
Bab94
Tuan Hartanto memang sudah tidak begitu aktif mengurus perusahaan. Namun, saat ada kenalannya mengajak untuk bekerja sama, dia tidak pernah menolak. Biar nanti yang mengeksekusi diserahkan pada Purba. Tuan Hartanto hanya mengawali saja.
“Mbak gimana ya ini? Takut Papanya Mona marah besar,” tanya Nyonya Hartanto kepada asistennya.
“Bagaimana kalau menunggu Mas Yosep saja Bu?” saran dari asisten.
“Baiklah. Mungkin itu ide yang bagus,” respons Nyonya Hartanto seakan benar-benar tidak bisa berpikir.
Dari awal mengetahui kabar Mona mendapat perlakuan buruk, Nyonya Hartanto seakan tidak bisa fokus. Bahkan beberapa hal selalu diputuskan oleh asistennya, dia benar-benar tidak bisa berpikir.
Tidak lama Yosef datang bersama sopir Mona setengah berlari menyusuri lorong rumah sakit. Dia mencari ruangan yang tadi ditunjukkan oleh petugas resepsionis rumah sakit.
“Mama!” seru Yosef setelah menemukan keberadaan mamanya, yang sedang duduk di apit oleh kedua asistennya di depan ruangan IGD.
Nyonya Hartanto langsung menghambur ke pelukan Yosef. Baru kali ini dia dapat meluapkan rasa kesalnya dan sedih, melihat luka-luka Mona dan segala bentuk Mona yang kacau keadaannya.
Yosep mengajak mamanya duduk kembali, dia menenangkan agar sang Mama tidak terus-menerus tertekan dengan keadaan Mona.
“Gimana memberitahu Papamu, Nak. Dan juga... Purba?” tanya Nyonya Hartanto dengan suara sedikit serak, karena akhirnya menangis juga.
“Kalau papa biar nanti aku yang menyampaikan, tapi kalau untuk Purba... bagaimana kalau ini ditutupi dulu?” Yosef meminta persetujuan mamanya.
“Kenapa? Mungkin dengan adanya Purba, Mona akan lebih kuat.”
__ADS_1
“Situasinya berbeda, Ma. Mona memang mendapat pelecehan, sedangkan yang melecehkannya adalah....” Yosef tidak melanjutkan ucapannya.
Nyonya Hartanto mengerti walau apa yang dikatakan Yosef tidak sampai selesai. Bram adalah kekasih gelap Mona, sedangkan apa alasan yang harus diberikan pada Purba kalau sampai tahu Mona di rumah sakit.
Kecelakaan? kecelakaan apa? Sedangkan tubuhnya tidak ada tanda kecelakaan. Lecet? Luka? Purba pasti bisa membedakan mana lebam dari kecelakaan atau hal lain.
Kemudian, Mobil yang biasa Mona gunakan juga dalam keadaan baik. Kalau kecelakaan tunggal, saat Mona di jalan sendiri atau tertabrak, terserempet. Sungguh, tidak menemukan alasan yang tepat.
Nyonya Hartanto juga sempat melihat tadi saat Mona sedang dibersihkan oleh kedua asistennya. Selain lebam biru, ada tanda merah di sekitar leher dan hampir di sekujur tubuhnya diberi tanda kepemilikan oleh Bram, tentu Purba akan curiga jika melihat hal itu.
"Tapi alasan apa yang harus diberikan pada Purba?" tanya Nyonya Hartanto lirih, dia bingung sekali.
"Biar nanti aku pikirkan kalau sudah bertemu papa. Yang pasti jangan beritahu Purba untuk saat ini."
"Biar aku yang urus," ucap Yosef, singkat.
"Aku mau ke rumah dulu Ma, berita ini harus segera sampai ke Papa dan mencari alasan untuk Purba," imbuh Yosef.
Sebelum pergi Nyonya Hartanto sempat memeluk Yosef kembali. Kemudian Yosef mencium kening Mamanya agar lebih tenang.
Yosef pulang bersama sopirnya Mona. Sepanjang jalan dia berpikir alasan apa yang harus diberikan pada Purba. Namun, untuk mengulur waktu Yosef berpikir lebih baik menghubungi Mbak Idah.
"Iya Mas Yosef?" tanya Mbak Idah melalui sambungan telepon.
"Mbak, nanti kalau Purba pulang, Tolong sampaikan Mona ada di rumah."
__ADS_1
"Baik Mas. Tapi kalau Pak Purba bertanya sedang apa?"
"Katakan saja tadi Mama menyuruhnya ke rumah. Dan tidak perlu dijemput. Karena Mama sedang ingin ditemani Mona."
"Baik Mas, akan saya sampaikan ke Pak Purba."
Setelah menutup panggilannya Yosep kembali memutar otaknya. Apa yang harus disampaikan pada Purba? Keadaan Mona tidak akan bisa pulih sehari atau dua hari.
Kondisi Mona tidak pingsan, dia hanya seperti orang linglung. Tatapannya nanar, tidak bisa diajak bicara, badannya sangat lemas seperti tidak ada gairah hidup. Wajahnya sangat kusut.
Walaupun Bram bukan orang asing untuk Mona. Namun, cara memperlakukan Mona itu sangat melukai hatinya, wajar kalau Mona seperti depresi.
Seburuk-buruknya manusia pernah jatuh di lembah hitam, Tapi saat dia ingin memperbaiki dirinya, seakan cobaan yang didapatinya begitu berat dan merasa sia-sia saja menjadi orang baik. Mungkin itu yang Mona rasakan.
Dalam pikiran Mona ada rasa penyesalan menjadi orang baik, ternyata disakiti juga. Sakit hati, dongkol, serta marah yang hanya bisa dipendam. Pertanyaan-pertanyaan yang entah siapa bisa menjawabnya, Mona tak habis pikir sendiri.
Bersambung
__ADS_1