Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Sepakat Pindah Kantor


__ADS_3

“Kebetulan ada Bapak! Saya minta Bapak bertangungjawab,” ucap Rara dengan nafas masih ngos-ngosan malah membuat kedua CEO itu merasa lucu melihat Rara.


Marahnya Rara memang tidak menakutkan, malah menggemaskan bagi pria yang suka melihat wanita mungil dengan wajah polos seperti Rara. Tak pantas untuk marah sebenarnya.


“Ada apa ini? Tenang dulu,” ucap Purba meminta Rara untuk duduk.


Rara tidak menuruti perintah Purba, dia terlanjur kesal. Dari pagi hingga sore dibuat kesal selama berada di perusahaan BT, mungkin memang nama perusahaan juga harus diganti, jangan BT, membuat aura perusahaan jadi bete/membosankan betulan.


Masih sambil berdiri, Rara menceritakan perlakuan yang didapat dari para karyawan, dari semenjak dia ke luar ruangan Pak Dahlan sebelumnya, sampai perundungan di kantin.


“Ok, saya minta maaf. Dengan tulus dan saya akui kesalahan saya pribadi, saya minta maaf. Lalu, selanjutnya saya harus bagaimana?” ucap Purba.


“Rara ini masih kesel, Pak, Sakit. Gak bisa dengan kata maaf aja!” teriak Rara sambil menunjuk pada dadanya.


Purba akhirnya berdiri dan memegang kedua lengan Rara untuk menurutinya agar duduk.


Dengan terpaksa, kini Rara sudah duduk di dekat Purba, tapi kemudian Purba diam sesaat dengan kelima jarinya disatukan di depannya dengan posisi kedua sikut di kedua paha, seperti sedang berpikir.


“Em ... maaf, Pak Dahlan tolong bisa keluar sebentar?” pinta Purba pada Pak Dahlan yang duduk berada di sebrang Purba.


Tanpa tanya sedikitpun, Pak Dahlan pergi meninggalkan ruangannya. Jadi sekarang di ruangan itu ada Purba, Rara dan Bizar saja.


“Begini, mbak Rara. Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian tadi dan perlakuan karyawan-karyawanku. Mungkin kalau untuk mereka, nanti aku beri sanksi sesuai aturan perusahaan. Tetapi untuk istiriku ...,” ucapan Purba menggantung, ragu dengan tujuannya takut Rara salah paham.


“Tapi kenapa? Bapak susis ya? Suami takut istri?” ucap Rara ngasal.


“Eh, bukan. Sebenarnya hubungan saya dan istri ...,”


Purba lalu menceritakan keadaan rumah tangganya yang memang tidak sehat sejak awal.


Mona terlalu hyper untuk Purba yang biasa saja, terlalu manja untuk Purba yang sibuk, terlalu keras untuk Purba yang sering mengalah. Jadi sebenarnya Purba bertahan karena belum menemukan alasan yang tepat untuk menyudahi pernikahannya.

__ADS_1


“Terus kenapa Bapak mau sama Bu Mona, apa karena dia cantik? Kaya model?” tanya Rara polos.


“Bukan, bukan seperti itu alasannya. Nanti kamu akan tahu, alasan aku menerima tawaran Papanya Mona. Lebih tepatnya lamaran.”


“Oh, jadi keluarga Bu Mona yang melamar Bapak?”


“Ya, begitulah.”


Sejenak Rara berpikir, dia takut sebenarnya. Takut ini jebakan, takut karma atau jadi masalah besar kedepannya.


“Em ....enggak. Enak aja Bapak manfaatin saya. Di sini saya yang dirugikan loh Pak,” tolak Rara dengan tegas.


“Tapi aku akan memberi imbalan yang setimpal,” ucap Purba kembali.


Rara mengerutkan kening sambil menatap netra Purba lekat, mencari kesungguhan dalam ucapan bosnya itu.


“Apa yang aku dapat?” tanya Rara seketika.


“Kamu pindah ke kantor pusat dan jadi sekertarisku.”


“Jika rencana kita berhasil, kamu juga akan dapat bonus sejumlah uang.”


“Berapa?” tanya Rara ingin jelas perjanjiannya, dia takut dibodohi.


“Yang pasti nolnya banyak banget. Nanti aku buat surat perjanjiannya, jika kamu tidak sepakat, kita bisa nego lagi.”


“Dan satu lagi, dengan pindah kantor, kamu gak akan bertemu lagi dengan orang-orang yang ngebuly kamu,” lanjut Purba menambahkan.


Rara berpikir sejenak, hatinya berdebat dengan pikirannya. Dia mempertimbangkan untung ruginya jika menerima tawaran itu.


‘Boleh juga sih, toh ini bukan aku yang punya rencana, jadi aku gak salah apa-apa dalam hal ini. Aku hanya bekerja, dibayar dan yang pasti nolong orang. Aku juga bisa pamer ke orang kampung, saat uangku udah banyak, biar mereka gak merendahkan kelurgaku lagi.

__ADS_1


Akan aku tutup semua mulut pedes mereka, terutama istri-istrinya Haji Dadan,' batin Rara, dengan kepalanya terlihat mangut-mangut.


“Hemem ... baiklah, tapi harus dipastikan jika misi selesai, perjanjian kita juga selesai ya? Otomatis!” ucap Rara memastikan.


“Ok Deal!” Purba mengulurkan tangannya untuk berjabatan sebagai tanda perjanjian sepakat.


“Ya udah, sekarang kamu ikut aku ke kantor Pusat. Besok biar kamu tidak bingung lagi lokasinya,” perintah Purba.


“Saat ini juga?” Rara balik bertanya.


“Bukan, tahun depan,”ucap Purba mulai timbul lagi isengnya.


Purba kemudian berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Pak Dahlan tanpa menunggu Rara yang masih ragu-ragu.


Bizar mengekor di belakang Purba.


Rara yang tahu sudah tertinggal cukup jauh, dia segera berdiri dan menyusul Purba, tapi ke ruangan kerjanya terlebih dahulu, membawa tasnya.


Sampai depan di depan kantor, dia tak melihat Purba atau pun Bizar. Rara celingukan mencari mobil yang mana.


Tiiin...!


“Astaghfirullah .,.! Ih ... ngagetin aja.” Rara memukul mobil Purba yang hampir menempel pada tubuhnya.


Rara tidak menyadari ada mobil yang menghampiri, mungkin karena suasana panas dan bising dari jalan raya, sehingga kurang fokus.


“Nona, masuk!” ucap Bizar yang mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.


Rara tak menjawab, dia kesal karena kaget.


“Kenapa di belakang?” tanya Purba.

__ADS_1


“Oh iya, aku kan bukan Majikan,” gumaman Rara, kemudian pindah tempat duduk di samping Bizar.


Bersambung...


__ADS_2