Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Benarkah Kebetulan


__ADS_3

Bab 170


'Apakah Mas Purba menjadi dingin kembali karena aku tidak bisa melahirkan seorang anak?' Mona berkata dalam hatinya, dia terus menyimak keadaan rumah tangganya.


Kenapa baru terpikir sekarang bahwa masa depan itu ditentukan oleh masa lalu, andai dulu dia tidak terbawa arus, mungkin kehidupannya sekarang akan wajar seperti orang lain. Meskipun ada kendala tidak akan seberat ini.


Mona sampai di sebuah toko, dia tidak tahu bahwa itu adalah toko kue milik Rara. Karena dua kali ke sana dia tidak bertemu pemiliknya. Yang melayani hanya seorang karyawan, bahkan foto Rara atau apa pun tentang owner pemilik toko tersebut tidak tercantum di sana. Biasanya ada foto owner, atau piagam yang terpajang di dinding. Yang menandakan keahlian owner dalam bidangnya, untuk mendukung kualitas dan kepercayaan konsumen pada toko tersebut.


Maka Mona tidak mengetahui bahwa toko itu adalah milik rivalnya, yang dulu sempat bersaing untuk merebutkan Purba.


Mona masuk langsung menuju bagian kasir, dia menanyakan tentang pesanannya atas nama perusahaan yang sudah dihubungi oleh Dea.


Mona juga merasa tertarik dengan beberapa kue yang ia lihat, lalu dia juga membeli beberapa untuk para karyawannya di rumah.


"Baik Bu, ini kwitansinya Nanti pelunasannya setelah barangnya kami kirim." Petugas kasir menjelaskan.


"Oke terima kasih," ucap Mona kemudian pergi meninggalkan meja kasir.


Sesampainya di pintu keluar.....


"Ibu? Bapak?" Mona cukup terkejut bertemu dengan mertuanya saat membuka pintu.


Begitupun dengan kedua orang tua Purba, dia tak menyangka akan bertemu Mona di sana. Mereka bingung. Namun, daripada terlihat kegugupannya kedua orang tua Purba menyambut seperti biasa. Seakan bukan hal yang aneh jika bertemu dengan menantunya.


"Bapak kapan datang? Kok tidak kabar-kabar?" sapa Mona.


"Iya, kami baru datang," ucap Bu Purwanti.


'Diantar sama siapa?" tanya Mona, lalu melihat bocah yang digandeng ibu mertuanya, "Dan... ini anak siapa? Lucunya...." Mona sedikit membungkuk melihat pada Azka yang juga melihatnya dengan senyum.


Mona merasa gemas melihat anak kecil dengan rambut hitam tebal, hidungnya kecil tapi mancung bibirnya begitu manis karena terlihat tersenyum terus. Pipinya yang bulat serasa ingin mencubitnya.


"Hai Tante, aku Azka. Cucunya kakek dan nenek." sebelum orang tua Purba menjawabnya, malah Azka yang merespon Mona terlebih dahulu.


"Cucu?" Mona mengernyitkan keningnya.


Setahu Mona, purba tidak memiliki Kakak, atau adiknya sudah menikah? Tidak mungkin kalau adiknya Purba menikah dan Mona tidak tahu.


"I-iya, dia cucu kami." Lagi-lagi Bu Purwanti yang menjawab. Pak Kukuh diam saja, dia takut salah berbicara.


"Cucu dari...?" tanya Mona lagi menggantungkan kalimatnya.


"Saudara kami. Kebetulan kami berkunjung ke tempat saudara kami."


"Oh... jadi bukan cucu kandung?" kini Mona mengerti.


"Iya benar." Bu Purwanti ikut lega kalau dikatakan bukan cucu kandung, memang bukan.

__ADS_1


Mona kemudian mengajak Bu Purwanti dan Pak Kukuh untuk duduk terlebih dahulu. Tidak baik rasanya berbincang sambil berdiri, apalagi di depan pintu menghalangi orang yang akan keluar masuk.


Sebenarnya Mona hanya ingin berbincang sebentar, karena dia juga akan kembali ke kantor. Terus orang tuanya Purba juga mungkin masih ada perlu bersama saudaranya.


"Ya, kami ke sini diminta oleh saudara kami untuk belanja beberapa kue. Eh... malah ketemu Nak Mona, di sini," papar Bu Purwanti lagi.


"Tapi, Mas Purba nggak bilang bahwa Ibu mau ke Jakarta."


"Memang kami belum mengabari. Rencananya sambil bawa kue ini nanti kami ke rumah, itung-itung kejutan. Hehe."


"Tapi sebelum Ibu sama Bapak ke rumah, aku sudah merasa terkejut loh, bertemu di sini, hihi." Mona ku juga tertawa merasa suatu kejutan yang tak terduga. Walau tak sesuai rencana.


"Oh ya, sepertinya kue ini sangat digemari ya. Soalnya saudara Ibu merekomendasikan sekali dan ketemu kamu di sini. Sepertinya kamu habis belanja juga?"


"Iya Bu. Kebetulan aku juga pesan kuenya untuk kebutuhan kantor. Aku rasa memang kualitasnya bagus dan rasanya juga enak. Makanya banyak pelanggannya, meski toko ini termasuk baru."


Mereka berbincang sebentar, tak lupa Mona juga sesekali bertanya pada Azka, untungnya Azka menjawab seperlunya sesuai apa yang Mona tanyakan. Biasanya Azka yang cerewet, tapi mungkin karena dengan Mona baru kenal jadi Azka tidak banyak bicara.


Kemudian Mona pamit setelah meminta kedua orang tua Purba, nanti jangan lupa untuk mampir ke rumahnya.


Seperti biasa setelah cipika-cipiki dengan ibu mertuanya, bersalaman dengan ayah mertua serta mencium pipi Azka. Mona pamit dan meninggalkan toko tersebut.


"Azka mau ke mana?" tanya Bu Purwanti, saat Azka langsung lari ke lantai dua setelah Mona pergi.


"Nggak apa-apa Bu, dia memang suka begitu. Karena banyak mainan di atas." Mayang yang menghampiri mertua dari majikannya, menjelaskan kebiasaan Azka malau ke toko.


Bu Purwanti tersenyum, melihat Mayang sudah ada di dekatnya.


Bu Purwanti dan Pak Kukuh membenarkan ucapan Mayang. Kemudian mereka berbincang sambil melihat-lihat beberapa kue bersama ditemani Mayang, lalu memesannya.


Tentunya tidak terlalu banyak, karena Rara sendiri pastinya sudah bosan dengan kue buatannya. Hanya saja Rara meminta mertuanya untuk berkunjung ke toko kue, selain untuk memperkenalkan usahanya untuk mencicipi juga. Mumpung sedang berada di luar, takutnya nanti kalau sudah di rumah biasanya suka males lagi untuk keluar, apalagi ada bayi. Kita akan selalu betah menemani disampingnya si mungil.


Azka turun sambil berlari dark tangga, membawa mainannya.


"Aku cuma mau bawa ini, Nek," ucap Azka. Menunjukkan mainan musik dan kencring. Niatnya buat menghibur adik bayinya nanti di rumah.


"Oh iya. Ya udah ayo pulang. Nenek sudah selesai."


Pak Kukuh mengucapkan terima kasih kepada Mayang dan berpamitan. Kemudian mereka bertiga keluar toko untuk langsung pulang ke rumah Rara.


"Suatu hal yang kebetulan. Kalau dilihat di sini kasihan juga Bu Mona, tapi tidak tahu bagaimana sebenarnya rumah tangga orang lain. Semoga selalu aman damai dan tentram."


Tiba-tiba Mayang bergumam, karena dia tahu bagaimana latar belakang pernikahan Rara.


Terkadang kita merasa heran, pada seseorang yang bisa selingkuh atau yang berpoligami bertahun-tahun. Dan tidak diketahui oleh pasangan sebelumnya. Namun, inilah kenyataannya dalam hubungan. Seperti halnya Purba, Rara dan Mona, setahun lebih mereka hidup dengan cinta segitiga tanpa diketahui oleh istri pertama.


***

__ADS_1


Mona sampai di rumah, dia membagikan kue kepada para pekerjanya. Pertama kepada Pak Satpam yang dia lewati terlebih dahulu, kemudian tukang kebun dan terakhir Mbak Idah dan dua pelayan lainnya.


"Aku langsung makan ya Bu. Kayaknya enak, nih. Aromanya masih kecium, padahal kuenya sudah dingin. Biasanya kue yang sudah dingin aromanya tidak terlalu terasa."


"Iya, cobain aja. Toko kue rekomen sekretarisku. Setelah aku cicipi, enak banget loh. Meskipun agak mahal dikit, harga memang akan menyesuaikan kualitas." Mona cocok dengan rasa kue itu.


Harga tak masalah, toh cuma beda dikit. Kalau kuenya seenak itu, tak berasa ingin beli terus dan harga pun jadi lupa perhitungan. yang penting bisa beli dan puas.


Tidak biasanya Mona pulang kantor langsung ke dapur, mungkin karena hari ini niatnya mau membagikan kue pada Mbak Idah, tapi malah jadi keterusan ngobrol. Dia duduk dan berbincang bersama Mbak Idah. Bukannya ke kamar untuk mandi dan beristirahat seperti biasa.


Mona juga menceritakan bahwa dia bertemu dengan mertuanya di toko kue AZ, tersebut. Makanya meminta Mbak Idah untuk siap-siap, takutnya kedua orang Purba mampir dan mereka belum persiapan.


Meskipun tidak ada yang harus spesial untuk menyambut, karena rumah selalu dalam keadaan rapi. Namun, setidaknya stok makanan lengkap, takutnya tidak terkontrol sudah habis. Sedangkan orang tua biasanya suka sekali camilan untuk menemani santai hari-hari.


"Memangnya saudaranya Bapak ada yang di Jakarta ya, Bu? Saya pikir nggak ada. Soalnya bapak kan asli dari daerah, atau memang saudaranya sudah ada yang hijrah duluan ke Jakarta?"


Gara-gara pertanyaan Mbak Idah, Mona jadi termenung dia memikirkan kembali ucapan ARTnya, benar juga. Setahu Mona, Purba tidak pernah membicarakan saudaranya yang di Jakarta. Walau sedingin dan sekaku apa pun, dia setidaknya mungkin pernah membahas sekali, dua kali.


Lalau orang tuanya Mona juga tidak pernah membahas tentang keluarganya Purba yang di Jakarta. Meskipun mungkin tidak ada sangkut pautnya jika dibahas, tapi orang tuanya Mona pernah bercerita keluarganya Purba yang di kampung, apalagi saat pernikahan. Meskipun saat itu suasana pesta seakan tidak diminati oleh satu belah pihak, tapi Mona tahu siapa saja yang datang.


Masih ingat beberapa saudara dari pihak Purba saat pernikahan waktu itu, bisa dibedakan mana yang asli dari daerah dan dari kota, terlihat dari penampilannya.


"Mungkin ada Mbak Idah, cuma Mas Purba kan jarang bercerita. Jadi kita nggak tahu," ucap Mona yang sebenarnya menutupi kecurigaannya juga, tentang kebenaran orang tuanya Purba yang datang ke Jakarta tiba-tiba.


Waktu sudah hampir magrib, Mona yang masih berada di dapur dia pamit pada Mbak Idah. Tak terasa memang kalau sudah mengobrol. Namun, saat melangkah akan ke kamar, handphone Mona berbunyi. Dia segera membukanya dalam keadaan jalan, karena handphonenya berada di genggamannya sejak tadi.


"Mas purba tidak pulang? Ada acara bareng temennya?" gumam Mona membaca pesan dari suaminya.


"Kenapa tiba-tiba sekali? Selama ini tidak pernah ada acara bersama temannya. Hem ... Teman yang mana? Ah sudahlah, terserah." Mona malas berpikir.


Mona tidak peduli meskipun hatinya cemas. Bukan kah ini sangat kebetulan, satu hari ada beberapa keganjilan yang menurut feeling Mona, pantas diselidiki. Atau mungkin memang pemikirannya sedang kacau, jadi kejadian apa pun merasa sesuatu yang perlu dicurigai.


Mona kemudian membersihkan diri, setelah itu istirahat, rebahan di kasur sambil membuka-buka ponselnya.


Kemudian ada pesan masuk dan itu dari Mr. San.


“Nona, ada hiburan malam di Jakarta yang asyik di mana ya?” Isi pesan Mr.San.


Mona segera membalasnya, dia tidak boleh membuat Mr.San kecewa.


Mr, San pasti melihat ponsel Mona aktif, tentu harus fast respons. Jika Mona jaim untuk membalas segera, takutnya menurunkan kepercayaan pada kerja sama mereka.


Mona menawarkan beberapa tempat wisata yang biasa banyak orang kunjungi di malam hari. Seperti tempat kuliner, taman atau icon Jakarta, yaitu Monas tentunya.


Mr. San meminta Mona untuk menemaninya malam ini. Dua minggu di Jakarta sepertinya Mr. San belum menikmati tempat hiburan. Makanya hari ini dia meminta Mona untuk menemaninya. Karena itulah perjanjiannya menjadi guide gratis bagi Mr. San untuk kelancaran proyek bersama.


"Baiklah aku bersiap, sekitar 30 menit," ucap Mona. Kemudian dia bergegas memperbaiki penampilannya, tanpa memedulikan kesan Mr. San yang merespon chatnya.

__ADS_1


Bersambung....


 


__ADS_2