Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Misi Azka Untuk Azkia


__ADS_3

Bab166


"Mas Azka Memangnya mau ke mana?" tanya Pak Sopir saat sudah di perjalanan.


Pak Sopir memang memanggil Azka, atau pun nanti anak Purba dan Rara dengan sebutan Mas, untuk menghargai meskipun mereka masih kecil.


"Pak, tolong antar ke sekolah kemarin ya," pinta Azka.


"Waktu menjemput kemarin itu Mas Azka?"


"Iya."


Pak sopir tidak banyak bertanya lagi, dia mengikuti apa kata Azka.


Setelah sampai, Azka langsung turun tapi tidak ke area sekolah. Dia menunggu di sebuah warung, mobilnya pun tidak berhenti di depan sekolah, tapi di halaman belakang dekat pintu untuk keluar anak-anak jajan. Karena pedagang berjualannya di belakang gedung sekolah.


Azka takut dipertanyakan oleh beberapa guru di sana, meskipun bukan murid di sekolah itu. Karena jam pelajaran sekolah, kok Azka malah berkeliaran. Takutnya guru di sana memberikan informasi pada guru sekolah Aska, bahwa dirinya tidak sekolah malah berkeliaran di sekolah lain.


Padahal Azka meminta izin pada gurunya tidak sekolah karena menemani ibunya yang baru melahirkan.


Pukul 09.00 murid-murid istirahat, Azka masih ingat beberapa murid yang sempat kemarin bersilaturahmi.


"Hey! Hey, sini!" ucap Azka memanggil seseorang yang dia kenal.


"Azkia di mana?" tanya Azka karena sudah cukup lama Azka menunggu di sana tidak melihat Azkia keluar dari gerbang belakang.


Jadi Azka menanyakan pada teman Azkia.


"Oh ... kamu yang kemarin ya?" tanya anak itu, Azkia pun mengangguk.


"Azkia nggak masuk, tasnya aja masih ada di sini sejak kemarin."


"Tasnya? Kemarin waktu Azkia lari ke belakang memang nggak balik lagi?" tanya Azka.


"Iya," enggak."


"Rumah Azkia kamu tahu nggak?"


"Tahu."


"Boleh antar aku ke sana nggak?"


"Boleh."


"Ya udah yuk sekarang," pinta Azka.


"Tapi takut kesiangan. Istirahatnya cuman sebentar."


"Kalau pakai mobil bisa cepat nggak" tanya Azka lagi.


"Nah, kalau pakai mobil bisa cepat. Yuk! Kalau gitu aku sambil bawa tasnya Azkia ya," ucap anak itu kembali ke kelas, membawa tas Azkia yang masih ada di sana.


Tadi pagi kata Bu guru tas Azkia akan diantarkan ke rumahnya nanti oleh bu guru sendiri sebenarnya, saat pulang sekolah.


Maka, anak itu meminta izin dulu kepada guru akan mengantarkan tas pada Azkia sekarang.


"Memangnya sempat? Nanti aja sama ibu," ucap Guru tersebut.


"Sempet Bu, kebetulan ada yang ketinggalan di rumah, aku numpang sama ojeknya tetangga," ucap anak itu berbohong.


"Ya udah, nggak papa. Sampaikan salam Ibu pada Azkia. Besok harus sekolah gitu ya."

__ADS_1


"Iya Bu, saya permisi."


Anak itu berlari menemui Azka yang masih menunggunya di belakang. Saat melihat anak itu datang, Azka langsung menuju mobilnya agar menyingkat waktu, sehingga anak itu langsung masuk ke dalam mobil juga, tanpa ada perbincangan lain lagi


Di dalam mobil, Azka berbincang sama anak itu, bertanya tentang selama ini Azkia kegiatannya apa saja jika tidak sekolah


Kata anak itu Azkia kadang menjual koran kalau waktunya sempat, kadang juga menjual rongsokan. Jadi saat mereka pulang sekolah, lalu ada barang rongsokan yang mereka lewati selalu dipungut, lumayan buat nanti uang jajan.


"Oh, ya. Kalau kamu saudara kembarnya Azkia, berarti nanti kamu bakal ketemu ayahmu dong?" tanya anak itu.


Azka seketika diam, dia lupa ayahnya Azkia adalah ayahnya juga, dia tidak terpikirkan bahwa Azkia tinggal bersama ayahnya. Azka malah takut kalau nanti ketemu ayahnya.


"Iya kan? Bener kataku? Kok diem?" tanya anak itu. Dasar anak kecil, bertanya tidak bisa pilih-pilih bahasan.


"Iya. Aku jadi lupa kalau Azkia pasti bareng ayah. Kalau aku pengen ketemu Azkia harus di mana ya? Tanpa harus ketahuan sama ayah."


"Biar nanti aku aja yang turun. Ayahnya Azkia biasanya sudah pergi jam segini. Katanya kerja, tapi aku aja dulu yang turun. Takutnya ayahmu masih ada di rumah Soalnya kerjanya nggak tentu jadwal."


"Memangnya Ayah kerja apa?" tanya Azka.


"Nggak tahu, kadang pulang diantar motor sama temennya, kadang jalan kaki. Aku tanya ke Azkia juga dia nggak tahu."


Azka tiba-tiba diam lagi. Begitu memprihatinkan kehidupan saudara kembarnya, tapi mengapa Azkia seakan tidak mau bertemu dengannya? Azka nggak habis pikir. Ada apa yang terjadi dengan saudara kembarnya?


"Tuh rumahnya di sana, nggak apa-apa turun dekat warung itu aja. Aku cuman jalan sedikit, kalau mau ngikutin dari belakang nggak apa-apa."


"Ya udah kamu turun sini aja ya, nanti aku ngikutin dari belakang."


Anak itu turun sambil membawa tas  Azkia. Kemudian Azka mengikuti dari belakang, lebih tepatnya Pak sopir memelankan mobilnya untuk mengikuti anak itu.


Namun, saat tepat di samping rumah kontrakan Gandi, terlihat Gandi keluar dari area kontrakan menggendong sebuah tas.


"Pak, jangan kelihatan ngikutin temennya Azkia ya. Bapak terus aja jalan," ucap Azka dengan suara lirih saking takutnya, sebenarnya tidak akan terdengar keluar juga suaranya.


Pak sopir mengikuti perintah tuan kecilnya. Namun, dari kejauhan Azka melihat bahwa Gandi terus berjalan menjauh dari kontrakan.


"Pak udah, boleh berhenti." Pak Sopir itu menurut apa kata tuan kecilnya.


Azka turun, kemudian mau menuju kontrakan Gandi. Namun, dari kejauhan melihat temannya Azkia memberi kode, jangan mendekat. Lalu diminta untuk Azka masuk kembali ke dalam mobil saja.


Karena Azka memang takut pada sebuah perintah, apalagi itu bukan daerahnya takut ada apa-apa. Maka Azka masuk mobil saja, walau tak mengerti alasan temannya Azkia itu.


"Ada apa Mas?" tanya Pak Sopir, mengkhawatirkan apa yang terjadi pada tuan kecilnya.


"Nggak tahu Pak, kata temennya Azkia aku tidak boleh ke sana."


"Ya udah, Mas tunggu aja. Mungkin mereka mau ke sini, lihat saja," kata Pak sopir karena melihat dari kaca spion.


"Oh ya, Pak. Nanti jangan bilang sama ibu ya, kalau aku menemui Azkia."


"Boleh Bapak tahu kenapa?" tanya Pak Sopir karena dia memang belum tahu tentang latar belakang keluarga majikannya.


Azka menceritakan secara singkat bahwa Azkia adalah saudara kembarnya, mereka terpisah karena pertengkaran kedua orang tuanya. Azka juga menceritakan bahwa itu adalah rumah kontrakan ayahnya yang membawa saudara kembarnya.


Dan apa yang dilakukan Azka sekarang akan membujuk saudara kembarnya untuk ikut bersamanya, soalnya dulu Azkia dibawa sama ayahnya juga karena dipaksa.


Kemudian menceritakan juga bahwa Rara seringkali berusaha untuk membujuk Azkia, untuk tinggal bersama. Namun, Azkia seperti yang membenci ibunya.


"Oh... jadi begitu. Siap Mas. Bapak akan ikut jaga rahasia. Semoga misinya selesai."


"Siap, Pak. Makasih ya."

__ADS_1


Tok!


Tok!


Suara ketukan kaca membuat Azka menoleh, saat masih berbicara dengan Pak Sopirnya. Matanya berbinar melihat Azkia ada di dekatnya, lalu menyuruh mereka masuk.


Akan tetapi Azka tidak berani menyapa Azkia terlebih dahulu, dia masih takut salah bicara. Nanti malah membuat saudara kembarnya itu lari lagi.


"Oh ya, tolong antar aku ke sekolah lagi ya. Takut di cariin guru," ucap temannya Azkia.


"Oke, sekarang kita ke sekolah dulu," ucap Azka pada temannya, sekaligus pada Pak Sopir.


***


Tok!


Tok!


Ketukan pintu pada sebuah ruangan yang beraroma segar dan cenderung bau obat-obatan.


"Eh besan... mari masuk," sapa Bu Sugeti saat membuka pintu untuk kedua orang tua Purba.


Kedua orang tua Purba baru bisa datang hari ini, karena mereka sedang dalam masa panen di kampungnya.


Rencana Bu Purwanti akan menunggui Rara jauh hari sebelum persalinan. Namun, sayang sekali pekerjaan di kampung akan terbengkalai jika Bu Purwanti tidak membantu. Maka itulah, orang tua Rara baru bisa datang hari ini.


"Maaf ya, Ibu sama Bapak baru bisa datang sekarang," ucap Bu Purwanti setelah mengecup kening Rara.


Bergantian dengan Pak Kukuh yang mengecup pucuk kepala menantunya, lalu melihat cucunya yang ada di box bayi.


"Tidak apa-apa Bu, Pak. Rara senang kok sekarang Bapak sempat datang sama Ibu "


"Anaknya laki-laki apa perempuan?" tanya Bu Purwanti.


"Jagoan Bu, hehe," ucap Rara dengan senyum hangatnya.


"Alhamdulillah, mau laki-laki atau perempuan yang penting sehat, tidak kurang satu apa pun." Bu Purwanti begitu gemas melihat cucu pertamanya.


Rara mengangguk senang, mendapat respon baik dari mertuanya.


Kemudian Bu Purwanti ingin menggendong bayi tersebut, karena lahirnya normal dan tidak ada gangguan kesehatan maka bayinya Rara tidak dimasukkan ke dalam inkubator. Sang bayi sudah bisa berada satu ruangan bersama ibunya.


"Wah... lucunya. Ini persis seperti Purba saat kecil, Pak," ucap Bu Purwanti saat menggendong sang cucu dan menatap wajahnya.


"Ini masih bayi Bu, belum kelihatan pasti. Nanti wajahnya masih bisa berubah-rubah."


"Iya, tapi kan udah kelihatan, tuh... bentuk hidungnya, bibirnya."


Kakek nenek tersebut merasa bahagia mendapatkan cucu pertamanya, meskipun anaknya sudah lama menikah tapi baru sekarang bisa merasakan menggendong cucu.


**


Di sebuah kantor Bonafit Tekstil cabang.


"Dea, kemarin kamu membeli kue kan? Bisa pesan untuk snack atau acara syukuran nggak? tanya Mona, pada sekretarisnya yang bernama Dea, lewat interkom.


"Bisa Bu, malah kebanyakan untuk acara-acara kantor pesan di sana juga, untuk pesan catering makanannya juga bisa. Maksud saya, seperti nasi paket gitu."


"Oh ya? Baik kalau begitu, nanti kamu atur untuk acara syukuran project yang kemarin kita bicarakan."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2