Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Azkia Malang


__ADS_3

 


Empat hari sudah Mona berada di rumah sakit. Keadaannya sudah lebih baik. Namun, memar di tubuhnya dan tanda kepemilikan Bram masih terlihat, meskipun samar.


Mona sudah bisa sesekali menggunakan ponselnya, itu pun hanya satu tujuannya, ingin melihat apakah ada komunikasi dari Purba. Sayangnya harapan Mona pupus, satu pun pesan tidak ada atau pun panggilan. Hanya pesan terakhir dari Purba saat hari kejadian itu saja.


Mungkin Purba merasa Mona berada di rumah ibunya, sehingga tidak perlu menanyakan kabar, tentunya Mona baik-baik saja karena berada di dekat orang tuanya.


"Bu, aku mau pulang saja," ucap Mona yang kini sudah duduk di sofa, sambil memakan buah apel yang dikupas oleh Nyonya Hartanto.


"Pulang ke rumahmu? Nanti kalau Purba tiba-tiba pulang bagaimana? Ibu yakin tidak akan seminggu penuh."


"Pulang ke rumah kita aja," lirih Mona, dia merebahkan kembali badannya di sofa, bagian pinggulnya masih terasa ngilu.


"Ya sudah, nanti Ibu akan konsultasi dulu pada dokter, ya."


Mona mengangguk sambil memejamkan matanya. Ada bulir bening yang menetes dari sudut mata yang terlihat layu itu. Kantung mata karena banyak pikiran, tidur tidak nyaman begitu jelas pada kulit putih Mona.


Nyonya Hartanto tidak mengetahui air mata yang meleleh di pipi putrinya, dia sibuk merapikan sampah bekas kupasan apel.


**#


"Ayah, kok kita belum sampai?" tanya Azkia yang duduk di samping Gandi pada sebuah bus jurusan Jawa - Jakarta.


"Nggak usah berisik, kamu tinggal duduk," ketus Gandi pada anaknya.


Gandi tidak mengetahui bagaimana lelahnya seorang anak jika berada di tempat umum. Apalagi duduk berlama-lama, seorang anak yang biasanya aktif bermain tentu akan merasa tidak nyaman, ruang geraknya terbatas, apalagi cuaca yang cukup panas di dalam bis.


'Aku harus ke mana? Di mana alamat wanita itu?' batin Gandi.


Kepalanya terus berpikir siapa yang akan dia tuju, tidak ada siapapun di Jakarta.


'Ah, sial. Kenapa tadi aku tidak tanya dulu?' gumam Gandi kembali.


Gandi kemudian membuka ponselnya, lalu menghubungi teman gengnya untuk menanyakan tentang Retno.


"Tapi ingat! Jangan kelihatan disengaja banget. Bisa kan kamu acting sedikit?" perintah gandi.


"Baik bos," ucap anak buah Gandi dari seberang telepon.


Kebetulan ada anak buah Gandi yang memiliki hubungan saudara dengan Retno. Gandi memerintahkan agar anak buahnya itu menanyakan Di mana alamat Retno.


Tentunya anak buah Gandi itu sudah terlatih untuk menipu, apalagi hanya sekedar akting. Tak lama kemudian ada pesan masuk pada ponsel Gandi.


"Oh ini? Baiklah," ucap Gandi dengan senyum smirk.


Gandi berangkat dari kampungnya sekitar pukul 02.00 siang dan saat ini sudah tengah malam.

__ADS_1


Di terminal tidak ada angkutan umum menuju alamat yang kini dipegang oleh Gandi, mungkin karena memang sudah larut malam.


"Yah, Kia lapar." Bocah kecil itu selain tampak lelah, dia juga seperti kedinginan. Karena tidak menggunakan jaket.


"Sebentar, cari yang jualan," ucap Gandi sambil terus berjalan menyusuri trotoar ke luar area terminal.


Begitulah seandainya seorang ayah merawat anaknya, tetap akan ada kekurangan. Tidak pengertian seperti seorang ibu yang mengandung, ikatan batinnya lebih kuat.


Semakin jauh berjalan suasana semakin sepi dan dipikir, Gandi akan mencari warung jauh dari terminal karena dia paham, jika warung di tempat keramaian pasti harganya akan mencekik.


"Kamu gimana sih jalanya? Kan ayah udah pakai senter, masa masih aja nggak kelihatan," bentak Gandi pada Azkia.


Askia beberapa kali terjatuh bukan karena dia tidak melihat jalan, dia menggigil kedinginan dan lemas.


Gandi tidak memahami fisiknya disamakan dengan fisik seorang anak yang masih belum genap lima tahun.


Azkia sebenarnya menangis. Namun, tak berani untuk bersuara, dia ingat akan ibunya, saudara kembarnya, neneknya dan tantenya.


"Nah, itu ada warung. Cepetan jalannya!" Gandi menarik tangan Azkia.


Azkia terseok-seok mengikuti langkah Gandi. Azkia mendapatkan sedikit semangat karena sebentar lagi pasti akan mendapat makanan.


Sudah sampai di warung pinggir jalan cukup ramai pengunjung, yang Gandi pikir pasti harganya murah. Karena di kota Jakarta harga-harga memang jarang sekali ditemukan yang murah meriah, jika warung ini ramai berarti ramah di kantong.


"Bu. Ada apa aja?" tanya Gandi pada pemilik warung.


"Banyak Pak. Ada mie rebus, kopi, gorengan, nasi dan lauk pauknya, juga ada sayur, ayam goreng, telur. Bapak bisa lihat aja sendiri di sini," ucap pemilik warung cukup ramah. Dia menunjukkan etalase tempat makanan.


"Kopi aja Bu. Kalau nasi sama telur berapa?" tanya Gandi kembali.


"10.000," sahur ibu pemilik warung.


'Mahal amat," ketus Gandi.


"Di sini sudah termasuk murah Pak. Di tempat lain, nasi sama telur bisa 15 sampai 20.000."


"Buset! Di kampung aja nasi telur bisa 6000 tuh, malah ada yang 5000."


"Di kampung sama di kota beda Pak. Biaya hidupnya berat di kota," ciletuk salah satu pelanggan di sana.


"Kalau nasi sama gorengan, itu berapa?"


Gandi bertanya lagi, dia tak merespon apa kata pelanggan tadi.


"Nah, kalau ini bisa 5000," ucap pemilik warung.


"Ya udah, itu aja."

__ADS_1


Ibu pemilik warung menyerahkan nasi yang dibungkus daun dan gorengan satu biji di atas piring, lalu diserahkan pada Gandi.


"Udah, nggak usah pakai piring," ucap Gandi sambil mengambil nasi dan gorengan saja, lalu diserahkan kepada Azkia.


Ibu pemilik warung terenyuh melihat wajah Azkia yang kusut. Hanya diberi makan gorengan saja sama nasi satu kepal, yang sering disebut nasi timbel.


Ibu warung mengambil air teh hangat, lalu diberikan kepada Azkia. Namun, sebelum Azkia sempet meminumnya, Gandi menyeruputnya terlebih dahulu.


Ibu pemilik warung geleng-geleng kepala, ingin rasanya mengetahui kenapa Gandi sampai seperti itu. Apakah benar anak kecil yang di sebelahnya adalah anak kandungnya? Tapi sepertinya tidak punya hati sekali seorang ayah ini.


Sedangkan Gandi membawa beberapa gorengan, roti, rokok serta kopi.


Ibu warung tersebut bertanya kepada Gandi maksud tujuannya ke Jakarta. Mengapa malam seperti ini baru sampai?


Biasanya kalau orang yang jelas tujuannya atau sudah terbiasa ke Jakarta, akan memperhitungkan waktu berangkat dari rumah kalau tidak berangkat pagi-pagi sekali ya malam hari. Sehingga sampai Jakarta masih terang, bisa mencari alamat atau mendesak bisa mencari penginapan barang semalam.


"Di sini ada penginapan, Bu?" tanya Gandi.


Padahal ibu warung itu sebelumnya menanyakan tujuan Gandi, tapi tidak dijawab, malah balik bertanya tentang penginapan.


"Ada, tapi harus naik ojek. Soalnya angkutan umum sudah tidak ada jam segini, paling ada nanti pukul 02 atau 3.00 karena mereka mulai menarik penumpang yang akan ke pasar.


Gani melihat jam di tangannya pukul 12.30, sebentar lagi kalau gitu, Gandi akan menunggu di warung tersebut saja.


"Anaknya tidak diberi jaket Pak? Kasihan menggigil," ucap Ibu warung.


"Udah biasa. Dia anak yang kebal," ucap Gandi tanpa menoleh pada Azkia.


Namun, ibu warung tersebut tidak tega melihat Azkia terus menggigil, padahal teh hangatnya sudah habis, nasi dan satu gorengan pun sudah habis. Ibu warung membawakan satu kain meskipun bukan selimut dan tidak begitu tebal, tapi cukup untuk membungkus badan Azkia yang kedinginan.


Ibu warung keluar dari warungnya agar bisa mendekati Azkia.


"Ini nak. Pakai ini, lumayan buat menghalau angin biar badanmu tidak kedinginan."


Gandi hanya melirik pada anaknya, dia tidak menolak saat ibu warung berbaik hati pada Azkia.


"Kalau mau tidur bisa di dalam," ucap Bu warung pada Azkia.


Azkia menoleh pada Gandi seakan tatapan matanya meminta izin. Namun, sepertinya Gandi tidak merespons. Azkia menggeleng atas tawaran Ibu warung.


Ibu warung dan berapa pengunjung di sana saling melihat. Mereka merasa iba pada anak kecil yang terlantar, padahal di sampingnya ada orang dewasa.


Bersambung...


Yeeey ... sudah bab 100 ya. Dan para readers masih sembunyi. Tidak sesuai dengan view yang otor lihat, cukup lumayan.


Oh ya, untuk pemenang give away pulsa, otor umumkan akhir bulan ya, barengan sama hasil nulis otor dari NT.

__ADS_1


Terus mampir di novel ini ya, terima kasih. 🎉


__ADS_2