Oh ... Bunga Lain CEO

Oh ... Bunga Lain CEO
Gagal Mendadak


__ADS_3

Bab 133


"Tidak ada tapi-tapian. Kemas yang perlu kamu bawa. Kita berangkat sekarang juga," ucap Purba. Mungkin tepatnya memaksa.


"Mas, aku masih waras untuk di ajak seperti itu. Aku ingin pernikahan yang wajar."


"Aku juga masih waras untuk bertahan dalam rumah tangga penuh drama. Aku berhak memilih jalanku sendiri dan kita sudah sepakat untuk membina masa depan berdua. Kamu menerima keadaanku, lalu aku berjuang untuk kebahagiaan kita. Pernikahan ini Wajar. Apa yang tidak wajar?"


Rara masih kebingungan, dia selalu memberikan jawaban untuk Purba tidak memutuskan dalam hati sedang tidak tenang atau pemikiran yang sedang kacau.


Namun, Purba sekali lagi mendesak Rara untuk segera berkemas. Keinginannya untuk menikahi Rara sudah sejak beberapa bulan lalu, mumpung orang tuanya ada di sini.


Satu sisi Rara harus memanfaatkan momen ini. Karena kapan lagi dirinya mendapatkan kesempatan untuk lebih unggul dari Mona? Satu sisi dia juga memikirkan bagaimana posisi Mona? Saat Rara ingin semua baik-baik saja dilakukan tanpa saling melukai.


Namun, Rara juga berpikir tidak akan ada yang tidak terlukai saat sesuatu saling berebut dan mencari pengakuan.


Mungkin ini sudah takdir Rara harus serba mendadak. Yang penting Mona tidak tahu apa yang mereka lakukan, itu tidak akan menyakitinya. Biarkan untuk alasan tentang keluarga Purba dengan Mona, Rara tidak mau ikut campur.


Yang penting Rara juga tidak pernah meneror apa pun pada Mona. Rara juga berkorban menahan sakit hatinya, membuka sangat luas kesabaran saat Purba lebih banyak waktu untuk Mona.


Dengan menghela nafas Rara memberanikan diri untuk mengikuti apa mau Purba.


"Baiklah, kita berangkat sekarang," ucap Rara.


Purba tersenyum bahagia melihat Rara yang beranjak ke kamarnya untuk bersiap.


Kemudian Purba mengirim pesan kepada ayahnya.


'Ayah, hari ini aku mohon Ayah pergi ke Sugihayu bersama Bizar. Mohon sekali lagi jangan banyak tanya dulu, waktunya sangat singkat. Aku akan menikah dengan Rara di sana. Hanya ayah saja, biarkan Ibu menemani Mona." Pesan Purba terkirim.


Lalu Purba mengirim pesan pada Mona.


"Ma, Aku mendadak pergi, ada teman kecelakaan. Dia teman dekatku saat SMA. Membutuhkanku karena keluarganya kekurangan."

__ADS_1


"Ayah juga akan menyusul karena keluarga kami memang sangat dekat."


Dua pesan sudah terkirim pada Mona.


Sebelumnya, kedatangan Purba hanya ingin menyelesaikan permasalahan ngambeknya Rara.


Namun, saat masuk rumah melihat Rara yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya, tiba-tiba isi kepala Purba mendorong untuk segera menikahinya saja. Yang tadinya rencana menikah itu akan dilakukan saat Purba di Bali dan Rara tetap di Jakarta didampingi oleh ayah ibunya sebagai wali, lalu Retno bisa mencari wali dan saksi untuk Rara.


Namun, Purba ingin membuktikan kesungguhannya dengan menunjukkan perjuangannya untuk malam ini juga pergi ke Sugihayu dan melakukan pernikahan dengan Rara di sana.


Tak lupa Purba juga memberikan pesan kepada Bizar untuk menjemput orang tuanya pagi-pagi sekali dan jangan lupa beri akomodasi untuk Vira dan Heru, agar menjadi saksi.


Segala persiapan dilakukan dengan cepat. Purba pun mengirimkan pesan pada Lena, adik Rara. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya di kampung. Mulai dari pemuka agama, penghulu, wali dan saksi.


Pernikahan akan dilakukan sekitar dua hari lagi. Karena hari pertama mereka akan mempersiapkan segala sesuatunya. Hari kedua baru pernikahan akan dilangsungkan.


Termasuk kedatangan Vira dan Heru sebagai saksi dari Purba.


***


Karena hari ini saat-saat terakhir untuk pergi honeymoon.


Setelah Mona mandi, langsung berpakaian rapi, dia mengecek kembali beberapa kopernya. Takut ada yang kurang. Setelah itu dia turun ke dapur untuk sarapan.


Kebetulan hari ini Mona tidak membantu Mbak Idah masak, karena kegiatan kantor membuatnya tidak sempat untuk mengurus rumah meskipun hanya sekedar bantu-bantu.


"Loh, Bapak? Mau pulang hari ini? Kenapa sudah membawa tas? Ini masih pagi sekali juga," tanya Mona, sedikit terkejut. Saat melihat Pak Kukuh sudah rapi, terlihat segar dan ada kantung tas di sebelahnya.


"Tapi Ibu?" Mona heran melihat ibu mertuanya yang masih mengenakan daster, bahkan sedang membantu Mbak Idah memasak.


"Nak. Bapak ada kabar mendadak tentang teman Bapak. Jadi harus pergi sekarang juga," jelas Pak Kukuh.


"Oh, begitu... tapi Ibu masih di sini, kan?" tanya Mona lagi.

__ADS_1


Pak Kukuh mengangguk, lalu memberi alasan karena mungkin hanya satu atau dua hari ia pergi. Semoga tidak akan selama itu.


Beruntung Mona tidak menanyakan ke mana, karena Mona masih terlalu canggung untuk terlalu banyak bertanya kepada mertuanya. Perhatian dan kepeduliannya sebagai menantu saat ini hanya sebatas menyambut mertua dengan baik dan menunjukkan istri yang baik pula.


Sebenarnya masih ada rasa canggung, makanya Mona tidak bisa refleks bertanya kepada Pak Kukuh, segan.


Mona yang dari dulunya tidak bisa berbasa-basi sangat membatasi pergaulan dengan orang yang menurutnya tidak satu level, maka wajar jika saat ini tidak bisa langsung akrab seperti orang-orang yang sudah biasa ramah kepada orang lain.


Tak lama Bizar datang, lalu memberi salam kepada semua orang yang ada di dapur.


"Kamu mau jemput Bapak?" tanya Mona saat melihat Bizar datang.


"Iya Bu, atas perintah Tuan," ucap Bizar.


"Tuan? Ya ampun aku sampai lupa." Kemudian Mona buru-buru naik ke lantai atas untuk melihat ponselnya.


Mona pikir Bizar menjemput Bapak, ya ayahnya Purba. Ternyata Bizar bilang disuruh tuan. Berarti Purba yang nyuruh dan dari tadi Purba tak kelihatan, berarti ada apa-apa.


Bizar emang membingungkan. Kadang manggil Tuan kadang manggil Bapak pada Purba. Jadi Mona sangka, tadi bertanya pada Bizar akan jemput Bapak yaitu jemput Purba. Padahal Ayah Purba.


Ah, pagi ini memang pagi yang serba gak jelas. Kenapa juga Bizar jemput Purba? Bukankah Purba akan ke Bali? Bukan ke kantor.


Mona ... Mona. Firasat sudah muncul saat rumah tangganya akan tidak jelas mulai hari ini.


Saat bangun tadi, kemudian mandi, Mona tidak memikirkan Purba ke mana. Rumah ini cukup besar. Mungkin Purba masih di ruang kerjanya atau sudah mandi dari pagi dan sedang berada di ruang lain. Atau ke mana pun sama sekali tidak membuat Mona khawatir. Karena memang tidak ada hal-hal yang mencurigakan akhir-akhir ini.


Mona juga terlalu asik persiapan, terlalu semangat untuk pergi ke Bali hari ini, nanti pukul 08.00.


"Ya ampun! Kenapa aku baru baca pesan ini? Berarti Mas Purba dari semalam keluar?" ujar Mona.


***


Bersambung....

__ADS_1


Kira-kira Mona marah nggak ya? Seharusnya hari ini ke Bali, tapi gagal. Mendadak pula dibatalkan oleh Purba.


Sudah sebelumnya tidak ada waktu terus. Sekalinya ada waktu, malah ada halangan tiba-tiba.


__ADS_2