
Sampai di rumah pak Hartanto, Mona dan Purba disambut dengan baik.
Beberapa bingkisan yang Purba bawa, oleh Mona dirapihkannya untuk diserahkan pada para pelayan tuan Hartanto.
Nyonya Hartanto yang akhir-akhir ini banyak kegiatan sosialitanya, ya arisan, ya kegiatan sosial juga ke anak-anak panti asuhan, panti jompo, sangat senang bertemu putrinya hari ini.
Saat Mona di rumah sakit juga sempat bertemu, cuman terlanjur ada janji dengan beberapa lembaga, jadi hanya sebentar menjenguknya. Saat sudah sampai di rumah, nyonya Hartanto juga tidak sempat menjenguk.
Kenapa kelihatannya nyonya Hartanto lebih sibuk daripada Tuhan Hartanto? Karena tuan Hartanto kegiatannya fleksibel, dia hanya di rumah mengontrol perusahaan dari laptopnya. Sedangkan nyonya Hartanto, dia suka dengan kegiatan sosial. Jadi banyak sekali jadwal dengan lembaga-lembaga mengenai urusan wanita dan anak.
Pak Hartanto sangat senang dengan perubahan Purba kepada Mona yang terlihat sangat perhatian sekali, begitu pun dengan mamanya Mona.
"Nak Purba, Mama senang loh ... kalian romantis seperti ini. Semoga langgeng terus ya...," ucap mamanya Mona.
"Iya, Mah...," ucap Purba, sepertinya berat untuk mengaminkan doa dari mama mertuanya.
Namun, dijawab seperti itu saja sudah cukup pikir Purba.
"Ayo kita mau ngobrol di man, nih? Mau di taman belakang atau di ruang tengah saja?" tanya Nyonya Hartanto.
"Lebih baik, kita ngobrol di taman belakang aja yuk! Lebih sejuk," ajak tuan Hartanto.
Kemudian Yosef datang dia memeluk adiknya serta adik iparnya juga.
"Kamu sudah lebih baik Mona? Kakak senang lihatnya. Purba ... harus selalu tetap seperti ini, ya!" ucap Yosef tetap mewaspadai adik iparnya itu.
Purba hanya mengangguk, kemudian mereka berlima pergi ke taman belakang berbincang di sana. Terkadang mereka memperbincangkan tentang perkembangan perusahaan atau tentang keluarga mereka. Karena mereka adalah sebuah keluarga besar terutama dari tuan Hartanto, jadi perusahaan juga milik keluarga itu berpengaruh untuk anak cucu mereka nanti. Makanya harus transparan untuk menjaga kepercayaan keluarga yang lainnya.
Sekitar 30 menit berbincang di taman belakang itu Yusuf pamit, katanya ada perlu di ruang kerjanya. Tanpa orang tuanya ketahui dan Purba, ternyata Yusuf mengirim pesan pada Mona agar menemuinya di ruang kerjanya.
Mana undur diri beralasan akan pergi ke toilet, nyatanya dia pergi ke ruang kerja kakaknya.
Beberapa pelayan menghidangkan sajian ke tempat tuan Hartanto dan Purba berbincang, sehingga mereka tak menyadari berapa lama Mona berpamitan, karena mereka sibuk membicarakan hal-hal yang seru menurut mereka.
**#
__ADS_1
Mona masuk ke ruangan kerja Yosef, dia langsung duduk di sebelah Yosef yang duduk di sofa panjang, sambil membaca bukunya.
"Ada apa Kak?" tanya Mona, setelah masuk ke ruang kerja Yosef.
"Enggak, aku cuma heran aja. Beneran purba semanis itu?"
"Maksudnya semanis itu?" tanya Mona masih kurang begitu mengerti.
"Dia kelihatannya sangat perhatian, peduli, terutama tumben saja ke sini. Dari pertama kalian menikah, sepertinya baru sekali ke sini. Biasanya kamu hanya sendiri yg datang."
"Ya semoga deh Kak, selamanya. Kalau Mas Purba berubah, aku juga pasti mau berubah. Siapa sih, yang nggak mau punya rumah tangga yang baik-baik aja?" ujar Mona.
Mona menceritakan beberapa hari sebelumnya saat dirinya saling diam dengan Purba. Namun, hari ketiga berubah begitu manis terhadapnya. Mona juga tidak mengabaikan kesempatan ini.
"Ya, kalau beneran, kakak juga ikut senang, tapi ingat! Harus tetap hati-hati. Gimana dengan sekretaris yang ... siapa itu? Rara?" tanya Yosef memastikan, bahwa nama yang disebut adalah benar.
"Sejauh ini tidak terlihat mereka sangat dekat, Kak. Ya ... meskipun ada komunikasi tentang kerjaan, aku belum begitu sempat terlalu cek hp-nya, sih."
"Pokoknya, harus tetap hati-hati. Siapa tahu mereka lebih lihai dari kamu, lebih licik. Siapa yang tahu kan? Apalagi kamu harus ingat, awal Purba menikah denganmu, itu karena apa? Tapi ... kamu harus bisa merebut cintanya Purba, tidak ada yang tidak mungkin bukan?"
"Sepertinya tidak tahu, karena dia seperti biasa saja."
Mona dan Yusuf pun masih berbincang sangat serius terutama tentang kesiapan mereka, kalau-kalau Rara benar-benar akan merebut Purba.
Yusuf selalu memberi hasutan agar Mona selalu tetap hati-hati, bahkan Yusuf memberi beberapa saran agar Mona selalu jangan meninggalkan Purba dalam waktu yang lama. Kalau bisa, setiap makan siang selalu ke kantor mengantar makanan atau jika ada tugas-tugas luar kota Mona harus bisa ikut.
Mona yang sebenarnya sudah mencoba ingin mempercayai purba 100% setelah mendengar perkataan kakaknya itu, dia jadi ragu kembali, tapi memang benar sih apa yang dikatakan kakaknya, sedia payung sebelum hujan Itu mungkin istilahnya.
*##”
Sedangkan di sisi lain Rara bersiap-siap akan pergi ke butik dengan alamat yang dia pegang, dari kartu nama yang diberikan oleh Purba. Rara sudah dapat pencerahan di mana alamat tersebut dan dia harus menaiki kendaraan apa, turun di mana , Rara sudah tahu.
Rupanya tempat tersebut tidak terlalu jauh, karena perumahan tempat Reno tinggal itu sangat strategis, banyak gedung-gedung penting seperti tempat kesehatan, perbelanjaan, pendidikan, bisa terbilang dekat dari perumahan Retno.
Rara telah sampai, dia sedikit agak ragu, takut kalau pelayannya tidak bersikap baik.
__ADS_1
"Selamat siang Mbak, ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan tersebut menyambut Rara yang baru saja membuka pintu butik.
"Iya Mbak, saya Rara. Saya mau melihat-lihat pakaian untuk sekretaris bisa?"
"Bisa, mau model seperti apa ya? Seleranya Mbak seperti apa? Apakah yang elegan atau energik atau yang lebih berani tapi tetap sopan?"
Rara bingung ditanya seperti itu, dia pikir pakaian sekretaris ya... yang penting sopan, rapi, dia tidak tahu ada jenis-jenis seperti itu. Terus yang terakhir dia mendengar pakaian lebih berani, apakah pakaian seksi seperti pakaian-pakaian sekretaris yang untuk menggoda bos-bosnya? Pikiran Rara melambung ke mana-mana.
"Boleh saya lihat-lihat dulu mbak?" tanya Rara.
"Ya... silakan! Mari ikut saya," ucap pelayan tersebut.
Kemudian ada salah satu karyawan yang menghampiri Rara, namanya Sinta.
Sinta bertanya pada temannya yang melayani Rara. Karena dia kebetulan barusan masih sibuk dengan pelanggan lain, dia tidak tahu Rara datang.
Sinta menanyakan siapa pelanggan yang sedang dilayani temannya itu, karena kebetulan Sinta memang sedang menunggu customer yang baru sana dapat perintah dari Purba, tadi mengirimnya pesan padanya
Setelah tahu bahwa yang datang adalah Rara, yang dipesankan untuk dilayani oleh purba, Sinta meminta teman kerjanya untuk ke belakang saja, biar dia yang mengganti melayani Rara.
"Selamat siang Mbak, perkenalkan ... saya Sinta utusannya Pak Purba untuk melayani anda."
"O-oh ... perkenalkan, saya Rara. Maaf kalau merepotkan, saya benar-benar tidak tahu harus memilih baju sekretaris seperti apa?" jawab Rara begitu polos.
"Tidak masalah, bisa saya bantu? Saya akan menunjukkan beberapa model yang sudah Pak Purba berikan penjelasannya pada saya. Saya tahu selera Pak Purba seperti apa."
Kemudian Sinta menunjukkan beberapa model pakaian beserta warna-warna yang dia beri alasan, bahwa Purba tidak suka warna-warna yang cerah apalagi terlalu berani.
Purba juga tidak suka model pakaian yang terlalu ketat, selain tidak nyaman untuk bekerja, itu akan mengundang pandangan laki-laki lain merendahkan si pemakainya.
Setelah terpilih sekitar tiga stel pakaian kemudian Sinta mengajak Rara untuk memilih sepatu.
Rara bingung, kenapa sepatu? Perjanjian di awal hanya pakaian saja, Rara lebih bingung lagi, tepatnya terkejut. Tiga stel pakaian saja harganya sudah lebih dari 2 juta, sedangkan uang yang dia pegang tidak sebanyak itu.
Rara bingung, apakah harus jujur kepada Sinta? Apakah tidak malu, dia sudah berani masuk ke butik, tapi tidak memiliki uang cukup. Apakah harus laporan kepada Pak Purba? Tapi ragu, seakan-akan dia meminta uang tambahan, nanti disebut matre, tidak tahu diri. Rara bingung harus bagaimana.
__ADS_1
Bersambung...