Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Perjalanan Menuju Pelaminan


__ADS_3

Mona turun kembali, kini dengan membawa ponselnya.


"Jadi Bapak mau ke tempat temannya Mas Purba?" tanya Mona.


"Iya, Bu." Malah Bizar yang menjawab.


Pak Kukuh, hanya mengangguk. Sebenarnya dia serba salah lantaran mengikuti apa kata anaknya, atau sebagai orang tua harus tegas pada anaknya. Pertahankan rumah tangga yang ada, tapi Pak Kukuh orang tua yang cukup bijak, tidak ingin terlalu banyak mencampuri urusan anaknya.


Karena masalah hati cukup anaknya yang menjalani, pemikiran orang lain tidak bisa dipaksakan kepada orang yang sedang mengalaminya sendiri.


Sudah cukup dahulu Pak Kukuh seakan memaksa Purba untuk mau menerima lamaran Tuan Hartanto. Meskipun dengan terpaksa, Purba tidak membantah apa yang diperintahkan ayahnya. Maka saat ini pun Pak Kukuh ingin memberikan apa yang anaknya inginkan dengan syarat semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Purba harus bisa bersikap adil.


"Permisi Bu, izin mau ke ruang kerja Tuan, ada yang mau saya ambil," ucap Bizar.


Mana mengangguk mempersilahkan Bizar untuk naik ke lantai dua.


Sebenarnya tidak ada sesuatu yang mau diambil, hanya saja Bizar mau membuka pintu ruang kerja, karena Purba semalam rencananya hanya akan menganggap bahwa dirinya ada di ruang kerja, tapi Mona tidak bisa mengecek ruangan tersebut dan disangkanya Purba kunci dari dalam dan dirinya sedang tidur.


Namun, karena berubah pikiran itu hingga Purba menggagalkan rencana awal. Sehingga ruangan kerja harus dalam keadaan tidak terkunci agar Mona tidak menyangka sesuatu yang direncanakan. Masa iya ruang kerja dikunci lalu Purba keluar. Apa maksudnya kalau tidak ada sesuatu?


Sebelum berangkat tadi, Bizar sempat dihubungi oleh Purba untuk mengambil kunci dahulu menghampiri dirinya di rumah Rara. Ada beberapa juga yang harus diambil seperti dokumen yang takutnya nanti dibutuhkan saat di Sugihayu.


"Sudah?" tanya Mona saat melihat Bizar turun dari lantai dua.


"Sudah Bu." Kemudian Bizar sedikit melangkah ke arah Pak Kukuh. "Bapak, mari kita berangkat," cap Bizar pada Pak Kukuh.


Pak Kukuh berangkat bersama Bizar ke Sugihayu diperkirakan sampai nanti sore.


Sedangkan Purba sudah melakukan perjalanan sekitar dua jam yang lalu.


Mona yang karakternya sudah berubah, dia tidak masalah gagal pergi ke Bali. Toh bisa dilakukan lain waktu. Menolong orang lebih penting.


Hal-hal yang baik selalu diterima dengan ikhlas oleh Mona, dengan menganggap hal itu sebagai penebus dosanya saat dulu dia terlalu angkuh terhadap orang lain.


Dan saat ini, jika ada beberapa kepentingannya selalu gagal, anggap itu adalah hukum timbal balik. Karena kelakuannya itulah mengapa saat ini pun Mona tidak terlalu kesal saat Purba membatalkan mendadak rencana ke Bali. Padahal hanya tinggal beberapa jam lagi penerbangan.

__ADS_1


Purba membatalkan tiket perjalanan ke Bali semalam saat perdebatan dengan Rara, yaitu pukul tiga lewat. Sedangkan pesawat berangkat pukul 08.00 masih bisa ada refund 100%.


Namun karena tiap maskapai perbedaan aturan, maka pengembalian yang didapat hanya 80%. Karena untuk aturan jika pembatalan tiket selambat-lambatnya kurang dari empat jam.


Dan Itu tak masalah buat Purba.


***


Waktu menunjukkan pukul satu siang Purba beristirahat dulu di sebuah rumah makan sederhana dengan pemandangan hamparan sawah dan kolam-kolam ikan. Tujuannya memang untuk beristirahat dan memanjakan diri terlebih dahulu, bukan untuk sekedar makan. Jadi tidak memilih restoran yang bagus.


"Aku sudah mempersiapkan mahar dan diserahkan pada Lena untuk belanja. Dan aku juga meminta Lena untuk meminta pamanmu sebagai wali," ucap Purba di sela makannya.


"Apakah Paman bersedia? Dia kan cuma...." Rara sangsi pada pamannya yang tidak bisa dipercaya.


"Aku tahu saat dulu berbincang dengan ibumu. Kenapa dalam keadaanmu susah tidak ada keluarga yang membantu atau memperjuangkan saat Gandi semena-mena. Karena memang silaturahmi kalian tidak bagus bukan? Makanya aku memberikan sejumlah uang agar pamanmu mau menjadi wali nikah nanti."


Rara mengangguk, tapi tidak ada senyum di wajahnya. Dia seperti yang khawatir atau ada yang dipikirkannya. Mungkin juga merasa takut.


"Kenapa?" tanya Purba menyentuh tangan Rara.


"Jangan tegang, nggak usah cemas. Aku tidak ingin hari bahagia ini terganggu karena mood yang buruk. Bukankah ini tujuan kita?


Atau kamu merasa ini masih nggak wajar?


Aku melamarmu dengan wali orang tuaku sendiri, meskipun kita menikah siri tapi semuanya lengkap. Ayo nikmatilah, jadikan hari ini benar-benar hari bahagia. Jangan memikirkan yang lain, ini adalah hidup kita."


Rara menarik nafas mencoba tersenyum dengan lepas.


"Atau, kamu cemas, merasa deg-degan karena mau jadi pengantin? Ahaha, itu sih wajar. Sungguh, aku sudah gak sabar," ucap Purba, genit. Sambil mengedipkan sebelah matanya.


***


Sementara itu di perumahan. Bu Molly tersenyum girang saat melihat beberapa foto yang dikirim pada Gandi. Sudah pasti akan dapat uang lagi. Karena foto itu termasuk sangat penting dua foto dan satu video.


Satu video berdurasi sekitar tiga menit.

__ADS_1


Semalam saat Bu Molly seperti mendengar suara gerbang yang dibuka, dia langsung merekam saat kebetulan Purba mencium kening Rara, sebelum mereka masuk ke rumah.


Padahal kenyataan sebenarnya Rara enggan dicium Purba, karena masih marah. Namun, yang terlihat dari video seperti tidak ada yang aneh. Adegan itu sewajarnya dilakukan sepasang yang memiliki hubungan.


Lalu dua foto lagi saat hari sudah agak terang, yaitu pukul setengah lima atau mendekati pukul lima, saat Purba dan Rara keluar dengan sepeda motor dan terlihat Rara menenteng sebuah tas.


Gandi langsung mengkonfirmasi, menghargai tiga dokumen itu dengan 500.000 dan itu sudah cukup besar untuk Bu Molly.


Apa sih yang dimau Gandi? Bukankah Rara sudah bukan istrinya lagi?


**#


Sementara itu, kisah malam kemarin keributan saat Azkia disiksa Gandi.


Azkia saat malam itu kejadiannya di diselesaikan oleh Daryanto yang baru datang. Dia meminta penjelasan penyebab ribut-ribut. Kemudian dimusyawarahkan kejadiannya seperti apa dan harus bagaimana.


Azkia sudah bisa bicara saat itu, dengan alasan hanya ingin mencoba menonton YouTube.


"Tapi kenapa malam-malam?" tanya Gandi saat itu.


"Karena, kalau siang Ayah nggak ada. Kia cuma penasaran kata temen-temen kalau kartun di tipi ketinggalan, bisa nonton di yutup aja."


Alasan Kia bisa diterima oleh Daryanto. Masuk akal, sehingga Daryanto pun memberikan pencerahan pada Gandi. Jangan terlalu ketat ke anak. Karena anak juga butuh hiburan.


Namun, tak disangka dalam hati seseorang ada yang tertawa dengan jawaban Azkia.


Siapa lagi kalau bukan Bu Heti? Dia salut kepada anak kecil itu, pandai mencari alasan. Padahal Bu Heti tahu, Kia merasa waktu sudah aman untuk membuka ponsel ayahnya dan ternyata sedang apes, akhirnya ketahuan.


Dan tragedi malam itu pun selesai. Azkia sudah diobati oleh Bu Heti, bahkan ditawari tidur di kontrakan Bu Heti, namun Azkia nggak mau.


Azkia masih ada rasa peduli ke ayahnya, begitupun dibantu ditenangkan oleh Daryanto, bahwa Azkia tidak akan apa-apa. Pulang aja ke kontrakan ayahnya.


**#


Walaupun hari sudah cukup siang, Mona tetap ke kantor. Karena tidak ada kegiatan juga di rumah. Selain kewajibannya juga untuk mengendalikan management kantor, serta akan ada suatu hal yang selidiki.

__ADS_1


...,bersambung...


__ADS_2