
“Udah tua, manja banget, sih,” gumam Rara, kini sendiri setelah yang lainnya pergi.
Rara beranjak dari duduknya, dia membersihkan ruangan, risi rasanya ada bayang-bayang menjijikkan. Semua berang di lap-lap, kemudian di sapu. Saat sudah terasa nyaman ruangan, menggunakan pewangi ruangan juga, Rara kembali bekerja di depan laptopnya.
Rara merasa pegal kakinya, duduk di sofa terus yang notabene tingginya tidak begitu tinggi, kakinya haru ditekuk beberapa lam. Akhirnya Rara pindah ke kursi Purba, dia melanjutkan perkerjaan di sana.
Di pindah tempat duduk, kini Rara duduk di kursi tempat Purba bekerja.
Tok ...!
Tok ...!
“Masuk,” ucap Rara agak merasa agar terdengar oleh orang yang DJ luar.
“Ini Pak ...,” karya itu seketika diam, setelah tahu yang duduk di sana adalah bukan Kak Purba.
“Ada apa Mbak? Bisa saya bantu?” tanya Rara ramah.
“Gak sopan, mentang-mentang Pak Purba gak ada,” gumam karyawan itu.
“Maksud mbak, apa ya?” tanya Rara, santai.
“Ini berkas yang harus ditanda tangani,” ucap karyawan itu tanpa merespons pertanyaan Rara.
“Dasar, aneh.” Rara Tek memedulikannya lagi.
**#
__ADS_1
“Hey, besti. Tau nggak, si Rara tuh. Makin ngelunjak loh, dia kasih pelet apa ya, sama si bos,” ucap karyawan yang baru saja masuk ke ruangan Purba, namnya Kesi.
“Kenapa emangnya, Kes?” tanya Hera, karyawan yang satunya lagi.
“Tadi, aku tuh ke ruangan Pak Bos. Si Rara sedang duduk di kursi si bos. Sambil sibuk-sibuk kaya gtu, di depan laptopnya. Alah ... palingan sok sibuk tuh. Pengen ngerasain gimana duduk di kursi bos,” ucap Kesi, wajahnya penuh kebencian.
“Yang bener Lo? Tuh anak pake pelet kali ya? Aku pikir bakal Fira loh yang jadi sekretaris si bos, secara dia kan karyawan lama ya? Posisinya masih di situ-situ aja,” Sahu Hera.
“Nah, bener kata kamu Her. Waktu jabatan sekretaris kosong, aku pikir si Bos bakal angkat karyawan lama. Yang udah berpengalaman, minimal, aku lah ... hehe,” tawa Kesi, sambil menepuk dadanya.
Jam menuju waktu istirahat sering kali karyawan terlihat lebih santai, sambil bekerja sambil ngobrol. Terlebih kali ini ada pembahasan seru, masih seputar wanita penggoda dari perusahaan cabang, mungkin kalau dibuat headline news, seperti itu ya... karena semua gosip timbur karena video dari karyawan perusahaan cabang.
Andai video dari kantor cabang tidak beredar, mungkin keberadaan Rara tidak akan menjadi pusat pembicaraan.
**#
“Sar, lagi apa kamu?” tanya Rara yang langsung masuk aja. Dia melihat aktivitas Sari.
“Ini, lagi ngancurin berkas yang udah gak kepake,” jawab Sari dengan fokusnya tak lepas dari pekerjaannya.
“Itu nanti dikemanain kalau udah hancur? Gak dibakar aja, kan cepet?”
“Enggak Ra, kalau dibakar malah lama, harus nunggu Baranya abis baru kita tinggal, terus asapnya ke mana-mana. Kalau kaya gini, nanti ada dari penampungan libah atau barang bekas yang ngambil,” papar Sari.
Berkas-berkas kertas di sebuah perusahaan memang harus dihancurkan, agar tidak disalahgunakan nantinya. Di perusahaan BT, itu tugas Sari, orang yang termasuk dipercaya memegang dokumen - dokumen, ya walau itu bekas, siapa tahu masih ada surat penting yang masih terselip.
Dulu saat Rara pertama bekerja di kantor BT cabang, belum pernah melakukan hal seperti Sari. Hanya melihat mesinnya saja. Jadi sekarang hal itu terasa aneh pada Rara.
__ADS_1
“Sari, kamu dari Sunda ya?” tanya Rara.
“Iya, kenapa gtu? Kok tahu?” tanya Sari balik.
“Tau aja dari logat kamu itu. Akun kan lagi ada tugas dari Pak Purba buat makanan tradisional, kamu bisa nggak, buat makanan khas daerah kamu?”
Sari menghentikan dulu pekerjaannya, dia cuci tangan lalu bikin kopi sambil mengobrol sama Rara. Hitung-hitung menggunakan jam istirahatnya.
“Sebenarnya aku gak terlalu bisa, Ra. Tapi kalau buat bantu-bantu, bisa lah ... saya coba nanti,” Sari tak yakin dengan kebiasaannya, karena dia orangnya kurang percaya diri.
Rara menjelaskan bahwa ini buat antisipasi saja, karena Purba akan mencari cara yang lebih simpel. Mungkin tetap menggunakan jasa catering kue, tetap dengan pengawasan pihak kantor.
“Tapi buat besok, bisa, kan? Hanya buat promosi aja,” tambah Rara lagi.
“Ok, kita buat apa. Biar aku yang belanja, terus buat berapa orang?” tanya Sari, sambil mengeluarkan ponselnya untuk mencatat.
Rara menyebutkan beberapa jenis makanan dan minumannya khas daerah Jawa, Sunda dan Betawi, yang mereka rasa tidak sulit untuk membuatnya.
Tidak banyak, soalnya besok hanya sekitar 10 orang klien yang hadir untuk rapat. perwakilan dari Designer, Agency Model, MUA, penyelenggara dan sisanya sponsor.
“Eh tunggu dulu, ada yang telepon.” Rara mengambil ponsel yang ada di sampingnya. “Ibu?” lirih Rara.
“Assalamuaikum, Nak. Kamu sedang apa?” sapa Bu Sugeti dari sebrang.
“Aku masih di kantor, Bu. Ibu kenapa? Kok suaranya? Ibu lagi sakit ya?”
Saat Rara bertanya seperti itu, Bu Sugeti malah terisak.
__ADS_1
Bersambung...