Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Lagi Bu Molly


__ADS_3

Bab147


Antara Bu Molly dan Rara masih ngotot adu mulut, saling mempertahankan argumen.


Bu Molly tidak percaya bahwa Rara mengatakan lelaki itu maling yang menyusup ke rumahnya. Dengan lantang mengatakan, Bu Molly memiliki bukti bahwa mereka sedang berbuat mesum, bahkan Rara sangat menikmati adegan tadi.


Terjadi keributan yang tidak bisa dielakkan, adu mulut yang membuat para warga datang. Sedangkan lelaki yang mengaku pasangan Rara, dia tidak berkata apa-apa. Hanya pura-pura menyimak seakan perilaku tidak senonohnya memang diperbuat atas dasar suka sama suka. Lelaki itu menunjukkan terlihat merasa bersalah dan takut, tapi ekspresi itu sengaja agar kesannya orang menganggap bahwa mereka memang sedang kepergok.


"Ada apa ini malam-malam ribut?" seru beberapa warga yang tiba-tiba datang.


"Ada apa Bu?"


"Apa sih Bu? Maling ya?


Para warga bertanya kejadian pada Bu Molly, yang mereka lihat hanya Bu Molly satu-satunya warga perum yang berada di tempat kejadian.


Bu Molly menceritakan saat pertama mendengar suara aneh dari kamar seperti orang yang sedang bercinta, karena posisi kamar Rara dengan Bu Molly memang bersebelahan.


Mungkin Rara tidak bisa mengontrol suaranya saat bercinta, hingga meski terdengar sayup oleh Bu Molly, tapi dia langsung memastikan mengecek ke rumah Rara. Saat dilihat pintu terbuka, hingga Bu Molly penasaran masuk.


Setelah melewati pagar, Bu Molly masuk langsung menuju kamar yang terlihat dari ruang tamu, segeralah Bu Molly membuka ponselnya lalu memfoto setelah itu baru video.


"Benar itu Bu?" kata salah satu warga.


"Yang saya lihat seperti itu. Saya jijik kalau ingat adegan itu lagi." Bu Molly bergidik.


"Wah ... parah nih warga baru," ucap salah satu warga mencemooh Rara.


"Iya, bisa kena sial nanti warga kita."

__ADS_1


"Usir... usir!"


"Iya usir aja! Malu ... penzina!"


Para warga menghakimi Rara dengan ucapan-ucapan kasar. Rara yang tadinya bisa melawan Bu Molly dengan membantah ucapan dan karangan cerita, seketika terduduk lemas..Dia teringat kembali hujatan para warga saat dituduh menggoda haji Dadan, sepertinya ini Dejavu, terulang lagi fitnah lama.


"Tenang-tenang! Ada apa ini?" suara seseorang dari luar.


Ternyata itu adalah Pak Haji yang dituakan oleh warga kompleks dan beberapa security datang. .


Para warga mundur dari kerumunan di depan rumah Rara, Pak Haji meminta mereka untuk tertib jika memang ingin mengetahui masalah sebenarnya.


Pak haji masuk dan meminta Bu Molly untuk duduk, kemudian Rara dan pria yang dimaksud tadi yang telah menggauli Rara.


Rara menangis sesenggukan, dia belum bisa berpikir apa-apa. Jadi hanya bisa nurut saja apa yang diperintahkan oleh Pak Haji.


Kemudian Pak haji meminta Bu Molly untuk menceritakan kronologinya. Kemudian menceritakan awal mula dia melihat adegan mesum Rara dan pria tersebut.


Pak Haji memang orang yang bijak di kompleks tersebut. Pak haji tahu beberapa kali Rara ingin bicara. Namun, dipotong terus oleh Bu molly. Rara ingin membantah apa yang dikatakan Bu molly sebenarnya.


"Pak, saya mau menghubungi suami saya dulu," ucap Rara.


"Yah ... suami yang mana? Katanya ini pasangannya! Tuh kan Pak, wanita ini memang nggak jelas!" seru Bu Molly nyerocos, disertai nadanya ngegas.


"Ibaratnya ini tidak adil, dari pihak Rara belum ada. Dia berhak membela diri sebelum kita membawa ke pihak berwajib." Pak Haji mengingatkan.


"Tapi Pa, perempuan ini memang nakal. Seringkali saya melihat laki-laki ke sini, tapi bukan dia. Terus laki-laki ini ngaku suaminya, terus Rara mau menghubungi suaminya, jadi suaminya mana yang benar? Jangan-jangan suaminya banyak. Ada yang sah ada yang enggak, cuman doang."


"Astagfirullah... Bu Molly." Kemudian Pak Haji mempersilahkan Rara untuk memanggil seseorang yang dia maksud.

__ADS_1


Rara masuk ke kamar. Dia sedikit terisak. Mengapa seperti ini nasibnya? Kenapa selalu terkena fitnahan?


Sebelum menghubungi Purba, Rara mengganti pakaiannya, sungguh malu tadi saat duduk ada apa Haji, meskipun dia tutupin dengan sehelai handuk di bagian dadanya. Namun, ke bawahnya tetap pendek karena itu adalah short dress.


Rara menghubungi Purba beberapa kali. Namun, Tidak diangkatnya panggil itu, karena ini masih pukul tiga pagi. Tentu saja Purba belum bangun atau bisa jadi ponselnya tidak aktif, tapi kalau Rara mengirim pesan takut Mona membacanya. Baru saja mereka menikah, tidak ingin ada masalah dengan Mona. Biarkanlah diantara kami hidup bahagia masing-masing dengan suami yang sama. Itu harapan Mona.


Lalu Rara mencoba menghubungi Bizar, bersyukur bisa langsung merespon.


"Siap nona, aku segera datang," balas Bizar.


Rara lega meskipun bukan Purba yang datang. Setidaknya Bizar mewakili dan Rara mendapat kekuatan, ada teman yang bisa melindunginya.


Bizar, meskipun dia tidur selelap apapun akan selalu mendengar panggilan ponselnya. Karena tidak pernah dimatikan, bahkan deringnya pun sangat keras. Jika dia tidur karena takut memang sewaktu-waktu ada tugas darurat, kecuali siang hari saat dia benar-benar bekerja. Barulah volume deringnya rendah. Karena setiap saat dia akan mengecek ponselnya, jadi tidak perlu khawatir tertinggal informasi pula.


Warga di luar masih rame saling bergosip menduga-duga kejadian yang sebenarnya. Sedangkan di dalam hanya ada security, Pak Haji, pria yang mengaku suaminya Rara serta Bu Molly yang sebagai saksi


Pria tersebut saat diinterogasi mengatakan adalah pacar Rara, mereka sebentar lagi akan menikah, maka dia berani untuk datang karena sudah rindu.


"Tapi kenapa pintunya dibuka? Paling tidak tutup kek, biar nggak mancing orang curiga," ucap Bu Molly yang selalu nyolot kalau bicara.


"Namanya juga kangen Bu, lupa untuk nutup pintu," ucap pria tersebut, sebenarnya sedang bermain drama.


"Iyalah... janda gitu, siapa yang tahan dengan pesonanya. Meskipun nggak begitu cantik, nggak begitu menarik, tapi permainannya ngangenin. Begitu kan?" Lagi-lagi Bu Molly menyulut bara.


Sekitar 30 menit Bizar baru datang ke sana, dia turun dari mobil langsung menembus kerumunan warga.


Warga kembali bergosip, siapa lagi pria keren ini? Tinggi, besar, ganteng, harum lagi. Bahkan saat Bizar sudah di dalam, wangi tubuhnya masih tertinggal di luar.


"Maaf bisa saya tahu kronologi sebenarnya?" Tanya Bizar setelah bersalaman dengan Pak Haji, lalu duduk bareng.

__ADS_1


Lagi-lagi Bu Molly yang bercerita karena memang dia saksi utama, seperti halnya yang diceritakan tadi saat mendengar suara mesum dari dinding kamar, lalu Bu Molly menyelidiki ke rumah Rara, lalu melihat kejadian itu.


Bersambung....


__ADS_2