Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Hubungan Sampai Mana?


__ADS_3

 Bab 116


Keadaan Azkia selama tiga bulan ini, dia sudah semakin terbiasa dengan suasana kontrakan dan aktivitasnya membantu pekerjaan Bu Heti.


Dan sejauh ini kegiatannya tidak diketahui oleh Gandi. Bersyukur tetangga di sana tidak begitu akrab juga dengan Gandi, karena Gandi akrab dengan Daryanto. Sehingga tetangga di sana tidak ingin berbasa-basi juga dengan Gandi.


Dan hal itu menguntungkan Azkia. Sehingga para tetangga tidak bercerita macam-macam bahwa Azkia tiap hari selalu berada di rumah Bu Heti.


Bertahan tiga bulan bukan berarti tanpa masalah bagi Azkia. Pernah suatu hari Azkia kena marah ayahnya karena baju jemuran basah, telat diambil. Karena tangan Azkia penuh dengan adonan tepung, serba salah jika harus berlari langsung mengambil jemuran nanti kotor pakaiannya, tapi saat cuci tangan dulu malah kenyataannya terlanjur basah.


Untungnya Azkia memang sudah kebal, semarah apa pun ayahnya, dia sekarang sudah tahan. Hanya cukup diam dan mengakui kesalahannya tanpa memberikan bantahan apapun.


Azkia sudah memiliki uang sekitar satu juta lebih selama tiga bulan itu, dia menyimpannya sangat hati-hati bahkan berniat ingin dititipkan saja ke Bu Heti, karena sudah terlalu banyak.


Kamar kontrakan Gandi saat ini sudah ada kasur meskipun hanya kasur lantai, kemudian satu buah TV, sengaja dia sediakan katanya untuk menemani Azkia jika Gandi pergi. Meskipun TV hanya 16 inch tidak begitu besar dan tidak begitu kecil. Dan juga satu buah ponsel yang murah untuk Azkia . Katanya selain buat komunikasi, bisa buat hiburan.


Namun, Azkia belum sempat mengotak-atik ponselnya. Dia juga tidak diberi tahu oleh Gandi, gimana cara menggunakannya. Meskipun Azkia bisa Asala membuka menu. Akan tetapi karena Azkia anak kecil yang sudah terbiasa hidup mandiri dan berjuang cari uang, ponsel jadi tidak begitu menarik buatnya.


Karena kegiatan Gandi juga yang sedang asyiknya mengeruk pundi-pundi uang dari para tante kesepian, dia sampai lupa pada misinya untuk memberi pelajaran pada Rara. Namun, hari ini dia bergerak sendiri tanpa Yanto pergi kembali ke perum cafe.


Dalam kurun waktu tiga bulan itu hanya empat kali Daryanto dan Gandi mengintai rumah Retno. Siapa tahu Rara berkunjung ke sana atau Retno pergi ke rumah Rara.


Sayangnya saat malam itu Retno ke rumah Rara, Gandi dan Daryanto tidak sedang stay di sana.


Maka saat ini Gandhi melakukannya sendiri.


Tak lama kemudian Rara datang ke rumah Retno sekitar pukul empat lewat, karena Rara sudah menghubungi Retno katanya dia sudah pulang dan Hendra akan pulang malam. Jadi Rara tidak begitu canggung untuk berkunjung ke rumah Retno.


Kedatangan Rada tidak diketahui oleh Gandi, karena dia sedang membeli rokok di warung dekat sana, karena bosan juga menunggu sendirian dan cukup lama.


"Gerbangnya ngebuka? Apakah Retno keluar?" batin Gandi setelah kembali dari membeli rokok.


"Aku tunggu saja, jika gerbangnya membuka ada kemungkinan akan ditutup lagi, karena waktu pasti semakin gelap. Eh? Sepertinya ada tambahan sepatu wanita? Apakah Rara yang datang?"

__ADS_1


Gandi terus berspekulasi jangan sampai kesempatannya terbuang, dia tetap berada di sana sampai mengetahui benarkah adanya orang datang ke rumah Retno.


***


"Ada apa? Sepertinya penting banget," tanya Retno, dia mengobrol sambil merapikan dapurnya. Karena tadi pagi belum sempat beres-beres setelah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua lalu berangkat bekerja.


"Aku sedang bingung Ret, kan akhir minggu ini aku tidak bekerja lagi di Bonafit Tekstil. Aku sudah akan mulai membuka toko kue, tapi aku merasa sedih ya?"


"Sedih kenapa?"


"Akhir-akhir ini Mas Purba jarang sekali menemui ku."


Retno menatap Rara, dalam hatinya inilah resiko yang dulu pernah disampaikan pada Rara, menjadi orang kedua itu tidak mudah. Meskipun dicintai begitu besar, tapi suatu saat akan ada masanya bahwa masuk dalam hubungan orang lain pasti akan melukai diri sendiri.


"Alasannya?" Retno sejauh ini merespons dengan singkat, dia tidak ingin banyak bicara dulu, takutnya dia salah menyimpulkan.


"Yang aku tahu, hubungan Mas Purba dengan Bu Mona semakin membaik, aku juga menerima saja. Ya, aku sadar diri posisiku, tapi kayaknya ini lebih menyebalkan daripada saat aku bersama Mas Gandi."


"Maksudnya?" Retno belum bisa merespon banyak, karena dia masih fokus merapikan dapurnya.


Ibaratnya kalau dulu saat dia disakiti oleh Gandi, ya dia akan terima. Karena mungkin itulah takdir rumah tangganya mendapat suami kasar.


Namun, saat bersama Purba sekarang. Apa kurangnya Purba? Baik, perhatian, sejauh ini Rara lihat Purba tidak macam-macam kepada wanita lain, tidak suka mabuk atau berkelahi seperti Gandi.


Akan tetapi rasanya sakit sekali, ketika cinta yang begitu besar Rara dapatkan, tapi sosok yang memberikan cinta padanya tidak bisa dimiliki seutuhnya, itu yang membuat Rara bingung. Kenapa sakitnya beda saat diperlakukan buruk oleh suaminya?


"Bukankah kamu sudah menyadari resikonya akan seperti itu? Bukankah prioritas kamu bukan tentang cinta? Tapi mengangkat harga derajat keluargamu?" respons Rara.


"Kamu benar, makanya aku curhat ke sini biar setidaknya aku plong, ada yang mengingatkan aku. Bahwa aku tidak boleh berlebihan."


"Yuk kita ngobrol di depan. Aku udah beres," ucap Retno sambil membawa beberapa makanan dari lemari dapur.


Saat Retno duduk dan melihat Rara sudah duduk juga melepaskan tas yang sejak tadi masih berada di pundaknya.

__ADS_1


"Wah! Kalung baru nih!" seru Retno tak sengaja melihat kalung yang berada di leher Rara.


"Iya, hehe. Gimana? Bagus nggak?" tanya Rara.


Retno beranjak lalu duduk di samping Rara, ingin melihat bentuk kalung yang sahabatnya pakai. Karena kalau dari kejauhan tidak begitu jelas.


"Liontin singa? Bentuknya seperti icon sebuah negara nih. Singapura?" anya Retno.


Rara mengangguk.


"Kamu dikasih?" tanya Retno lagi.


Rara kemudian mengangguk. lagi dengan senyum bangga.


"Siapa yang dari Singapura? Purba?"


Lagi-lagi Rara hanya mengangguk karena memang tebakan Retno tidak salah.


Retno hanya tersenyum biasa saja, bukan tidak senang melihat temannya mendapatkan barang bagus seperti itu. Hanya, dia bingung berekspresi. Dengan senyum seperti itu Retno sudah membuktikan dia ikut bahagia, hanya saja ada rasa prihatin kepada sahabatnya ini.


"Kamu sudah melakukan apa aja sama Purba?" tanya Retno tiba-tiba.


"Maksudnya? Rara cukup terhenyak akan pertanyaan itu.


"Sorry ya, Ra. Kamu sama Purba kan, ya... bisa dikatakan hubungan gelap dan fasilitas yang diberikan Purba kepada kamu sudah bukan main-main. Meskipun secara ukuran tidak seperti wanita simpanan lainnya yang diberi apartemen mewah, kartu kredit unlimited, barang-barang branded.


Akan tetapi setidaknya dengan kamu dijamin tinggal di sini, lalu akan diberikan usaha pribadi yang modalnya juga nggak sedikit, lalu kamu di spesialkan daripada istrinya, tidak mungkin kalau Purba tidak dapat apa-apa dari kamu."


"Maksud kamu tidak dapat apa-apa, apa Ret? Apakah kamu pikir karena aku sudah melayani nafsu Mas Purba, sehingga dia begitu baik padaku?"


Retno menatap Rara, Dia mengangguk dengan pelan....


 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2