Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Yang Ke-2 Prioritas


__ADS_3

Bab 104


Suami istri pemilik warung menggelengkan kepala melihat kelakuan Gandi kepada anaknya. Orang tua pada umumnya memilih puasa agar anaknya tidak kelaparan. Namun, ini sebaliknya, mereka sungguh heran jadinya.


Setelah makan, Gandi menyeruput kopinya dan membeli sebungkus rokok. Kemudian Gandi beranjak dari warung tersebut.


Azkia yang menggendong tas pakaiannya sendiri, dia menoleh ke arah warung dan melambaikan tangannya dengan senyum yang sangat manis.


Suami istri pemilik ke warung itu pun melambaikan tangan kepada Azkia dengan rasa haru. Dan harapan pemilik warung, suatu saat dia bisa bertemu lagi. Semoga Azkia selalu baik-baik saja di manapun berada.


Gandi berjalan menemui gerombolan laki-laki yang tadi iya sempat berbincang. Daripada harus mencari kontrakan Retno yang belum tentu sekali langsung ketemu, dia langsung meminta bantuan saja kepada lelaki tadi untuk mencarikan kontrakan yang murah meriah.


"Kalau kontrakan banyak, tapi harus pakai angkot dulu dari sini. Aku juga bukan di sini tempatnya, ini cuman tempat nongkrong," ucap lelaki itu yang kemudian diketahui bernama Daryanto.


Gandi dan Daryanto langsung menuju kontrakan, begitu pun dengan Azkia ikut kemanapun ayahnya pergi.


 


**#


Siang hari waktunya istirahat para karyawan kantor, Purba sudah berada di depan kantor Bonafit Tekstil cabang sesuai janjinya akan makan siang bersama Rara


Rara masuk mobil dan bersiap untuk kemana pun Purba bawa. Namun, beberapa saat dia duduk, merasa heran. Kenapa Purba tidak melajukan mobilnya?


Rara menoleh mengurutkan kening sebagai tanda apa yang Purba tunggu lagi?


"Lupa?" tanya Purba dengan singkat.

__ADS_1


Rara makin heran apa yang dilupa? Rara mengendikkan bahunya.


Kemudian purba menunjuk kedua pipinya sebagai tanda bahwa Rara belum memberikan ciuman padanya. Apalagi ini adalah berteman mereka setelah hampir seminggu Purba berada di luar negeri.


"Ya ampun, Mas. Manja banget," ucap Rara sambil mendekatkan wajahnya kepada Purba, untuk mengecup kedua pipi sang mantan bosnya itu.


Tanpa diduga, Purba menekan tengkuk Rara saat Rara mau melepaskan ciuman kedua dari pipi Purba yang terakhir. Rara tidak bisa menolak karena tangan Purba begitu cepat merengkuh lehernya, kemudian langsung mengeksekusi bibir Rara cukup lama.


Rara tidak bisa menolak, seakan sudah menjadi candu meskipun Rara tidak pernah meminta, tapi selalu menikmati jika Purba melakukannya.


"Udah Mas, ayo! Terlalu lama." Rara berhasil mendorong Purba dengan pelan, tapi Purba tidak keras kepala. Dia sadar memang waktunya sangat singkat.


Kali ini Purba memang menyetir sendiri, dia ingin menghabiskan waktu berdua saja bersama Rara, tanpa Bizar yang tak pernah jauh darinya. Sedangkan Bizar stay di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan, karena posisi sekretaris kosong jadi banyak berkas yang terbengkalai.


"Kita ke sini Mas?" tanya Rara. Tempat itu sepertinya tak pernah dikunjungi mereka untuk makan siang.


Tentu saja Purba memilih lantai ketiga yang cenderung sepi, karena dia akan mendiskusikan sesuatu hal yang serius untuk masa depan mereka.


Purba tidak menjawab pertanyaan Rara. Dia langsung keluar mobil membukakan pintu mobil untuk Rara, setelah mengunci mobil dipastikan aman, dia langsung masuk ke cafe dan memesan cake serta minuman. Kemudian langsung naik ke lantai tiga menggunakan lift, serta tangan Purba tak lepas dari tangan Rara sejak tadi.


Jika pertanyaan Rara tidak dijawab oleh Purba, Rara tidak akan bertanya lagi. Mungkin Purba memang ingin menjawabnya saat mereka dalam posisi tenang, nanti.


"Ada beberapa yang akan aku tunjukkan kepadamu," ucap Purba setelah duduk di sebuah bangku paling ujung di lantai tersebut.


"Apa?" tanya Rara penasaran sekaligus sedikit takut kalau-kalau berita yang buruk.


Soalnya dari raut wajah Purba tidak menyiratkan dia sedang bahagia. Namun, tidak juga seperti sedang dapat masalah.

__ADS_1


Purba mengeluarkan tiga benda dari dalam tas kantornya. Yang satu di dalam map dan dua lagi adalah kotak perhiasan kecil, berwarna biru dan merah.


Rara yang hendak mengambil salah satu dari benda itu ditahan oleh Purba.


"Biar aku yang membukanya," ucap Purba.


Yang pertama Purba buka adalah kotak perhiasan berwarna merah langsung diberikan ke hadapan Rara .


Netra Rara berbinar melihat sebuah kalung berliontin singa begitu bersinar, karena terbuat dari permata dengan rantai kalung yang padat, jadi tidak begitu besar untuk ukuran leher Rara yang kecil serta jenjang.


"Mas. Beneran ini untukku?" Rara memastikannya lagi, dia takut ini hanyalah mimpi. Baru kali ini ia diberikan perhiasan oleh seorang pria.


Purba mengangguk, kemudian Rara mengucapkan terima kasih. Namun, lagi-lagi perlakuan nakal Purba, menolak Rara mengucapkan terima kasih.


"Kenapa?" Rara heran.


"Sayang, berterima kasihnya bukan seperti itu. Aku pakaikan dulu kalungnya," ucap Purba.


Purba beranjak dari tempat duduknya, mengambil kalung yang masih berada di kotak perhiasan itu, lalu berdiri di belakang Rara yang dalam posisi duduk.


Rambut Rara yang kini sedang tergerai disingkirkan oleh Purba dari punggungnya, agar tidak menutupi leher.


Dengan lembut Purba mengambil rambut lalu dipindahkan ke samping lehernya, menyeruak harum khas tubuh Rara menggugah gairah Purba.


Kemudian Purba lingkarkan kalung itu di leher Rara, lalu dikuncinya di belakang, saat tangan Purba menyentuh leher Rara sontak kelelakian Purba bangkit. Jika saja tidak di luar ruangan sudah dikecup tengkuk Rara yang bersih, dihiasi anak rambut menambah kesan seksi.


Namun, Purba masih bisa menahannya karena hari ini juga akan ada kejutan yang sangat besar untuk kelangsungan hubungan dirinya dan Rara. Setelah menyerahkan hadiah yang kedua, yaitu yang ada di dalam map.

__ADS_1


 Bersambung....


__ADS_2