Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Berharap Untuknya


__ADS_3

Bab102


Sementara itu di dapur.


Sejak tadi Mona turun, Mbak Idah tidak berani bertanya dan ini sudah mulai siang, bahkan matahari sudah terlihat menerangi halaman rumah.


"Maaf Bu. Boleh saya tanya?" Mbak Idah memberanikan diri bersuara.


"Ada apa Mbak?"


"Ibu lagi sakit?"


"Memangnya kenapa?"


"Ibu pakai syal kayak gitu. Padahal cuaca tidak dingin."


"Eh, em, i-iya. Agak nggak enak badan sedikit," ucap Mona berbohong.


"Kenapa Ibu tidak istirahat saja? Biar ini sama Mbak Idah aja. Kan udah biasa."


"Kalau ditidurin malah makin pegel Mbak, udah... nggak papa. Nanti kalau capek juga aku langsung istirahat."


Mbak Idah tanpa diminta langsung membuatkan susu jahe hangat buat majikannya.


Purba turun sudah menenteng tas dan pakaian dengan rapi. Dia heran melihat penampilan Mona pagi ini.


"Mama. Kamu sakit?" tanya Purba saat melihat Mona menggunakan sweater dan syal di lehernya.


Mona menoleh dengan cepat, dia sedang membuat teh untuk Purba. Hampir dia salah menuangkan air panas.


"Kalau sakit tidak usah ke dapur," ucap Purba sekali lagi. Dia mengambil gelas yang ada di tangan Mona.


Mona melihat perilaku Purba dengan terharu. Apakah benar Purba telah membuka hatinya saat ini?


Purba sudah selesai menuangkan air panas dari dispenser.


"Ayo!" ajak Purba, karena Mona masih berdiri di dekatnya.


"Kalau sakit, kita ke dokter ya?" ajak Purba saat mereka sudah duduk di hadapan meja makan.


Mona menggeleng, kemudian menyiapkan beberapa iris apel, roti oles untuk Purba.


"Mama tidak makan?" tanya Purba di sela sarapannya.


Mona hanya menggeleng.


Purba hanya melihat reaksi Mona, dia tidak bertanya apapun lagi. Disantapnya makanan yang sudah disediakan istrinya dan terakhir meminum teh hangatnya.


"Aku berangkat. Kalau ada apa-apa, hubungi aku. Kalau memang sakit, jangan banyak bekerja, kalau sudah siap ke kantor, bilang ya," ucap Purba, terus mengecup kening Purba.

__ADS_1


Mona juga meraih tangan Purba lalu mengecupnya.


Mona mengiring kepergian Purba sampai teras. Hingga di teras Mona menarik tangan Purba sebelum suaminya itu benar-benar pergi.


Purba menoleh. Namun, tanpa suara dia sedikit mengerutkan keningnya dalam menatap Mona.


Mona kemudian memeluk Purba.


Purba tak mengerti apa maksud dari pelukan ini, Purba sebisa mungkin membalas pelukan Mona, mengusap punggungnya lalu mengecup ubun-ubun kepala istrinya tersebut.


"Baiklah, aku pergi. Jaga diri di rumah," ucap Purba mengakhiri.


Mona mengangguk, kemudian tanpa disadari, air mata kembali menetes. Mona menjadi sosok yang perasa saat ini. Dia mulai merasakan bahagianya memiliki keluarga tanpa masalah. Keluarga utuh tanpa ada tindakan kotor atau kenakalan pada dirinya. Dan Purba yang sudah mulai membuka dirinya.


'Tapi. Kapan kalung itu Mas Purba berikan? Ataukah di hari ulang tahunku? Tapi itu masih lama. Atau merayakan anniversary? Itu juga sudah berlalu dua bulan ke belakang.' Gumam Mona sambil menatap mobil Purba yang sudah keluar gerbang.


Ulang tahun pernikahan Mona dan purba memang tidak pernah dirayakan. Meskipun Mona menginginkannya, tapi Purba selalu saja ada alasan. Maka di tahun berikutnya Mona pun tak pernah menginginkan lagi ulang tahun pernikahan, karena percuma.


Mona masuk sambil terus membayangkan liontin yang iya temukan di koper Purba. Sempat berpikir mungkin liontin itu untuk orang lain, tapi sepertinya Mona tidak ingin terjebak lagi pemikiran overthinking - nya.


Mona sudah masuk rumah, dia akan naik lagi ke kamarnya. Namun, Mbak Idah memanggilnya.


"Bu sarapannya?" seru Mbak Idah yang tadinya akan menyapu tapi dia ingat sarapan Mona belum dimakan, bahkan susu jahenya juga.


"Nanti saja Mbak,"i ucap Mona.


"Tapi Bu, kalau ibu ingin memiliki momongan lagi harus jaga kesehatan. Jangan telat makan," ucap bi Idah cepat.


Kemudian Mona balik ke meja makan.


"Temanin saya Mbak," pinta Mona.


Mona kembali ke dapur, menunda yang tadinya akan menyapu.


"Beneran, Bu Mona baik-baik aja?" tanya Mbak Idah,.


Mona terus menjawab baik-baik aja, dia beralasan jika saat ini hanya ingin diam sambil menikmati proses menjadi istri yang sesungguhnya.


"Oh ya Mbak, mungkin nggak sih kalau Mas Purba ngasih kejutan?" tanya Mona pada Mbak Idah.


"Mungkin juga Bu, apalagi Bapak habis dari luar negeri. Masa tidak ingat sama Ibu untuk kasih oleh-oleh gitu. Memangnya kenapa Bu?"


"Tapi aku nggak mau ke-geer-an Mbak."


"Maksudnya?"


"Aku menemukan kalung berliontin permata, indah banget. Bentuknya singa, kayaknya memang oleh-oleh dari Singapura sengaja dibeli."


"Itu untuk Bu Mona?" tanya Mbak Idah ikut bahagia.

__ADS_1


"Tapi kok dia belum ngasih ya? Kalau memang itu kejutan Atau mungkin nanti malam?"


"Bisa jadi nanti malam, Bu. Suasana romantis gitu Bu. Memang tadi malam Pak Purba tidak...."


Mbak Idah tidak melanjutkan ucapannya, meskipun seperti itu Mona sudah paham.


Mona menggeleng dan beralasan mungkin Purba masih lelah, jadi tidak menyentuhnya. Padahal dirinya sendiri yang menolak.


Majikan dan asisten itu terus berbincang, mereka sama-sama merasakan bahagia atas perubahan yang ada di rumah itu. Mbak Idah bahagia melihat Mona yang dengan tulus berubah untuk Purba. Dan Mona juga bahagia ternyata berbincang dengan asisten rumah tangga itu tidak buruk, justru menambah banyak pengalaman.


**#


"Nanti makan siang aku jemput, ya?" pesan Purba kepada Rara.


"Argh, selalu saja slow respon sesibuk itukah menjadi sekretaris kantor cabang?"


Purba bergumam karena pesannya tidak langsung dibaca oleh Rara. Purba tidak tahu bahwa Rara sebenarnya karyawan yang disiplin. Dia berasal dari keluarga tidak mampu, tentu saja harus menghargai pekerjaan. Jika saat bekerja di perusahaan Purba, tentu saja Rara bisa selalu ada untuk Purba karena memang dia bosnya. Benar-benar Purba tidak memahami hal itu.


"Aku ada kejutan untukmu," pesan purba kembali dikirim pada kontak Rara.


**#


Sementara itu di sisi lain.


Gandi yang semalam memutuskan tidur juga di bangku warung tersebut, saat ini baru bangun. Dia langsung memesan air hangat kepada Ibu warung, kebetulan warung tersebut buka 24 jam.


"Ayah, aku ingin buang air besar," ucap Azkia sambil memegang perutnya.


"Kamu, merepotkan saja! Mana ada di sini WC gratis! Nanti aja tahan," Bisik Gandi dengan penuh penekanan.


Suami pemilik warung melirik, mengamati tindakan Gandi kepada anak kecil itu. Bapak warung yang bergantian jaga dari pukul dua dini hari, sudah tahu dengan kedatangan pembeli yang membawa anak kecil itu yang diperlakukan tidak baik.


Semalam Ibu warung bercerita, saat Gandi terlelap di kursi sambil bersandar sebisanya untuk sekedar menghalau ngantuk.


"Pak, bisa saya titip anak ini sebentar? Saya pasti kembali kok. Saya mau cari toilet. Kalau anak saya di bawa bakal lama, dia jalannya lambat," ucap Gandi, dia tidak merasa takut sedikitpun anaknya kenapa-napa di kota besar tersebut.


Bapak pemilik warung hanya tersenyum saja dengan mengangguk.


Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00. Ibu warung itu sudah cukup beristirahat. Dia keluar dari belakang, lalu bertanya kepada sang suami ke mana pembelinya, yaitu Gandi yang dimaksud.


"Dia bilang ke toilet katanya Bu. Aneh tuh orang, bukannya nanya kek di mana toilet. Dia pikir warung kecil seperti ini nggak ada toiletnya kali."


"Udahlah, biarin aja, Pak. Kasihan tuh anaknya udah dikasih air hangat belum?" tanya Bu warung.


"Oh iya lupa, tadi baru bapaknya aja yang minta air hangat. Saking gemesnya sama kelakuan tuh orang, hampir sana lupa, ada anak kecil yang sebenarnya butuh bantuan.


"Ya udah, sana kasih. Tapi kenapa tuh anak meringis-ringis gitu? tanya Ibu warung.


"Dia mau ke toilet Bu. Malah ditinggal pergi sama bapaknya," sahut bapak warung.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2