Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Maafkan Aku


__ADS_3

Bab88


Rara menatap Purba sangat dalam dia tak percaya Purba akan memiliki ide senekat itu.


“Tapi aku tidak mau pernikahan hanya karena nafsu Mas,” ucap Rara.


“Tidak, kamu tahu sejak lama bukan bagaimana keseriusanku?” bujuk Purba.


“Tapi, jika tanpa pernikahan kita bisa jaga diri, kenapa tidak? Jangan sampai saat kita tidak bisa menahan nafsu pernikahan adalah pelariannya.”


“Bukankah itu lebih baik?” jawab Purba.


“Memang lebih baik daripada kita berzina, tapi alangkah lebih baiknya pernikahan itu tujuan ibadah,” papar Rara. Memberikan pemahaman pada Purba.


“Hanya karena aku tidak tahan menahan rindu, kamu menyangsikan tujuanku menikahimu?”


“Bukan begitu juga, kalau mas bisa terus terang sama Bu Mona tentang kita. Aku ingin nikah negara.”


Maksud Rara adalah dia ingin nikah sah secara negara. Yaitu di depan penghulu dan mendapatkan buku nikah, diakui negara bukan sah secara agama saja.


“Kamu mencurigaiku jika pernikahan kita di bawah tangan, aku akan seenaknya meninggalkanmu suatu saat?”


Nikah di bawah tangan maksudnya adalah nikah siri.


“Bukan begitu juga, kita jalani hidup yang normal saja selayaknya kalau berumah tangga seperti apa.” Rara berusaha membuka pandangan Purba.

__ADS_1


“Tapi, kita kan hanya... apalagi kamu sebagai sim... Em maksudku, urusanku dengan Monas sebelum selesai.”


Purba hampir salah ucap, dia segera meralat dengan membelokkan pada persetujuan Mona yang belum ia dapat. Padahal Purba mau menjelaskan, sebagai wanita kedua seharusnya Rara bisa menerima ikatan apa adanya dulu. Jangan berharap normal layaknya hubungan rumah tangga pada umumnya.


“Sebentar, jangan membelokkan perbincangan deh. Mas bilang bahwa aku hanya sebagai yang kedua? jJdi aku tidak berhak mendapat prioritas?”


Purba memang keceplosan bicara meskipun tadi tidak sempat diselesaikan ucapannya, akan tetapi namanya perasaan wanita pasti peka. Pasangannya kan mengatakan apa tidak bisa dibohongi walau dilempar kepada pembahasan lain.


Purba berusaha menjelaskan bukan maksud dia dengan menganggap bahwa Rara adalah wanita kedua dalam hidupnya, tapi bukan berarti tak penting.


Justru adanya Rara dalam kehidupan Purba memang benar-benar sesuatu yang diharapkan


Namun Rara tetap saja merasa Purba sekarang berubah, dia sudah menyinggung tentang status sosialnya, pikir Rara.


Rara sempat kesal juga, pagi-pagi datang bukannya melepas rindu malah dibumbui dengan perselisihan.


“Oke, aku minta maaf sayang. Maaf aku khilaf. Aku salah berkata sembarangan,” ucap Purba dia memaksakan diri memeluk Rara. Sebenarnya takut mendapatkan penolakan.


Rara pun tidak menolak atas perlakuan Purba, dia sadar akan posisinya. Dia juga bersikap dewasa, paham maksud Purba tidak sesungguhnya akan mengatakan seperti tadi.


 Rara juga mengerti bahwa pernikahan siri yang ditawarkan oleh Purba karena posisi mereka belum benar-benar kuat, untuk mandiri lepas dari perusahaan Hartanto. Hanya saja tadi Rara merasa kesal. Wajar, sesabarnya perempuan jika seakan mendapat krisis kepercayaan dia akan sensitif.


“Ya sudah, ayo kita berangkat,” ucap purba menyentuh kedua pipi Rara dengan tatapan yang lembut.


“Mas akan mengantarkan aku sampai kantor?” tanya Rara.

__ADS_1


“Iya, kebetulan hari ini jadwal aku audit ke kantor cabang.”


“Baiklah, aku ke kamar sebentar.” Rara berlalu pergi.


Purba paham saat Rara meminta izin ke kamar, dia melihat penampilannya terlebih dahulu jangan sampai berantakan.


Purba tidak berani menghampiri Rara ke kamar, meskipun untuk seukuran laki-laki yang akan mengambil kesempatan hal itu bisa dilakukan oleh Purba.


Namun, dia kapok tidak ingin Rara berprasangka bahwa dirinya hanya mengandalkan nafsu berhubungan dengan Rara.


“Ayo Mas,” ucap Rara.


Purba berdiri Dia memegang tangan Rara sebentar. Rara heran apa yang akan diperlakukan Purba pada dirinya, sepertinya serius sekali.


“Maafkan aku sayang. Jujur aku lelaki normal yang memiliki hasrat saat bertemu dengan wanita yang mampu meluruhkan hati ini.  Tapi aku mohon singkirkan keraguanmu atas aku yang terburu-buru ingin menikah. Denganmu tulus aku ingin membina rumah tangga, bukan berdasarkan nafsu.”


Rara tersenyum dengan anggukan, sebagai bentuk bahwa dia paham atas tindakan Purba yang sedikit lepas kendali saat tadi.


Mereka berdua pun keluar dari rumah dan bergegas untuk berangkat ke kantor Bonafit Tekstil cabang


“Eh Mbak Rara. Suaminya ya?” tanya tetangga sebelah yang kebetulan terlihat sedang menjemur pakaiannya.


 


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2