
“Kamu mandinya lama banget sih, Yang. Ini sudah satu jam loh, tumben.” Mona yang membawakan makanan ke kamar Purba, protes.
Sebab dari tadi memang Mona menunggu Purba. Karena kesal menunggu, akhirnya dia ambil makan malam ke dapur. Yang membuat makanan tetaplah asisten rumah tangganya. Mona sama sekali tidak bisa masak.
Lagi-lagi Purba tak acuh dengan ucapan Mona. Dia mengambil pakaian dari lemari. Baju kaos dan celana kolor biasa. Mona menghampiri dan meraih pakaian yang Purba bawa.
“Sayang, kamu tidak lihat aku pakai pakaian apa? Jangan gitu dong, aku setiap hari merindukanmu. Masa kamu tidak peka sih. Nih, harus pake ini.” Mona mengambil pakaian tidur kimono.
Mona suka melihat dada Purba dan sesuatu milik Purba yang tercetak transparan, karena baju tidur terbuat dari sutra yang halus dan melekat sesuai lekuk tubuh.
Purba hanya bisa menghela napas, dia malas debat dengan Mona. Bukan karena tidak mau melawan, Purba tak ingin hanya karena hal yang tidak penting dalam hidupnya, dia harus mengeluarkan enrgi. Maka, menurut pada Mona adala cara yang lebih baik untuk kedamaian hidupnya yang sejatinya terpenjara.
“Nah, gitu kan bagus. Makin suka deh,” ucap Mona sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Purba. Dia sudah memberi tanda untuk permainan malam seperti malam-malam panas sebelumnya.
“Aku mau makan dulu, lapar,” ucap Purba melepas tangan Mona dari lehernya.
Semenjak menikah dengan Mona, kehidupan Purba penuh kebohongan. Cinta, senyum, perhatian, dan ketenangan adalah hanya drama belaka. Semua dibuat dengan terpaksa demi kedua orang tuanya.
Setelah makan selesai, Mona menagih jatah malamnya. Namun, Purba mengatakan, dia harus memeriksa pekerjaan buat besok terlebih dahulu. Mona menurut saja, tidak ada bantahan apa pun. Sebenarnya Mona memang penurut, asal jatah malamnya tidak kurang.
Purba melenggang ke ruangan kerja. Sebenarnya juga dia tak benar - benar bekerja di sana. Purba hanya tak ingin menikmati malam panas dengan istrinya dalam keadaan sadar yang penuh. Tak rela rasanya jika wanita itu menjamah seluruh tubuhnya.
Tidak jarang Mona melakukannya di ruang kerja, karena sering kali didapati suaminya sudah tertidur di sofa. Mona dengan agresifnya menyantap tubuh yang pasrah dalam lelapnya. Setengah sadar pun, Purba merespons ala kadarnya. Dan itu tak maslah buat Mona. Yang penting dirinya puas.
Purba membuka laptopnya, barang itu harus stay menyala, meski Purba sudah mengantuk. Agar Mona tidak curiga, bahwa dirinya ke ruang kerja hanya untuk menghindari Mona.
Iseng Purba membuka profil tentang Rara dari file biodata karyawan. Ada rasa penasaran menghinggapi.
Purba mencoba cari info dari alamat yang tertera pada surat lamaran Rara.
Dari KTP Rara berstatus lajang, tapi dari latar belakang data pribadinya tertulis dia adalah seorang ibu dari dua anak. Purba berpikir, Rara memang belum menyelesaikan administrasi diri status kependudukannya saat ini.
__ADS_1
Mungkin saat Rara baru menikah, dia juga belum sempat mengganti KTP menjadi status menikah. Hingga bercerai kembali masih status lajang, tapi bedanya sudah punya dua anak. Di situ dapat disimpulkan begitu sulit kehidupan Rara, hingga mengurus KTP saja tidak sempat.
Tidak masuk akal jika seseorang yang baru bercerai belum ada dua bulan, status KTP sudah berubah lajang. Itulah pemikiran Purba, bahwa kehidupan Rara tergolong warga yang kurang mampu, entah dari segi ekonomi atau ketertiban penduduk. Mungkin prioritasnya lebih mendahulukan waktunya dipergunakan untuk yang pokok sekali.
Bibir Purba tersungging entah mengartikan apa. Photo Rara diperbesar yang berukuran 3X4 , foto ini lebih jelas daripada foto yang ada di KTP. Wajahnya mungil, bibirnya tipis, dagunya lancip, matanya bulat bersina, menambah aura hangat saat melihat senyum wanita itu.
Setelah itu, Purba mengerjakan pekerjaannya sebentar, setelah matanya terasa berat, dia tidur di sofa.
**#
Retno dan Rara seperti biasa saat malam sambil istirahat dari aktivitas sehari-hari, mereka menonton televisi sambil berbincang.
“Terus, rencana kamu apa?” tanya Retno, setelah Rara menceritakan tentang anaknya di kampung
“Kendalanya apa? Kamu butuh uang?”tanya Retno lagi.
“Ya ... itu salah satunya. Tapi, mungkin prosesnya juga gak bisa sekali, aku baru kerja, gak bisa minta cuti lama. Atau kalau bolak-balik kampung, selain makan ongkos banyak, menyita waktu kerjaku juga.”
“Kamu udah bicarakan sama bosmu? Siapa tahu dia kasih izin?”
Rara menggeleng. Dia cukup tahu diri baru sebulan bekerja sudah banyak permintaan urusan pribadi. Meskipun mereka sebenarnya saling memanfaatkan.
Purba memanfaatkan keberadaan Rara untuk alat agar Mona marah dan meminta cerai darinya. Sedangkan Rara memanfaatkan Purba dengan mendapatkan uang lebih, dalam waktu singkat, tapi tidak sebulan juga dia langsung bisa mengambil keuntungan.
“Gimana nanti ajalah. Aku tidur dulu ya, ngantuk,” pamit Rara kemudian pergi ke kamar tidurnya.
__ADS_1
##*
Sementara yang lain sedang terlelap tidur, Bizar sedang berselancar dengan laptop dan ponselnya. Dia telusuri alamat rumah Rara langsung sesuai alamat rumahnya. Di menghubungi teman-teman yang mungkin ada kenalan, sodara atau teman dari temannya lagi yang bisa dimintai informasi tentang kampung Rara.
Sebenarnya untuk seseorang mencari tahu tentang profil orang lain tidaklah sulit, asal setiap link yang dimintai informasi bisa memberikan keterangan jelas dan menyambungkan lagi pada orang-orang yang lebih dekat dengan apa yang kita tuju.
Tidak cukup cari informasi hanya pada satu jaringan.
Akhirnya Bizar mengetahui tragedi yang dialami Rara. Tragedi itu sebenarnya sempat dimuat di sebuah media lokal, dengan head line “IBU DUA ANAK DIARAK WARGA KAMPUNG KARENA MENGGODA PEDAGANG KAYA RAYA"
Bizar menyimak seluruh berita tersebut dan mendapatkan informasi dari tetangga dekat Rara yang terhubung ke jaringan yang Bizar sebarkan untuk cari informasi.
Menurut yang disampaikan tentangga dekat Rara, bahwa pernikahan Rara akibat dipaksakan karena Rara dan Gandi terlanjur dekat. Orang tua Gandi khawatir mereka sudah berhubungan terlalu jauh.
Ibunya Rara awalnya bekerja sebagai pembantu di rumah orangtuanya Gandi. Namun, saat Bu Sugeti sakit cukup lama, Rara yang awalnya penjual kue keliling, menggantikan ibunya untuk kerja di rumah orang tua Gandi.
Rara memang anak yang penurut, apalagi perkara ibunya, dia akan bersedia melakukan apa pun. Mengapa Rara bersedia menggantikan ibunya? Karena gajinya lumayan daripada menjual kue yang kadang kalau gak laris, ada sisa yang tidak bisa dijual esok harinya. Jadi rugi.
Menurut tetangganya, terkadang Rara tidak pulang, padahal jarak rumah orang tuanya Gandi dan rumah bu Sugeti cukup dekat. Hanya lima menit menggunakan kendaraan. Jadi bus Sugeti sering jalan kaki, karena sayang ongkos.
Sering juga Gandi mengantar Rara pulang, itu pun larut malam. Gandi juga sering menjemput Rara. Mungkin karena itulah, orang tua Gandi merasa anaknya cocok dengan Rara dan mereka terlihat dekat sekali, ditikahkanlah mereka berdua.
Namun, saat setelah menikah, Rara menjadi berubah, jarang sekali ke luar rumah. Bahkan untuk ke warung pun jarang sekali. Jadi lebih tertutup dengan warga sekitar.
Bersambung....
__ADS_1