
Purba menoleh pada sumber suara, ternyata itu Mbak Idah sedang menenteng dua jinjing belanjaan. Purba yang terlanjur disapa oleh Mbak Idah, kemudian menyelesaikan aktivitasnya terlebih dahulu. Menutup bagasi mobil lalu menghampiri asisten rumah tangganya itu.
"Eh Mbak Idah? Lagi belanja?" tanya Purba sambil menepuk-nepuk kedua tangannya seperti orang yang membersihkan tangan, karena baru saja melakukan pekerjaan berdebu.
"Iya Pak. Bapak udah pulang? Terus sedang apa di sini, Pak?" tanya Mbak Idah kembali.
Maksud Mbak Idah mungkin majikannya itu sudah pulang ke rumah, lalu keluar lagi. Mbak Idah tidak tahu karena dia sedang di pasar. Mungkin tuanya mencari makanan. Itu tebakan Mbak Idah karena stok makanan di rumah memang sudah habis, sehingga untuk makan pagi mungkin tidak selera kalau hanya seadanya untuk Purba.
"Ini baru aja mau pulang Mbak. Diantar sopir nggak?" tanya Purba.
"Iya diantar, Pak," jawab Mbak Idah singkat.
"Oh ya udah, semangat bekerjanya ya Mbak Idah," ucap Purba dengan menepuk lengan asisten rumah tangganya yang sudah dianggap keluarganya sendiri, itu.
"Kalau gitu saya permisi, Pak."
Purba mengangguk sambil mengiringi kepergian Mbak Idah yang berjalan lurus, karena sopirnya menunggu di titik lain, jauh dari mobil Purba.
Dari semalam memang Mbak Idah seakan fokus pada keluarga majikannya itu, Sehingga sekarang pun dia merasa ada hal yang aneh pada tuannya saat melewati mobil Purba. Mbak Idah sedikit melirik pada mobil tuannya. Ada orang di dalam. Namun, dengan jelas bahwa itu adalah wanita yang sedang memangku bayi.
Mbak Idah tidak peduli diperhatikan oleh Purba atau tidak. Yang pasti Mbak Idah penasaran, dia sedikit menoleh pada bagian belakang mobil yang kacanya memang terbuka lebar.
Karena ada bayi sehingga mobil tidak menggunakan AC dan pintu kaca pun dibuka agar tidak terlalu pengap di dalam. Nanti saat mobil melaju baru ditutup. Namun, tidak sepenuhnya.
Mbak Idah berjalan terus dengan pikiran yang bercabang antara menyikapi dengan positif atau negatif. Satu sisi itu bukan urusannya, satu sisi lain dia sebagai wanita punya perasaan peka. Apakah tuannya sudah punya istri lain?
Mbak Ida sampai pada mobil yang menunggunya, dia tambah memperhatikan jalan lalu sedikit, tersandung untuk masih bisa terkendalikan sehingga tidak benar-benar jatuh.
"Mbak Idah, hati-hati," ucap sang sopir yang memang sedang menunggu di luar mobil bersandar di sampingnya, sehingga bisa membantu Mbak Idah yang hampir.
"Kalau jalan jangan melamun," ucap sopir itu lagi, sambil mengambil alih belanjaan dari tanah yang hanya jatuh kantongnya, tidak berserakan isi.
"Nggak melamun kok. Cuman jalannya aja nggak rata," ucap Mbak Idah membelah diri.
Mbak Idah menaruh belanjaannya pada jok belakang. Setelah selesai, kemudian masuk di jok depan. Sang sopir merasa aneh. Tumben Mbak Idah duduk di depan, biasanya ingin selalu di belakang kayak majikan aja.
Mobil yang ditumpangi Mbak Idah melaju di tengah jalan yang lumayan macet, memang di bawah pukul 09.00 jalanan pasti padat, dengan aktivitas orang yang hilir mudik dengan kegiatan masing-masing.
"Ngapain kamu? Jalan aja udah macet kayak gini. Ditambah yang nemenin sepi, jadi makin ngantuk dan bete." Pak sopir mengoceh.
"Apa sih Pak?. Justru kalau lagi macet kayak gini mending diem biar nggak kepancing emosi," ucap Mbak Idah.
"Tapi kenapa?.Perasaan ngelamun mulu deh," tanya Pak Sopir seakan memaksa.
__ADS_1
Mbak Idah tidak mungkin menceritakan apa yang ada dalam hatinya, apalagi ini mengenai sang majikan. Namun, sepertinya merasa berat kalau menyimpan rahasia sendiri, tetapi kalau berbagi cerita dengan Pak sopir, apakah dia bisa menjaga rahasia?
"Ayo cerita. Ada apa? Kalau nggak ada apa-apa nggak mungkin dong melamun terus. Nanti kesambet loh."
Pak sopir terus saja menggoda Mbak Idah agar mau bercerita. Pak sopir ini usianya sudah cukup matang, sekitar 40 thaun lebih, pastinya dia juga sudah paham akan karakter seseorang yang sedang dalam masalah atau pun tidak. Maka dia terus mendesak Mbak Idah untuk cerita.
Sebenarnya penting nggak penting juga untuk pak sopir. Hanya saja karena teman sejawat maka dirasa perlu untuk saling peduli, siapa tahu memang Mbak Idah sedang ada beban yang mengganggu setiap harinya.
"Pak sopir, dulu kan pernah nganter bapak ya? Itu ke mana aja?" tanya Mbak Idah tiba-tiba.
Pak sopir jelas kaget, kenapa Mbak Idah bertanya seperti itu. Sepertinya kemanapun majikan, kita tidak ada urusannya dengan pelayan.
"Kenapa nanya gitu?"
Mbak Idah berniat mau bicara terus terang, tapi takut. Akan tetapi ini mewakili perasaannya sebagai wanita yang memiliki insting kuat. Memang sebenarnya tidak ada urusan, sih. Majikannya mau berbuat apapun.
Namun, akhirnya Mbak Idah menjelaskan dia sebenarnya kaget barusan melihat tuannya seperti habis berbelanja, lalu di mobil tuanya ada perempuan sedang memangku bayi.
lalu Mbak Idah juga bercerita bahwa dulu waktu orang tuanya Purba datang ke rumah, mereka membahas tentang wanita lain dan lamaran.
Serta akhir-akhir ini, Purba seringkali terlambat pulang atau malah tidak pulang.
"Ya, kalau itu perasaan kamu bisa jadi, tapi kita hanya bekerja. Biarlah kita lihat majikan kita nanti bagaimana."
Pak sopir juga menceritakan saat kejadian Mona dan Bram waktu itu. Saat purba keluar kota, Mbak Idah tidak tahu kejadian yang sebenarnya, hanya diminta untuk bilang pada Purba, bahwa Mona sakit dan saat itu waktu dirinya beberapa hari di rumah ibunya.
Pekerja Mona dam Purba masih terus berbincang tentang rumah tangga majikan mereka, di selah jalanan yang semakin siang semakin padat.
***
"Mas, yang tadi asisten rumah tanggamu?" tanya Rara, saat purba sudah masuk dalam mobilnya dan meluncur menuju pulang.
Purba mengiyakan pertanyaan Rara, sambil diimbuhi pengertian bahwa Rara harus bersikap santai saja. Karena asisten rumah tangganya tidak akan bertindak aneh-aneh, pegawai yang ada di rumah Purba, profesional. Mereka bisa menjaga rahasia atau apa pun yang mereka lihat, belum pasti tidak akan asal bicara.
***
Beberapa waktu keadaan rumah tangga Purba dan Rara berjalan dengan baik, begitu pun hubungannya degan Mona. Semuanya masih bisa berjalan beriringan.
Hari ini Mona memang dijemput oleh Mas Waluyo alias, Mr.San. Karena mereka akan full mengurus projectnya, selain pergi ke pabrik tekstil, mereka akan pergi ke tempat beberapa designer untuk dipertimbangkan oleh Mr. Waluyo, siapa yang paling cocok untuk mengerjakan pembuatan gaun untuk rencana bisnisnya mas Waluyo.
Memang mas Waluyo akan membuat gaun khas dari China, tapi karena memadukan kain dari Nusantara, maka dibutuhkan designer lokal juga untuk nanti kolaborasi dengan designer di negara Mas Waluyo.
***
__ADS_1
Purba Pulang ke rumah dahulu sebelum ke kantor. Dia melihat mobil Mona masih ada di tempatnya.
"Apakah dia tidak Kantor?" gumam Purba.
Purba langsung masuk rumah, dia bukan tidak ada baju ganti di rumah Rara. Hanya saja akan membawa beberapa kebutuhan kantor yang tertinggal.
"Nanti aku harus persiapan jangan sampai kaya gini. Bila perlu, ruang kerja di rumah sana harus ada. Toh sepertinya Mona saat ini sudah semakin sibuk. Tak apa mungkin, aku jarang pulang juga."
Purba terus berkata dalam hatinya. Bukan masalah Mona sibuk, justru Purba bersyukur. Semoga saja saat menceraikan tidak ada drama besar.
Hanya sekitar tiga puluh menit, Purba sudah turun kembali dan akan pergi ke kantor.
"Pak, tidak sarapan dulu?" tanya Mbak Idah, kebiasaan menawarkan tuannya untuk sarapan jika akan berangkat ke kantor.
"Tidak, Mbak. Lagi pula ini sudah siang. Aku sudah sarapan kok tadi, di tempat Rara." Purba berkata dengan terburu-buru, dia keceplosan.
"Rara?" Mbak Idah mengerutkan kening.
Purba melihat pada Mbak Idah dengan wajah bersemu merah tegang, karena gugup. Namun...
"Ah, sudahlah. Aku pergi ya Mbak."
Purba tidak ingin menjelaskan kesalahan bicaranya, karena memang tidak penting. Buat apa diperjelas pada asisten rumah tangga? Tidak ada hubungannya dan tidak mungkin juga Mbak Idah akan buka mulut nanti pada Mona.
"Jadi istri barunya, Rara. Hem ... benar dugaanku." Mbak Idah mengangguk-anggukan kepalanya.
Kembali banyak dugaan melintas dalam pikiran Mbak Idah. Namun, dia juga berusah berpikir dua sisi. Semuanya antaran Mona dam Purba tidak bisa disalahkan dan dibenarkan. Ibarat apa yang mereka lakukan karena pelampiasan ketidak puasan masing-masing dalam mendapatkan takdirnya.
Mbak Idah tarik nafas, hanya bisa berdoa untuk kedua majikannya semoga terus mendapatkan keberkahan dalam tangganya.
***
"Sekarang saatnya, gak usah ada aba-aba lagi." Seseorang berbicara melalui sambungan telepon secara sembunyi-sembunyi.
"Yakin? Jangan sampai kamu lebih lama dalam kurungan saat gue melakukan ini."
"Pokoknya, kirim. Gue gak bisa banjan ngobrol."
Panggilan itu langsung ditutup.
Kemudian seseorang yang diminta untuk mengirimkan apa yang diperintahkan oleh temannya. Dia membuka ponselnya. Mengirimkan sebuah gambar pada Mona.
Bersambung....
__ADS_1