
Rara sampai terlebih dahulu di kantor, sebelum Purba dan Mona. Rara juga menyiapkan dahulu teh hangat untuk bosnya. Dia tidak tahu bahwa Mona akan ikut ke kantor pagi ini.
*#
Kret ...!
Saat pintu dibuka, Rara yang sudah sibuk dengan laptopnya, menoleh. Dia sebenarnya sudah bersiap mau menyambut Rara, dia sudah berdiri dan melangkah. Namun, saat kemudian melihat Mona masuk di belakang Purba, langkah Rara berhenti.
Sudah terlanjur Rara berdiri dan menghadap ke arah pintu, lebih tepatnya sudah hampir dekat dengan Purba, Rara akhirnya membungkuk, memberi hormat. Pertama pada Purba dan kali kedua pada Mona.
Padahal hati-hati biasa, Rara tidak pernah melakukan penghormatan seperti itu. Paling hanya menyapa dengan senyuman atau sedikit ucapan selamat pagi.
Namun, karena saat ini Rara terlanjur berdiri, jadi melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya.
Mona tersenyum menang, saat melihat Rara membungkukkan diri untuk dirinya. Sampai sini Mona merasa menang bagaimanapun Rara merasa bangga, dirinya tetap berada pada sisi yang terhormat.
Mona langsung duduk ke dekat Rara. Rara yang baru saja menyambut kedua bosnya itu duduk di tempat yang semula, sedangkan Mona sengaja mengambil posisi yang sejajar dengan Rara. Sehingga kini Mona dan Rara duduk berdampingan.
“Kamu bisa bekerja sambil mendengarkanku?” tanya Mona.
Rara hanya mengangguk, diiringi ucapan, “Silakan.”
“Ok, dengarkan baik-baik. Aku akan mengajakmu ke acara sosialita dua hari lagi dan kamu harus mau!” ucap mana to the point terkesan pemaksaan.
“Tapi Bu saya ...,” ucap Rara menggantung.
“Tidak ada alasan, aku udah bilang pada Mas Purba dan sudah diizinkan. Makanya aku berani langsung memerintahmu bukan meminta izin. Dengarkan sekali lagi, aku memerintahmu bukan meminta izin,” ucap Mona penuh penekanan.
“Iya Bu, baik.” Akhirnya Rara mengiyakan.
Rara mencoba tidak berpikir macam-macam. Meskipun di dalam hatinya dia mencurigai, bahwa Mona akan melakukan yang aneh-aneh padanya.
Hari ini benar-benar hari menyebalkan untuk Rara, begitu pun untuk Purba. Betapa tidak, mereka bekerja bukannya semangat, malah menjadi tidak nyaman. Karena merasa sama-sama dipantau, yaitu oleh Mona.
Saat purba akan meminum tehnya dicegah oleh Mona.
“Kenapa Ma?” Tanya Purba heran.
“Nanti aku buatkan yang baru,” ucap Mona.
“Memangnya ini kenapa Ma? Ini juga, kan masih baru.”
__ADS_1
“Jadi kamu tidak ingin minuman yang dibuatkan olehku?” tanya Mona.
“Ya udah, terserah kamu.” Purba menyerah.
Saat Purba dan Mona membahas tentang teh, Rara menoleh ke arah mereka. Purba mengetahui saat Rara memperhatikan dirinya dan istrinya.
Purba merasakan, pasti Rara merasa tidak enak teh buatannya tidak diminum. Purba mencari akal bagaimana caranya agar Rara tidak tersinggung.
Mona mengambil gelas baru yang ada di dalam lemari, masih di ruangan tersebut. Seperti biasa menaruh teh celup melati asli, lalu menyeduh dari air panas dispenser.
Purba memberi kode pada Bizar, yang seperti biasa stand by di tempat duduk yang ada di dekat pintu. Bizar menghampiri Purba, dia pura-pura menyodorkan laporan yang ada di dalam ponselnya, pada Purba yang sedang fokus menghadapi layar monitor laptopnya.
“Pak, ini ..., Eh!” Ucapan Bizar sengaja digantung, seolah-olah dia terkejut dengan batuknya Purba.
Purba pun pura-pura terbatuk saat Bizar baru saja datang akan menunjukkan laporan. Skenarionya, dia pura-pura terkejut dengan kedatangan Bizar dari arah belakangnya.
“Bapak kenapa Pak? Ini diminum dulu,” ucap Bizar.
Purba meraih gelas teh hasil racikan Rara. Dia menyeruputnya dengan mata mengarah kepada Rara, tentunya dengan sedikit senyum di wajahnya.
Begitu pun Rara, dia tersenyum senang melihat tehnya diminum oleh Purba, dalam hatinya dia masih menang satu langkah dari Mona.
Mona menoleh saat tahu Purba batuk, lalu dia kesal. Tehnya yang sedang dibuat belum sempat diminum Purba, malah Purba lebih dulu meminum teh buatan Rara.
Mona tahu, Rara baru saja merasa menang akan dirinya.
Mona menghampiri Purba, dia memberikan teh buatannya itu.
“Ini apa, Ma?” tanya Purba yang masih memegang gelas teh buatan Rara.
Mona mengambil gelas yang di pegang suaminya. Kemudian ia buang ke wastafel.
“Loh, Ma. Kenapa dibuang?” tanya Purba, heran.
“Itu sudah tercampur virus, kamu minum saja yang ini, masih baru,” ucap Mona, menyodorkan gelas tehnya pada bibir Purba.
“Tapi aku sudah minum, Ma,” elak Purba.
“Tadi airnya tidak cukup hangat. Ini yang masih hangat banget, bagus buat tenggorokan kamu biar tidak batuk lagi,” jelas Mona.
“Tapi, yang tadi kan air minumnya baik-baik aja, nggak ada virus. Kan semua berasal di ruangan ini, airnya gelasnya, virus apa sih Ma? Jangan berlebihan, deh.”
__ADS_1
“Papa ... kan tadi batuk, setelah batuk minum dari gelas itu, virusnya masuk ke dalam gelas, kan? Nah, sekarang diganti yang baru,” papar Mona.
Purba hanya berdeham, dia menuruti apa kata Mona biar tidak terjadi perdebatan yang panjang.
Mona menoleh pada Rara, saat dirinya menyodorkan minuman untuk suaminya, langsung kepada mulutnya.
Tetapan Mona pada Rara mengisyaratkan bahwa selingkuhan tidak akan pernah bisa menjadi nomor satu. Meskipun suatu waktu dia mendapat posisi pertama, itu hanya kebetulan.
Seluruhnya kehidupan istri sah memiliki hak penuh pada suaminya. Tidak ada yang bisa menggantikan sama sekali, sehebat apa pun selingkuhan, tetap dia mendapatkan bekas dari istri sah. Itu adalah isi hati Mona, andainya bisa diucapkan.
Dari pagi hari sampai siang hari, sukses, Mona mendapat dongkol dari sekretarisnya. Ibarat pertandingan 1:0, untuk Rara dan Mona, kali ini tentu saja Mona yang kalah
Saat istirahat pun tiba, Rara sengaja tidak akan istirahat ke kantin, pun tidak ingin tahu ke mana Purba dan Mona pergi. Tentunya mereka tidak akan makan di kantin juga, mereka akan makan di luar pastinya.
Dan Rara memilih ke ruangan Sari. Sudah lama dia tidak berkunjung ke ruang konsumsi, berbincang dengan sari.
“Eh Rara, tumben kamu ke sini?” tanya Sari. Dia sedang mengepel ruangan itu.
Rara yang terlanjur masuk dia langsung duduk, mengangkat kakinya ke kayu yang membentang di bawah meja, agar Sari leluasa untuk ngepel.
Sambil bekerja Sari bergosip dengan Rara. Dia menanyakan untuk acara fashion show minggu depan, apakah Rara sudah siap-siap?
Pertanyaan Sari membuat Rara bingung.
“Siap-siap bagaimana Sar?” tanya Rara.
“Kamu belum tahu? Kamu kan sekretarisnya Pak Purb.”
“Iya memangnya ada apa?” tanya Rara.
“Aku dapat bocoran dari Fira untuk fashion show nanti, akan ada perwakilan dari perusahaan ini, untuk membawakan batik hasil produksi perusahaan Bonafit Tekstil ini. Biasanya sekretarisnya loh, seperti tahun kemarin,” jelas Sari.
“Ah masa? Aku nggak ngerti. Belum ngobrol apa-apa tuh, Pak Purba.”
“Dia lupa mungkin, sibuk atau belum,” timpal Sari.
“Kalaupun iya, aku harus siap-siap gimana?”
“Ya, kamu siap-siap buat penampilan lebih baik. Setidaknya ke salon kek, perawatan, biar makin kinclong gitu. Secara kamu kan, hehehe maaf, kamu masih terlalu sederhana untuk nanti tampil di catwalk,” jelas Sari, agak ragu, takut Rara tersinggung.
__ADS_1
Bersambung ....