Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Mengelabui


__ADS_3

Seharusnya pulang kerja pukul 15:30, Rara hanya meminta izin ke Sari, pulang lebih cepat beberapa menit saja. Itu pun waktu sebelum jadwal sesungguhnya tiba, dia gunakan untuk menunggu Purba ke luar dari ruangan. Kalau Rara beruntung itu juga. Kalau tidak beruntung, entah mungkin akan menunggu Purba keluar ruangan sampai kapan.


Takutnya, jika Rara pulang sesuai jadwal, Purba akan menemuinya ke ruang konsumsi dan hal itu masih membuat Rara enggan. Rara masih berpikir, Purba sangat amat membencinya.


 


**#


Benar saja, pukul 15:35 WIB, Purba hendak meninggalkan kantorannya, namun sebelumnya dia pergi ke ruangan konsumsi.


Hal ini digunakan Rara untuk pergi ke dalam ruangan Purba. Rara berlari saat tahu Purba ke luar ruangan.


**#


Di ruang konsumsi.


“Sari, di mana Rara?” tanya Purba yang hanya bicara di ambang pintu.


“Em... dia....” Sari merasakan lidahnya kelu. Gugup.


“Di sini tidak ada, kan? Aku gak melihatnya. Atau dia sembunyi?” tanya Purba lagi menyelidiki.


Sari bingung mau menjawab bagaimana,


Sari mengatakan bahwa Rara sedang melakukan salat asar, di mushola. Tadi sempat izin padanya.


“Ok, baiklah. Nanti kalau ketemu, katakan aku mencarinya. Syukur-syukur dia sudah ada sekarang.” Purba langsung pergi setelah menitipkan pesan pada Sari.


“Huft ... semoga nanti ada alasan saat bertemu Pak Purba lagi.” Sari bernapas lega dengan masih menyisakan kegalauan


 


**#


Rara berlari ke ruangan Purba, di sana ada Bizar. Namun, sebelum Bizar berhasil mengeluarkan suara, sudah dipotong terlebih dahulu oleh Rara.


“Mas Bizar, aku minta tolong ya. Jangan bilang sama Pak Purba, aku masuk ke sini. Plis ... bantu aku ya... Aku mau pulang. Kalau dipecat biarin deh, yang penting sekarang aku mau pulang, capek!”ucap Rara cepat.

__ADS_1


Yang dimaksud Rara capek adalah, capek dengan karakter Purba yang naik turun, berubah-ubah, bukan capek tentang pekerjaan.


Rara langsung ke luar ruangan lagi setelah mengambil tas nya. Sedangkan Bizar hanya bisa diam dan terbengong dengan tangan sedikit terangkat di depan badannya, karena tadi ingin bicara gak sempat. Keburu Rara bicara dengan tergesa-gesa.


‘Bagaimana ini? Jika Tuan bertanya ke mana tas Non Rara, gak maungkin aku jawab hak tahu. Masa aku gak lihat Non Rara masuk. Ah, lebih baik aku keluar aja dulu,' batin Bizar, menghindari amukan Purba jika tidak menahan Rara, sudah jelas wanita yang ditunggu bosnya tadi masuk ruangan.


Sesaat kemudian Purba masuk, dia berjalan seperti biasa langsung pada tempat duduknya. Dia belum menyadari bahwa tas Rara tidak ada. Namun, saat sudah duduk dan mau mulai menaruh jari tangan di antara keyboard laptopnya, dia baru sada ada sesuatu yang berubah di ruangan itu.


‘Ke mana tasnya?’ batin Purba.


“Bizar?” Purba diam seketika, dia juga baru sadar bahwa assitennya tidak ada di tempat. “Dia juga, ke mana?” lanjutnya.


Kret ...!


Bizar masuk ruangan, dia langsung berdiri di tempat biasanya stay berjaga, dia diam seakan tidak mengetahui apa yang terjadi di ruangan bosnya itu.


“Dari mana kamu, Zar?” tanya Purba.  Dia tidak begitu tegas. Setelah kejadian salah paham pada Rara, dia tak ingin lagi terburu-buru mengambil keputusan atau menuduh orang, sebelum bertanya.


“Maaf Tuan, tadi saya mendadak ingin ke toilet,” jawab Bizar, berbohong.


“Orang? Tidak tuan. Apakah ada barang yang hilang?” tanya Bizar sambil melihat sekeliling ruangan, seperti orang yang siaga.


“Ya, ada yang hilang,” ucap Purba kembali.


“Apa Tuan?” biar aku menyelediki segera. Atau aku cek CC ...,” ucapan Bizar tergantung, dia baru sadar. Kalau Purba cek CCTV bagaimana? Jelas jela saat Rara masuk, mereka sempat berbincang meski hanya Rara yang bicara.


“Ah iya benar, aku cek CCTV,” ucap Purba sambil langsung mengecek laptopnya.


“Eh, ma-maf Tuan. Jadi sebenarnya apa yang hilang, apakah seberharga itu? Apa tidak kita selidiki dulu, sebelum orangnya jauh, jika memang itu barang berharga. Ka-karena saya pun ke luar ruangan hanya sebentar,” papar Purba. Walau agak sedikit terbata-bata, dia berhasil meyakinkan Purba.


“Ya, kau benar. Coba cek dia sampai ke luar gedung ini,” perintah Purba.


“T-tapi, siapa yang harus saya kejar Tuan?” tanya Bizar.


“Ah ... kelamaan.” Purba berdiri dan berjalan segera menyusul Rara. “Ya jelas Rara yang kamu susul, siapa lagi?” imbuh Purba, sembari melintas di hadapan Bizar dan membuka pintu, ke luar menyusul Rara.


Bizar tersenyum, “Tuan ... apa yang kau kejar? Takut kehilangan sekretaris atau takut kehilangan Non Rara yang manis. Hehe ... Tuan sedang jatuh cinta rupanya.” Bizar bergumam.

__ADS_1


Dia segera membuka laptop Rara untuk mengakses sistem yang  terhubung ke CCTV. Dia sengaja tidak membuka melalui laptop Purba, takutnya terlihat tanda bahwa sudah ada yang mengotak atiknya.


Bizar tidak menghapus rekaman di saat dia dan Rara sempat ada dalam satu waktu, itu akan membuat Purba curiga.


Bizar membuka pengaturan CCTV tidak bisa diakses karena eror. Ada pengaturan yang bisa membuat tidak terhubung ke internet, walau data internet sedang aktif.


“Ya ampun, lupa! CCTV ruangan ini tanpa internet. Salah satu cara memang harus dihapus, tapi ...,” gumam Bizar, dia berpikir bagaimana jalan baiknya.


“Ah, lebih baik ke luar saja dulu,” ucap Bizar kembali, dia ke luar berjalan ke arah lain.


Bizar sengaja ke luar tidak pada jalur ke luar kantor biasanya, baik ke belakang atau ke jalan depan. Karena memang bukan sesuatu hal yang harus dicari untuknya.


Lagi-lagi, Bizar hanya pura-pura agar Bosnya yakin, bawa Bizar tidak tahu apa-apa tentang seseorang yang masuk ke ruangan Bosnya. Yaitu Rara, orang yang dimaksudkan.


“Ah ... akan aku alihkan saja perhatian si bos, pada informasi yang aku bawa tentang wanita itu. Aku yakin, Bos tidak akan teringat pada CCTV itu. Orang bucin akan lebih peduli pada latar belakang orang yang sedang dikejarnya, dari pada hal lain meski itu masih menyangkut dengan orang yang dicintainya, tapi tidak lebih penting dari sekedar bukti CCTV." Purba membatin.


 


**#


“Sial ...! Berani-beraninya dia menghindar.” Purba menggerutu saat sudah ada di depan kantor.


“Tuan, mencari siapa?” tanya Surya, security kantor. Dia melihat Purba seperti sedang mencari seseorang.


“Oh ya, Surya. Kau lihat Rara lewat?” tanya Purba dengan napas masih ngos-ngosan karena dia berjalan cepat dari lantai lima, ruangannya.


“Iya Pak, mungkin sekitar lima menit lalu. Sepertinya dia pulang cepat ya pak? Karena ini belum tepat pukul empat,” jelas Pak Surya.


“Iya, baiklah. Makasih ya.” Hanya itu tanggapan Purba. Dia kemudian kembali masuk ke kantornya.


Beberapa orang karyawan melihat gerak gerik Purba, yang saat turun ke luar lift begitu tergesa-gesa, tapi saat masuk kembali begitu santai, lebih tepatnya seperti orang lesu.


“Huft ... apa semua wanita seperti itu? Mudah sekali marah,” gumam Purba saat sudah berada di dalam lift.


 


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2