
Suasana di rumah Rara sudah kembali kondusif. Mereka telah memutuskan besok untuk ke alamat yang Azka maksud. Dan kedua orang tua purba pun memutuskan hanya Pak Kukuh saja yang kembali ke kampung.
"Ibu, ayah hari ini gak pulang ya? Udah malam tapi gak pulang?" tanya Azka.
"Mungkin sedang banyak kerjaan, sayang. Doakan saja supaya Ayah selalu sehat di mana pun berada. Dan dalam lindungan Tuhan. Tidak lupa juga doakan agar pekerjaannya segera selesai dengan baik."
Rara tidur bersama kedua anaknya, sambil mendongeng buat Azka yang sesekali bertanya tentang ayah sambungnya yang sangat ia sayangi. Rara sengaja tidak mengaktifkan ponselnya terlebih dahulu, Rara pikir kasus seperti itu akan butuh konsentrasi yang fokus.
Namun, Rara tidak tahu, dengan dirinya mematikan ponsel membuat Purba menambah stres. Dia membutuhkan dukungan biasanya yang didapat dari Rara, tapi seakan saat ini Rara tidak ingin membantu permasalahannya karena memutuskan komunikasi.
Untuk masalah pekerjaan semuanya bisa di handle oleh Mayang, karena hampir seluruh pelanggan Rara mengetahui jika ponselnya tidak dapat dihubungi pasti akan masuk ke asisten pribadinya yaitu Mayang.
Meskipun Rara berkata tidak tersinggung dengan perkataan Purba yang semalam, tapi dengan reaksi seperti ini terkesan Rara sebenarnya tersinggung karena dituduh sesuatu yang sama sekali sedikitpun tidak ia lakukan.
***
"Dasar wanita, susah dimengerti. Apa-apa selalu menggunakan perasaan. Begitu saja ngambek, katanya tidak, tapi kenyataannya perilakunya menjauh, berada mara bukan?"
Purba ngedumel sendiri saat perjalanan pulang dari rumah mertuanya. Koper baju yang sudah tersedia di mobil dia biarkan tidak dibongkar. Karena suatu saat dia pasti akan pergi dari rumahnya yang sekarang ditempati bersama Mona.
Namun, saat ini Purba hanya ingin menyendiri dahulu. Dia tidak mau saat pulang ke rumah Rara malah menghadapi perang dingin istrinya.
***
Kembali ke vila.
"Puas sekali. Bagiamana? Kita berteman?" ucap pria itu yang menyodorkan tangannya, setelah permainan mereka selesai.
"Tidak semudah itu, belum tentu setelah ini kita bertemu lagi." Mona masih tetap menjaga jarak dengan pria yang katanya kenalan Bram.
Pria itu tak masalah mendapat sikap dingin dari mana, yang pasti rasa penasarannya saat dulu sudah dituntaskan saat ini. Baiklah kalau begitu, dalam surat perjanjian itu ada nomorku, simpan saja jika suatu saat kau perlu..
"Kalau begitu aku pergi," ucap Mona, tanpa menoleh lagi.
Senyum bahagia mengembang di bibir pria misterius itu, dia mendapatkan sensasi yang luar biasa hari ini. Dia yakin mana juga sangat menikmatinya. Walau dari raut wajah dan ucapan Mona sangat dingin.
Mona keluar villa, sambil berjalan menuju pintu dia menyempatkan mengirim pesan kepada Waluyo.
__ADS_1
"Mas, aku sudah selesai. Maaf ya, tolong jemput aku." Pesan yang dikirim Mona, langsung ceklis dua. Menandakan pesan terkirim.
"Aku sudah di depan, Nona." Balasan dari Waluyo begitu cepat.
Mona tersenyum membaca pesan itu, dia sungguh merasa tersanjung dengan kegesitan dan perhatian Waluyo. Sebenarnya Mona ingin menanyakan Kenapa sudah ada di depan lagi, bukankah tadi dia menyuruhnya untuk pergi terlebih dahulu takutnya lelah menunggu.
Akan tetapi diurungkannya pertanyaan itu, Mona tidak bisa basa-basi jika di ponsel. Biar nanti saja ditanyakan saat mereka bertemu.
Mona heran saat membuka pintu tidak dikunci sama sekali. Sedangkan tadi saat dia akan kabur pintunya susah dibuka. Sebelum benar-benar keluar Mona menoleh kanan kiri hingga ke belakang menerawang jalan yang begitu panjang ke ruang yang tadi dia bijak saat pertama masuk. Sama sekali tidak terasa ada hawa manusia lain di sana. Kecuali pria misterius itu yang tetap berada di kamar setelah mereka melakukan permainan. Kenapa pria misterius itu tidak mengantarnya sampai ke depan. Benar-benar pengalaman yang aneh. Semuanya terjadi hanya karena menginginkan hal sepele sebenarnya. Kenapa harus ada teror meneror segala?
Mana sudah di luar, dia melihat mobil Waluyo benar saja sudah berada di tempat semula. Dari kejauhan Mona tersenyum kepada Waluyo yang berdiri tepat di samping mobilnya menyambut mana yang baru datang.
"Maaf ya, Mas. Lama," ucap Mona setelah berada di dekat Waluyo.
"Tak masalah. Ngomong-ngomong temanmu kenapa? Sakit ya? Parah sakitnya? Kamu sampai terlihat kelelahan begitu? Memang tidak ada saudaranya yang menunggu?" Waluyo menyambut Mona dengan rentetan pertanyaan.
Entah mengapa Waluyo bertanya bahwa teman Mona itu sakit, apakah tadi Mona mengatakan bahwa temannya sakit. Seingat Mona hanya menyampaikan ada kepentingan dengan temannya. Ah sudahlah, karena Waluyo menanyakan hal itu jadi mana tidak perlu memutar otak untuk beralasan kenapa sampai lama bertemu dengan temannya.
"Begitulah, Mas. Jadi aku harus menunggu sampai dia tenang. Maaf sekali ya, sudah merepotkan."
"Tak apa. Jadi sekarang kita ke mana? Apakah langsung pulang?"
Mona merekomendasikan beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di sekitar villa tersebut. Ada pemandian air panas, kolam renang, kebun teh serta rumah makan dengan suasana perkebunan yang ditumbuhi buah-buahan yang bisa kita panen sendiri.
"Asik juga ya, ada tempat seperti itu." Waluyo merespon dengan baik.
Namun, untuk yang pertama mereka akan mencari penginapan terlebih dahulu. Awalnya Waluyo sempat kaget kenapa Mona mencari penginapan. Apakah mereka akan beberapa hari refreshing di Bogor.
Sebenarnya Waluyo tidak masalah, justru itulah yang diharapkan dia ingin menikmati beberapa tempat indah di Indonesia.
"Anggap saja sebagai permintaan maafku karena telah merepotkan Mas Waluyo. Kita akan sehari atau dua hari di sini," ucap Mona, sambil mencari penginapan yang kosong lewat sebuah aplikasi tempat tersebut.
Mona ingin mencari sebuah vila dengan tiga kamar, buat dirinya, Waluyo dan sopir. Namun, kata Waluyo cukup dua kamar saja. Karena sopirnya tidak ingin satu Vila. Pak sopir merasa kurang leluasa jika tinggal satu atap dengan majikannya. Pak sopir, hanya membutuhkan penginapan sederhana saja, bahkan jika tidur di dalam mobil, dia bersedia.
"Ngomong-ngomong, bagaimana suami kamu? Apakah sudah mengabari?" tanya Waluyo, dia masih cukup menjaga hubungan pernikahan Mona dan suaminya.
"Nanti saat malam, sambil istirahat aku hubungi, Mas," ucap Mona.
__ADS_1
***
Purba sibuk di ruang kerjanya, dia juga menunggu pesan dari Mona, belum juga dijawabnya. Purba ingin segera menyelesaikan masalah ini, malah Mona pergi menghilang. Bahkan tidak mengatakan ke mana alamatnya, walau pada sekertarisnya sekali pun.
Terpaksa Purba telepon saja istri pertamanya itu. Ponsel Mona aktif, tapi mengapa tidak diangkatnya.
*Argh! Ke mana lagi tuh perempuan." Purba merasa marah tak tertahan.
Pikiran Purba kali overthinking, bukan karena takut Mona menghiantinya, jika hal itu Purba sudah merelakan. Dan tidak peduli, hanya saja Purba merasa jijik jika mengingat sebegitu liarnya sang istri. Melayani pria begitu mudah, padahal bukan suaminya.
Bahkan sekarang yang dipikirkan Purba adalah mana sedang bersama pria lain. Padahal kalau mau bebas seperti itu bisa menyudahi dulu pernikahan mereka. Itu yang Purba kesal Kenapa Mona belum juga merespon.
Mona enak-enakan dengan pria lain, sedangkan dirinya menanti dengan kecemasan di rumah. Ingin segera menuntaskan semuanya dan berkumpul dengan bahagia bersama keluarga barunya. Itu yang ada di dalam benang Purba.
Purba mengerjakan tugas kantor sampai larut. Walau pekerjaan di kantor dihandle oleh Bizar, tetap saja Purba harus turun tangan, untuk mengecek kekurangannya dan melengkapi.
***
Keesokan harinya, Azka beserta ibunya akan mengunjungi alamat Azkia.
"Tapi setelah sepulang sekolah Bu," ucap Azka.
"Iya sayang, pastinya. Nanti ibu usahakan jemput, ya. Biar kita langsung ke tempat Azkia.
"Ok, janji ya, nanti ibu jemput," ucap Azka memastikan kembali.
Rara yang awalnya satu mobil dengan Azka diia turun di toko kuenya. Tidak lupa mengecup kening buah hatinya dan kedua pipi Azka juga mendapat sebuah kecupan sayang.
"Belajar dengan giat ya, Nak," ucap Rara yang kini sudah berada di luar mobil dan melambaikan tangan kepada putranya.
"Iya, Bu dadah," ucap Azka membalas lambaian tangan sang ibu.
Namun, di perjalanan tiba-tiba Azka melamun, seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Sebuah dilema apakah dirinya harus memberitahukan alamat Azkia kepada ibunya atau tidak.
Entah mengapa saat ini terbersit dalam dada Azka takut kasih sayang ibunya terbagi, lebih mengutamakan Azkia, yang baru bergabung di tengah keluarga mereka. Azka berpikir pasti ibunya akan lebih mengutamakan Azkia dengan alasan kasihan karena baru bergabung, kasihan selama ini Azkia sudah bersabar hidup sendiri, kasihan Azka sudah mandiri, kasihan... kasihan... dan kasihan....
Kata-kata kasihan terngiang-ngiang di telinga Azka, melayang melayang di benaknya. Seakan kasih sayang keluarga semua akan tercurah pada Azkia. Sedangkan Azka pasti akan tersisih.
__ADS_1
karakter irinya muncul, saat anak kecil merasa kasih sayang yang diberikan orang tuanya tidak adil.
Bersambung....