
Bu Purwanti yang baru saja datang ke dapur langsung fokus kepada Mbak Ning yang memperhatikan wajah Mona. Awalnya tidak tahu mereka sedang membicarakan apa. Bu Purwanti langsung saja menegang pekerjaan yang dirasa belum dilakukan oleh Mba Idah.
Namun, saat lema-kelamaan Bu Purwanti mendengar obrolan dua wanita di dekatnya itu. Bu Pur langsung menoleh pada mantunya, dia melihat keadaan Mona, sepertinya memang kurang sehat. Wajah agak pucat dan mata sayu, kurang bercahaya.
"Ya ampun, Nak. Kamu sakit?" tanya Bu Purwanti. Sekilas saja dia bisa melihat wajah menantunya yang memang pucat.
"Enggak Bu, aku baik-baik aja," ucap Mona.
"Beda loh ibu lihat," keukeuh Bu Pur.
"Itu perasaan Ibu saja mungkin, atau saya yang baru bangun, jadi seperti terlihat muka bantal, hehe," jawab Mona. Karena memang dia merasa baik-baik aja.
"Tapi saya lihatnya memang wajah Ibu pucat atau lebih tepatnya kayak kusut gitu," sela Mbak Idah.
"Tapi kalau dilihat-lihat lagi tetap cantik seperti biasa kok, hehe. Eh tapi kayak gimana ya. Aku susah ngungkapinnya, kayak nggak enak dipandang aja gitu loh Bu. Maaf kalau saya terlalu blak-blakan, tapi memang benar. Takutnya ibu sakit," imbuh Mbak Idah lagi.
"Oh ya? Kelihatan ya wajah saya kurang bersemangat?" tanya Mona. Dia meraba-raba wajahnya.
"Kalau kurang bersemangat, mungkin itu tinggal ibu mungkin menjalani hari ini seperti apa, tapi kan Ibu seperti biasa pagi-pagi akan berangkat kantor. Berarti udah semangat kaya bisa, kan? Saya bingung jawabnya Bu, tapi apakah Ibu masih merasa risau?" tanya Mbak Idah.
Sedangkan Bu Purwanti tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena mungkin dia masih belum begitu merasakan dekat dengan menantunya. Bu Purwanti hanya duduk di samping Mona sambil menyimak perbincangan mereka, sekali-kali merespons dengan hanya mengangguk dan mengiyakan
Bu Pur menunjukkan perhatian secukupnya, dia masih ada bayangan takut salah bicara. Mengingat paham betul karakter Mona saat dulu sebelum berubah jadi wanita yang lebih tenang dan baik.
"Jujur, Iya Mbak Idah aku tidak bisa tidur semalam. Entah kenapa. Kalau hanya karena Mas Purba belum aktif ponselnya, ini bukan sesuatu yang aneh. Biasanya saat banyak kerjaan tentu akan sulit menghubungi Mas Purba, tapi entah rasanya di hati itu kayak yang hampa. Kesel tapi harus kesel ke siapa? Marah tapi apa yang harus dibuat marah?"
__ADS_1
Mona sedikit plong setelah mengeluarkan unek-uneknya.
"Kenapa Nak Mona tidak ke kamar Ibu saja, siapa tahu mau ibu usap-usap," Hehehe." Bu Purwanti merespon malah membuat Mona sedikit merasa lucu.
"Hihi, Ibu ada saja. Emangnya saya anak kecil?" l
"Tapi kamu jadi bisa tersenyum kan? Badannya aja yang besar, kamu seperti anak ibu juga. Nanti lagi kalau nggak bisa tidur, pergi aja ke kamar Ibu. Atau Ibu yang temenin di kamar kamu? Biasanya kalau ada teman ngobrol itu kita nggak terasa ngantuk terus tidur," timpal Bu Purwanti lagi.
"Iya juga ya Bu. Kenapa aku nggak kepikiran? Semalam mungkin karena aku terlalu terbawa perasaan, jadi sibuk sendiri, gak inget nyamperin ibu."
"Sibuk dengan pemikiran berlebihan kamu, dengan perasaan sensitif.Itu yang membuat kamu jadi tidak bercahaya pagi ini,". respons Bu Purwanti lagi.
"Iya benar tuh Bu, apa yang dikatakan ibunya Bapak. Ibu mungkin terlalu berlebihan memikirkan Bapak, sekarang hati-hati ya saat berangkat ke kantor. Atau Ibu jangan berangkat dulu, udah aja bersantai di rumah. Jadi ikut nggak tenang sayanya juga," ucap Mbak Idah.
"Udah... santai aja Mbak, aku baik-baik aja kok. Mungkin memang aku kaya yang kurang gairah gitu, tapi aku rasa baik aja kok. Ya udah ya, Bu, Mbak Idah, aku berangkat.
Ibu Purwanti mengantar Mona sampai teras, dia ingin memberikan semangat kepada menantunya agar tidak terus merasakan gelisahnya.
"Jangan pulang terlalu sore, Nak. Apalagi dalam keadaan kurang baik. Jangan dipaksakan kerja berlebihan, ya," pesan Ibu Purwanti sebelum Mona, benar-benar masuk ke dalam mobil.
"Ya, Bu. Terima kasih ya. Mona berangkat dulu."
"Bu Purwanti mengangguk dan mengecup kening menantunya."
Saat Mona sudah berangkat bekerja, Bu Pur melanjutkan aktivitasnya membantu Mbak Idah. Walau seringkali Mbak Idah melarang, tapi Bu Pur bosan tidak melakukan apa pun.
__ADS_1
Saat di dapur, Bu Pur merasa ingin mengetahui tentang Mona lebih jauh dari Mbak Idah. Sebab memang Ini pertama kalinya bertemu antara Bu Pur dan Mona setelah menikah dengan putranya.
Mbak Idah jujur mengatakan seadanya, bahwa dulu Mona memang masih kurang bisa memposisikan diri sebagai istri. Seakan dia masih menjadi wanita lajang. Mbak Idah menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi, tapi tujuannya bukan untuk mengatakan hal yang buruk tentang majikannya.
"Tapi ini memang nyata loh Bu, bukan saya ngatain Bu Mona di belakang. Makanya sekarang saya merasa salut bagaimana bisa berubah seperti itu."
"Iya kalau gitu Ibu juga tambah seneng dengernya, tidak seperti apa yang dibayangkan dulu," jawab Bu Purwanti.
"Iya benar, Bu. Manusia memang ada kalanya khilaf, tapi bisa berubah. Ada yang bertahan dan tidak dengan perubahan. Semoga saja Bu Mona berubah selamanya."
"Aamiin," jawab Bu Purwanti singkat.
Mereka berdua masih melanjutkan tugasnya dengan beberapa obrolan .
***
Sementara itu Gandi, Daryanto dan teman-teman yang lainnya sedang berunding untuk membantu Gandi menyusup ke rumah Rara nanti malam.
Hal ini sudah diperhitungkan oleh Gandi. Bisa jadi suami Rara memang orang kaya, tetapi sudah memiliki istri lain. Karena menurut keterangan Bu Molly, tidak pernah ada laki-laki di rumah Rara, bahkan akhir-akhir ini tidak pernah ada yang antar jemput Rara. Kemana-mana Rara selalu sendiri.
Jadi Gandi menyimpulkan Rara adalah wanita simpanan, meskipun sekarang telah menikah, suaminya tidak akan sering tinggal di rumah Rara, itu prediksi Gandi.
Maka, nanti malam Gandi akan melancarkan aksinya. Pasti Rara akan sendirian. Karena suaminya akan kembali dulu ke rumah istri pertamanya yang sudah ditinggal beberapa lama. Gandi juga yakin, pernikahan Rara itu sembunyi-sembunyi. Karena nikah siri Kalau di kampung Sugihayu diwajarkan, justru karena kebanyakan dianggap lumrah. Jika seorang kaya melakukan pernikahan siri, berarti istrinya adalah yang kesekian.
Tidak ada wanita lain seperti orang kota di foto itu, berarti memang mereka tanpa sepengetahuan istri pertama dari suami baru Rara.
__ADS_1
Apa yang akan Gandi lakukan? Yang pasti dia akan membuat masalah untuk Rara. Jika Gandi hanya akan melukai Rara, itu hal mudah. Sudah dilakukannya sejak kemarin. Namun dia ingin tetap namanya bersih dan Rara tercoreng di depan banyak warga.
Bersambung...