
Bab 98
Ayahnya Gandi juga memperingatkan kalau melakukan sesuatu itu jangan dalam keadaan emosi, pikirkan baik-baik dan kalau bisa rundingkan.
"Aku tidak emosi, Ini sudah jelas-jelas penghinaan dari wanita murahan itu." Gandi tak bisa ditenangkan.
"Kalau kamu tidak emosi duduk dulu, pikirkan anakmu," ucap Ibunya Gandi.
"Azkia aku bawa."
Ibunya Gandi geleng-geleng kepala, heran. Bagaimana pun dia juga tidak suka kepada Rara, tapi perihal anak jangan dibawa-bawa urusan orang tua. Tidak terbayang kalau Azkia ikut bersama Gandhi siapa yang akan merawatnya?
"Aku dari sini bawa uang, Bu. Makanan anak kecil paling cuman berapa," ucap Gandi sambil terus memasukkan pakaian-pakaiannya.
"Ibu, bantuin aku urus Azkia, ganti pakaiannya, aku akan berangkat hari ini juga."
"Ya ampun, Nak. Kamu benar-benar nekat?"
"Udahlah Bu, nggak usah banyak bicara. Menghambat waktu!"
Ibu dan ayahnya Gandhi tak bisa apa-apa, jika mereka terus melarang anaknya, perang hebat akan terjadi hari itu juga. Serba salah, keras di lawan tegas tetap aja ibarat api akan semakin besar, amarah dilawan dengan lemah lembut juga kalau salah situasi akan semakin besar apinya. Karena akan merasa tersinggung bagi orang yang marah terus dinasehati dan diingatkan.
Ibunya Gandhi menuruti apa kata putranya, dia mengambil Azkia lalu memandikannya, kemudian sambil mengenakan pakaian, ibunya Gandhi menasehati Azkia
"Nak, kamu akan ikut bareng ayah, ya. Harus baik di sana, jangan mancing emosi ayah."
"Azkia mau ke mana, Nek?"
"Azkia mau ke Jakarta."
"Azkia ketemu ibu?"
Ibunya Gandhi menaruh jari telunjuk di bibir Azkia, " Ssst .., jangan keras-keras. Yang pasti nenek berpesan, kamu harus bisa jaga diri ya."
Anak kecil berusia belum genap lima tahun itu seakan sudah dewasa pemikirannya, dia mengangguk dan mengerti apa kata neneknya, saat ini mereka berbicara dengan berbisik-bisik
Seseorang memang akan berpikir lebih dewasa dari usianya karena keadaan, begitupun Azkia menyimak apa yang sering terjadi di sekitarnya, dia jadi memahami harus berperilaku seperti apa untuk dirinya agar aman
**#
Di Rumah Sakit.
__ADS_1
"Bagaimana Nak, keadaannya sekarang?" tanya Nyonya Hartanto kepada Mona, dua hari sudah Mona dirawat di rumah sakit.
"Baikan Ma," ucap Mona masih dengan suara lemah.
Mungkin tubuh Mona, sudah membaik. Namun, rasa kesal masih ada dalam dirinya, hingga dia masih belum semangat untuk bersuara. Namun, secara keseluruhan keadaan Mona sudah stabil. Makan dengan normal, sudah bisa berjalan ke kamar mandi sendiri, tapi kegiatan rutinitasnya dihabiskan untuk menonton tayangan televisi, bahkan dia tidak mau memegang ponsel sama sekali untuk saat ini.
Kreet!
"Bagaimana Ma?" Tuan Hartanto yang baru masuk menanyakan keadaan Mona pada istrinya.
"Alhamdulillah, lebih baik Pa," ucap Nyonya Hartanto.
Tuan Hartanto duduk di samping Mona, mengecup keningnya, lalu memeluk Putri bungsunya itu.
Tuan Hartanto memberi semangat kepada Mona. ",Nak, jangan memikirkan macam-macam. Baik urusan Purba atau urusan kantor."
Mona sudah mengetahui Purba di mana. Jadi dia tidak akan risau jika suatu saat Purba pulang dan keadaan dirinya sudah membaik, anggap tidak terjadi apa-apa nanti saat bertemu.
"Ya sudah, Papa pergi dulu mau mengecek keadaan kantor," ucap tuan Hartanto berpamitan kepada Mona dan istrinya.
**#
Tuan Hartanto pergi ke kantor cabang terlebih dahulu, sebelum ke kantor pusat. Karena niatnya kantor pusat adalah tujuan terakhir untuk peninjauan. Karena akan lebih lama di sana, maka rute terakhir adalah kantor pusat, nanti di sana sampai waktu pulang.
Tidak ada yang aneh atau karakter yang mencolok dari pemilik perusahaan ini.
Keluarga Hartanto memang tidak seperti seorang owner kebanyakan, biasanya bos besar atau CEO berkarakter kaku kadang terkesan angkuh, tapi untuk Tuan Hartono tidak.
Hartanto sosok yang membaur dengan karyawan meski dia pemilik perusahaan, maka pada Purba pun demikian. Tidak ada istilahnya dihargai karena takut, mereka disegani karena memang bisa fleksibel bersikap pada karyawan.
"Kamu di sini?" tanya Tuhan Hartanto saat sampai pada meja Rara.
"Iya Pak, selamat pagi." sapa Rara yang sudah berdiri dengan membungkukkan badannya.
"Sejak kapan?"
"Sekitar dua minggu lalu."
"Gimana. Betah?"
"Alhamdulillah Pak."
__ADS_1
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu!"
Rara membungkuk dengan senyum, sempat terkejut juga kenapa tiba-tiba ada Tuan Hartanto, karena sebagai sekretaris perusahaan, dia tidak mengetahui jadwal kedatangan bos besarnya.
Namun, sesungguhnya Tuan Hartanto memang tidak pernah memberitahukan akan kunjungannya ke cabang-cabang kantornya. Karena dia ingin tahu benar-benar kinerja karyawannya serius apa tidak, tanpa harus diawasi.
Hartanto kemudian masuk ke ruangan Baskoro.
Rara bekerja seperti biasa, tapi entah kenapa dia terpikir terus akan kedatangan Tuan Hartanto. Seakan dia rindu sosok ayah, mungkin sosok mertua juga. Sedangkan hubungan dirinya dan Purba sebenarnya terlarang. Menjalin hubungan dengan sembunyi-sembunyi.
Selama ini Rara tidak pernah merasakan bagaimana memiliki mertua yang sesungguhnya. Sosok ayah pun lupa bagaimana rasanya.
Semenjak Lena usia satu tahun, suami Bu Sugeti meninggal. Dan saat itu usia Rara berarti sekitar 4-5 tahun.
“Tapi, Pak Hartanto kan ayah mertua Mas Purba. Mengapa aku harus risau?, Huft ... jadi ingin ketemu orang tua Mas Purba,” gumam Rara.
Rasa ingin diakui Rara meningkat, dari hanya sekedar menjadi kekasih gelap, kini ingin menjadi bagian keluarga yang utuh. Apakah keluarga Purba kelak akan menerima Rara.
Karena Rara sadar, menjalani rumah tangga bukan sekedar pria dewasa dan wanita dewasa, tetapi ada sanak saudara utuh yang mengelilingi mereka.
“Baik Pak Baskoro, semangat terus ya,” ucap Pak Hartanto di depan pintu direktur saat kunjungan selesai.
Rara langsung berdiri saat mengetahui bos besarnya ada di hadapannya.
Pak Hartanto kembali melihat pada Rara saat dia akan melangkah pergi, langkahnya terhenti lalu menghampiri Rara.
"Kamu tahu Purba ke mana?" tanya tuan Hartanto tiba-tiba.
Rara otomatis mengangguk.
"Tahu dari mana?"
"Dari mas ... em, maksud saya dari Pak Purba," ucap Rara gelagapan.
Tuan Hartanto mengernyitkan keningnya seakan memahami jawaban Rara.
Yeyy ... sudah mau bab 100 ya. Untuk give away masih berlaku ya. Akan ditutup pada bab 110. Untuk pengumuman pemenang readers terajin, nanti diumumkan di akhir bulan.
Terima kasih ya, selalu support karya otor.
Bersambung...
__ADS_1