Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Masih Sakit Hati


__ADS_3

Bab162


"Maaf ya, Dil. Aku nggak sengaja," ucap Azka sesaat setelah temannya menegur bahwa kaki dia diinjak.


Namun, Azka tidak begitu memedulikan temannya yang tidak terima terinjak oleh Azka.


Azka berbalik arah untuk pergi ke tempat orang yang tadi. Dan benar saja yang dilihatnya adalah kembarannya.


Azkia juga tidak sadar bahwa yang baru saja bersalaman dengan dirinya adalah Azka. Karena terlalu banyaknya murid yang mau bersalaman sehingga asal tempel, tanpa memerhatikan siapa-siapa saja wajah mereka.


"Azkia!" teriak Azka setelah sudah dekat, dia langsung memeluk saudara kembarnya.


Sementara itu murid yang ada di kanan kiri Azkia melihat adegan itu, serta murid yang akan bersalaman dengan Azkia juga jadi berhenti. Otomatis antrian salaman yang mengular jadi berhenti juga, semua karena ada adegan yang tak disangka.


"Ada apa ini?" tanya Guru yang berada di sisi lain menghampiri kerumunan.


Sudah terlihat Azka menangis karena menemukan saudara kembarnya, walau Azkia diam saja.


"Azka ada apa?" tanya Bu Guru.


"Dia saudaraku, Bu," ucap Azka melepaskan pelukan dari Azkia.


Bu Guru heran, dia melihat wajah dua murid dengan seksama, memang benar mirip. Sepertinya hanya beda yang satu sedikit kurus dan kulitnya agak gelap. Mungkin lebih tepatnya kurang terawat, tapi kalau diamati dengan seksama mereka memang seperti saudara dan mirip memang.


"Dia Kakakmu? Adik?" tanya Bu Guru lain, tapi Azkia menggeleng.


"Lalu saudara apa? Anak dari pamanmu? Bibimu? Atau ...?" tanya Bu Guru lagi.


"Dia saudara kembarku, Bu," ucap Azka yang masih menggandeng tangan saudara kembarnya.


"Kalau begitu kita selesaikan dulu halal bihalalnya, nanti kita berbicaranya di kantor." Salah satu Guru mengusulkan.


Namun, Azka menggelengkan kepala saat dimintai Ibu Guru seperti itu. Saat ditanya kenapa, Azka menjawab tidak mau. Karena takut kehilangan saudara kembarnya itu. Kalau menunggu nanti, Azkia takutnya akan kabur. Hingga Azka terus saja menggandeng tangan saudara kembarnya.


"Ya udah, sekarang aja kalian ikut ibu ke kantor ya, biar yang lain melanjutkan silaturahminya."


Azka sangat senang sekali, dia mengajak saudara kembarnya dengan menarik tangannya dan akan melangkah. Namun, apa yang terjadi...


"Kenapa kamu diam saja? Azkia Ayo kita ke kantor Guru," ajak Azka.

__ADS_1


Azkia hanya menggeleng saja, dia berdiam diri bahkan seperti tidak rindu kepada saudara kembarnya yang sudah berada di hadapannya. Azka sudah berkali-kali menariknya untuk mengajak ke kantor, tapi Azkia lebih kuat berdiri di tempatnya.


"Siapa namanya, Nak?" tanya Bu Guru pada Azka.


"Azkia Bu," jawabnya.


Bu Guru yang lain juga ada di sana. Beberapa Guru tempat sekolah tersebut saling berbisik, ternyata ada saudara kembarnya, murid itu. Namun, heran. Mengapa sekolahnya terpisah?


Para Guru membujuk Azkia agar ikut dengan arahan guru dan saudara kembarnya, soalnya saat dilihat pertama kali Azka memeluk saudara kembarnya, terlihat sekali kerinduan yang mendalam. Para guru jadi paham, mungkin ini ada sesuatu permasalahan di keluarga Mereka.


"Ayo Azkia, setelah ini kamu bisa ikut pulang bareng aku," ucap Azka sekali lagi.


Begitu pun para Guru membujuk Azkia, tapi anak itu bergeming. Azkia masih menatap pandangan lurus yang seakan tidak mau mendengar apa pun dan tidak mau menurut siapapun.


Sekali lagi Azka menarik tangan Azkia, bahkan sempat memegang pundaknya untuk merengkuh berjalan ke kantor.


Tak disangka, tangan Azka malah ditepiskan oleh Azkia lalu dia langsung kabur.


"Kamu bukan saudaraku! Kamu bukan saudaraku! Aku tidak punya saudara. Besok-besok jangan ada yang mengaku saudaraku. Aku tidak punya saudara! Pokoknya tidak punya saudara!" teriak Azkia yang sempat berhenti sesaat hanya untuk melampiaskan dengan teriakan tadi. Kemudian langsung lari ke pintu belakang sekolah.


Orang-orang yang ada di sana terperanjat, bahkan sampai tidak sadar harus dikejar atau tidak. Terutama Azka dia sangat terkejut, syok mendengar ucapan Azkia seperti itu.


Maksudnya, jika para pedagang melihat Azkia yang lari seperti ketakutan atau lari seperti menghindar sesuatu, pasti yang melihat akan merasa aneh. Mereka saling bisik, kenapa anak itu? Sementara waktu masih jam pelajaran, tapi malah berlari ke luar. Sehingga Guru itu tidak menanyakan pada pedagang di sana, takut malah jadi menimbulkan pertanyaan.


Guru tersebut kembali ke lapangan, terlihat suasananya sudah kondusif. Mereka membuat kelompok-kelompok untuk mengadakan game.


Jadi, acara silaturahmi antar sekolah itu selain diisi acara berbagi, juga ada beberapa permainan. Namun, Guru tersebut langsung ke kantor karena sepertinya Azka dan Guru yang bertanggung jawab atas kegiatan itu sedang berada di kantor.


"Gimana Bu Yayuk? Barusan Azkia berlari ke mana?" tanya kepala sekolah.


"Saya tidak menemukan jejaknya, Bu. Larinya kencang sekali, mungkin dia sudah jauh dari area sekolah."


Kepala sekolah manggut-manggut dan mereka tidak harus khawatir pada Azkia, mereka tahu Azkia anak yang prihatin, mandiri, sudah terbiasa dengan lingkungan sekolah. Jadi para Guru yakin, dia akan baik-baik saja.


Mereka kemudian menanyakan beberapa hal pada Azka. Apakah benar itu saudaranya dan jika bisa dibuktikan, apakah bisa ada bukti. Siapa tahu mereka bisa membantu untuk nanti memberikan pendekatan pada Azkia.


"Tapi kalau untuk foto-foto, Azka nggak bawa." Azka menjawab permintaan dari para Guru. "Eh, tapi sebentar. Bu Guru, Azka boleh pinjem hp-nya nggak?" lanjut Azka, dia teringat SD sesuatu.


Karena askia memang tidak bisa menunjukkan bukti yang nyata di depan Guru semua, dia ingin meminta beberapa foto kepada ibunya. Wali kelas Azka memberikan ponselnya dan menghubungkan kepada Rara.

__ADS_1


"Halo di sini dengan Mayang." Karena Mayang tahu, panggilan yang masuk tertulis Bu Guru, sehingga dia menjawab tidak terlalu formal, sebagai karyawan tokok.


"Onty Mayang. Ibu mana?"


"Oh, dek Azka. Ibu berangkat lagi, katanya mau belanja. Sama nenek juga."


"Kan Ibu ke dokter?" Azka malah bertanya. Tidak segera membicarakan keperluannya. Dasar anak kecil.


"Iya tadi udah pulang. Tapi langsung belanja diantar juga sama Ayah."


Azka kemudian meminta pada Onty Mayang untuk mengirimkan foto-foto dirinya yang ada di ponsel ibunya.


Awalnya Mayang nggak berani harus membuka galeri ponsel milik majikannya. Namun, Azka memaksa dan memberi alasan ini tugas dari sekolah, tentang keluarga besar dan harus menunjukkan foto-fotonya.


Azka mengatakan dia lupa tugasnya, tidak bilang dari kemarin padahal sekarang dikumpulkan.


Sehingga, mau tidak mau Mayang menuruti apa kata Azka. Dia kemudian mengirim beberapa foto yang ada dirinya dan Azkia, banyak sekali foto di galeri ponsel milik Rara.


Ponsel Rara memang sering ditinggal karena itu termasuk ponsel yang sudah banyak diketahui oleh pelanggan, maka ditinggalkan di toko saja, tidak ada yang begitu rahasia juga di ponsel itu.


Sedangkan Rara memiliki ponsel baru serta nomor baru. Azka juga sengaja tidak menghubungi ke ponsel ibunya yang satu lagi. Karena dia pikir masih berada bersama Dokter, jadi menghubungi nomor yang sering ditinggal di toko saja.


Kemudian Azka menyerahkan ponselnya kepada wali kelas, setelah selesai keperluannya dengan Onty Mayang.


Azka menunjukkan foto yang sudah masuk ke pesan kontak Bu Gurunya, yang dikirim oleh Mayang. Serempak Guru yang ada di sana melihat foto-foto yang ada di ponsel wali kelasnya Azka.


"Benar, mereka memang saudara kembar. Mungkin karena keadaan, Azkia agak sedikit berbeda sekarang, dari fisik dan tatapannya."


Para Guru mengamati foto Azkia dan Azkiya dengan seksama.


"Lalu bagaimana? Apa yang Azka mau sekarang?" tanya kepala sekolah.


Kenapa kepala sekolah bertanya, dia tidak langsung berinisiatif untuk membantu Azka mempertemukan dengan Azkia. Karena sebenarnya itu adalah masalah keluarga. Mereka belum tahu cerita yang sesungguhnya, kenapa sampai terpisah.


Terlebih pada sisi Azkia, kenapa seakan menghindar? Maka para Guru harus mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Jangan sampai salah tindakan karena apa yang dilihat belum tentu itu sesuai yang dibayangkan dan kenyataan.


Bersambung....


 

__ADS_1


__ADS_2