
Sementara itu, Rara sedang melakukan video call dengan Lena, adiknya. Lena menceritakan bahwa dua hari Azka tidak sekolah, Bu Sugeti sudah berkunjung ke rumah orang tua Gandi, tapi malah di usir.
“Serius kamu, Lena?” tanya Rara. Jantungnya entah bagaimana berdegup tak beraturan.
Rara hanya memikirkan keselamatan Azka. Apa maksudnya Gandi? Setidaknya dia bilang dulu sama Rara, atau selesaikan hubungan mereka secara sah. Apa pun keputusan pengadilan tentang hak asuh anak, Rara pasti menerima, meski pahit.
Jika segala sesuatu masih mengambang, jelas tidak akan enak rasanya. Ikhlas pun sulit, karena sama-sama merasa berhak.
“Tapi Len, saat ibu ke rumah Mama Ratih, di sana ada Azka tidak?” ucap Rara dengan nada khawatir.
“Aku tidak tahu, Kak. Setelah pulang dari rumah mamanya Mas Gandu, Ibu cuma bilang, dia mau kerja di pasar, bantuin Mbok Yun jualan jajanan. Katanya, uangnya biar bisa buat ke pengadilan. Karena urusannya tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan,” jelas Lena.
“Maafin Mbak ya Len, kamu jadi direpotkan gini. Semoga mba bisa kasbon, bulan depan mbak mau pulang, beresin dulu urusan Mbak,” Rara bertekad dalam hatinya, harus bisa mendapatkan uang itu.
“Oh ya Mbak, kemarin aku ketemu Mas Wahyu, dia nanyain kabar Mbak,” kata Lena. Dia menceritakan saat Wahyu mengajaknya makan mie ayam, saat dia pulang belanja dari pasar.
Mantri Wahyu meminta maaf, sebenarnya dia tidak tahu menahu tentang kejadian Rara yang diarak oleh istri Haji Dahlan.
Wahyu tahu kabar itu, setelah dua hari berikutnya saat Rara tidak masuk kerja di tempatnya praktik.
Istrk Wahyu tidak mengatakan apa pun awalnya. Namun, saat dua hari itu, barulah istri Mantri Wahyu mengatakan bahwa dia sudah memecat Rara. Awalnya Wahyu ingin marah pada istrinya, tapi dia sadar akan gosip itu.
Karena istri Wahyu menceritakan tentang arakan itu terlebih dahulu, baru dia memecat Rara. Hingga Mantri Wahyu pun hati-hati dalam bereaksi. Bagaimana pun dia tak ingin istrinya salah paham, dengan dirinya yang sangat peduli pada Rara.
Karena pertemuan itu, entah mengapa Lena jadi ingin menceritakan kesusahannya tentang Gandi yang membawa Azka. Sampai Bu Sugeti drop, karena tiap malam sekarang jadi sulit tidur. Memikirkan cucunya terus.
__ADS_1
Dari situlah Mantri Wahyu menawarkan diri untuk membantu Rara mengajukan perkara ke pengadilan agama.
“Lalu kamu kasih jawaban apa?” tanya Rara.
“Aku bilang, nanti tanya Mbak dulu. Aku juga hati-hati mbak. Gak mau salah bicara, takut ada masalah baru lagi,” Jawab Lena.
“Yaudah, bantu doa ya Len. Semoga Azka baik-baik saja bareng bapaknya. Udah dulu ya, nanti kapan-kapan mba hubungi lagi,” ucap Rara mengakhiri panggilan.
Kini Rara melamun. Dia bingung harus bagaimana, tiba-tiba dia ingat pada Purba tapi dia tidak mau masuk kantor dulu. Keadaannya kini serba salah, satu sisi ingin hidupnya tenang karena anaknya tidak jelas sekarang keadaannya bagaimana, terutama Azka.
Satu sisi lain Rara tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah, ini perkara uang dan waktu. Sedangkan dirinya sedang berjuang untuk menyiapkan uang dan waktu tersebut keadaannya benar-benar lelah sekarang, lelah mental tenaga dan batin.
Saat dalam keadaan bingung, Rara tiba-tiba teringat akan pesan Purba yang belum dia buka . Rara beranjak ke dalam kamarnya kemudian membawa ponselnya yang sejak semalam tidak disentuhnya.
Rupanya ada dua pesan dari purba dan 4 panggilan tidak terjawab.
‘Maafkan aku ya, kamu jangan takut. Aku masih Purba yang kemarin. Kalau ada apa-apa, hubungi aku.’
Itulah isi pesan dari purba, Rara bingung apakah harus mengatakan lewat pesan? Sementara dia tidak tahu maksud dari pesan itu apakah purba benar-benar menyesali perbuatannya. Rara masih trauma dengan karakter purba yang mudah berubah.
Siapa tahu nanti saat Rara mengirim pesan pada Purba, menceritakan kesusahannya, keadaan Purba sedang menjadi seseorang yang pemarah lagi. Karena memang karakter purba membingungkan, sebentar marah sebentar baik, sebentar lembut, sebentar kaku, itu yang Rara rasakan.
Rara menarik nafas sangat bingung dan berat rasanya. Akhirnya dia membuka ponsel melihat-lihat media sosial pada sebuah grup freelance di sana, biasanya suka ada yang mengirim lowongan-lowongan pekerjaan siapa tahu itu cocok untuk Rara.
__ADS_1
**#
“Mas ... terima kasih ya. Hari ini aku sangat puasss ... sekali. Biar anakku ini juga senang, ternyata papanya sangat perhatian, mau nengokin dia penuh gairah,” ucap Mona yang kini masih dalam satu selimut bersama Purba tanpa pakaian selembar pun.
Purba baru teringat bahwa kejadian beberapa hari yang lalu saat di rumah sakit Mona keguguran dan itu belum disampaikan pada Mona. Mungkin sekarang saatnya untuk menyampaikan kabar buruk itu, menurutnya karena mood Mona sedang baik.
“Em ... Ma, ada yang ingin aku sampaikan.” Purba mencoba membuka percakapan.
“Apa sayang?” sahut Mona, yang rupanya masih menikmati tubuh Purba, walau dalam keadaan istirahat. Tak hentinya tangan Mona menyentuh bagian tubuh Purba yang diinginkannya.
“Tapi Mama jangan terkejut, karena ini sudah takdir. Aku, papah, mamah, sudah mengikhlaskan hal ini karena takdir. Maka, Mama juga harus ikhlas ya.”
“Iya, sayang. Ada apa sih? Kok, pidatonya panjang gtu?”
Sebelum purba menyampaikan berita buruk itu, dia mengusap kepala Mona dengan lembut mengecup kening Mona dan menarik nafas sesaat. Kemudian dengan perlahan purba menyampaikan bahwa bayi yang ada di dalam rahim Mona sudah tidak ada atau dengan kata lain keguguran.
Mona yang tangannya masih aktif bergerilya ke sana kemari di sekitar tubuh purba seketika terdiam. Entah terdiam tidak mendengar dengan baik ucapan purba atau terdiam karena terkejut mendengar berita itu. Karena selama ini Mona merasakan dirinya baik-baik aja hanya memang di area perutnya seakan ada yang berbeda merasa agak ngilu dan sesuatu yang tidak biasa saja tapi entah apa.
Purba melihat air muka Mona yang jelas sekali tiba-tiba terlihat murung. Kepala Mona yang berada di dada purba sangat jelas terlihat olehnya, langsung tetapannya kosong. Purba sudah bersiap jika Mona kembali histeris. Akan tetapi ....
“Hem ... yaudah, kalau bayiku udah gak ada. Kan, kita bisa bikin lagi. Ya kan, sayang?” ucap Mona dengan senyum dan pelukan yang erat pada tubuh Purba.
Purba sangat lega, mendengar pernyataan Mona. Dia tidak menyangka bahwa Mona akan se enteng itu menjawabnya.
Padahal di sisi lain, pemikiran Mona tidak seperti apa yang purba pikirkan. Mona merasa biasa saja saat mengetahui bayinya hilang atau keguguran, karena sebenarnya dia juga tidak begitu menginginkan bayi tersebut. Karena bayi tersebut adalah darah dagingnya Bram dan Mona tidak begitu suka jika bayi yang ada dalam rahimnya adalah bayinya Bram.
__ADS_1
Bersambung...