
Bab 150
Sepanjang perjalanan Rara menangis dalam pelukan Purba. Rara benar-benar syok, dia sama sekali tidak tahu siapa lelaki itu. Bersyukur Purba percaya bahwa Rara berkata jujur, meskipun bukan sekali dua kali Rara sering terkena kasus pelecehan atau fitnah warga sebagai wanita penggoda.
Namun Purba tetap percaya bahwa semuanya hanya rekayasa.
"Sudah... tenanglah, ada aku di sini. Bagaimana kalau kita langsung pindah aja?" tawar Purba.
"Pindah ke mana Mas? Bukankah rumah yang baru belum selesai?"
"Untuk sementara, kamu bisa tinggal di toko, di sana juga ada ruangan buat tidurnya."
Rara hanya menatap pada Purba, dia masih bingung, lalu merebahkan kembali kepalanya di dada Purba. Sepertinya dia tidak ingin ditinggal sendirian, trauma akan seseorang datang lagi. Terlebih kalau Rara bicara pada Purba lelaki itu sempat menyesap apa yang ada dalam tubuhnya dan itu sensitif. Mungkin jika Purba tahu hal itu, dia akan lebih marah, bisa jadi tidak dapat mengontrol emosinya pada pria itu.
Rara baru terpikir apakah dia memanggil Lena saja? Meskipun Lena di kampung sedang kerja, tapi untuk membantu dirinya di toko kue Rara akan bersikap profesional. Memberi upah pada adiknya sekaligus bisa diajak tinggal bareng sebagai teman tidak terlalu sepi di rumah.
Rara menarik kepalanya dari dada Purba, dia memposisikan duduk secara normal dan menatap pada Purba.
"Ada apa?" tanya Purba begitu tenang suaranya.
"Aku baru kepikiran Mas. Bagaimana kalau manggil nenek ke sini?" tanya Rara.
Purba termenung sejenak, sepertinya kalau nenek yang dipanggil kurang tepat kan masih ada Azka yang sekolah Kalau purba maunya lebih baik semuanya saja. Namun, kalau untuk memindahkan anak sekolah TK itu memang tanggung. Jika dikatakan tidak perlu sekolah TK juga tidak apa nanti langsung masuk SD saja, tapi karena Azka sudah terlanjur sekolah TK di sana, ya harus sampai tamat.
Purba memberi saran lebih baik Lena yang datang ke Jakarta untuk menemani, Itu pun kalau Bu Sugeti mau untuk ditinggal beberapa waktu sampai Azka selesai sekolah.
"Iya Mas, aku setuju itu," ucap Rara, lalu dia melanjutkan. "Nanti aku akan menghubungi Lena, ya Mas."
"Iya, coba saja dulu seperti itu. Kira-kira berapa lama lagi Azka selesai sekolah?"
"Kurang lebih dua bulan lagi," sahut Rara.
Purba juga menyarankan jika rumah yang ada di kampung lebih baik di kontrakan saja, karena kalau ditinggal begitu saja akan rusak, atau kalau Bu Sugeti ikhlas menjualnya lebih baik jual saja.
__ADS_1
Kemudian Rara juga harus bisa menjelaskan kepada Ibunya kira-kira sanggup tidak jika dua bulan ini di rumah hanya bersama Azka berdua. Karena Lena akan segera ke Jakarta.
Perbincangan antara Purba dan Rara sudah matang, apa yang mereka rencanakan tinggal nanti Rara nelpon pada Lena langsung.
"Biar untuk malam ini aku akan minta Vira untuk menemanimu. Bagaimana?" tanya Purba.
Rara langsung setuju, wajahnya cukup senang saat Vira yang akan menemani. Karena dulu juga Rara cukup akrab dengannya, yang penting ada teman mengobrol saja. Apalagi bangunan toko itu baru, takut ada apa-apa kalau Rara tinggal sendiri.
Sebuah bangunan sederhana. Namun, cukup luas untuk store cake, di lantai dua tadinya mau digunakan buat kantor. Namun, tidak begitu formal juga karena ada satu ruangan bisa untuk ruang tidur. Maka nanti Rara dan Vira tentunya akan tidur di lantai dua.
Kini Purba dan Rara Sudah sampai di rumah, tanpa menunggu lama langsung membereskan perabotan apa saja yang akan dibawa.
Purba membuka ponselnya karena dia sadar sudah terlalu lama tidak mengecek alat komunikasinya tersebut, takut ada suatu hal yang penting terutama dari klien masalah pekerjaan.
Rupanya ada pesan dari Mona 30 menit yang lalu, mungkin Mona mengirim pesan saat dia juga baru sampai di kantor dan Purba masih dalam perjalanan pulang dari kantor polisi.
"Mas, kamu di mana? Berangkat terburu-buru tapi tidak ada di kantor," pesan Mona.
Purba langsung menjawabnya ,"Iya, tadi aku terburu-buru karena sudah ditungguin Bizar."
"Tapi Bizar memberitahuku saat malam dan aku baru tahu pagi saat membuka pesan. Sehingga Bizar ada di tempat terlebih dahulu untuk mewakilkan aku, lalu aku langsung menyusul, takut kehilangan kesempatan."
"Oh. Klien orang mana? Kok kayak terburu-buru banget?"
"Biasalah Ma, orang besar memang selalu memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Jadi mumpung mereka ada di sini, karena akan kembali ke negaranya hari ini juga."
"Oh... ya udah. Kalau bisa kita makan siang bareng, Mas."
"Ok."
Begitulah lelaki, dia pandai mencari alasan yang serupa dengan kenyataan, iya Bizar memang mewakili Purba dan tadi Purba juga memang menemui orang besar, orang yang sangat penting dalam hidupnya, tapi itu Rara, bukan klien.
"Sayang, nanti kamu bisa meminta bantuan seseorang di sini untuk membantu membereskan barang, atau mungkin ada yang mau disuruh untuk mengangkut barang-barang?" tanya Purba.
__ADS_1
"Baik Mas, kalau mau ke kantor, pergi aja Karena barangnya juga kan sedikit, untungnya aku belum punya banyak perabot saat pindah ke sini. Paling nanti saatnya bawa mobil bisa langsung di bawah oleh sopir dan temannya.
Aku paling cuman bawa berapa tas saja Mas dan itu bisa aku lakukan sendiri."
"Tapi kamu nggak apa-apa ditinggal sendiri?" tanya Purba, masih merasa khawatir saat dia harus membagi waktunya antara pekerjaan dan kepercayaan Mona. Sedangkan di sini ada masa depannya juga harus diperhatikan.
"Tenang aja Mas, nanti aku bisa minta bantuan Bu RT, dia baik kok orangnya.
"Syukurlah, sekalian juga aku mau laporan ke Pak Haji, tadi bagaimana hasil dari kantor polisi, biar di hari terakhir kita di sini, Pak Haji bisa menyampaikan pada warga berita yang sebenarnya." Bizar sudah berdiri, bersiap akan pergi.
"Kalau begitu aku pergi ya, hati-hati di rumah. Nanti sore aku hubungi lagi untuk memastikan sudah tidak ada keperluan lagi di sini."
"Baik Mas," ucap Rara sudah mulai biasa lagi, tidak begitu cemas dan sedih.
Sebelum Purba pergi, dia sempat mengecup kening Rara untuk lebih memberikan rasa nyaman.
***
"Hampir jam makan siang, Mas Purba belum pulang. Masa selama ini bertemu klien, dari pagi pula. Katanya sudah diwakilkan oleh Bizar. Buat apa ada asisten? Tapi bosnya
datang masih tetap memakan waktu lama untuk berurusan dengan klien," Mona bergumam, kesal.
Kedua tangan Mona, jari jemarinya disatukan di depan dadanya, dengan kursi yang digoyangkan ke kanan kiri. Dia terus saja merenung, memikirkan keanehan suaminya.
Mona terus berpikir bagaimana tidak selalu overthinking, jika Purba mulai tidak jelas pengaturan waktu dan acaranya. Mona tidak tahu bahwa ada klien yang akan berhubungan dengan perusahaannya, baik sekedar nego atau hanya ingin berkenalan dulu dengan perusahaan mereka, atau sudah dalam tahap kontrak.
Tidak mungkin aktivitas perusahaan baik di luar atau pun permasalahan dalam tidak ada berita acaranya, semua itu harus sesuai aturan. Klien dari mana, klien siapa, informasi apa yang akan datang atau jadwal yang sudah ditentukan, itu harusnya terjadwal dan sepengatahuan Mona juga.
Mona terus berpikir sering sekali acara mendadak.
Purba masuk di saat Mona sedang bergelut dengan pikirannya.
"Siang sekali Mas?" tanya Mona dengan sorot mata tidak senang.
__ADS_1
Bersambung....