Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Membantu Teman


__ADS_3

"Sebentar saja," pinta Mona.


Purba tidak menjawab lagi, dia bingung sesaat. Bagaimana ini? Sedangkan dirinya sudah rapi. Melakukan hal seperti itu tidak bisa sebentar bahkan jika sudah melakukannya harus mandi lagi harus bersiap lagi, sungguh membuang waktu.


Namun, saat Purba diam, Mona dengan sigap melahap bibir Purba, Mona bekerja sendiri. Purba tidak begitu meladeninya karena sedang fokus pada ponselnya. Meskipun sesekali bibir Purba bereaksi mengimbangi permainan bibir Mona yang cekatan..


Namun, saat Purba melihat pada beberapa panggilan Rara dan itu pukul tiga pagi, ada firasat tak enak. Kemudian melihat pesan Bizar yang isinya...


"Tuan, ini darurat."


Purba mencocokkan pesan yang dikirim Bizar dan panggilan Rara di waktu yang sama, berarti ini tentang Rara.


Mona masih mengganas bibirnya menyantap bibir Bibir sang suami, begitu lihai dengan suara-suara yang sudah tak bisa dibendung lagi agresifnya, tangannya juga sudah melangkah lebih jauh bukan hanya sekedar untuk morning kiss, pemanasan melepas rindunya yang ditinggal beberapa hari ini.


"Ma, aku harus pergi. Urgent!" kata Purba melepaskan pagutan Mona yang sudah berhasil membuka kancing jas Purba dan beberapa kancing kemejanya.


Mona merasa kesal, dia yang sudah asik dengan permainannya dilepaskan dengan sengaja oleh Purba, bahkan tanpa menoleh sedikitpun. Purba langsung menyambar beberapa tisu yang ada di nakas untuk mengelap bibirnya, ponselnya dimasukkan ke dalam saku jas lalu sambil turun melalui tangga Purba merapikan beberapa kancing jasnya, karena perbuatan Mona.


Pak Kukuh dan Bu Purwanti yang sedang menikmati teh pagi di ruang depan, hanya bisa melihat anaknya yang terburu-buru, mereka akan menyapanya tapi ....


Terlihat mona menyusul berlari meskipun agak kesal, tapi dia ingat bahwa Purba harus sarapan dulu.


"Mas! Sarapan dulu." Mona sedikit berteriak, karena Purba sudah agak jauh.


"Nanti aja di kantor," tanpa menoleh, Purba langsung menuju mobil dengan sopir yang lain, karena Bizar masih di kantor polisi, biasanya di yang selalu stay setiap lagi untuk mengantar Purba ke kantor.


Mona yang melihat kepergian suaminya di teras rumah, kembali bersedih, dongkol rasanya. Setidaknya kalau ingin melepas saat Mona sedang melampiaskan rindunya, jangan tiba-tiba seakan kena serangan jantung. Sedang nikmatnya malah dihentikan, entah bagaimana rasanya, nyeseknya sampai ulu hati.


Saat Mona berbalik, dia terkejut ternyata ada Mbak Idah di belakangnya yang sedang memegang secangkir teh yang niatnya akan diberikan pada Purba.


Mona langsung meminumnya saja, tanpa bertanya untuk sjapa. Lalu setelah habis isi cangkir tersebut ditaruh kembali di nampan dengan sedikit kasar, karena Mona juga terburu-buru ingin langsung ke kamarnya melampiaskan rasa kesal, karena diperlakukan Purba dengan seenaknya.


Lagi-lagi sepasang lansia hanya dilewati oleh mantunya, mereka saling pandang. Ada masalah apa lagi yang terjadi pada anak mantu mereka?


Mbak Idah melihat majikannya yang sepertinya pagi ini sedang tidak baik keadaannya. Namun, Mbak Idah mengerti, hal ini memang biasa.

__ADS_1


Mona masuk ke kamar, dia menatap cermin di meja riasnya. Diambil tisu lalu dibersihkan bibirnya karena lipstik yang berantakan. Sebab dia juga tadi sudah mengenakan pakaian kantor akan berangkat.


Namun, Mona akan selalu ingat jangan terlalu memikirkan hal yang membuat hatinya sakit. Dia kemudian merapikan pakaiannya membetulkan kembali riasannya, setelah itu menyambar tas kantornya lalu pergi.


"Nak, tidak sarapan dulu?"


"Ibu tidak sarapan dulu?"


Pertanyaan yang bersamaan dari Bu Sugeti dan Mbak Idah, yang melihat Mona sudah sampai pintu keluar.


"Nggak, nanti di kantor aja," ucap Mona langsung menuju mobil dengan sopir oleh security, karena sopirnya sudah mengantar Purba tadi.


Mona juga kesal hingga Purba tidak terpikir untuk menantinya sebentar aja dan berangkat ke kantor bareng. Hingga harus mengalah Mona pergi bersama security.


***


Sesampainya di kantor Mona tidak melihat mobil yang biasanya dipakai, lalu dia langsung masuk ke ruangannya. Itu pun tidak ada siapa-siapa, dia kemudian memanggil Vira lewat interkom.


"Iya Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Vira saat sudah berada di ruangan Mona.


"Bapak ke mana?" tanya Mona.


"Maksudnya belum datang?"


"Benar Bu. Sejak beberapa hari lalu hanya ibu yang masuk kantor, bukan? Bapak belum, hari ini juga," papar Vira.


"Jadi pagi ini Bapak juga belum sampai kantor?"


"Belum ada bapak Bu. Memangnya hari ini bapak masuk?" Vira malah balik bertanya.


"Ya sudah, makasih," ucap Mona.


Kemudian Vira pergi dengan membawa pemikiran menduga-duga. Ada apa lagi? Sepertinya sering sekali pasangan suami istri ini ada masalah pribadi.


Seperti yang kita tahu, Vira orang lama di kantor itu, setidaknya dia tahu saat Rara masih kerja di kantor itu, bahwa kemungkinan besar Rara memang ada main dengan bosnya.

__ADS_1


Apakah hal itu masih berlanjut hingga Nyonya bosnya masih saja sering moodnya naik turun?


Karena jika permasalahan kantor, maka Mona tidak akan terlihat kesal yang rasanya dibawa dari rumah, jika urusan kantor ada masalah Vira juga pasti tahu.


"Ke mana sebenarnya kamu Mas?" gumam Mina yang duduk di kursi Purba.


***


Purba sudah berada di kantor polisi dan sudah melakukan perbincangan dengan petugas, yang akhirnya mendapat keputusan bahwa Purba bisa menjamin istrinya tidak melakukan hal asusila.


Jika pun benar melakukan hal tersebut, maka bukan urusan pihak berwajib. Karena tindakan itu masih dalam ranah pribadi. Purba bertanggung jawab atas Rara. Akan tetapi Purba meminta kepada petugas untuk menahan Agung selagi belum diketahui apa motif masuk ke rumah Rara dan memfitnah istrinya.


karena Purba yakin Agung ini sengaja masuk ke kamar Rara, Purba dapat memastikan bahwa istrinya tidak memiliki simpanan atau istilahnya selingkuhan. Ini dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan sengaja akan memfitnah Rara.


"Baik Pak, saya akan melakukan penyidikan lebih lanjut. Silakan, anda beserta istri bisa pulang, nanti kami akan kabari perkembangan kasusnya," ucap pak Polisi sesaat sebelum Purba dan Rara pergi.


Rara sudah masuk di mobil yang dikemudikan oleh Bizar, sedangkan Purba ke mobil yang satunya terlebih dahulu. Dia akan memberikan pesan kepada Pak sopir.


"Pak, kembali ke kantor sendiri saja. Aku masih ada perlu. Kasus temanku belum selesai."


"Baik Tuan."


Purba kembali masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Bizar, untuk sama-sama pulang ke rumah Rara.


Sedangkan ketiga perwakilan yang diutus Pak Haji, mereka diberi ongkos oleh purba untuk pulang ke rumahnya masing-masing


***


Purba sengaja mengatakan sedang membantu teman ada kasus, agar nanti saat Mona menanyakan keberadaannya pada si sopir, maka sopir itu akan mengatakan tanpa harus terlihat berbohong.


Purba juga sengaja tidak mengatakan, "Nanti kalau ibu tanya."


Purba tidak ingin terlihat memberikan alasan yang kesannya untuk menghindar dari kecurigaan Mona. Maka pada sopir tadi hanya mengatakan yang sebenarnya. Agar sopir itu juga tidak merasa ada yang disembunyikan oleh Purba.


Posisi mobil Bizar dan Sopirnya Mona tidak berdekatan, sehingga sopir Mona tidak tahu saat Rara masuk ke dalam mobil Bizar. Sopir itu nanya tahu, bahwa Purba sedang membantu teman.

__ADS_1


Yang ingin membaca novel manis, konflik sedikit, yuk mampir di novel saya yang berjudul, "Aku Pawangmu Direktur."


bersambung.


__ADS_2