Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Kekasih Gelap Lebih Unggul, Lagi.


__ADS_3

Bahkan, jika harus disandingkan, posisi Rara dan Bizar, lebih tinggi posisi Bizar sebagai asisten Purba dan bodyguard.


Dalam acara fashion show tersebut Mona pun ingin ikut, karena dia tahu Rara pasti ikut. Padahal Purba sudah melarangnya dan mengingatkan bahwa Mona harus banyak istirahat untuk program kehamilannya.


Namun, kali ini Mona keras kepala. Dia belum puasa saat di acara sosialita, gagal mengerjai Rara. Kali ini kesempatan kedua, Mona ingin mengerjai Rara lagi, tak bosan bosannya sebelum Rara benar-benar kapok.


Meskipun Mona, tidak menemukan bukti kapan Rara menggoda Purba. Lagi-lagi karena filing seorang istri itu terkadang kuat, bahwa Rara akan menjadi ancaman bagi rumah tangganya.


“Ya udah, ayo bersiap.” Purba mengiyakan keinginan Mona.


“Aku udah siapa, sayang.”


“Tumben seperti itu? Biasanya harus paling cantik kalau di tempat umum,” ucap Purba, sambil melirik ke arah Mona yang berpenampilan sederhana.


Mona hanya mengenakan dres tanpa lengan, berwarna biru dengan panjang hanya sampai betis, rambut diikat satu agak ke atas, dengan make-up tipis.


“Nanti aku akan ganti pakaian dan make-up di sana, kan sebagai pemilik perusahaan, aku harus menggunakan produk milik sendiri, sebagai promosi. Benar kan?” ucap Mona, menggelayut manja di lengan Purba yang masih bersiap, mengancingkan kancing tangannya.


Purba tak merespons lagi ucapan Mona, dia langsung mengajaknya untuk segera berangkat, tidak sarapan karena sudah agak kesiangan, bisa sarapan di tempat acara nanti.


“Zar, turun dulu di toko kue depan,” perintah Mona.


“Buat apa Ma?” tanya Purba.


“Ya, buat makan dong, Mas. Kita beli beberapa makanan untuk sarapan di mobil.”


“Tidak usah, kita bisa makan di tempat acara. Banyak makanan di sana.”


“Hah... iya... iya... setiap saat sepertinya debat terus, debat terus. Bisa nggak sih? Apa-apa nggak usah ada pertentangan.” Mona menarik napas kesal, lalu dibuang kasar dan mengeluh.


Purba tidak menggubris gerutuan Mona. Dia tak peduli, dan coba tahan apa pun yang Mona kesalkan.

__ADS_1


*##


Sampai di tempat yang dituju rangkaian demi rangkaian acara pun disampaikan dan diselenggarakan dengan lancar. Hingga tiba pada saatnya pameran jenis kain yang diperagakan oleh perwakilan perusahaan. Namun, sebelum acara itu diselenggarakan, ada beberapa hiburan terlebih dahulu.


Selain waktunya untuk hiburan, para pengunjung acara disajikan oleh berbagai makanan khas daerah, yang sudah direncanakan sebelumnya oleh tim penyelenggara.


Acara akbar tersebut sangat memberi kesan yang baik, untuk para pengunjung, baik dari pihak perusahaan yang menggunakan bahan dasar kain untuk menjalankan bisnisnya, baik dari media-media juga, ataupun orang-orang yang suka akan fashion.


Di ruangan belakang, khusus panitia dan penyelenggara, terlihat Mona uring-uringan lagi pada Purba.


“Pa... kenapa harus Rara, sih? Lihat, dia badannya kecil, pendek seperti itu, memalukan sekali. Nanti kualitas kain kita yang biasanya orang-orang tahu paling bagus, karena dia yang pake, jadi turun kualitas. Mending Mama aja, deh. Yang jadi icon perusahaan,” protes Mona dengan lirih, karena di sana banyak orang.


“Tidak apa, Ma. Kita melihat wajah Rara yang menunjang lebih ke ciri khas karakter wajah daerah, sesuai tema saat ini. Sedangkan Mama, lebih ke internasional, kurang masuk dengan tema sekarang.”


“Tapi, jadinya tidak enak dilihat. Kain itu bagusnya dipakai sama orang yang tinggi, terlihat jelas motifnya, kualitas kainnya, mau mengembang, mau jatuh, mau halus, atau pun kasar, akan terlihat jelas detail dan indahnya, apalagi kalau yang pakai selain tinggi, berbadan bagus juga.


Coba kalau oleh Rara, pendek seperti itu, detail-detailnya tidak akan terlihat dengan jelas. Karena kurang nampak di tubuh kecil.”


Apalagi dia anak dari pemilik perusahaan, sedangkan Rara yang sama sekali jauh untuk jadi syarat sebagai model, kenapa malah terpilih jadi icon perusahaan.


Akhirnya atas diskusi beberapa orang yang bertanggung jawab dengan rule acara, diputuskan sebagai icon perusahaan dua orang.


Pembawa acara akan memperkenalkan kualitas kain yang dipakai akan cocok untuk tubuh berbagai bentuk. Baik tinggi, ideal, kecil atau pun pendek.


Acara puncak telah sampai, di mana beberapa orang yang mendukung acara tersebut, ikut tampil berjalan di catwalk.


Perwakilan dari perusahaan pengadaan bahan-bahan berkualitas, dari designer, MUA, katering dan beberapa dari perusahaan pendukung lainnya.


Setelah acara tersebut selesai, justru wartawan dan beberapa orang yang suka sekali dengan fashion, lebih menyoroti Rara.


Mengapa mereka lebih suka melihat penampilan Rara? Karena dirinya cocok sebagai contoh untuk menunjukkan kain tersebut pantas tidak, digunakan oleh orang Indonesia yang notabene badannya kurang tinggi.

__ADS_1


Tentunya Purba merasa senang, bukan hanya sebagai pribadi, tetapi mewakili perusahaan. Dia mendatangi Rara untuk beberapa wawancara.


Sebelumnya Mona sempat tidak suka, karena seakan Rara menang lagi satu langkah dan didampingi oleh Purba suaminya. Seharusnya yang tampil di layar televisi, dan yang akan dilihat oleh seluruh negeri adalah dirinya dan suaminya. Bukan suaminya dan sekretarisnya.


Di belakang, Mona tak henti-hentinya uring-uringan, awalnya dia tidak rela, sampai sekarang pun tetap tidak rela sebenarnya, tetapi karena bujukan Purba, ini semua demi perusahaan.


Dimana-mana, seorang direktur dan sekretaris itu hal yang wajar jika mereka lebih aktif untuk mempromosikan perusahaannya, agar memiliki citra yang baik di depan media atau khalayak umum.


“Awas saja, nanti saatnya akan sampai pada hari apesmu, wanita murahan,” gumam Mona, sambil melirik ke arah kerumunan media yang sedang berebut mewawancarai Rara dan Purba.


"Pasti, kesal?"


Tiba-tiba seseorang berkata di belakang Mona. Mona pun menoleh, karena sangat familiar suaranya


"Bram?" lirih Mona, tapi dengan mimik wajah kaget


"Kenapa?" ucap Bram dengan memajukan wajahnya hendak mencium Mona.


"Eeegh ... Gila kamu, ya! Ini tempat umum." Mona mendorong badan Bram yang sudah hampir dekat dengannya


"Memangnya, kenapa? Kaya tidak biasa saja?" Bram malah mengejek dengan senyum smirk, dia geli melihat Mona yang sok menjaga dirinya


Padahal, di antar seluruh teman wanitanya, Mona lah yang paling berani dan agresif Kadang Mona tak segan untuk bermesraan di depan umum, ya ... meski pun itu masih di kalangan circle mereka, diskotik atau pesta teman-temannya.


"Itu beda lagi. Kau mau apa?" tanya Mona dengan mata melebar


"Gak usah galak-galak, nanti kalau aku makin pengen, karena rindu dengan buasnya kamu, siapa yang bertanggung jawab? Kemarin saja saat aku butuh kamu, malah nomorku diblokir, kenapa? Sudah cukup puas dengan brondong itu?" ucap Bram, sedikit tajam tatapannya. Dia tidak terima jika diabaikan.


Brondong yang Bram maksud adalah, Purba. Karena memang usia Purba lebih muda dari Mona


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2