
Terima kasih yang sudah support. Tolong selalu dukung author ya... like, komen, fav dan tips. Hehehe
______________________
“Sudahlah, kita pulang saja. Gak usah bahas apa pun lagi,” ucap Mona kembali menyandarkan kepalanya ke senderan kursi mobil. Dan kembali terpejam.
Beberapa saat, Bizar datang, tapi tanpa Rara.
“Gak bareng Rara, Zar?” tanya Purba, saat Bizar masuk mobil dan duduk di depan kemudi.
“Nona Rara katanya pulang dianter temannya,” jawab Bizar.
“Ekhem ...,” dehaman dari Mona, saat Bizar menyebut Non Rara.
Itu untuk memberi tanda, supaya Purba tahu, bahwa Mona tidak mengada-ada tentang Bizar yang memanggil Rara dengan sebutan, Non.
Purba hanya melirik Mona, dia paham sebenarnya. Jadi ya sudahlah, dia tak ingin memperpanjang, biar tanya saja pada Rara melalui pesan
“Sayang, kamu pulang sama siapa?” tanya Bizar, lewat pesan WhatsApp nya.
Tak lama, Rara pun membalas. “Aku pulang sama Kenzo,” jawab Rara jujur.
Darah Purba tiba-tiba mendesir, kok bisa? Jelas, hal ini membuat Purba cemburu. Untung saja deru napasnya tidak sampai terdengar oleh Mona. Sebenarnya, rasa panas di dada Purba, entah seperti apa.
*##
Sampai rumah.
“Ada siapa, Pak?” tanya Purba pada security saat memasuki gerbang rumah.
“Ada Tuan dan Nyonya besar, serta Tuan Yosef,” jawab security.
Purba mangut-mangut, “Oh, ok. Makasih Pak.” Mobil Purba melaju hingga ke halaman dekat teras rumah.
Saat di dalam, rupanya memang Papa dan Mama mertua sudah ada di sana. Pun dengan Yosef.
“Wah ... kalian semangat sekali kelihatannya, kompak. Nah, gitu dong, Papa lihatnya jadi seneng.” Tuan Hartanto memuji anak dan mantunya yang baru datang dari bekerja.
“Sudah lama Pah, Mah? Tanya Purba basa-basi, sambil mencium punggung tangan mereka.
__ADS_1
“Lumayan. Sana! Kalian membersihkan badan dulu. Papa sama Mama tunggu di sini,” ucap Tuan Hartanto.
“Tapi, ngomong-ngomong ada apa sih, tumben? Kak Yosep pula ikut ke sini,” tanya Mona penasaran.
“Udah, mandi aja sana Lo, bau tahu. Nanti juga bakal tahu,” ucap Yosef.
Sekitar 30 menit Mona dan Purba membersihkan badan di lantai dua, kamar mereka. Kemudian turun setelah selesai, dan kebetulan berbarengan dengan waktunya makan malam.
Percakapan pun dibuka oleh Pak Hartanto, yaitu membahas tentang pembagian perusahaan, tapi ini bukan warisan. Karena sebenarnya ada perusahaan lain lagi yang kalau bisa dipimpin oleh keluarga sendiri.
Tuan Hartanto mengetahui bahwa Mona akhir-akhir ini, sering pergi ke kantor dan cukup baik dalam melakukan tugasnya. Tuan Hartanto tahu atas informasi dari Heru, orang lama di kantor pusat Bonafit Tekstil.
“Jadi maksud Papa, aku harus memegang salah satu cabang?” tanya Mona memastikan.
“Iya. Kau sudah siap? Kan Yosep sudah satu, kemudian kamu. Setidaknya kalau dipegang oleh kita, rasa memiliki itu akan lebih besar dan lebih bertanggung jawab.”
"Tapi Pa, Mona baru belajar. Mona lebih enak jadi sekretaris aja, deh.”
“Mona, belajarlah profesional. Tidak mungkin kan, seorang anak dari pemilik perusahaan menjadi sekretaris? Tidak salah memang, tapi alangkah baiknya peganglah perusahaan tersebut.
Kamu harus tahu sebuah benda berharga, ketika dijaga orang lain dan dijaga oleh pemiliknya sendiri itu akan berbeda perawatannya. Rasa memilikinya dan tanggung jawabnya juga pasti berbeda,” terang tuan Hartanto.
“Oh ya? Benarkah Purba?” tanya Nyonya Hartanto.
Purba hanya menggangguk, dia tidak ingin terlalu ikut campur tentang urusan harta dari mertuanya atau hak istrinya. Pun tak ingin terlalu antusias dengan goal keluarga mereka. Yang pasti, saat ini Purba sedang galau memikirkan Rara.
Tuan Hartanto pun akhirnya memaklumi jika Mona ingin menunda dan masih tetap menjadi sekretaris bagi suaminya. Hitung-hitung lebih mematangkan Mona untuk belajar memenej perusahaan.
“Tapi, Purba. Papa ingin tahu. Apakah tidak ada masalah lagi tentang wanita lain?” tanya Hartanto, tapi lebih seperti menginterogasi.
“Saya rasa tidak ada, Pa,” jawab Purba.
“Kok, ragu-ragu gitu? Maksudnya kamu rasa nggak, itu apa? Sebenarnya ada gtu?” tanya Tuan Hartanto menyelidik.
“Udahlah Pa, jangan bahas gitu. Meskipun ada, biarin aja PELAKOR itu nggak bakal menang lawan istri sah,” ucap Mona dengan ketus.
“Mona, kamu bicara apa?” tanya Nyonya Hartanto menyelidik.
“Kalian sedang ada apa-apa ya?” tanya Tuhan Hartanto.
“Ayo katakan saja,” ucap Nyonya Hartanto, “Mumpung kami di sini, biar kami bisa mediasi kalian bahwa dalam rumah tangga itu ada kesalahpahaman ada duri dari luar hal biasa. Coba katakan terus terang.”
__ADS_1
Nyonya Hartanto mendesak Purba dan Mona. Karena mereka yakin menantu dan anaknya ini sedang ada sesuatu.
“Biasa Pa, kesalahpahaman sedikit,” ucap Purba, mencoba memberanikan diri membahas dan semoga tidak jadi panjang banyak pertanyaan.
“Tapi, kesalahpahaman ini beralasan, Pa. Banyak bukti-bukti,” imbuh Mona.
“Maksudnya bukti-bukti? Seperti apa?” tanya Tuan Hartanto
“Ya bukti-bukti, Mas Purba melakukan hal yang spesial dengan sekretarisnya, malah termasuk Bizar.” Mona membawa nama Bizar, agar lebih mendukung alasannya.
“Kok, Bizar dibawa-bawa. Apa hubungannya?” tanya Nyonya Hartanto, heran.
“Iya, Ma. Itu menandakan, PELAKOR itu memang tukang goda. Sampe siapa pun kena rayuannya,” ucap Mona.
“Ma, gak usah berlebihan. Tidak ada yang goda menggoda dan tidak ada yang tergoda juga. Kalau masalah Bizar, tanya saja ke orang nya. Jangan membawa masalah yang belum kita tahu kepastiannya.” Purba tak tahan juga dengan tuduhan istrinya kepada Rara.
“Sudah ... sudah! Kalian ini malah berantem di depan kami,” ucap Nyonya Hartanto. “Jangan seperti anak kecil, yang tidak bisa nahan sabar. Kalau ada masalah, pastikan dulu kebenarannya.” Nyonya Hartanto menugur Mona dan Purba.
“Coba katakan ke Papa, seperti apa bukti itu. Apakah bentuk chat? Papa ingin lihat. Apakah kamu pernah memergoki suamimu bermesraan dengan wanita itu?” tanya Tuan Hartanto pada Mona.
Saat Pak Hartanto meminta bukti yang bisa dilihat atau bukti nyata yang masuk akal, Mona hanya bisa diam. Memang sulit untuk dibuktikan jika hanya gelagat atau rasa hormat Bizar pada Rara.
Mona berpikir berulang kali, sebelum menjawab. Nanti salah-salah dirinya yang akan tetap dicap oleh orang tuanya sebagai istri yang terlalu cemburu.
“Ya udah gini aja, Purba ... Mama cuma mau mengingatkan, bukan menuduh bahwa kamu memiliki yang lain. Akan tetapi apa pun masalahnya dalam rumah tangga, selingkuh Itu bukan jalan keluarnya.
Jika ada masalah, bicarakan baik-baik. Jika sudah tidak bisa dipertahankan, ego kalian tidak bisa disatukan, lebih baik ajukan ke pengadilan agama terlebih dahulu. Jangan selingkuh.”
“Tuh, dengerin kata Mama,” ucap Mona.
“Mona, nggak boleh gitu juga. Sikapmu yang seperti itu, terlalu kanak-kanakan. Juga akan membuat suamimu bosan, tidak betah di rumah dan tidak nyaman berada di posisimu.” Nyonya Hartanto menegur Mona.
Alhasil malam itu keluarga Hartanto selain membicarakan tentang hak Mona untuk memegang sebuah perusahaan, mereka juga menasihati atau memberi wejangan untuk pasangan mudah itu. Terutama untuk Purba, sebagai pemimpin harus bisa tegas dan jangan tergoda oleh sesuatu yang sementara kebahagiaannya.
Akhirnya Tuan Hartanto pamit, tapi sebelum mereka benar-benar pergi, Yosef menarik Mona ke belakang.
“Apa sih Kak? Sakit tahu tiba-tiba kayak gini. Ngagetin juga,” Gerutu Mona, karena Yosep tiba-tiba menariknya saat mereka sudah hendak keluar rumah.
Bersambung...
__ADS_1