Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Tantangan Nyonya Bos


__ADS_3

Purba hanya ingin menjaga mood Mona agar tetap baik. Dia meminta Rara untuk kembali ke tempatnya, Rara pun mengerti.


Kebahagiaan dia dengan Rara pun, jangan terganggu dulu. Serta kepercayaan Mona pada dirinya pun jangan sampai luntur.


Purba sekarang benar-benar bermain rapi, begitu pun Rara. Seakan dia sudah paham jalan pikiran Purba, dia tidak sakit hati untuk mengalah saat istri Purba datang. Dia akan bersikap sewajarnya sebagai sekretaris.


“Halo sayang, aku datang bawa makan siang, nih. Kita makan bareng yuk!" ucap Mona setelah masuk ruangan tersebut dengan wajah semringah.


“Tapi ini masih beberapa menit, Ma...,” ucap Purba diusahakan selembut mungkin suaranya.


Karena pada dasarnya entah mengapa Purba selalu ingin berkata ketus kalau untuk Mona, sama sekali tidak ada gairah untuk bermanis-manis rasanya.


“Iya ... hanya beberapa menit, kan tidak lama sayang. Biar aku tunggu, tak masalah,” ucap Mona sambil membawa kursi yang di depan meja Purba, ke samping sebelah purba.


 Sehingga Mona sekarang duduk berdampingan dengan Purba.


“Perlu aku suapin? Biar kamu tetap bisa bekerja,” tanya Mona.


“Tidak perlu. Nanti aku malah tidak konsen mengunyah,” ucap Purba sambil fokus ke laptop. Karena sebenarnya memang tak ingin.


“Oke, tapi aku boleh lihat di sini ya? Aku ingin lihat caramu bekerja, sambil aku belajar juga.”


“Hemm,” jawab Purba singkat.


Mona akan menemani Purba bekerja sampai nanti pulang. Sesekali Mona bersandar di bahu Purba sambil melingkarkan tangannya di lengan Purba.


Sesekali Mona juga mengelap kening Purba, padahal tidak berkeringat, kan ruangan ber AC, Mona juga menyentuh bagian dagunya, kadang memeluk dan melingkar tangannya di pinggang Purba. dan itu sungguh membuat Purba risi.


Kadang juga Purba menegur, “Mama... jangan berlebihan. Aku lagi kerja, nanti tidak leluasa. Terus semakin lama untuk istirahat, katanya kita mau makan siang bersama,” keluh Purba.


Mona juga menuruti, karena dia tahu memang suaminya sedang bekerja serius.

__ADS_1


“Mah ... aku mau ke toilet sebentar,” pamit Purba pada istrinya.


Saat Purba keluar, Mona menghampiri Rara yang sedang ada di tempat kerjanya sedangkan, sedangkan Bizar, dia stay di dekat pintu keluar.  


Di sana juga Bizar sedang sibuk dengan ponselnya, ponsel bukan sembarang ponsel.


Dia juga sedang mengamati perkembangan tentang perusahaan-perusahaan cabang yang ditugaskan untuk dia kontrol dari jauh. Karena biasanya sebulan atau dua bulan sekali akan di audit oleh Purba langsung mengunjungi perusahaan tersebut.


“Hei sang sekretaris. Apa kabar?” ucap Mona, berlaga ramah.


Rara hanya mengangguk tersenyum dan mengucapkan satu kata,”baik, Bu.”


“Oh ya, kamu tahu nggak, kemarin selama bosmu itu berlibur, kami pergi ke kampung halamannya loh. Di sana sangat asri sekali, kamu mau lihat kebersamaan kami?”


Mona memamerkan kebersamaan Purba saat ke kampung mertuanya. Meskipun Rara tidak menjawab pernyataan Mona, tapi dia merespons saat menunjukkan beberapa momen yang diabadikan melalui ponselnya Mona. Kadang juga Rara tidak terlalu memperhatikan, hanya sesekali melirik, hanya untuk menghargai Nyonya bosnya.


Padahal, Mona hanya ingin membuat Rara cemburu.


“Nah... ini kami lagi di sungai, di sana airnya sejuk sekali. Makannya Purba memeluk seperti ini, kami sangat harmonis bukan? Tidak mungkin kalau ada orang lain yang berani masuk ke dalam rumah tangga kami. Benar tidak?


 Kamu sebagai sekretarisnya harusnya bisa menjaga bosnya dengan baik. Lebih tahu tentang pribadinya, ya... meskipun hanya sebatas di kantor, tapi kamu juga harus bisa menjaga nama baik bos kamu.


Kami sudah seromantis ini, sebaiknya kamu juga harus ikut menjaga, jangan sampai ada orang lain menyusup berencana menghancurkan keluarga kami yang sangat harmonis ini, atau kamu sendiri yang akan mencoba masuk ke dalam kehidupan kami? tentu tidak, bukan?” kata Mona, dia menyindir Rara sebenarnya


Rara tak gentar dengan sikap angkuh Mona. Dia hanya risi saja, penjelasan panjang lebar yang menurutnya gak penting. Justru sesuatu yang terlalu diumbar, itu nyatanya ingin pengakuan. Jadi Rara biasa saja.


Rara tidak merasa terkejut atau ketakutan, saat Mona berkata dengan nada sindiran tersebut. Rara berusaha untuk diam saja dan memasang senyum, selayaknya tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan bosnya.


“Jadi, aku peringatkan! Siapa pun yang akan merusak rumah tangga kami, aku takkan tinggal diam. Termasuk kamu ngerti? Termasuk kamu!” ucap Mona dengan penuh penekanan.


“Maksud Bu Mona, apa sih? Seakan-akan saya ini musuh anda?” tanya Rara dengan lirikan mata tidak suka.

__ADS_1


Mona tidak menyangka Rara akan menjawab seperti itu, dia menutup laptop yang ada di depan Rara. Karena  Rara masih dengan sibuk mengetik, sedangkan Mona sedang mengajak bicara.


“Kamu pura-pura tidak tahu maksudku? Atau pura-pura sok polos? Jangan kegatelan ya, kan sudah aku peringatkan. Siapa pun mengerti? siapa pun tidak ada yang bisa mengganggu rumah tanggaku termasuk kamu!” ucap Mona dengan telunjuk tepat di depan wajah Rara.


"Berarti  anda menuduhku?”


“Siapa yang menuduhmu? Kamu merasa? Aku bilang siapa pun termasuk kamu ya termasuk siapa pun, paham nggak sih?” Mona sudah geram.


“Iya... aku ngerti, tapi dengan Bu Mona berkata seperti itu berkali-kali, seakan-akan aku akan merebut suami ibu, jika begitu aku akan merebut sungguhan sudah terlanjur mendapat kecurigaan seperti ini.” Rara tidak gentar, dia malah sengaja menantang balik.


“Oh... jadi kamu menantangku balik? Ok, kita lihat siapa yang berhasil, yang mempertahankan atau yang merebut?”


"Baik, siapa takut. Karena Bu Mona yang mengajukan sendiri, aku terima tantangannya. Ingat! Aku tidak mengibarkan bendera perang, tapi Bu Mona sendiri yang menawarkan. Aku hanya mengikuti alur cerita,” bisik Rara dengan tatapan tajam.


“Dasar wanita murahan,” ucap Mona sambil berdiri dan berlalu dari sana dengan menggebrak meja.


 Sebelumnya Mona tidak menyangka,  ternyata Rara tidak semudah itu ditekan.


Bizar yang terlihat fokus pada layar ponselnya, dia sebenarnya tahu pertikaian antara kedua wanita bosnya itu. Hanya saja, Bizar pura -pura tak mendengar.


Lagi pula, kedua wanita itu bertikai dengan suara lirih, kadang berbisik. Dan masih aman, maka Bizar santai saja.


Mengapa Bizar tidak terlalu ikut campur tentang kisah cinta bosnya? Yaitu Purba. Padahal sejatinya dia tidak suka dengan perselingkuhan, karena dia juga terlahir dari keluarga broken home, tapi ini berbeda.


Saat laki-laki tidak dihargai dan masih bertahan, itu seharusnya sudah menjadi nilai plus bagi si istri. Bizar seringkali melihat Mona bersikap berlebihan kepada Purba. Seakan Purba masih menjadi pelayannya, makanya Bizar tidak respect pada Mona. Akan tetapi mau gimana lagi, dia juga tetap bosnya, karena Bizar masih menghargai Tuan Hartanto.


Bersambung...


 


Jangan lupa tinggalkan jejak ya .... Biar otor semangat nulisnya. Apakah harus ada give away biar rame? Hehe ... tapi belum seimbang kalau masih sepi kaya gini.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir ya ...


__ADS_2