Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Tekanan Untuk Berhasil


__ADS_3

Bab 177


Ternyata Purba salah bicara, dasar ya, kalau hati sedang tidak karuan, konsentrasi jadi kacau. Memang sih Purba hanya ingin meyakinkan, tapi namanya juga kekhawatiran. Bukan tidak percaya pada pasangannya, cuma rasa takut untuk kehilangan, hingga menjadi segala sesuatu ingin diyakinkan secara lebih.


Purba ingin merayu istrinya dengan memeluknya. Karena dia sudah menyadari bersalah terlalu menuntut Rara. Namun, sayangnya Rara menghindar, yang tadinya duduk dekat Purba kini bergeser ke sisi satunya di sebelah anak bungsunya.


"Sudah Mas tidur aja, biar besok bisa menyelesaikan masalah dengan baik," ucap Rara. Dia langsung memejamkan matanya.


Rara tidak peduli apa yang sekarang sedang dipikirkan atau dirasakan suaminya, yang pasti dia juga memiliki rasa kesal. Kebijakannya untuk menyelesaikan dengan istri pertamanya menurut Rara sudah sangat longgar diberikan. Maka dari itu Rara harus memberi ketegasan kepada Purba, jangan mentang-mentang dirinya leluasa memberi kebebasan, hingga Purba seenaknya saja bertanya tanpa batas. Apakah orang itu akan tersinggung atau tidak, tak terpikirkan lagi.


Seharusnya Purba untuk meyakinkan jangan menekan satu orang saja, tapi kalau permasalahannya ada beberapa orang, harus dicari tahu kebenaran juga dari orang lain itu. Maksud Rara bukan tersinggung karena hatinya yang sensitif. Namun, memang harusnya dicari tahu dari berbagai sudut. Baru ketemu titik terang.


Purba melihat Rara yang sudah memejam, sepertinya memang sudah tertidur karena waktu sudah hampir pukul 00.00. Namun, Purba yakin Rara belum benar-benar terlelap, dia tahu seseorang yang sedang menghadapi masalah besar tidak bisa mudah begitu saja tidur dengan nyenyak.


Purba menghabiskan jeruk hangatnya, setelah itu menaruh gelasnya di meja dekat sofa, karena takut tersenggol jika dekat nakas ada air mineral.


Setelah Purba kembali dari menyimpan gelas jeruk hangat dia naik kembali ke atas ranjang, lalu menyentuh tangan istrinya yang berada di atas perut sang bayi.


"Sayang, maafin aku ya. Kata-kata aku membuat kamu kurang nyaman. Terima kasih atas pengertiannya selama ini," ucap Purba mengusap-ngusap tangan Rara. Dia tidak peduli Apakah Rara mendengar atau tidak, yang penting sudah diungkapkannya rasa bersalahnya sudah sedikit lega.


Purba tidak langsung tidur, dia membuka ponselnya dan menscroll beberapa media tentang bisnis. Terkadang membuka juga beberapa aplikasi hiburan yang terkadang di berandanya ada beberapa informasi berita yang pasti bukan sesuatu hal yang dicari untuk membuka ponsel, tapi untuk mengalihkan waktunya agar kantuk segera datang.


Lima belas menit berlalu, Purba sudah berkutat dengan ponselnya. Dia segera minum air mineral di sampingnya, bagaimanapun jeruk hangat akan meninggalkan bekas di lidah hingga tidak enak untuk dibawa tidur. Kalau lidah belum steril dari rasa, maka harus banyak minum air mineral dulu.


Tiga puluh menit sudah berkutat dengan ponselnya dan beberapa kali minum sudah Purba lakukan. Sepertinya kantuk juga sudah datang, dia menaruh ponselnya kemudian tertidur begitu saja karena memang sudah mengantuk.


***


Keesokan harinya seperti biasa Rara bangun pagi, dia melihat Purba masih tertidur, yang wajahnya terlihat sekali wajah-wajah lelah, pemilik masalah berat. Rara sengaja tidak membangunkan suaminya, biarlah bangun siang, entah pukul berapa semalam tidur. Bahkan selesai berdiskusi pun hampir pukul 00.00.


Kadang memang bingung diantara seperti itu harus melakukan kewajiban bangun pagi atau kesehatan juga penting, tak terbayang baru tidur beberapa jam lalu dibangunkan, kepala pasti pusing biasanya, maka Rara tidak tega.


Pukul 06.30 Rara sudah selesai aktivitas, kesehariannya merapikan kamar mengecek keadaan dapur untuk sarapan dan saat ini membawa Az-Zahro, keluar untuk dititipkan kepada ibu dan kedua mertuanya.

__ADS_1


"Emangnya kamu mau ke mana?" tanya Bu Sugeti.


"Mau mengecek toko, Bu."


"Kamu belum seminggu lahiran loh, sudah ke sana kemari?"


"Inilah kelebihan lahiran normal, lagian aku tidak jalan, hanya duduk dan diantar Pak sopir."


"Tapi, Nduk, sama saja.Bukan masalah tubuh, tapi jiwa dan pikiran kamu juga harus diperhatikan."


"Sudahlah Bu, kalau kata aku kuat berarti kuat." Rara memotong ucapan Bu Sugeti.


Karena prinsip Rara memang dia yakini benar bahwa kesehatan itu berawal dari keyakinan, Rara merasa diri dan pemikirannya sehat-sehat saja tidak terganggu mental baik pun jiwa.


Padahal selain dari itu Rara memang ingin menghindari Purba, bukan karena memperpanjang masalah yang semalam dia tersinggung. Akan tetapi dia ingin memberi ketegasan kepada Purba, agar segera menyelesaikan masalahnya dengan Mona. Jika Rara tidak melakukan hal itu maka Purba akan melalaikan waktu.


Purba akan merasa ada perlindungan di keluarga Rara. Ada kenyamanan yang diberikannya, hingga Purba akan bersikap nanti dan nanti untuk menyelesaikan masalah itu.


Ada pentingnya juga seseorang diberi tekanan agar kedisiplinan muncul. Maka hal itu yang diberikan oleh Rara. Dia akan menghindar sementara waktu dari Purba.


Sengaja Rara menaruh teh hangat itu di dalam termos kecil agar kehangatannya masih terjaga saat Purba baru bangun. Kue nagasari yang asistennya beli tadi dari pasar, Purba juga suka jajanan pasar yang dibungkus daun-daun makanya sebelum pergi Rara memberikan itu agar tidak terkesan Rara sengaja menjauh, maka diberi perhatian terlebih dahulu.


Rara turun lagi dari kamarnya dan bersiap akan berangkat berbarengan dengan Azka yang akan ke sekolah.


Rara pamit kepada ibunya dan kedua mertuanya, begitupun juga dengan Azka, terlihat tidak ada sesuatu yang menegangkan di keluarga itu. Hanya Purba dan Rara yang sedang berkutat menyelesaikan masalah besar.


"Ibu, nanti Ibu ngejemput enggak?" tanya Azka, saat mereka sudah di dalam mobil. Karena dia senang sekali hari ini Ibunya ikut mengantar.


"Tidak tahu ya, sayang. Pokoknya Azka pasti dijemput. Nanti lihat aja di dalam mobil ada ibu atau tidak. Kan Ibu belum sehat benar," ucap Rara, anaknya pasti mengerti apa yang dikatakan belum sehat karena Rara bukan sakit.


"Oh iya, Ibu harusnya masih duduk di kamar ya. Karena baru ngeluarin adik bayi," ucap Azka memahami kondisi ibunya.


"Iya, jadi jangan menanti kalau ibu menjemput atau tidak ya."

__ADS_1


"Baik Bu, tapi kenapa Ibu ke toko? Kan masih sakit."


"Nggak apa-apa, kan nggak berjalan juga, nggak capek cuma duduk kerjanya."


"Azka sayang sama ibu." Tiba-tiba anak manis itu memeluk ibunya, dia memang sangat romantis sehingga kepenatan Rara selalu terobati oleh anak yang satu ini.


***


Sementara itu di kontrakan Gandi sudah ada Bu Hetty dan suaminya. Bukan semata karena ingin menjenguk Azkia, tapi karena panggilan dari Daryanto.


Bu Hetty sudah mendapatkan kabar dari Daryanto bahwa Gandi ternyata terkena penyakit virus yang biasa menyerang orang-orang yang sering melakukan se x bebas.


Bu Hetty cukup terkejut, terlebih karena melihat Azkia yang nasibnya entah bagaimana nanti.


Lalu Daryanto mendiskusikan dengan Bu Hetty. Apakah sebaiknya Gandi dibawa pulang saja karena tidak mungkin dirawat oleh tetangga atau anaknya saja di rumah. Meskipun penyakit ini tidak menular dengan mudah begitu saja, akan tetapi anak kecil seperti Azkia sudah pasti tidak dapat merawat ayahnya dengan baik, karena ini termasuk penyakit yang serius, bukan hanya sekedar flu, batuk, demam biasa.


Saat ini Bu Hetty hanya bisa melihat Gandi, lalu dia keluar lagi dari kontrakan tersebut karena tidak mungkin memperbincangkan hal serius di dekat orang sakit. Meskipun Gandi hanya bisa tiduran, dia memejamkan mati, tapi mungkin telinganya masih mendengar dengan baik, meski konsentrasinya menurun karena fokus kepada sakit yang dirasakannya.


"Jadi gimana Pak Daryanto? Kapan Gandi akan dibawa pulang ke kampungnya?" tanya Bu Heti.


"Mungkin sore nanti, aku akan menghubungi pihak keluarganya."


"Lalu bagaimana dengan Azkia? Apakah dia akan ikut?"


"Tentu saja, dia anaknya," ucap Daryanto dengan enteng.


"Bukan begitu Pak," Bu Hetty mencoba menjelaskan...


Mungkin Daryanto belum tahu bahwa sesungguhnya Azkia lebih ingin tinggal bersama saudara kembar dan ibunya, kebetulan mereka ada di Jakarta. Apa tidak sebaiknya azkia ditinggal saja biar nanti dihubungkan pada saudara kembarnya untuk diajak bersama ke rumah ibunya?


Bagi teman-teman yang suka novel konflik ringan, silakan novel otor yang satunya, "Aku Pawangmu Direktur."


Terima kasih sudah mampir....

__ADS_1


Bersambung.. .


__ADS_2