
Mona pulang menggunakan mobil Purba, karena tidak mungkin jika Purba menjemput malah pulang masing-masing.
Selama di perjalanan Mona diam saja. Bahkan menyandarkan kepalanya di pundak Purba pun tidak. Dan ini semakin membuat Purba merasa ada yang aneh, tapi Purba tidak bisa menebak apa yang membuat dirinya curiga.
Apalagi kalau berpikir Mona sudah ada yang lain, kalau itu tidak terlalu mengejutkan bagi Purba, andai pun benar. Karena Mona memang banyak temannya, sering ke diskotik pula. Meskipun telah berubah, tapi kebiasaan yang sudah lama dijalani pasti sulit ditinggalkan, itu pikiran berubah.
Atau perubahan karena dinasehati mama mertuanya? Itu tidak mungkin. Masa mama mertuanya memberi nasehat yang buruk, hingga Mona seakan memberi jarak dengan Purba.
"Mama sehat?" tanya Purba peduli, walau terkesan kaku.
"Iya Pa," singkat Mona.
Cukup itu saja percakapan selama perjalanan sampai rumah. Bagaimanapun Purba Masih menyesuaikan untuk menjadi suami idaman Mona.
Sesampainya di rumah, Mona langsung ke dapur meminta Mbak Idah membuatkan jus jeruk.
"Mas mau?" tawar Mona, saat Purba juga ke dapur mengambil air minum.
"Tidak perlu, aku mau langsung ke ruangan kerja"
Mona mengangguk tanpa rengekan, biasanya dia akan meminta dikecup dulu, dipeluk dulu atau bahkan meminta jatahnya. Sebab dua minggu sudah tidak Mona lakukan.
"Mbak, nanti kalau Mas Purba menanyakan tentang aku, Mbak bilang nggak tahu ya," ucap Mona pada asisten rumah tangganya.
"Menanyakan soal apa Bu?"
"Ya ... soal apa aja. Beberapa hari ke belakang. Seperti aku berangkat dengan Kak Yosef. Pokoknya setahu Mbak Idah aku itu hanya ke rumah Mama untuk menemani Mama di sana, gitu aja."
"Tapi Mbak Idah bingung Takut salah bicara. Em, m-maksudnya Mbak Idah harus menutupi yang mana?"
Mbak Idah jelas aja bingung, karena tiba-tiba diminta menjaga rahasia yang sepertinya tidak ada yang harus ditutupi.
Mona pulang dari rumah besar seperti dalam keadaan biasa saja, begitupun saat berangkat tidak ada yang aneh. Meskipun memang berangkatnya dengan Tuan Yosef. Bukankah itu hal yang biasa karena dengan kakaknya?
"Pokoknya jika Mas purba bertanya tentang aku selama Mas Purba di Singapura, katakan bahwa aku memang pergi ke rumah besar sendiri, ya mbak ya? Sen-di-ri, kalau Kak Yosef ke sini pun jangan dikatakan."
"Baik bu."
Meskipun Mbak Idah masih kurang begitu mengerti, semoga nanti tidak salah bicara, itu harapannya.
"Aku ke kamar ya mbak," pamit Mona pada Mbak Idah.
"Iya Bu."
Mona menuju kamar dengan membawa jus jeruknya, dia melihat ada beberapa koper dan belum dibongkar, termasuk koper pakaian Purba.
Untuk mengisi waktunya, Mona membongkar koper tersebut sebagaimana yang biasa dilakukan oleh seorang istri, merapikan kamar, membongkar koper suami yang telah bepergian, memisahkan pakaian bersih dan kotor.
__ADS_1
Tanpa sengaja Mona melihat sebuah kotak merah kecil, berlapis kain beludru. Mona iseng membukanya dan....
"Wow! Kalung berliontin singa? Inikah oleh-oleh Mas purba untukku dari Singapura?" gumam Mona.
Mona terus mengamati kalung berliontin singa tersebut. Meskipun bukan berlian, tapi permata itu sangat indah dan rantai kalung yang kecil tapi padat. Mona suka karena selama ini dia tidak pernah menggunakan perhiasan, kalau perhiasan kecil seperti ini dia tidak akan menolak untuk memakainya.
Dengan sukacita Mona memasukkan kembali kalungnya dan disimpan di kantong koper kembali. Pura-pura tidak mengetahuinya, mungkin Purba akan memberikan kejutan untuknya.
Mona merapikan beberapa makanan, juga oleh-oleh dari Singapura, tapi ada yang Mona tidak suka, yaitu coklat.
"Apa selama ini Mas purba suka coklat? Aku tak pernah melihat Mas Purba memakan coklat. Lalu buat siapa? Atau memang sebenarnya Mas Purba suka coklat dan aku tidak tahu?"
Mona terus menimang-nimang coklat itu dan terus berpikir untuk siapa.
**#
Purba masuk ke kamarnya saat pukul 11.00 malam, dia melihat Mona dengan pakaian tidur biasa, semakin menambah keanehannya pada Mona.
Perubahan Mona bukan hanya pada karakter saja? Bahkan sifat agresifnya mulai menurun.
Purba yang sudah mengunci pintu kamarnya, kemudian ke kamar mandi sebentar, lalu beranjak tidur.
Namun, Purba merasa kelelakiannya ingin tersalurkan. Purba mencoba mendekati Mona dengan menyimpan tangannya perlahan pada lengan Mona..
Tidak ada reaksi dari Mona, mungkin sudah tertidur lelap. Purba mengalihkan tangannya melingkar di perut Mona, dipeluknya dengan erat, baru Mona ada reaksi walau hanya menggeliat sesaat.
Mona menggeliat sebentar, membalikan badannya, menatap pada Purba dan dia langsung terkejut. Dihempaskan tangannya yang dipegang oleh Purba.
"Mama kenapa?" tanya Purba heran.
Mona tidak bisa langsung menjawab, antara terkejut mengapa Purba sangat dekat dengannya. Dan takut jika purba terlanjur menyentuhnya dan menemukan hal yang aneh pada tubuhnya.
Walau kamar itu remang, tapi Mona masih takut jika nanti Purba menggaulinya saat merasakan bagian inti Mona ada yang berbeda.
Mona takut Purba memiliki perasaan yang peka, saat menikmati yang biasanya hanya untuk dirinya dan ini bekas orang lain. Apalagi Bram begitu dahsyat melakukannya, takut ada perubahan di sana, walau ini hanya ketakutan Mona saja.
"Tidak Mas, aku hanya terkejut. Aku bermimpi."
Alasan Mona berbohong.
"Ya udah. Sini?" ucap Purba, merentangkan tangannya untuk memeluk Mona.
"Tapi jangan melakukan sekarang?" mohon Mona.
"Kenapa?"
"Kayaknya aku masih syok dengan mimpi itu?"
__ADS_1
"Emang mimpinya seram itu?"
Mona mengangguk.
"Ya udah. sini." ucap Purba menarik lengan Mona ke dalam pelukannya. Mereka kemudian tidur.
Meskipun pelukan Purba masih sangat kaku, tapi Mona sudah merasa tersentuh dengan perlakuan Purba yang mulai peduli padanya.
Hampir tiga tahun pernikahannya, mungkin inilah pertama Purba menawarkan diri untuk menyentuh Mona.
'Apakah begini rasanya menjadi istri yang baik? Diperlakukan oleh suami dengan lembut, penuh perhatian. Kenapa baru sekarang?' gumam Mona mona dalam hatinya.
'Saat aku merasakan diri ini benar-benar rusak, kenapa Mas Purba berperilaku baik saat ini? Saat aku ingin memberikan yang yang terbaik, tetap saja masih tercela.
Mengapa Tuhan mempermainkan hidupku? Seharusnya jika Bram tidak melakukannya, aku akan lebih bahagia berproses menjadi istri yang baik, sesuai amanat Mama dan saran Mbak Idah.'
Mana terus berbicara dalam hatinya. Dia kesal dengan permainan takdir. Saat dirinya ingin bertobat sepenuhnya, malah titik perjuangannya dipertemukan dengan Bram yang seolah membuat tubuhnya benar-benar menjijikan untuk diberikan pada suaminya.
Mona rasa Purba sudah tertidur, nafasnya kini terdengar halus, bahkan pelukannya sudah terasa longgar.
Mona bergeser sedikit ke tempatnya semula, selimutnya dinaikkan sampai dada Purba, sedangkan dia tidur tidak menggunakan selimut.
Mona tidur membelakangi Purba dengan dada yang mulai terasa sesak.
'Tuhan, begitu nikmat sekali air mata ini. Dulu aku tak pernah menangis seperti ini, tangisanku hanya saat marah, ketika orang tak mendengarkanku. Padahal aku sendiri yang terlalu tidak peduli pada orang lain. Aku yang terlalu bebas untuk hidupku.
Ada rasa yang berbeda saat air mataku tumpah saat ini dengan tangisku saat dulu masih menjadi wanita bebas.
Semoga masih ada kesempatan untukku mendapat tempat terbaik di hati Mas purba.'
Mona terus berbincang dalam hatinya Menelaah nasibnya yang seakan sedang dalam ujian.
**#
Pagi hari seperti biasa Purba tidak menemukan Mona di sampingnya.
"Wanita itu benar-benar sudah berubah. Mampu juga," Purba terus beranjak ke kamar mandi.
Namun, saat pintu kamar mandi sudah tertutup, Purba baru teringat ada sesuatu yang ia simpan di kopernya, sedangkan semalam ia lihat kopernya sudah tidak ada di tempat semula saat dia menaruhnya. Mungkin Mona sudah merapikan isinya.
Purba bergegas menuju kopernya untuk mengecek sesuatu yang disembunyikannya di sana.
"Alhamdulillah, tidak ketahuan." Kemudian dia mengambil kotak merah itu dan disimpan di saku jasnya yang menggantung, buat dipakai besok."
Purba pikir, Mona hanya merapikan pakaiannya saja tidak mengecek kantong koper.
Bersambung....
__ADS_1