah sampai di depan rumah. Setelah dia mengucapkan terima kasih kepada Pak Sopir.


Saat melangkah dan sampai di depan pintu masuk, Rara terkejut. Karena melihat selembar amplop dan bunga mawar di atasannya. Benda itu tergeletak di lantai.


Rara ragu untuk memungut amplop dan bunga mawar itu, cuma ... penasaran juga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2