Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Nama Adik Baru


__ADS_3

Bab 168


Entah benar atau tidak cara Azka menjawab pertanyaan dari Azkia. Yang pasti Azka mencoba sebisa mungkin menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.


Dimulai saat Rara pulang pertama kalinya ke kampung, setelah bekerja di Jakarta, yang bertepatan dengan hari pernikahan Retno. Mereka sekeluarga niatnya akan menjemput Azkia ke rumah Gandi. Namun, yang dituju tidak ada dan orang tua Gandi juga tidak memberitahukan informasi yang dibutuhkan.


Saat itu Azka memang masih kecil sekali, belum tahu apa-apa, tapi semakin ke sini dia semakin paham saat ibu dan neneknya menerangkan kembali. Bagaimana perjuangan mereka ingin mengambil Azkia dari ayahnya. Azka mencocokkan apa yang di dengar dengan memorinya. Memang benar selama ini, justru saat mereka berkumpul yang disayangkan adalah kenapa askia tidak ada di tengah mereka.


"Kenapa suaminya ibu yang baru tidak mencoba melawan Ayah? Katanya kalau orang kaya bisa melakukan segalanya," ucap Azkia yang masih penasaran, sejauh mana perjuangan keluarganya untuk memperjuangkan dirinya dari kekangan Gandi.


Azka juga menjelaskan semampu pemikiran dia, anak kecil tidak tahu tentang hukum bahwa segala sesuatunya ada proses. Karena Gandi adalah orang tua Azkia, maka tidak bisa dituntut. Dan juga tidak bisa gegabah untuk merebut anak seperti barang. Harusnya Azka menjelaskan seperti itu. Namun, sekali lagi karena dia anak kecil tidak bisa dijelaskan secara sudut pandang hukum.


"Waktu itu sudah mencari, tapi ayah kan harus segera kerja, ibu juga. Jadi harus buru-buru lagi ke Jakarta. Yang aku tahu semua akan diproses satu-satu, karena kalau tidak bekerja, ibu sama ayah tidak dapat uang buat kita.


Terus orang yang ayah suruh menceraikan Ibu dulu ke pengadilan, setelah itu baru nanti mencari kamu lagi. Karena kamu selalu dibawa pergi-pergi terus sama ayah, tidak tahu ke mana. Tidak ada yang tahu alamatnya. Padahal kami sudah cari-cari," Azka terus mengatakan sesuai daya tangkap dan kemampuannya menjelaskan, walau berantakan tata bahasanya.


Yang dimaksud Azkia adalah jika ayah barunya terlalu fokus membantu Ibunya maka akan terbengkalai kerjanya, begitu juga untuk permasalahan tidak bisa sekaligus diselesaikan. Maka pilihannya yaitu menyelesaikan perceraian dulu, agar Rara dan Purba bisa bersatu. Sehingga mereka bisa leluasa bertindak untuk memperjuangkan Azkia.


"Lalu kenapa ibu nikah duluan sebelum aku ketemu?" Sepertinya Azkia masih sakit hati, masih penasaran dengan keputusan cepat Ibunya untuk menikah lagi.


"Aku nggak tahu kalau yang itu, tapi waktu dengar Nenek sama Ibu telepon, katanya Ibu melihat ayah di Jakarta. Karena ketakutan jadi Ibu menerima ayah baru yang udah meminta menikah sudah lama."


'Kamu tahu tidak. Waktu ayah kita tidak pulang lama? Itu sebenarnya sedang dipenjara. Kamu pernah tahu ayah kita tidak pulang ke kontrakan kamu kan?"


Azkia terdiam sejenak, mengingat-ingat . Benar beberapa bulan yang lalu ayahnya memang tidak pulang. Sedang Kia tidur di rumah Bu Heti, tapi Pak Daryanto mengatakan bahwa ayahnya Azkia sedang ada pekerjaan.


"Oh ya kamu tahu tidak, kita udah punya adik loh. Adik baru."


Azkia seperti tidak bersemangat mendengar itu, harusnya bahagia mendapat saudara baru.


Azka merasa bersalah mengatakan hal itu, takutnya Azkia tersinggung semakin merasa tersisih nantinya.


Saat Azkia masih terdiam mendengar kabar dari Azka, Pak sopir datang membuka pintu mobil dan menyerahkan makanan yang dipesan oleh kedua tuan kecilnya.

__ADS_1


Lalu mereka menyantapnya, terlihat Azkia sangat suka dengan makanan itu. Kia makan dengan lahap seperti memang jarang menemukan atau mungkin tidak pernah mendapat makanan seenak itu.


"Dari tadi sepi aja, kalau mau sambil ngobrol, silakan ngobrol aja. Bapak akan jaga rahasia kok," ucap Pak sopir.


Meskipun makan memang tidak boleh sambil berbicara. Namun, kebanyakan dari kita biasanya makan sambil berbicara itu hal yang sudah lumrah. Apalagi sedang membahas suatu hal.


Soalnya kelihatan sekali dari gerak-gerik Azka yang ingin mengatakan sesuatu, tapi dia seolah-olah ragu. Karena ada Pak Sopir di sana. Makanya Pak Sopir mengatakan seperti itu kepada Azka, agar bebas saja jika ingin menyampaikan atau membahas sesuatu dengan saudara kembarnya


***


Purba datang ke rumah sakit, waktu jam istirahat kantor sekaligus dia juga ingin menemui ibu dan ayahnya.


"Maaf ya Bu. Aku nggak bisa menjemput. Aku pikir Ibu bakal datang sore, hingga aku bisa menjemput pas pulang kantor," ucap Purba setelah baru sampai di rumah sakit.


"Tidak apa-apa, kami masih sanggup kok. Juga tidak kerepotan untuk sampai sendiri ke rumah sakit. Kami nggak sabar pengen nengok cucu," ucap Bu Purwanti yang saat ini pun masih menggendong cucu pertamanya.


"Oh ya, siapa namanya? Kami baru ingat belum tahu nama bayi ini," ucap Pak Kukuh.


Sebenarnya kami belum menentukan Pak, tapi ada beberapa nama mungkin Bapak sama Ibu bisa bantu mana yang cocok," ujar Purba.


Kemudian Purba menyebutkan tiga nama untuk anak pertamanya, atau anak ketiga dari Rara. Yang pertama adalah Azyakia purba, kedua Azzahro Pura dan Azil Pura.


"Kenapa harus A dan Z depannya? Nanti orang bakal lupa manggil dengan kedua kakak kembarnya," ucap Pak Kukuh.


"Kalau ibu sih terserah aja, yang penting artinya adalah doa yang baik untuk cucu Ibu." Bu Purwanti memilih santai saja, perihal nama.


"Tadinya kami ingin memberikan nama anak yang simpel saja Bu, Pak. Menurut kebiasaan di kampung kami, memberikan nama pada anak jangan terlalu panjang, nanti takut keberatan anaknya."


"Iya, Bapak setuju itu. Apakah ada alasan lain kenapa semua pilihan namanya harus mirip dengan kakak kembarnya?"


"Sebenarnya ini juga belum sepakat kami rundingkan, Pak, tapi kami pernah membahas agar Azkia yang masih sulit untuk kami ajak berkumpu, merasa dihargai. Bahwa meskipun Ibunya sudah memiliki keluarga baru, tapi tidak melupakan keluarga yang lama. Makanya kami sengaja membuat nama adik mirip kakak kembarnya dengan awalan A Z juga, agar merasa bahwa mereka adalah saudara yang tidak bisa dipisahkan meskipun beda Ayah." Purba menjelaskan secara rinci.


Bu Purwanti manggut-manggut mendengar penjelasan dari Purba, bagus juga pemikiran anaknya ini. Meskipun ayah sambung tapi tidak memilah mana anak kandung dan bukan.

__ADS_1


Begitupun juga dengan Pak Kukuh, akhirnya dia sepakat dengan ketiga nama yang diusulkan dengan memilih mana yang dikira nyaman di dengar, diucap dan cocok buat anaknya.


"Bagaimana kalau Azil Az-zahro Pura, biar tidak kerepotan manggil. Karena kedua Kakak kembarnya bernama mirip." Kini Bu Purwanti yang memberikan saran.


Rara tersenyum senang, dia setuju dengan nama yang diusulkan oleh ibu mertuanya, menyusul dengan Purba, Bu Sugeti dan Pak Kukuh. Mereka setuju dengan nama bayi yang baru lahir itu Azil Az-Zahro Pura. Tentunya nama Pura diambil dari Purba dan Rara.


Kini Purba, Rara, Bu Purwanti, Pak Kukuh dan juga Bu Sugeti makan siang bersama di kamar itu juga. Mereka sambil bercengkrama terlihat sekali keluarga yang hangat dan harmonis.


Bu Purwanti melihat Purba yang sangat berbeda daripada saat di rumah Mona, kebahagiaan ini sungguh membuat Ibu Purwanti percaya bahwa sesuatu yang dipilih sesuai hati meskipun sederhana, tapi bisa menyenangkan.


"Oh ya ini udah pukul 01.00, aku tidak lihat Azka?" tanya Purba saat dia hendak kembali lagi ke kantor. Akan tetapi selama dia di sana tidak melihat anak sambungnya.


"Tadi pamit Mas, katanya mau menemui temannya yang sekolah saat kemarin kunjungan itu," sahut Rara.


"Jadi sebenarnya Azka tidak sekolah?" tanya Purba lagi


"Iya, hanya tadi minta izin untuk main."


"Udah kamu telepon? Kalau berangkatnya dari pagi harusnya jam segini udah pulang. Jangan kelamaan di luar, selain bisa berbahaya, nggak baik juga. Nanti takut jadi kebiasaan kelamaan main."


"Ya Mas, sebentar lagi aku hubungi Pak sopirnya," ucap Rara.


***


Karena Pak sopir sudah dihubungi oleh Rara di mana keberadaannya, maka Azka pun segera pamit pulang. Sebelumnya sudah memberi pesan pada Azkia, semoga lekas berubah pikiran dan segeralah kumpul bersama ibu, Azka, adik dan ayah baru.


Azkia tidak memberi respon apapun tentang pesan yang Azka sampaikan, dia masih memiliki perasaan yang gampang terhasut.


"Aku pulang, ya. Besok-besok kalau aku main ke sini, kamu jangan lari lagi," ucap Azka setelah Azkia turun dari mobil.


Azkia hanya mengangguk. Sekarang dia sudah bisa tersenyum walau belum lepas.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2