Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Kebetulan Menguntungkan


__ADS_3

"Jadi sore ini saya langsung pergi ke tokonya Mbak Rara?" tanya Vira, saat Purba menghampiri.


"Iya, itu pun kalau kamu nggak mau ambil Pakaian dulu?" tanya Purba.


"Oh, iya lupa. Harus mengambil pakaian. Baik, nanti saya pulang dulu, terus langsung ke sana, Pak."


Purba mengangguk, dia hendak pergi tapi balik lagi.


"Oh, ya. Satu lagi, tolong carikan beberapa orang yang kira-kira bisa diandalkan untuk menjadi karyawan di toko kue atau sudah punya pengalaman, bagian kasir juga ya, sekalian."


"Baik Pak."


"Dan jika sudah ada orangnya langsung aja suruh datang ke toko ya, biar nanti Rara yang menentukan," imbuh Purba lagi.


"Baik, Pak. Siap."


Purba tidak akan sulit memerintah Vira, karena dia tahu mana karyawan yang dapat dipercaya dan tidak.


Saat Purba masuk ke ruangannya, Mona hanya meliriknya saja, pikirannya sedang bergelut.


Apa rencana yang harus dilakukan? Karena hati seorang Istri tidak bisa dibohongi. Mona ingin menuntaskan rasa penasarannya.


Panggilan dari seseorang masuk pada ponsel Purba, lalu dia langsung menerimanya. Ternyata salah satu direktur dari kantor cabang.


"Baik Pak, nanti kita bertemu saja di titik tengah ya."


"Apakah sore ini juga?"


"Ya, soalnya kalau besok mungkin prosesnya akan makin lama."


"Baik kalau begitu, kita bertemu sekitar 45 menit lagi," ucap Purba.


"Mas mau ketemuan?" tanya Mona, setelah Purba selesai melakukan panggilan.


"Iya," singkat Purba karena dia langsung menghadap layar komputernya kembali.


"Aku boleh ikut?" tanya Mona lagi.


"Boleh, kalau tidak capek," ucap Purba datar.


"Kenapa harus capek?"


"Bukankah harus banyak beristirahat untuk program kehamilanmu?"


"Bulan madunya saja nggak jadi," ucap Mona seperti sengaja membahas hal itu.


Purba hanya melirik pada Mona. Apakah dia hanya sekedar memancing atau memang serius? Karena ingin ikut meeting sekarang atau secara tidak langsung menagih bulan madu ke Bali yang gagal.


Purba segera menyelesaikan pekerjaannya karena sebentar lagi akan menemui salah satu direktur dari kantor cabang.


Sedangkan Mona saat ini pergi ke toilet, dia harus ikut. Lagi pula dirinya adalah sekretaris, memang sudah seharusnya harus ikut ke mana pun Meski bosnya tidak mengajak sekretaris, tapi dia punya jabatan double yaitu selain sekretaris, menjadi seorang istri dan anak dari pemilik perusahaan, suka-suka dia mau ikut atau tidak urusan kantor.

__ADS_1


Sekitar 15 menit purba sudah siap, begitu pun dengan Mona, tadi ke toilet adalah untuk merapikan lagi rasanya.


"Kamu beneran ikut Ma?" tanya Purba.


"Iya, Mama kan sekretaris Papa."


"Nanti kalau kesel jangan merengek."


"Iya ... iya," ucap Mona, sedikit geram.


"Aku satu mobil sama Mama, biar Bizar berangkat duluan," ucap Purba sebelum sampai keluar gedung kantor.


"Kok gitu Pa? Biar simple aja satu mobil."


"Ini untuk jaga-jaga kalau Mama minta pulang duluan. Kan nggak jadi masalah biar Bizar duluan, dia udah biasa bawa mobil sendiri ke apartemen, nanti bisa langsung pulang, terus kita pulang bareng pakai mobil satunya."


"Oh benar juga. Ya udah," ucap Mona.


Kemudian purba mengirim pesan kepada Vira untuk menunggu di depan, di dekat mobilnya. Nanti akan pergi ke tempat Rara bersama Bizar.


Ya, Purba menemui direktur dari kantor cabang untuk sebuah laporan penting. Namun, kenapa harus dua mobil? Karena sesungguhnya Bizar akan mengantar Vira ke tokonya Rara.


***


"Tapi bapak juga nggak boleh melanggar janji, nanti aku sebarin ke warga kalau apa yang terjadi kemarin adalah skenario Bapak!"


"Silakan laporin, karena Bu Molly juga ikut andil dalam hal ini!"


"Tapi aku hanya diperintah!"


Gandi, Bu Molly, Daryanto, sedang berada di rumah Bu Molly. Mereka saling menyalahkan karena rencana yang mereka buat, gagal total.


Ya, kejadian kemarin saat Agung menyusup ke rumah Rara adalah rencana Gandi, untuk membuat nama baik Rara tercemar.


Tadinya Gandi yang akan masuk, selain dia ingin membuat sengsara istrinya dia ingin melampiaskan amarahnya kepada sang istri secara langsung. Namun, banyak pertimbangan jika Gandi yang langsung melakukan, tentu saja Rara akan berontak dengan keras. Dia pasti histeris hingga memancing warga lebih dulu datang, sebelum drama dimulai.


Terbukti saat Agung yang menjadi pelakunya, Rara shock terlebih dahulu dan lupa untuk berteriak, saking takutnya dia fokus pada membela diri karena terdapat orang asing di kamarnya.


Sekalinya Rara teriak, Bu Molly yang langsung datang, sehingga drama bisa dimulai dan saksi satu-satunya adalah Bu Molly yang bisa membuat narasi agar Rara terpojokkan.


Mereka masih saja berdebat, mereka akan saling lapor. Tentu saja dua-duanya akan kena, karena Bu Molly masuk rencana dan Gandi adalah sang pemilik ide.


"Jadi, kita sama-sama impas. Jika Bu Molly melaporkan rencana ini pada pihak berwajib, kita akan sama-sama masuk penjara, tapi kalau Bu Molly mau sama-sama menanggung rugi, ya kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing."


Bu Molly takut juga jika berurusan dengan polisi, maka dia pun mengalah dan mengusir Gandi serta Daryanto dari rumahnya. dia tak ingin lagi berurusan dengan orang-orang licik, yang padahal dirinya sendiri juga licik. Orang licik memang pantas berkumpul dengan orang kick lagi.


"Udah sana-sana, buru-buru pergi! Bikin apes aja," usir Bu Molly sambil mendorong Gandhi dan Daryanto agar keluar dari rumahnya.


Dan kini Gandhi tetap berurusan dengan polisi karena keterangan yang diberikan oleh Agung.


***

__ADS_1


Hampir pukul setengah enam sore, Purba masih mengadakan pertemuan dengan direktur tersebut. Mona sudah beberapa kali gelisah, tumben sekali dia tidak nyaman berada di luar. Sebenarnya bukan tidak nyaman berada di luarnya akan tetapi kegiatan yang dilakukan memang membosankan hanya duduk dan mendengarkan.


Mungkin Mona sudah bisa menguasai bagaimana kerja menjadi sekretaris tapi, kalau untuk di lapangan Mona belum mahir, bagaimana cara berinteraksi menyampaikan ide-idenya takut salah langkah.


"Em-Maaf Pak, saya mau menerima panggilan dulu," ucap direktur tersebut yang sedang berdiskusi dengan Purba.


"Kenapa? Kalau bosan nggak apa-apa pulang dulu." Purba melihat duduk Mona seperti gelisah.


"Tapi sampai kapan Mas? Udah... aku nggak papa, aku tunggu aja."


"Nggak tahu, tadi kan aku bilang kalau pertemuan di luar pasti membosankan, sampai ketemu keputusan yang baik untuk kedua belah pihak, baru kita akan kelar."


"Tapi kan ada, kalau meeting dilanjutkan besok."


"Iya, memang ada, tapi bagi kita jam segini ini masih cukup waktu untuk masih membicarakan. Siapa tahu selesai malam ini, makin cepat proyeknya jadi."


"Ya udah, lanjut aja," ucap Mona, meskipun dia sudah tidak nyaman seharian di kantor, badan gerah, apalagi kerjanya di sini hanya duduk.


"Lihat, menelepon aja lama. Yakin masih menunggu? Jangan sampai nanti pulang ke rumah kecapean, badan serba pegel."


"Lagian Bizar ke mana sih? Dia katanya duluan, tapi nggak ada di sini." Mona malah kaya uring-uringan gak jelas. Gak penting juga cariin Bizar.


"Dia emang gitu, Ma. Kalau tidak penting-penting amat dia akan menyendiri. Mama tahu sendiri, apa yang kita makan belum tentu sesuai dengannya."


Kini Mona dan Purba saling diam, mereka menunggu rekannya selesai menelpon.


"Ya udah deh, Mas. Aku pulang aja." tiba-tiba Mona menyerah juga.


"Ya, udah. Aku antar ke depan, ya." Purba menawarkan diri.


"Nggak usah, nanti saat kamu ke depan, Bapak itu selesai, jadi nggak enak."


"Oke, kalau gitu, hati-hati ya."


Mona mencium tangan Purba dan Purba mencium kening Mona, lala pergi menuju parkiran.


Tak lama setelah Mona pergi, rekan Purba yang tadi menelpon, selesai dan kembali ke meja bersama Purba, kembali.


"Maaf ya, Pak. Terpotong. Jadi keputusannya biar nanti saya hubungi lewat pesan. Meski pun barusan sudah disampaikan pada Klien, katanya sedang dipertimbangkan dahulu bersama tim di sana.


"Oke kalau begitu, saya juga pamit. Sukses ya! Semoga proyek ini didapatkan oleh perusahaan kita."


"Iya Pak, terima kasih. Eh, ngomong-ngomong Bu Mona ke mana?" dia baru nyadar bahwa Mona sudah tidak ada lagi di sana.


"Tadi dia pulang duluan, katanya takut kemalaman."


"Oh begitu, baiklah. Sampai jumpa lagi Pak."


***


Purba langsung menuju ke mobilnya yang sudah ditunggu oleh Bizar.

__ADS_1


Begitulah, sangat kebetulan sekali. Saat Mona pergi, pertemuan pun selesai dan purba bisa langsung ke tokonya Rara.


Bersambung...


__ADS_2