
Bab135
Mona sudah sampai di kantor, yang pertama dia cari adalah Vira.
"Fir, temui aku di ruangan," perintah Mona saat baru sampai dan melalui meja kerja Fira .
Tanpa mengulur waktu lama, Fira mengikuti Mona menuju ruangannya.
"Duduk," ucapan Mona, setelah dia menyimpan tas kerja di mejanya, lalu berjalan menuju sofa yang Fira juga duduk di sana.
"Aku ingin tahu suatu hal, tapi kamu jawab jujur. Em, tahu temannya Bapak yang sekarang katanya kecelakaan?"
"Tidak Bu," singkat Fira.
"Yakin?"
Fira hanya mengangguk karena dia memang tidak tahu. Lagi pula Kenapa Fira yang diinterogasi? Sekretaris Purba juga bukan. Meskipun dia orang lama, tugasnya hanya untuk melakukan pemantauan pada karyawan yang mungkin berbuat curang, jika para staf sedang tidak ada di sekitar mereka.
"B-bapak tidak selalu cerita pada saya Bu, tentang kegiatannya,"
kata Fira.
"Kalau tentang, Rara?"
"Maksudnya, Bu? A-ada apa dengan Mbak Rara ya, Bu?" tanya Fira kembali, tapi terlihat ada kegugupan saat berbicara.
"Ya... mungkin kamu tahu kedekatan bapak dengan Rara? Tenang aja, saya hanya ingin tahu informasinya. Tidak lebih. Jadi nggak usah gugup kayak gitu."
Satu lagi firasat yang Mona temukan janggal dari kegugupan Fira. .
"Saya nggak tahu apa-apa tentang hubungan Bapak dengan Mbak Rara."
__ADS_1
"Oh... jadi mereka ada hubungan?" ucap Mona sambil mengangguk-anggukan kepala, menjebak ucapan Fira.
"Eh,eh. i-itu saya tidak tahu Bu. Maksud saya mungkin Ibu menanyakan pada saya tentang Mbak Rara, karena seperti yang kita tahu pada video yg tersebar itu. Ibu mau cari tahu tentang itu lagi. Jad bingung jawabnya. Hehe," ucap Fira merasa itu jawaban yang paling tepat.
Fira sendiri bingung, apakah jawabnya nyambung apa tidak. Dia sudah terlanjur panik, takut salah bicara.
"Tidak usah bingung, lagi pula wajar kan jika saya tanya tentang Rara? Secara sudah bukan rahasia umum, kedekatan sekretaris dan atasan di kantor mana pun, selalu saja ada cerita.
Anggap aku yang bicara bukan sebagai sekretaris atau bos di perusahaan ini, tapi sebagai seorang istri. Dan kamu pun wanita, wajar tidak jika aku ingin menyelidiki suamiku sendiri?"
"I-ya Bu, wajar sekali," ucap ucap Fira lirih.
Fira juga merasa tersentil. Selama ini mendukung Rara, tapi Fira juga baru merasakan sekarang, sepertinya Mona sudah berubah.. Tidak seperti Mona tang dulu. Sekarang lebih tenang.
Mona kemudian bertanya satu hal lagi, yaitu saat Rara dipindahkan ke kantor cabang, tepatnya pada tanggal berapa dan bulan apa? Tak lupa juga menanyakan kegiatan Purba pada tanggal tersebut saat keluar kota.
Fira memang tidak mengetahui saat Rara pulang kampung ke Sugihayu untuk menghadiri pernikahan Retno. Jadi, memang setahu Fira hanya Rara akan pindah kantor saja, pada tanggal tersebut.
Maka Fira pun menjawab jujur, bahwa tanggal tersebut untuk Purba tidak ada acara keluar kota. Baik meeting atau membahas proyek dengan perusahaan lain.
"Yakin Bu. Karena saat itu Mbak Rara sudah tidak ada. Jadi saya yang menghandle sementara untuk jadwal Pak Purba."
"Baiklah, terima kasih ya. Kerja yang semangat," ucap Mona. Dia pun berdiri saat Fira berdiri untuk pamit kembali ke tempat kerjanya.
Mona menghantar Fira sampai ke pintu.
Sekali lagi Fira mengucapkan permisi pada Mona yang dibalas dengan senyuman hangat.
"Ada apa dengan Bu Mona? Tumben ramah banget,' batin Fira.
Dalam hatinya merasa bersalah karena besok atau lusa dia harus ke Sugihayu untuk menghadiri pernikahan Rara dan Purba.
__ADS_1
Satu sisi nuraninya sebagai wanita, andai dia di posisi Mona pasti menyakitkan. Jika tahu suaminya akan menikah lagi, tapi satu sisi mungkin itu nasibnya Mona atau bisa jadi untuk pelajaran bahwa dia semena-mena pada suaminya saat dahulu.
Banyak kemungkinan bisa berpikir positif sebenarnya, pernikahan kedua atau poligami bagi seorang suami, pasti ada alasan tertentu termasuk pada Purba juga. Yang Fira tahu, Purba menemukan cinta sejatinya pada Rara.
Fira juga tidak akan mendukung jika awalnya tahu tidak ada masalah dengan Mona. Namun, sekarang sudah terlanjur. Biarlah, semoga semuanya mendapat hikmah. Batin Fira kembali. Ia merasa bersalah sudah menuruti permintaan Purba untuk menjadi saksi pernikahan besok
Fira tak mau terlalu mengambil pusing urusan bosnya, yang pasti mereka bertiga baik padanya. Yaitu Mona yang sekarang dirasakan sudah berubah. Sudah barang tentu dengan Rara dan Purba, mereka orang baik. Mungkin hanya takdir yang sedang menguji mereka dengan permasalahan asmara..
***
Sore menjelang magrib, Purba sudah sampai di rumah Bu sugesti. Disambut dengan Azka uang sangat gembira karena Ibunya datang. Bocah kecil itu tak ingin lepas dari ibunya sama sekali, bahkan saat Purba membicarakan perihal pernikahan, Azkia menempel terus duduk di samping Rara sambil memeluk.
"Gimana? Sudah yakin, Nak purba?" tanya Bu Sugeti.
"Saya sudah yakin Bu. Siap mau saat ini juga tak jadi masalah."
"Ah, Nak Purba. Aneh aneh aja, kalau sekarang belum pada kumpul orang-orangnya juga." Bu Sugeti mengerti dengan bercandaan Purba. Agar suasana tidak terlalu tegang.
Sementara Purba begitu yakin, Rara masih merasa risau. Dia tak banyak bicara, hanya menyimak obrolan Purba dan ibunya. Hatinya entah deg-degan karena tegang seperti halnya mempelai pengantin biasa, atau mempertimbangkan keputusannya sudah benar atau sebaliknya.
"Segala sesuatunya memang sudah dipersiapkan, Nak Purba. Tadi siang Ibu sama Lena sudah pergi ke tempat adik Ibu dan dia setuju. Sejauh ini tidak ada masalah. Seakan pernikahan kalian memang didukung oleh takdir. Semuanya tidak ada kendala."
"Semoga ya Bu, inilah jalan untuk aku menemukan kehidupan bahagia sesuai harapanku dan semoga juga inilah kebahagiaan yang Rara cari," ucap Purba.
Rara tersentuh dengan ucapan Purba barusan. Ya, dirinya memang mencari kebahagiaan walau terjebak di waktu yang salah. Karena berada di dalam cinta wanita lain.
Purba menemukan kebahagiaan saat Rara datang padanya. Dua insan yang sama-sama terlantar pada rumah tangga yang tadi inginkan..
Kemudian mereka berlanjut pada obrolan konsep acara, Bu Sugeti sudah membicarakan dengan Pak RT untuk membantu berlangsungnya acara. Dan pukul 08.00 pagi besok akan ada musyawarah beberapa panitia untuk penyelenggaraan pernikahan malam harinya.
Kenapa diselenggarakan malam hari? Agar disaksikan beberapa warga dekat. Tadinya Rara tidak ingin banyak warga yang hadir, karena takut selalu salah. Ada saja yang menanggapinya dengan negatif. Apalagi Rara hanya nikah siri. Jangan terlalu ramai.
__ADS_1
Namun, Pak RT memberi saran bahwa obrolan negatif warga itu sudah biasa. Jangan diambil pusing. Justru kalau warga tidak diundang, akan lebih buruk lagi. Karena merasa tidak dianggap. Toh di kampung ini nikah siri itu masih sesuatu hal yang biasa.
Bersambung....