
Mona sedang ada dalam perjalanan bersama Mas Waluyo. Iya, akhirnya Mona berangkat ke tempat yang diberitahukan oleh peneror itu bersama Mas Waluyo.
Mona baru terpikir bahwa Waluyo ingin sekali mengunjungi beberapa tempat wisata atau tempat hiburan di Indonesia. Makanya Mona terpikir untuk menawarkan Waluyo pergi ke puncak di Bogor. Dan ternyata Waluyo berminat, dia butuh penyegaran setelah sibuk dengan pekerjaannya.
"Jadi nanti di sana kita akan menginap di mana," tanya Mas Waluyo, karena acaranya mendadak dia belum tahu bagaimana rencana sesungguhnya.
Menjelang malam Mona dan Waluyo sudah sampai di tempat, meskipun mereka belum menemukan villa yang ditentukan oleh si peneror itu.
"Mana temanmu?" Tanya Mas Waluyo karena mereka sudah cukup lama berada di cafe.
"Mungkin sebentar lagi ucap Mona," dia kembali menghubungi si peneror tersebut.
Langsung ada jawaban katanya tunggu sebentar nanti akan diberitahu alamat villanya.
***
Sementara di sisi lain Purba sudah pulang ke rumah. Dia akan membawa beberapa pakaian yang akan dibawa ke rumah Rara. Bukan berarti Purba tidak mampu beli baju baru, akan tetapi dia tidak bisa belanja sendiri. Kalau Rara yang belanja mungkin entah kapan apalagi dia baru melahirkan.
"Bapak mau ke mana kok bawa koper?" Tanya Mbak Idah, saat Purba akan keluar kembali.
Mbak Ida sungguh heran melihat tingkah majikannya, yang satu berangkat katanya keluar kota tidak bilang jelasnya ke mana. Yang satu lagi baru pulang terus berangkat lagi. Memang keluarga ini seperti bukan sebuah keluarga,
Sepertinya memang lebih baik berpisah kalau masing-masing seperti teman, kadang bersama kadang tidak dan seperti sudah tidak saling membutuhkan lagi.
"Keluar kota, Mbak. Titip rumah ya." Purba memberi jawaban yang serupa dengan Mona. Dan itu membuat Mbak Idah semakin.
Sama-sama keluar kota, mungkin tentang urusan pekerjaan. Dan pekerjaan mereka adalah di perusahaan yang sama meskipun beda kantor. Tapi mereka keluar kota tidak bersama. Namun, sama-sama memiliki acara keluar kota.
Memang sungguh keluarga yang membingungkan.
Sebelum Purba sampai di pintu keluar dia mendapat pesan. Purba pikir itu adalah dari Mona, pesan yang tadi dia kirim belum juga dibalas. Ternyata dari si peneror.
Dia mengirimkan pesan bahwa video mereka akan di upload di sebuah media sosial jika purba tidak mengirimkan sejumlah uang yang mereka minta.
Peneror itu menyebutkan tempat transaksi di sebuah gedung kosong. Alamatnya Sudah ditulis.
Dan ...
Di bawahnya sudah terlihat jelas gambar siapa yang ada di sana.
__ADS_1
Ketika wajah Purba memerah. Bagaimanapun Purba memang tidak dengan hati nggak dengan Mona, tapi kalau melihat istrinya seperti itu dengan pria lain tetap saja ada rasa kecewa.
Bukan kecewa merasa dikhianati, kecewa. Seakan pengorbanannya yang berusaha menjadi suami dari orang yang tidak dicintai, sia-sia. Iya sia-sia, Purba sudah berkorban menyampingkan hatinya untuk wanita yang tak inginkan. Akan tetapi wanita itu malah berselingkuh dengan orang lain.
Jadi buat apa pengorbanannya selama ini? Jika tahu seperti itu mengapa tidak dari dulu Mona berkata terus terang bahwa dia juga memiliki pria lain. Sehingga tidak harus menikah dengan.
"Kenapa Pak?" Tanya Mbak Idah yang ikut merasa aneh, melihat Purba yang tiba-tiba berhenti di ambang pintu.
"Ambilkan saya minum hangat Mbak." Purba tidak menjawab pertanyaan asisten rumah, dia ingin membasahi tenggorokannya dan membuat hangat dadanya terlebih dahulu agar sedikit lebih plong.
Kemudian Purba duduk, dia urungkan sejenak kepergiannya ke rumah.
Ini bukan semata-mata tentang rumah tangganya, tahu tentang dirinya yang dikhianati oleh. Namun, dia masih memikirkan keluarga besar mertuanya.
Maka dari itu Purba Jangan bertindak ke gabah, secara egois dia bisa langsung meninggalkan. Tanpa peduli uang tebusan agar video itu tidak menyebar, karena Tuhan Hartanto pun pasti sanggup dengan uang sejumlah itu.
Namun, lagi-lagi sebagai suami yang ingin menunjukkan rasa tanggung jawabnya Purba harus bisa bersikap bijak dengan masalah ini.
Mbak Idah datang memberikan air mineral hangat untuk Purba.
Minum itu sampai habis. Suara tegukan yang begitu jelas tanpa henti terlihat sekali sebagai tanda bahwa Purba sedang tidak baik-baik saja. Orang kelelahan, minum air sampai tandas tanpa sisa dengan cepat. Seakan ingin melepaskan dahaga yang telah membakar energinya menjadi lemas.
Mbak Idah juga bingung. Masa iya harus meninggalkan majikannya sendirian yang terlihat seperti sedang kebingungan.
Namun, jika harus banyak tanya agar tahu apa yang sedang terjadi dengan majikannya, Mbak Ida juga canggung seakan ingin ikut campur saja.
"Mbak Idah, bisa duduk sebentar." Dengan wajah lesu Purba memerintah asistennya yang masih berdiri di belakang kursi di hadapannya.
Mbak Idah sambil masih memegang nampan dia duduk. Cukup tegang juga, karena tidak biasanya Purba mengajaknya bicara empat mata. Apalagi ini sepertinya hal yang serius.
Mbak Ida tidak berani bertanya terlebih dahulu. Apa tujuannya dipinta untuk duduk.
"Mbak Idah tahu apa yang dilakukan ibu waktu dulu jika aku sedang di kantor."
Mbak Idah diam sejenak, dia bingung harus menjawab bagaimana. Takutnya pertanyaan purba adalah pertanyaan menjebak. Menurut Mbak Idah itu adalah pertanyaan ambigu.
Jika Mbak Idah bilang bahwa Mona melakukan hal yang biasa saja di rumah seperti ibu rumah tangga lainnya, padahal Purba sebenarnya sudah tahu kelakuan Mona yang sebenarnya. Nanti Mbak Idah yang terlihat seakan membela majikan perempuannya.
Namun, jika Mbak Idah berkata jujur, bahwa Mona sering membawa teman-temannya ke rumah dan yang tidak wajar adalah dengan Bram teman lelakinya Mona. Takutnya bukan hal itu yang Purba maksud, maka yang terjadi perang besar dengan rumah tangga tuanya.
__ADS_1
"Maaf Pak saya kurang paham dengan pertanyaannya Kalau kegiatan Ibu di rumah Ya seperti ibu rumah tangga yang lainnya," Mbak Idah akhirnya menjawab secara umum saja. Mencari aman.
"Pastinya Mona sering membawa teman-temannya ke sini bukan? Kaidah tahu teman-temannya seperti apa? Dan apa yang dilakukan ibu kalau teman-temannya sedang ke sini."
Hal ini juga pertanyaan sulit buat Mbak Idah, apakah karena pesan yang baru saja masuk? Sehingga Purba menginterogasi seperti ini. Bukankah sebelumnya purba seakan tak peduli apa yang dilakukan Mona.
"Tidak harus bingung Mbak, aku tahu kebiasaan Mona ke klub dan diskotik. Aku juga tahu teman-temannya sering ke sini. Karena aku sendiri juga pernah yang kadang meminta, lebih baik teman-temannya ke sini. Daripada Mona sering keluar, tapi aku tidak tahu apakah pergaulannya sehat atau tidak. Saat berkumpul dengan teman-temannya, apa saja kegiatannya."
***
Sementara itu di puncak Bogor, peneror sudah menentukan villa yang harus dihampiri oleh Mona. Rupanya tidak jauh dari cafe tersebut bisa juga berjalan, bisa juga menggunakan mobil. Karena sebenarnya tempatnya sangat dekat sekali dari sana.
Namun, Mona memutuskan untuk menggunakan mobil saja. Takutnya ada hal-hal yang tidak diinginkan, maka akan cepat transportasi jika mereka membawa mobilnya dekat dengan tempat yang dituju.
Mobil melaju menyusuri jalan tanah bebatuan, namun tidak begitu parah. Jalan bebatuan itu bukan karena jalan yang rusak atau belum diaspal. Namun, sengaja dibuat sedemikian rupa agar mempertahankan keasrian kawasan villa.
Sampailah pada sebuah bangunan terbuat mayoritas dari kayu, namun dengan perawatan. kayu yang berwarna coklat mengkilap, dengan tiang-tiang bambu halaman berebut dan ada beberapa tanaman bunga.
Suasananya terlihat sepi, bahkan bagian jendelanya pun tertutup. Mona sempat ragu Apakah ini tempatnya? Dalam ada orang?
Mona mengirim pesan pada nomor si peneror itu. untuk menanyakan apakah dia sudah sampai pada tempat yang benar. kemudian Mona mengambil gambar depan rumah tersebut.
"Iya, kau sudah berada di tempat yang benar. Tepi karena kamu membawa teman, sepertinya perjanjian kita batal."
Pesan peneror tersebut membuat Mona merasa tertahok. Kenapa tiba-tiba dikatakan sekarang bahwa tidak boleh membawa teman?
Mona membalas pesan peneror untuk melakukan negosiasi, karena sebelumnya memang tidak ada perjanjian seperti itu.
"Kenapa kamu tidak menanyakan? Jika kamu menganggap perjanjian denganku adalah hal yang serius, harusnya kamu lebih teliti dan banyak tanya. Jika seperti ini kamu menganggap masalah ini hal yang sepele. katanggung sendiri akibatnya."
Mona merasa kesal dia menghentakkan kakinya,.kemudian menghembuskan nafas dengan kasar. Meskipun entahkan ya hanya sekali dan tidak begitu tegas. Namun, reaksi yang mana timbulkan mengundang Waluyo untuk mempertanyakan.
"Nona ada apa?" tanya Waluyo. Dia yang semula berdiri di dekat mobil, kini mendekati Rara yang berdiri sudah lebih dekat dengan rumah di depannya.
"Apakah teman anda tidak jadi datang? Atau salah tempat?" Waluyo bertanya kembali.
Bersambung....
.
__ADS_1