Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Sakit tapi Belanja


__ADS_3

“Ra, kamu punya ATM, kan? Aku mau ngrepotin, nih. Mau ya?” tanya Retno pada Rara, di sebuah panggilan telepon.


“Apa, buruan? Gak usah basa-basi deh,” ucap Rara berlagak ketus.


“Ah elah, orang sakit bisa jutek juga, hihi.”


“Lagian, mau nyuruh, ya nyuruh aja. Jangan seformal itu nyonya... buruan, lagi nyuci nih.”


Aku cuma mau minta tolong beliin kebutuhan dapur aku lupa nanti aku kirim pesan deh ya apa aja sekalian mau beli sesuatu, pembalutku abis, hehehe"


"Emang nggak bisa ya kalau pas habis pulang kerja?"


"Nggak tahu pulangnya kapan."


"Loh kok nggak tahu."


"Soalnya akhir-akhir ini, setelah aku sama Mas Hendra udah semakin serius, sering diajak jalan. Aku nggak enak kalau nolak, terus kalau sambil belanja gitu. Takut malah ditraktirin. Gak enaklah, nanti dikerjain cewek matre."


Setelah mendengar jawaban dari Retno, Rara merasa tersentuh hatinya. Cewek matre? Seakan menyindir dirinya yang memanfaatkan Purba untuk kepentingannya, terutama masalah dana.


"Ya udah, iya. Setelah ini aku beli deh, tapi aku mau mandi dulu, tanggung ngeberesin cucian."


"Eh, tapi kamu nggak papa kan? Udah mendingan sakitnya?"


"Oh iya, aku kan lagi sakit. Jadi nggak bisa keluar rumah, hehehe."


"Alaaah ... sakit apaan. Sehat bugar gitu."


"Ya udah iya... iya, ini mau mandi dulu ya. Oke sampai jumpa."


Rara mengakhiri panggilannya dengan Retno, dia masih kepikiran ucapan Retno yang mengatakan takut menjadi cewek matre, kalau sering diberi dari seorang pria.


Lagi-lagi perang batin menghantui, tapi Rara juga merasakan gelagat purba itu seakan ada rasa pada dirinya, secara dia, kan, belum sebulan kerja, mengapa Purba sangat baik seperti itu.


Apa Purba benar-benar hanya memanfaatkan dirinya? Kalau hanya memanfaatkan dirinya hanya waktu ada Mona saja, untuk sekedar memanasi, tetapi saat tidak ada Mona pun Purba tetap bersikap berlebihan untuk ukuran bos kepada sekretaris.


Pesan masuk pada ponsel Rara kembali, itu adalah pemberitahuan transfer uang dari Retno pada Rara, berhasil.


**#


Sampai di tengah perjalanan, Mona baru teringat ingin membeli sesuatu untuk buah tangan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Sayang, kita mampir dulu yuk! Buat beli oleh-oleh untuk mama dan papa," ajak Mona.


"Kira-kira mau beli apa?" jawab Purba, dia fokus melihat jalan. Meski yang melakukan mobilnya adalah supir.


"Apa ya, enaknya?"


Mereka hening sesaat saling memikirkan oleh-oleh apa, yang pantas diberikan untuk kedua orang tuanya Mona. Secara, kalau barang-barang, mereka yang usianya sudah cukup matang, sepertinya tidak begitu membutuhkan barang-barang. Kalau makanan, tapi makanan apa? Karena makanan mereka pun harus dijaga.


"Ya udah, kita beli buah-buahan aja. Setidaknya kita bawa oleh-oleh ke sana," ucap Purba.


"Oke, Aku setuju," jawab Mona, kemudian dia juga melanjutkan, "Oh iya. Bagaimana kalau kita beli oleh-oleh juga buat para pelayan di rumah mama papa? Kita kan ,nggak sering ke sana juga. Ya ... setidaknya mama papa juga jadi seneng kalau kita perhatian sama pelayan di sana. Itu bisa melengkapi oleh-oleh kita yang hanya ala kadarnya," usul Mona, dengan yakin idenya brilian.


"Baik, aku setuju," ucap Purba, singkat.


**#


Jarak rumah Purba dengan kediaman orang tuanya cukup jauh sekitar 45 menit. Sepuluh menit kemudian, Mona menemukan swalayan kecil, dia meminta purba untuk turun.


"Loh, belanjanya di sini?" tanya Purba heran, biasanya Mona kalau belanja suka di Swalayan besar atau Mall.


"Iya, di sini aja sayang ... biar nggak terlalu jauh. Soalnya kalau ke swalayan atau mall, kita jadi melewati rumah papa Mama dong. Dari sini hanya ada toko-toko kecil, tak apa lah."


Sebuah supermarket yang tidak terlalu besar. Namun, cukup lengkap. Ada perlengkapan dapur, buah-buahan, fashion dan permainan untuk anak-anak.


Rupanya Mona tidak langsung ke lantai tujuan yaitu tempat buah-buahan, dia melihat-lihat dulu di lantai satu, tempat fashion rupanya. Dia akan membeli beberapa mukena untuk pelayan perempuan, peci dan sarung untuk pekerja laki-laki, seperti satpam tukang kebun dan sopir.


Sambil mengekor di belakang Mona, Purba melihat-lihat sekitar , mungkin saja ada barang yang dia suka, meskipun dia tidak begitu pandai dalam memilih barang untuknya. Seperti pakaian yang dikenakannya, juga semuanya adalah pilihan Mona. Mona sangat mengerti sekali dengan fashion.


Beberapa saat purba melihat-lihat sekitar lantai tersebut, dia seperti melihat sosok Rara baru memasuki gedung tersebut. Beberapa langkah Purba menjauh dari Mona, hanya untuk memastikan apakah dia Rara atau bukan.


Tetapi keyakinan Purba sangat kuat, itu pasti Rara. Dengan tergesa-gesa, dia pamit pada Mona dengan alasan mau ke toilet.


"Jangan lama-lama ya sayang," ucap Mona, sedikit berteriak. Tanpa menoleh ke arah Purba, karena dia sedang sibuk memilih-milih barang.


Setengah berlari purba naik ke lantai dua, sambil matanya tidak lepas menyisir ke beberapa bagian gedung, karena kehilangan jejak seseorang yang ditunggunya sejak kemarin.


Setiap lorong barang, Purba tengok. Tidak ada sosok Rara. Sempat dia putus asa, mungkin tadi hanya halusinasinya saja karena memang udah beberapa hari ini tidak bertemu dengan Rara dan sangat diharapkan untuk bertemu.


Namun, saat purba sampai pada lorong terakhir, yaitu peralatan rumah tangga dia melihat Rara sedang melihat-lihat barang. Mungkin itu untuk kebutuhan dapurnya. Purba menghampiri diam-diam, sengaja, takutnya kalau dia tergesa-gesa, nanti Rara malah menghindar.


Senyum merekah di bibir Purba, seakan-akan dia baru menemui kekasih hatinya yang sudah lama mereka tidak pernah bertemu.

__ADS_1


"Hai sibuk banget," tanya purba tiba-tiba dari belakang Rara.


Rara menoleh sedikit terkejut, dia memastikan apakah sapaan tersebut untuk dirinya atau orang lain? Karena dia pikir tidak mungkin ada seseorang yang mengenal dirinya di kota ini, dia kan, baru beberapa lama di sini.


Namun saat Rara menoleh dia terkejut "Pak Purba?" dalam batinnya.


Rara tidak menyangka akan bertemu Purba di supermarket ini. Rara hanya tersenyum dan mengangguk dengan gugup dia balik menyapa.


"E-em, bapak sedang apa di sini?


"Lagi belanja, ya? Belanja apa? Sikat, saringan buat apa," tanya Purba, dia melihat barang-barang yang ada di keranjang Rara.


"I-ini,i titipan teman saya Pak," ucap Rara gugup.


Apaan sih Pak Purba? Kayak gini aja ditanyain. Biasalah kebutuhan cewek, mau tau aja." batin Rara


"Loh, katanya sakit? Kenapa bisa belanja tanya Purba menyelidik.


Waduh aku harus jawab apa? Batin Rara sedikit bengong.


"Hei, halo?!" tanya Purba, sambil melambai-lambaikan tangan di depan wajah Rara.


Rara tergagap bingung untuk alasan apa. Alhasil hanya bisa menyengir kuda sambil menggaruk tengkuknya bingung.


"Waktu itu kamu pulang duluan. Marah ya sama saya? Oke, sekarang saya minta maaf secara langsung ya... dan hari ini kamu nggak masuk juga? Atau masih marah? Bener kan, tebakanku?"


"Eh enggak Pak.kalau marah, kenapa saya bisa bicara sama bapak sekarang?" ucap Rara, dia tidak ingin ketahuan bahwa dirinya sensitif, dia sesungguhnya marah betulan.


"Ya kali aja tadinya marah, cuman karena mungkin kamu kangen sama aku, atau tidak bisa jauh dariku, jadi kamu bales chatku, deh ya kan. Ya ,kan?" sahut Purba, mencoba menggoda Rara.


"Ih ... kok bapak mikirnya gitu sih? Nggak gitu, juga. Saya kan, sekretaris bapak, ya harus sopan sama bosnya."


"Oh .. alasannya gitu, karena harus sopan aja? Oke, terus kapan kamu berangkat kerja? Besok bisa? Kelihatannya udah baik-baik aja."


"I- iya pak, bisa bisa," jawab Rara agak gugup.


Setelah itu Rara melihat Purba mengambil dompetnya dari belakang saku celananya. Rara tidak tahu itu untuk apa, tapi yang pasti Purba mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah muda. Rara terkejut saat uang itu disodorkan kepadanya


"Ini untuk apa pak?"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2