
Sebuah ruangan yang tidak begitu terang, tapi tidak gelap dan pengap. Suasana remang nan tenang, masih jelas terlihat satu sama lain.
Di ruangan itulah kini dua sosok yang awalnya tidak saling mengenal, kini bersatu saling menukar rasa dan cinta tiba-tiba.
"Gimana? Secara tidak langsung kau menerima perjanjian itu kan? Aku tidak akan memanfaatkan situasi ini. Meskipun kamu belum menandatanganinya, aku tidak akan berlaku curang. Kamu sekarang sudah setengah perjalanan melayaniku. Dan kamu pun menikmatinya bukan? Maka aku anggap kamu sudah menandatangani perjanjian itu.
Bisa saja aku bilang pernjanjian belum terjadi, bisa saja aku curang. Tubuhmu aku nikmati dan perjanjian itu belum terjadi."
Peneror Itu mengingatkan kembali tentang perjanjian yang dia buat bersama Bram. Kini dia dan Mona sudah berada di sebuah tempat tidur dan tanpa benang sehelai pun.
"Iya. Aku menerima perjanjian itu," ucap Mona singkat. Dia sudah cukup kelelahan walau baru setengah perjalanan.
Bukan Mona tidak kuat melayani lelaki itu, tapi dia seakan menemukan surga dunianya yang pernah hilang. Ibarat seperti menemukan permainannya yang sudah lama entah ke mana, sehingga begitu asik Mona melakukannya.
"Tapi tunggu sebentar," ucap pria itu. Dia turun dari ranjang, kemudian menggunakan kimono piyamanya. Lalu keluar menuju ruangan yang tadi saat tas milik Mona dilempar.
Pria itu memungut tas milik Mona, lalu diberikan kepada pemiliknya.
"Hubungi pria yang menunggumu di luar. Agar ia tidak terlalu khawatir padamu. Aku tahu dia sedang cemas menunggu kabar darimu."
"Bukankah kita sebentar lagi juga selesai?" tanya Mona. Dia masih berbaring di atas ranjang dengan selimuti yang menutupi seluruh tubuhnya.
"Aku tidak yakin kita akan selesai dalam waktu singkat. Kau sudah lama tidak menemukannya bukan? Dan aku sudah lama menginginkanmu," ucap pria itu yang kini sudah kembali memposisikan diri di samping tubuh Mona, di dalam selimut bersama.
***
Dert!
Dert!
'Mas, kamu bisa tinggalkan aku saja? Takutnya terlalu lama, ini temanku sedang tidak bisa ditinggal buru-buru. Mas bisa cari cafe atau tepat beristirahat terlebih dahulu. Maaf ya sudah merepotkan.'
Pesan Mona yang dikirim pada Mr San atau Mas Waluyo, diakhiri dengan emot kedua tangan menangkup.
Waluyo tidak begitu memperhatikan dengan detail pesan itu, dia tersenyum senang saat Mona hanya memanggilnya dengan sebutan Mas. Seakan terasa lebih akrab dan romantis menurutnya.
Selama ini Waluyo memang ada ketertarikan pada Mona Namun, dia juga tahu diri tidak akan seberani itu untuk lebih jauh berhubungan dengan Mona. Atau untuk mengutarakan rasa kagumnya saja, dia tidak akan melakukan seberani itu. Dia hanya ingin memperlakukan Mona dengan baik. Meskipun dalam hatinya ingin menaklukkan hati wanita yang dikaguminya itu.
"Kita mencari cafe dekat sini ya," perintah Waluyo kepada sopirnya.
Waluyo tidak banyak bertanya lagi kepada Mona, jika wanita itu sudah memerintahkan, maka berarti itulah yang terbaik. Apalagi Waluyo tidak tahu banyak bagaimana menjalani kehidupan di Indonesia. Maka dia percaya saja pada Mona.
***
__ADS_1
Sementara itu Purba yang sudah selesai urusannya dengan mobil yang tak sengaja ia tubruk. Untung saja orangnya bijak, jadi tidak memanfaatkan keadaan. Tidak mengada-ada perkara. Dia hanya minta ganti rugi sewajarnya untuk perbaikan mobilnya yang ada bopeng dan lecet.
Pemilik kendaraan roda empat sudah paham perkiraan standar biaya untuk perbaikan mobil. Purba keluarkan hang sejumlah tujuh juta kurang lebih. Untuk ganti rugi.
"Huft ... ada-ada saja, sedang terburu-buru begin," batin Purba, kini sudah berada dalam mobilnya menuju rumah tuan Hartanto.
Purba masih terus terbayang-bayang video yang dikirim oleh si peneror itu. Dan anehnya, Purba tidak bisa melihat jelas wajah di pria itu. Sepertinya sedikit diburamkan dan suaranya juga senyap.
Purba tidak mengetahui bahwa suara senyap dalam video itu disengaja oleh si peneror. Sebab, jika suaranya dinyalakan, maka akan terbukti bahwa video itu adalah jebakan. Bahwa Mona sedang ada dalam pengaruh obat.
Jika dilihat dari gesture tubuh Mona, seperti yang sedang sama-sama menikmati. Karena Bram pandai membuat posisi agar seakan Mona merespon permainan Bram.
Sampailah Purba di ruang tuan Hartanto. Kebetulan Alex juga sedang ada di sana. Mereka ada tamu dari calon besan Hartanto.
Ya, Alex juga akan menikah. Dia merasa sudah untuk berumah tangga.
"Assalamualaikum...," ucap Purba saat memasuki ruangan.
Beberapa orang di sana menyambut dalam yang Purba ucapkan.
Kurang lebih sekitar ada enam orang yang ada di sana. Tuan dan Nyonya Hartanto. Selebihnya dari keluarga calon istrinya Alex.
"Hai, Purba. Tumben kemari Nak? Sendiri lagi." Nyonya Hartanto berdiri dari duduknya. Dia menyambut sang menantu.
"Oh? Kalau begitu, di ruang kerja Papa saja." Nyonya Hartanto, mengarahkan sambil menoleh pada suaminya.
"Pah, ini. Nak, Purba ada perlu katanya." Nyonya Hartanto berkata lirih pada suaminya.
Tuan Hartanto akan beranjak dari duduknya. Dia sudah berdiri, tapi Purba menghentikannya dengan mengatakan. "Tidak terburu-buru kok, Pah. Nanti saja kalau acara Bang Yosef selesai."
"Baiklah," senyum. Tuan Hartanto, dia duduk kembali. Sedangkan Purba pergi ke taman belakang. Sebelumnya meminta minuman segar pada pelayan.
Sambil menunggu mertuanya, Purba berisitirahat menikmati udah segar di taman Asri.
***
Sementara itu di rumah Rara. Seluruh keluarga makan sore bersama. Kecuali Rara yang tidak ikut gabung satu meja. Karena dia harus mendampingi Azzahro. Masih kesulitan jika Rara harus duduk di meja makan dengan menggendong Azzahro.
Bu Sugeti dan Bu Purwanti tadinya meminta untuk mereka saja yang menggendong Azzahro. Namun, Rara tidak ingin merepotkan orang tuanya. Selagi Rara mempu, dia ingin segala sesuatunya dilakukan sendiri.
Rara ingin, orang tuanya atau pun mertuanya menikmati masa tua tanpa direpotkan lagi oleh anak-anaknya, dengan membantu mengurus cucu. Kecuali memang mereka menemani sang cucu untuk hiburan, karena anak kecil memang lucu dan menggemaskan.
Tadinya Lena akan bercerita tentang keadaan Gandi. Namun, melihat suasana harmonis di keluarga kakaknya itu, dia tidak jadi membahas tentang Gandi yang terkena penyakit serius. Lena tidak ingin mengganggu selera makan mereka
__ADS_1
Namun, setelah makan selesai, Lena, Ibunya dan kedua orang tua Purba pindah ke tempat duduk di mana Rara berada, mereka melingkar di sana pada sebuah sofa.
Sambil saling pendekatan, terutama Lena yang baru bertemu dengan kedua orang tua Purba. Mereka juga berbasa-basi menceritakan pengalamannya masing-masing.
Pada satu kesempatan. Leni berusaha mengambil celah untuk bicara.
"Maaf, saya mau menyampaikan kabar tentang ayahnya Azka. Tidak apa-apa?" tanya Lena meminta izin dulu sebelum membahas.
Terlebih di sana ada kedua orang tua Purba, takutnya Lena salah waktu dan tempat untuk membahas hal itu.
"Tidak apa-apa, sampaikan saja Lena. Orang tua Mas Purba juga sudah tahu kok masa lalu Mbak," cap Rara. Dia tahu rasa sungkan adiknya itu.
Lena menceritakan bahwa dua hari lalu, Gandi pulang di antar oleh temannya. Namun, Lena mendengar kabar bahwa Gandi terkena penyakit serius. Lena belum tahu penyakit apa. Yang pasti penyakit dengan butuh penanganan khusus.
Lena jadi teringat dengan Azkia, soalnya saat dia bertanya pada si Informan itu, katanya Gandi pulang tanpa Azkia. Lena jadi penuh tanya ke mana keponakannya itu?
"Maaf, Mbak. Bukan aku mau buat Mbak sedih, tapi aku jadi ingin cari tahu Azkia. Waktu itu Mbak pernah bertemu Azkia bukan? Mbak tahu alamatnya. Mungkin sekarang kita bisa leluasa membawa Azkia. Kasihan dia sendirian pasti." Lena langsung pada intinya, ingin membawa Azkia kembali berkumpul.
Rara menghela nafas. Waktu terakhir bertanya kabar pada Bu Heti, dia tidak tahu di mana Azkia. Tidak tahu ke mana Gandi pindah. Rada jadi makin khawatir, dengan siapa sekadang anaknya jika Gandi pulang kampung?
Dan bagaimana bisa Gandi tidak bawa serta anaknya pulang?
"Bagaimana, Mbak?" tanya Lena, dia memegang tangan Kakaknya dengan lembut. Lena tahu Kakaknya sedang bimbang.
"Aku bingung Lena, terakhir kali aku mencari Azkia, kata Bu Hetty tidak mengetahui di mana alamatnya. Jadi sekarang kita harus mencari kemana?" Rara berkata sambil sedikit menunduk lemah.
Bu Purwanti yang berada persis di samping kanan Rara, memeluk menantunya itu. Memberikan dorongan kekuatan energi, agar Rara lebih sabar dan kuat.
"Bu Heti?" tanya Lena. Dia memang belum tahu siapa Bu Heti.
Waktu Rara bercerita, bisa bertemu Azkia, dia hanya menceritakan garis besarnya saja. Tidak secara detail.
"Iya. Bu Hetty tetangga kontrakan Mas Gandi yang dulu. Bu Heti tempat Azkia bermain dan menitipkan diri. Bu Heti orangnya baik. Azkia juga belajar mandiri dan mencari uang dari Bu Hetty." Rara menjelaskan dengan air mata yang sudah mulai menetes.
Jika membahas tentang Azkia, Rara tak pernah sanggup untuk tidak menangis.
Semua orang tiba-tiba hening, mereka mencari akal harus bagaimana. Terutama Bu Purwanti dan Pak guguh, mereka sama sekali tidak bisa membantu. Mereka hanya bisa menjadi pendengar yang baik.
"Bu ... sebenarnya Azka tahu di mana Azkia."
Seketika orang-orang semua menoleh pada bocah kecil itu. Yang sejak tadi diam, tapi mungkin ternyata menyimak apa yang dibicarakan orang-orang dewasa.
Bersambung....
__ADS_1