
...Begitulah Purba, begitulah Rara, begitulah Mona. Mereka ada pada malam yang sama untuk berfantasi tentang cinta. Jangan kesal ya, jika Mona akhirnya main sendiri. Yang mau marah sama Purba atau Rara, silakan. Yang mau bilang ini karma buat Mona, silakan. Asal jangan ngatain otornya. Nanti otor nangis. Hehehe .......
💕💕💕
Ban140
Purba terus mengganggu Rara saat akan berganti pakaian, jujur saja Rara pun jadi tidak tahan. Bahkan dia merasa lututnya melemas karena tak hentinya Purba memancing permainan. Dengan segera Rara menghentakkan tangan Purba yang sudah berada pada bagian favoritnya.
"Mas, kalau kelabasan di sini kita nggak bisa ngapa-ngapain," ucap Rara yang kini membalikan badan. Pakaian kini sudah terbuka, nanya belum terlepas saja.
Bukannya Purba mendengarkan ucapan istrinya, dia malah mendorong Rara hingga terjebak pada dinding tembok di samping lemari, lalu melancarkan lagi aksinya. Kali ini bibir Rara habis dieksekusi Purba yang sudah lama ditahannya. Dulu hanya bisa memandangi saja. Bahkan pernah mencicipi sesaat, tapi tidak bebas rasanya karena takut kelabasan, kalau sekarang semua adalah milik Purba. Bebas menikmati kapan pun.
"Bu ...ibu ...," gumam Azka dalam tidurnya.
Lalu sejoli yang sedang dimabuk asmara tersadar, Purba yang matanya sudah sayu karena menikmati, pelipisnya sudah basah oleh keringat, bahkan nafas yang sudah berpacu, lagi-lagi terganggu. Belum lagi sesuatu yang terbangun miliknya. Merasa dongkol, karena belum bisa melancarkan aksinya dengan sempurna.
Rara yang pakaiannya terbuka karena belum sempat menggantinya, langsung menghambur pada Azkia. Sepertinya semenjak mimpi buruk tentang saudara kembarnya, Azka tidak lagi bisa tidur dengan nyenyak.
Rara menepuk-nepuk Azka agar tidur kembali. Purba mematikan lampu kamarnya dan benar-benar gelap. Karena tidak ada lampu malam di kamar Rara, beda dengan kamar besar milik Purba.
Purba tidur di samping Rara dengan tempat tidur yang tidak begitu besar seperti miliknya.
"Mas, sabar dulu. Tempatnya sempit, nanti kamu jatuh tidurnya," bisik Rara karena takut mengganggu Azka bangun.
"Tidak apa. Aku bisa memelukmu jadi kita bisa satu tubuh lebih irit kan tempatnya?" ucap Purba dengan nafas yang sudah menggelikan di telinga Rara, seperti habis berlari saja. Deru nafasnya tidak pernah berhenti setiap menempel dengan Rara, detak jantungnya berpacu dengan cepat.
"Mas... Nanti Azka bangun lagi," ucap Rara dengan susah mengeluarkan suara, karena seluruh tubuhnya dikuasai Purba.
"Tidak akan, kamu terus saja usaha-usap biar tidur," cap Purba dengan suara tidak jelas karena bibirnya terus bergerilya di setiap tubuh Rara yang dia inginka.
__ADS_1
Tangan purba juga aktif hingga sesekali Rara mengeluarkan suara helaan, sebuah reaksi sensasi yang ditimbulkan oleh tangan dan bibir Purba yang aktif.
Rara yang membelakangi Purba sudah tidak mengenakan busana atas, begitu pun Purba sudah polos, jadi lebih leluasa. Tak ada satu kesempatan pun dibiarkannya, untuk Rara bebas tidur tanpa dikerjain oleh Purba.
Rara sedikit menjerit saat Purba dengan ganasnya membuat tanda kepemilikan di bagian benda kembar milik Rara.
Rara sungguh kerepotan satu sisi dia melayani Purba, satu sisi lagi tangannya terus menepuk-nepuk punggung Azka agar tidurnya pulas.
Purba seakan ular yang melilit tubuh Rara yang sedikit miring, karena tangannya harus sampai pada tubuh anaknya, sedangkan jika posisi terlentang kesulitan bagi Rara untuk mengusap Azka.
Berkali-kali Rara mengerang.
"Ibu... bu.... Kenapa gelap?" tanya Azka dengan suara kecil parau.
Sejoli ini pun yang sudah merasa di surga tersadar kembali, menghentikan aktivitasnya. Rara dengan nafas ngos-ngosan menjawab pertanyaan putranya. Meski pun sudah berusaha menstabilkan nafasnya agar bisa berbicara dengan lancar.
"Ibu habis mimpi buruk ya? Kayak orang cape. Barusan Azka kaya dengar ibu teriak-teriak gak jelas. Kaya lagi dikejar kejar," celoteh Azka sontak membuat Purba ingin tertawa.
Beda halnya dengan Rara, dia sungguh malu saat anaknya berkata seperti itu. Dia takut anaknya benar-benar mendengar keseluruhan apa yang terjadi, bahkan mungkin ranjangnya sedikit goyang meskipun sudah hati-hati.
"Me ... i-ya, iya Ibu barusan merasa mimpi," ucap Rara.
"Sama kayak Azka mimpiin Kia, tapi kenapa lampunya digelapin? Nanti kita mimpi buruk lagi Bu," ucap Azka.
"Nggak apa-apa, kan sekarang ada Ayah dekat kita. Kalau lampu digelapin itu biar tidurnya lebih tenang."
Purba kemudian berpindah ke samping Azka di sisi satunya, sehingga posisi Azka sekarang adalah di tengah.
"Ayo, Nak. Tidur lagi. Ayah temenin ya," ucap Purba membiasakan diri agar Azka memanggilnya ayah.
__ADS_1
"Ayah, Ayah? Kok Ayah nggak pakai baju? Apa nggak bawa baju dari Jakarta?" tanya Azka saat akan memeluk Purba.
"E, em, Ayah barusan merasa panas, jadi dibuka bajunya," ucap Purba sedikit gagap.
"Tapi Azka dingin, kok Ayah kepanasan?"
"I-iya beda. Soalnya kamar Ayah di Jakarta ada AC-nya, di sini nggak." Dengan cepat Purba menemukan alasan yang tepat.
"Oh...," ucap Azka terakhir kalinya, kemudian merapatkan tubuhnya pada Purba lalu memeluk Ayah barunya.
Dalam gelap Rara tersenyum, tingkah bocahnya ini mengganggu malam pertama mereka. Terutama Purba. Rara merasa tergelitik, suaminya yang sudah hampir puncak terganggu terus, entah bagaimana perasaannya. Mungkin pusing kepala si kecilnya, karena belum jadi bermain terus.
***
Sementara itu di sebuah kamar besar, dengan harum kamar bukan dari pengharum ruangan seperti biasa. Pun, bukan aroma terapi agar pemilik kamar merasa rileks.
Akan tetapi, aroma parfum milik Purba. Ya, Mona sengaja menyemprotkan parfum Purba ke beberapa seluruh ruangan. Dia akan berfantasi honeymoon dengan suaminya karena sudah bingung lagi harus melampiaskan seperti apa, kegundahan hatinya.
Ponsel Purba belum juga aktif. Bahkan tadi siang di kantor, tak juga menemukan informasi, bertanya pada beberapa staf di kantor cabang pun, tak ada yang tahu teman Purba yang dimaksud.
Mona sudah mengenakan lingerie merah kesukaannya. Lampu kamar telah diganti dengan lampu malam yang remang.
Sehelai pakaian Purba dia kenakan pada sebuah bantal, yang sudah diletakkan posisinya dengan baik di atas ranjang. Seakan. Purba sedang berbaring di sana.
Mona meneguk segelas anggur terlebih dahulu. Setelah meletakkan gelas, dia tersenyum memandang bantal yang sebagai cosplay suaminya. Jalan perlahan menaiki tempat tidur, merangkak menuju tubuh bantal itu. Seakan dia sedang menggoda suami yang untuk berfantasi menuju surga dunia.
Pemanasan pun di mulai, Mona si hyper, mantan wanita diskotik, tentu tak lupa cara menyenangkan diri saat hasratnya sudah di ubun-ubun, tapi tak ada lawan untuk melepaskan.
Bersambung...
__ADS_1